Sabtu, 07 November 2020

Surat Cinta untuk Bapa

 Halo pa,

damang?

meski sulit rasanya menulis kata demi kata buat bapa, tapi izinkan saya ya pa.

Masih ingat betul rasanya bapa kecewa ketika kelas dua ketika nilai matematika hanya dua.

marah, kesal, pusing ini anak harus diapakan.

Ketika bapa ingin anak sulung ini jadi atlet basket, sungguh pa ingin sekali rasanya seperti bapa. Hebat seperti bapa, pandai lay up shoot, apa daya dengan wajah buluk, hitam, gendut dan punya asma ini masuk ekskul basket rasanya hanya akan mempermalukan diri, terlebih isinya adalah mereka yang cantik, terkenal, dan kaya. Sebagai manusia yang tidak termasuk dalam kelompok itu,saya bisa apa?

Perihal mempermalukan bapa, mungkin saya jagoannya. Lagi-lagi nilai kimia berangka tiga, sedang guru kimia-ku ketika SMA adalah sahabat bapa. Maaf ya pak, lagi-lagi saya hanya bisa buat bapa malu dan kecewa.

Saya tidak pernah irimelihat teman-teman ketika remaja punya pacar ganteng atau pintar, saya iri kepada mereka yang sekolah diantar bapanya, saya iri ketika melihat kedekatan anak perempuan dengan para bapa mereka, karena saya terlalu malu, terlalu gengsi untuk bilang "pa, peluk saya dong pa" 


Masih ingat betul rasa haru sekaligus senang ketika bapa rela mengantar saya siaran di radio pagi buta, tapi mungkin ini sama sekali bukan apa yang bapa impikan kan pa?

kemudian ada keraguan ketika saya mengenalkan calon suami pada bapa, berusia lebih muda dan bukan berasal dari suku Sunda, masih ingat betul untuk pertama kalinya saya menangis di pangkuan bapa setelah akad nikah,bersimpuh menumpahkan air mata. Saat itu saya berulang kali meminta maaf, rasanya ingin berteriak pada diri sendiri kenapa saya baru berani memeluk bapa seerat ini justru ketika sudah dipinang pria lain?

rasanya saya anak yang tidak pernah bisa menjadi apa yang bapa mau ya pa?

terlalu banyak hal yang membuat kita saling memendam satu sama lain,

puncak tangis saya pecah pada tanggal 6 november 2020 kemarin, untuk pertama kali rasanya bapa memuji saya cantik, hati saya hangat pa, mungkin terlihat sederhana tapi apresiasi bapa sungguh membuat hidup saya jauh terasa berharga.

maafkan saya yang sungguh terlalu banyak gengsinya, terlalu kelu bilang kalau saya sangat sayang sama bapa, saya yang selalu kikuk padahal saya ingin memeluk bapa.

Pa, meski nilai matematika saya hanya dua dan nilai kimia saya hanya tiga, izinkan saya buat bapa bangga, berikan saya doa untuk meraih toga ketiga.


selamat ulang tahun pa, panjang umur sehat selalu dan temani saya kelak ketika wisuda ya.

i love you pa, as stars as above you. 💓


Selasa, 06 Oktober 2020

Random Thoughts

 

Dulu saya sempat berpikir bahwa jodoh adalah proses mencari dan ditemukan, sekarang saya punya pandangan lain. Jodoh menurut saya adalah tentang saling kuat-kuatan toleransi akan ketidaksukaan.


Bisa jadi saya adalah manusia termenyebalkan menurut kalian.

Saya yang sulit sekali membaca peta, tidak handal dijadikan navigator.

Saya yang ribet masalah debu dan kebersihan rumah.

Saya yang risih jika sprei tidak diganti lebih dari satu minggu lamanya.

Saya yang bisa bete kalau sprei ‘ngeres’ ada serpihan kotoran atau barang yang bukan seharusnya berada di tempat tidur.

Saya yang geli jika kamar mandi atau toilet bernoda atau licin.

Saya yang pusing lihat kalau lihat rumah berantakkan.

Saya yang bisa mengingat dengan jelas perilaku orang lain yang tidak menyenangkan.

Saya yang cengeng setiap orang yang saya sayang bersuara keras, terkesan membentak padahal mungkin tidak ada maksud mereka membentak, hati saya saja yang selembek nutrijell.

Tapi disisi lain saya juga bisa berteriak bersuara keras jika panik menyerang.

Mungkin saya dapat medali emas di semesta bapak Ali untuk kategori wanita paling menyebalkan.

 

Lalu, apa pasangan saya menyebalkan?

Bisa jadi.

Apa saja bentuk perilaku menyebalkannya?

Tidak perlu disebutkan karena lagi-lagi, jodoh adalah tentang saling kuat-kuatan toleransi atas ketidaksukaan.


Jauh akan lebih sulit jika kita terus menerus meramaikan otak dengan pikiran-pikiran yang tidak penting, seperti tulisan saya ini.

 

Senin, 21 Januari 2019

TIPS MENCARI DAYCARE DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

Sebagai ibu pekerja newbie yang saya bingungkan ketika diterima bekerja adalah "Anak saya gimana ya nanti? sama siapa?", di satu sisi ada perasaan bahagia karena bisa bekerja di tempat yang sesuai dengan passion saya, mengajar. Namun di sisi lain hal yang paling saya pikirkan adalah menyeimbangkan antara peran sebagai istri, ibu, dan pengajar di kampus tentunya. Saya adalah korban kekerasan yang dilakukan oleh asisten rumah tangga, meski sebetulnya masih ada kok asisten rumah tangga yang baik hati, ramah , sayang anak, sayang bapaknya anak.  Sayangnya, saya sudah terlanjur bersumpah meski tak seperti sumpahnya patih Gajahmada untuk menghindari adanya asisten rumah tangga di rumah. Gimana sih kalau trauma, kebayang-bayang, ketakutan, daripada saya lelah hati memikirkan ketakutan tersebut maka saya memutuskan untuk mencarikan penitipan anak yang terbaik.


Saya yang lahir di bawah rasi bintang gemini juga belgolongan darah AB sungguh sulit sekali memtuskan sesuatu hal yang cukup penting, termasuk daycare anak. Berbekal postingan teman-teman lain, menanyakan pada sekitar tujuh informan yang saya wawancara lewat chat WA lalu saya gabungkan dalam ikatan jiwa (halah pret). Kesemua informasi tersebut saya rangkum, kelebihan menggunakan jasa ART adlah anak mendapatkan suasana rumah yang nyaman, bisa tidur-tiduran bebas, pokonya ya beras di rumah aja gitu loh, nyaman senyaman hatimu. uwuwuwuwu. 
Berbeda dengan daycare yang mempunyai jadwal tertentu, anak akan mengikuti kurikulum daycare yang sudah ditentukan. Mana yang lebih baik? Monggo bapak ibu, mas mbak pasti lebih paham akan kebutuhan anaknya masing-masing.

Lalu bagaimanakah tips mencari daycare?  Saya pikir daycare itu mirip jodoh, proses mencari dan ditemukan, susah-susah gampang, namun jika sudah dapat yang klik enggan berpindah ke lain hati.
Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan untuk memilih daycare :

1. Usahakan dekat dengan tempat kerja ibu atau ayah, kenapa? agar jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan entah itu anak tiba-tiba demam, jatuh, atau hal apapun lah yang saya nggak sanggup shay mikirinnya, kita akan lebih cepat menuju lokasi.

2. Perhatikan kebersihan daycare, konon katanya kalau anak daycare akan lebih mudah terpapar penyakit, ya gimana nggak, satu lagi pilek kemudian main kejar-kejaran, main petak umpet, atau main jitak-jitakan bisa saja terkena kontak fisik dan mudah tertular kan? Nah kebersihan daycare ini adalah utama kalau buat saya pribadi, bisa cek ketika ayah bunda, mas mbak ke TKP langsung. Cek apakah dayare menyediakan sterilisasi perlengkapan menyusu (untuk yang masih ASI), tanyakan bagaimana mereka menyimpan ASI, memberikan ASI pada anak.

3. Tempat tidur toddler dan bayi dipisah, tahu sendiri lah ya anak usia toddler seneng lompat-lompat jumpalitan, kayang, bahkan ngesot (oke itu anak hamba), kalau bisa cari yang kamarnya terpisah antara bayi dan toddler, supaya adik bayi bisa tidur tenang tanpa ada suara lompatan dari si kakak-kakak toddler.

4. Makanan. Beberapa daycare menyediakan makan bagi anak dan bayi, pastikan anak kita ternutrisi dengan baik, non MSG ya, cukup ayah bundanya saja yang diracuni cilok dan cireng. Kalau daycare tidak menyediakan makan, berarti ibu kudu strong meracik menyiapkan makanan untuk si buah hati tercinta.

5. Buku laporan harian. Daycare tempat anak saya dititipkan menyediakan laporan kegiatan harian, yang dicatat meliputi makanan apa saja yang dimakan, kegiatan pembelajaran harian, misal anak saya diberikan keterampilan bina diri mencuci pakaian, yha alhamdulilah sudah bisa mencuci bajunya sendiri (nggak ding boong), setidaknya tahu proses mencuci itu seperti apa. Lewat laporan kegiatan ini kita orangtua bisa tahu anak kita ngapain aja sih selama kita bekerja. kebetulan daycare anak saya terintegrasi dengan PAUD, sekali mendayung dua pulau terlampaui.

6. CCTV. Iya, di era revolusi industri 4.0 ini sudah zamannya kita bisa melihat segala sesuatu hal dari kejauhan, mayoritas daycare-daycare masa kini sudah dilengkapi dengan CCTV yang tersambung ke ponsel orangtua masing-masing, nggak ada deh ceritanya anak saya diapa-apain, atau diperlakukan tidak baik.

7. Biaya. Ini dong yang terpenting bundshay, kalau kata orang Jawa Ono Rego Ono Rupo, Saya pribadi memilih daycare sesuai dengan kantong, di kantor tempat suami bekerja ada sih katanya daycare bagus tapi bayarnya seharga gaji saya full. Mungkin untuk beberapa orang uang segitu recehan belaka, namun bagi saya masih cukup berharga. 

8. Lihat perkembangan anak, Sejatinya memang harusnya anak ada dalam pelukan ibu sepanjang waktu, namun jika keadaan yang meminta kita bisa apa bundshay? Kalau anak sudah bisa ditanya ketika pulang diajak ngobrol "Are You happy? Tadi ada apa aja? Main apa?" kalau anak murung terus atau terlihat tidak suka jangan sungkan menanyakan pada pengasuh atau owner daycare, cari penyebabnya, selesaikan dengan segera dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

9. Kok bisa sih tega nitipin anak? Nah siapa yang bilang begitu? Sini saya tampol online. Rasanya tidak ada satu ibu pun yang tega atau rela berpisah dengana anaknya, namun ingin kan anak mandiri? atau ingin kan membantu perekonomian keluarga dengan cara bekerja, syukur-syukur kalau kerjanya bisa di rumah, ada banyak perempuan yang harus bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan yang mungkin saja tidak bisa kita pahami, entah membantu perekonomian eluarga, syiar ilmu, dakwah, atau di tahap tertinggi bagi kebutuhan manusia mungkin saja hanya sekadar memenuhi kebutuhan eksistensi diri. Begini bundshay, Anak awalnya akan nangis meraung-raung (kecuali anak saya yang girang banget ketemu daycare karena ada perosotan di dalam ruangan), ibu harus ikhlas dan tenang juga yakin bahwa anak akan baik-baik saja seperti lagunya Pinkan Mambo dan Maia. Kalau ibu galau percayalah anak akan rewel. Daripada pergi diam-diam, mending pamit. "Nak ibu kerja ya, nanti ibu akan jemput kamu di sore hari." Kemudian ketika menjemput bilang "Halo nak, tuh kan ibu jemput kamu kan? Wah anak pandai ya tidak menangis ketika ibu kerja." Terus lakukan itu setiap hari hingga anak yakin "Oh ibu akan balik lagi kok ketika kerja." Intinya, pamit. Manusia macam apa yang pergi tapi tidak tanpa permisi? OKAY stop sudah sudah~


Begitu mungkin tips dari saya sebagai ibu newbie yang bekerja. Kalau ada yang ingin sharing saya akan senang sekali :) 




Selasa, 23 Oktober 2018

Yang Tersisa dari Asian Para Games 2018

Awalnya saya membaca satu postingan di instagram bahwa penonton Asian Para Games 2018 tidak seheboh Asian Games, sedih sih langsung 'nyes' aja gitu. Tapi siapalah hamba ini presiden bukan, menpora bukan, hanya bubuk momogi.

Sebuah ide cemerlang dari Ninis, adik tingkat semasa S1 saya bilang "Tugaskan saja mahasiswa untuk menonton kemudian minta mereka mengidentifikasi disabilitas atlet lalu cari jurnal penelitan yang mendukung konsep disabilitasnya." TUINNGGGG di otak saya seakan ada lampu bohlam, bagus kan idenya? Terima Kasih Ninis :*

Jadilah saya tugaskan mahasiswa untuk menonton, mengidentifikasi disabilitas atlet, mewawancarai atlet lalu dibuat laporannya sebagai tugas Ujian Tengah Semester. Untuk mencari jurnalnya tidak saya tugaskan karena eh karena mereka mahasiswa semester satu yang masih beradaptasi di kampus. (YHA DOSENNYA NGGAK TEGAAN YHAAA) Dikarenakan waktunya mepet, mahasiswa yang siap menerima tantangan ini adalah seluruh mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris kelas 1C dan beberapa mahasiswa di kelas 1A prodi Pendidikan Ekonomi, tidak semua mahasiswa yang mengontrak matakuliah psikologi perkembangan saya tugaskan.

Jujur saja awalnya saya takut membebani dan pesimis, takut memberatkan mahasiswa. Nyatanya? Satu kelas ada yang mempu menjawab tantangan saya untuk melaksanakan tugasnya. Meski hari itu adalah hari terakhir Asian Para Games mereka tetap pergi ke Gelora Bung Karno, lalu pada pukul sepuluh lebih, salah satu dari mereka menghubungi saya.

"Bu Aisha, tiket pertandingan sudah sold out semua, bagaimana bu?"

Saya pun menugaskan mereka untuk mewawancarai teman-teman disabilitas di sekitaran festival di GBK. beberapa jam kemudian ada yang menghubungi saya lagi

"Bu Aisha, saya tugas UTS nya yang lain saja ya, karena saya kehabisan responden untuk diwawancarai"


Dari penugasan ini saya justru belajar banyak, mereka bersemangat menerima tugas dan rela janjian pagi-pagi untuk datang ke GBK, di GBK mereka kehabisan tiket lalu jujur pula pada saya dan tetap mampu mengerjakan tugas yang saya minta yaitu mewawancarai teman-teman disabilitas. Saya salut dengan keberanian mereka menerima tantangan, lalu mereka jujur atas apa yang ditugaskan, padahal bisa saja kan mereka membohongi saya? Pura-pura mewawancara, membuat laporan nihil, asal ada dokumentasinya. Lagi-lagi saya dibuat terharu atas kejujuran mereka.


Goal dari tugas UTS ini adalah bukan hanya pemenuhan tugas matakuliah yang saya ampu belaka, ada hal yang jauh lebih penting daripada itu, mengenai kebersyukuran hidup.
Mahasiswa menjadi lebih 'melek' disabilitas, mereka menyadari bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi, lebih jauh lagi mereka sebagai calon pendidik saya harap bisa paham bahwa pendidikan adalah hak dari setiap manusia, termasuk teman-teman disabilitas kita, Diharapkan dengan adanya penugasan ini, tidak ada lagi pendidik yang gagap menghadapi peserta didik ketika di sekolah inklusi.
Bahwa menonton pertandingannya itu adalah kegiatan yang harus dilaksanakan, tapi dibalik itu ada banyak hal yang bisa dipelajari, entah itu kerjasama, pengalaman menggunakan transportasi publik, dan rasa solidaritas tidak bisa dipupuk menggunakan kompos :P

Di era revolusi industri yang keempat ini, kita harus menjadi manusia yang mana keberadaannya tidak bisa digantikan oleh mesin? Caranya? Belajarlah jadi manusia yang memanusiakan manusia, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Teman-teman mahasiswa ini menunjukkan bahwa ada harapan pada generasi bangsa selanjutnya, dimana mereka adalah manusia yang berperilaku jujur, padahal seperti kita ketahui di masa sekarang ini kejujuran kini sudah sangat mahal harganya, karena kalau murah dijual secara sachetan (YHAAAA)


Tulisan ini sebagai luapan rasa bangga kepada teman-teman mahasiswa yang berani menerima tantangan dari dosennya. Kalian Luar Biasa (Nada ngomong ala Ariel Noah) :))





Senin, 26 Februari 2018

Jangan Diet, Berat! Biar Model Victoria Secret Saja


Pernah nahan lapar ga mau makan makanan kesukaan karena ingin kurus?
Pernah bolak-balik menimbang badan lebih dari sekali dalam sehari?
Pernah berpikir bahwa diri ini gemuk sekali?
Pernah panik karena jarum timbangan ke kanan terus?
Pernah menghukum diri dengan berolahraga berlebihan atau nggak makan sama sekali?
Akrab dengan diet mayo, keto, OCD, lalu diet kekinian lainnya?
Percayalah saya pernah, ada yang sama dengan saya? Mari berpegangan tangan.


Teman-teman terdekat saya mungkin udah muak, eneg, gedek, dan pengen noyor kepala saya sampai jatuh ke jurang gara-gara saya terlalu memikirkan berat badan. Diet yang dilakukan pun sudah macam-macam, pernah pula makan mi ayam Cipaganti bandung tanpa mi, iya saya makan sayur sama ayamnya doang. Reaksi sohibul saya waktu itu. "Apaan sih maneh?"


Ingat betul saya pernah lima kali terkena gejala tipes, sampai dokter langganan saya bilang "kalau kamu tipes lagi urusannya bukan sama saya, sama tukang gali kubur yah?"
Mungkin saking bosannya si dokter ketemu saya.
Kenapa sih saya terobsesi banget sama kurus? Saya pernah diputusin gara-gara menggendut, halah itu mah emang si sesemantan itu emang cari alasan aja pengen putus yakan? Pake acara salah-salahin berat badan, lalu pernah pula ada pria yang bilang "kamu tuh bergelambir ya?"
JEDEEEERRRR MACAM DISAMBER GELEDEK YA ALLAH
Pernah juga nangis-nangis ga jelas di parkiran kampus gara-gara dibilang gendut sama salah satu teman saya, yailah shay kalau diingat-ingat ngapain juga nangis, ga guna. Jadi malu sendiri duh.


Ide sinting saya yang ingin memiliki badan kurus mengantarkan saya ke rumah sakit, diopname selama seminggu dengan tindakan kololonskopi alias dimasukkan selang ke (maaf) anus, hasilnya cukup mengejutkan. Usus besar saya terluka, karena kebanyakkan minum teh pelangsing dan sering nahan makan. Saya seriiing banget nahan makan, makan cuma dedaunan, makan seiprit dan cuma sekali dalam sehari padahal aktifitas saya cukup banyak waktu itu. Bahkan, radang usus ini jika parah kemungkinan akan berlanjut ke kanker usus besar, lanjut dokter melihat ada riwayat kanker di keluarga saya, mendengar pernyataan itu seketika saya lemas, ngerasa dosaaa banget gitu. Alih-alih ingin kurus, terlalu mendengar omongan orang, saya malah zolim sama diri sendiri, merusak tubuh yang sudah diberi oleh sang pencipta.


Menjelang menikah saya nggak kapok diet, ikutlah diet mayo, no salt, no sugar, no rice , no ice. Berhasil? Berhasil jatoh ngegeletak di jalan ketika naik motor karena lemas, yaiya lah sibuk menyiapkan pernikahan sendiri kesana kemari eh malah diet macam gitu. Bego kan? Sungguh tidak untuk ditiru.
Olahraga pun saya jabanin, mulai dari jogging, renang, senam aerobik, yoga, pilates. Tapi sungguh olahraga itu demi kurus semata, pagi jogging, siang kuliah, sore senam aerobik bersama tante-tante hawt. Turun sih berat badannya, sayangnya massa otot juga turun kayaknya. Jadinya badan koyor-koyor tak berbentuk.
Setelah menikah dan punya anak hasrat ingin kurus pelan-pelan hilang, ada anak yang menggantungkan hidupnya pada ASI yang saya produksi.
Di sisi lain, saya butuh olahraga supaya badan tetap fit mengurus anak, suami, juga mengerjakan pekerjaan rumah tangga.


Nah suami saya ini mencuci otak saya nan kotor dan penuh racun, mengajarkan beberapa gerakan seperti squat, push up, plank, yang kemudian saya mencari variasi gerakannya eh nemu deh BBG (bikini body guide) yang mana foundernya @kaylaitsines, saya download ebooknya dan praktekkan. Kalau kalian mau ebooknya boleeeh PM saja saya gratis!
Awal-awal cuma kuat 10-15 menit saja.
Capeeek book.
Susah? Emang! Tapi saya yakin kalau manusia adalah makhluk pembelajar, ga bisa? Ya belajar lagi. Gagal, ya coba lagi. Terus aja begitu.
Pernah nyerah? Sering banget apalagi kok berat badan ga turun-turun bahkan malah naik, sempet stress lagi tapi teteeep aja jalanin. Trus gerakan BBG nya dilakukan semua? Nggak! ðŸ—£ðŸ—£ðŸ—£ðŸ—£
Saya hanya melakukan yang saya bisa, kalau kira-kira susah ya skip aja. Jangan dibuat susah laaaah.


Pelan-pelan nggak kerasa udah hampir setahun saya lakukan,repetisinya meningkat, durasi waktunya juga bertambah sekitar 45-60 menit.
Bosan sama BBG saya follow instagramnya @meiranastasia, dia ini istrinya komedian ernest prakarsa. Cek aja postingannya ada homeworkout yang bisa dilakukan di rumah oleh mamak-mamak, sering sekali memberikan motivasibahwa kehidupan media sosial yang sering posting badan bagus bak model tuh ga sepenuhnya benar, mereka sama aka kok bergelambir perutnya, ada selulit, dll dll. Nah ada akun yang asik lagi masih di instagram juga follow deh @arbiariarso dia ini kayaknya latar belakang keilmuannya memang ilmu keolahragaan UNY jadi paham betul mengenai cara berolahraga yang benar, sering banget bagi-bagi ilmu baru yang bahasanya mudah sekali dimengerti oleh newbie macam saya, juga ada gerakan-gerakan variasi dari push up, squat, jump. Lalu akun lainnya yang saya follow adalah @petitedivaa, isinya sama kok video-video tentang homeworkout. Yuk tambah list followingnya, jangan cuma lambe-lambean yang dipantengin, wkwkwkw.
Kalau dulu saya takut banget buat angkat beban, selain sudah cukup berat dengan beban hidup (elah) takut berotot kayak ade rai. Ternyata salah dong, justru dengan olahraga melatih otot, berat badan saya cenderung stabil, lingkar badan menyusut dan terasa lebih fit aja.



Kiri : Agustus 2016
kanan : Februari 2018
.
Sungguh berat badan saya di timbangan tertera 62kg, masih sama seperti ketika pasca melahirkan empat bulan, stress ga sih udah olahraga kok angkanya teteeep aja? Hingga saya disadarkan oleh pak suami, bahwa alat ukur tubuh itu bukan hanya timbangan semata.
Berbekal meteran kain yang biasa dipakai penjahit, penjahit  loh ya bukan meteran buat ngukur kayu atau tembok ternyata yang membedakan adalah lingkar badan, jika dahulu gelambir dimana-mana karena saya menghindari olahraga angkat beban, kini agak berkurang ya meski belum kotak-kotak kayak roti sobek perutnya.


Kelebihan lainnya, saya bebas makan apa saja tanpa rasa bersalah, makan apa yang tubuh saya butuhkan, makan seperlunya.
Karenanya makan untuk hidup kan? Bukan hidup untuk makan.
Kalau lagi liburan makan agak banyak, ya gapapa wajar, asal setelah liburan ya kembali ke pola makan awal. Makanan yang dipantang? Nggak ada. Asal jangan makan teman sama makan omongan sendiri aja. Ha ha ha ha
Kalau dulu mijitin suami yang badannya kekar saya kesusahan karena tak bertenaga, kini saya bisa lebih kuat.
Seiring bertambahnya usia anak, berat badannya pun bertambah, nah setelah rutin berolahraga saya jadi ga gampang lelah menggendong anak lama-lama bahkan berdiri di KRL selama dua jam Bogor-Tangerang saya kuat. Aheuuuy.


Saya memaksa menyempatkan diri menyisakan waktu satu jam hanya untuk olahraga.
"Gimana dong kan ada anak?'
Ya kalau anak tidur lah
"Kalau belum tidur gimana?"
Ya ajak aja, banyak kok tutorial olahraga sambil jagain anak.
"Kalau nggak punya matras gimana dong?"
Pakai karpet yang ada aja, kalau nggak ada ya pakai tikar aja lah, jangan perbanyak alasan selama masih ada peluang.
"Tapi rumah saya sempit"
Percayalah untuk squat, push up, ga butuh lahan seluas lapangan bola.
"Yah saya kan ga punya barbel? Ga bisa angkat beban"
Ada botol air mineral bekas? Nah isi pasir, kurang berat? Geret tabung gas yang ijo buat latihan.
Lawan seribu alasan ketidakmungkinan dengan sejuta kemungkinan.


Yah badan saya emang belum sekeren Andien, seberotot mbak Diva atau sekece Adinia Wirasti tapi seenggaknya saya lebih merasa fit, ukuran baju dan celana menurun meski pundak saya berasa agak tegap dikiiit jadi baju-baju lama agak sesak di pundak, mungkin efek push up ya? Daaan yang terpenting setelah olahraga saya merasa segar bugar bahagia aja gitu bawaannya. Konon katanya olahraga menghasilkan hormon oksitosin. Tantangannya adalah konsistensi, karena usaha tidak akan mengkhianati hasil kan? Sisakan waktu sejam dalam satu hari, lakukan lima kali dalam seminggu, beri waktu badan anda untuk istirahat selama dua hari kalau saya restday nya adalah weekend.
Kalau lagi sakit atau lelah ya ga usah olahraga lah, segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik.
Kalau dulu diajak makan saya selalu pilih pecel, karedok, salad nggak mau makan berat. Sekarang? Wooo gas lah makan apa aja, tapi dalam tahap wajar.
Ya nggak makan sayur atau buah sekebon, secukupnya saja.
Jadi gimana? Masih mau mengabdi dan percaya pada timbangan? Jangan pelis. Biar saya saja yang pernah mendewakan timbangan, biar saya saja yang pernah bego terobsesi ingin kurus, kecuali anda model victoria secret yang berkarir mendunia, ya monggo.



(Nah gerakan-gerakan ini juga bisa dilakukan sambil main sama anak, nonton drakor, atau nonton youtube nya mata najwa)



Minggu, 18 Februari 2018

Universitas Negeri Malang Kucinta Padamu Uwuwuw

Kali ini saya akan bercerita tentang Universitas Negeri Malang yang sering keliru disingkat menjadi UNM, padahal nama aslinya ya UM kalau UNM (Universitas Negeri Makasar) adanya di Sulawesi sana. Saya tidak akan membahas tentang jurusan apa saja yang ada di kampus ini karena hal macam gitu bisa klean akses di um.ac.id tapi tentang apa saja yang sudah saya dapatkan, lebih dari sekedar pelajaran di kelas semata.
Awalnya saya sempat nggak betah dan limbung kuliah di UM. Ya coba bayangkan, manusia yang 24 tahun hidupnya di tanah pasundan ujug-ujug terlempar di Jawa Timur, gegar budaya kalau bahasa kerennya. 


Sering banget saya ngobrol pakai bahasa Sunda dengan teman sekamar saya (kok geli ya rasanya teman sekamar) dan teman waktu SMA, kami bisa ketawa ngakak-ngakak tanpa ada orang ngerti kami ngomong apa, jahat kan? Hahahah sekalinya pernah saya ngedumel ngomongin mamang supir angkot eh kemudian ada teteh-teteh dari belakang nyusul saya jalan "Teteh? Orang Sunda? Timana? Abdi ti Sukabumi" (Teteh? Orang Sunda? Darimana asalnya? Saya dari Sukabumi) sungguh sejak saat itu saya berhati-hati, khawatir ketika ngomongin orang pake bahasa Sunda ada yang ngerti malu yakan?


Saya pernah berantem sama mahasiswa entah jurusan apa, karena dia hampir menyerempet saya dengan motor gedenya. Saya spontan berteriak memakai bahasa Sunda tentunya.
"Eureun siah maneh!" (Berhenti kamu!)
Dia berbalik, turun dari motor sementara saya lagi-lagi tak bisa mengatur emosi keluarlah makian yang masih dalam bahasa Sunda.
"Mun aing paeh kaserempet kumaha siah? Cik sing bener ai make motor teh atuh euy, ieu teh kampus lain jalan nini maneh!" (Kalau saya mati keserempet gimana? Yang bener dong kalau mengendarai motor, ini kampus bukan jalan nenekmu!)
Dia berbalik menyerang saya menggunakan bahasa Jawa, pada saat itu saya nggak ngerti sedikitpun apa yang dia sampaikan. Yaudah diem ajalah. Dia makin mendekat akan menyerang, takut juga gaes lalu saya bilang "Mau nyerang? Beraninya sama cewek, kalau menang ya malu, kalah apalagi" Sebagai penutup dia teriak
"Janc*k kon!"
NAH KALAU SATU KATA ITU SAYA PAHAM! HAHAHA
"Heh! Saya ngerti yah kamu bilang apa barusan!"
Kemudian si mahasiswa dengan motor bison itu pun berlalu dengan deruan suara knalpot yang aduhai, tinggal saya yang gemeteran, lemas lutut rasanya padahal kelas pertama saya jam 7 pagi, oia awal kuliah karena saya nggak bawa motor, selalu jalan kaki dari Soehat (soekarno hatta) ke kampus, melintasi kampus tetangga yang megah, Universitas Brawijaya. Kadang nengok kanan kiri namanya juga usaha siapa tahu ada mas-mas yang sama-sama kuliah pascasarjana nyantol, nyatanya selalu dedek gemez yang saya temukan. Skip. Ternyata jodoh saya ada di sungai Citarik, Sukabumi.


Di UM saya paham, ternyata jenis bahasa Jawa itu beragam, teman-teman dari Blitar biasaya berbahasa haluuuus bak betis Ken Dedes, nah kalau Surabaya-an agak cablak dan apa adanya juga cenderung lebih cepat nada bicaranya. Di UM jugasaya berteman sama Duta Kampus yang aduhai cantiknya, cerdas pulak, Rosalia namanya. Saking cantiknya saya pernah terpukau enggan melepasskan pandangan dan bergumam ketika tes masuk "INI ORANG CANTIK BANGET YA ALLAH, KALAULAH SAYA COWOK UDAH NAKSIR BERAT!"


UM bagi saya berasa menemukan Indonesia yang sesungguhnya, bagaimana tidak, teman sekeliling saya bermacam-macam asal daerahnya mulai dari Padang, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur tentunya, Madura, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi bahkan Timor Leste. Bagaimana dengan keragaman agama? Empat agama dari enam yang diakui di Indonesia ada di sekeliling saya. Beberapa kali saya sempat sholat di tempat kos yang beragama Kristen dia orang Menado, ada mukena dong untuk sholat. Lalu saya sempat ditanya "Kenapa kalau sholat harus memakai mukena? Bagaimana kalau baju saja?"

Dengan ilmu yang seuprit ini saya menjelaskan semampunya, dan yasudah tiada gontok-gontokan atau musuh-musuhan apalagi unfollow instagram (apeu bae) , atau saya nggak boleh lagi sholat di tempat dia, atau saya maksa dia buat sholat yha kan iku jenenge gemblung, kami bahkan beberapa kali hangout bareng.

Di angkatan kami ada Romo, sebutan pemuka agama Katolik. Romo Augusto ini berasal dari Timor Leste dan sering bercerita tentang banyak hal, mulai dari aksi heroik ketika daerahnya terkena konflik, pengalaman hidup, sampai kenangannya dengan tentara Sunda yang mengajarkan beliau lagu Bubuy Bulan. Sering dari kami didoakan oleh beliau, saya termasuk, didoakan mengenai jodoh  hahaha. Lalu apakah Romo memaksa kami untuk meyakini apa yang beliau yakini? Sama sekali nggak pernah. Padahal kan beliau pemuka agama, tapi sungguh saya bersaksi tidak pernah ada sedikitpun ajakan beliau untuk mengikuti keyakinan yang beliau yakini. Kalau kabar di twitter ada ibu-ibu yang nggak mau duduk sebelahan sama non muslim di bis trans Jakarta, lah kami gimana dong?
Sekelas campur-campur, sekelompok presentasi dengan teman-teman lain agamanya, haruskah mencari teman sekelompok yang sama agamanya ketika kuliah? Wah naif benar.
Salah satu dari angkatan kami ada yang beragama Hindu, justru dia ini yang paling rajin mengucapkan selamat merayakan hari besar agama teman-temannya yang lain. Nah ketika akhir perkuliahan menulis tesis, perut saya membesar sedang mengandung Kinanti, yang membantu saya membereskan tesis mulai dari struktur, halaman, sampai marginnya hingga rapi jali adalah teman saya yang beragama Katolik. Terus kami gerah gitu? Ya nggak. Adem banget malah. Saking adem dan kompaknya suka mendatangi seminar proposal yang ada nasi kotaknya  (ups) hahahahaha



Saya berkesempatan dipasangkan dengan dosen pembimbing luar biasa yang kebetulan beragama lain, tetapi sungguh tak pernah sekalipun kami membahas agama masing-masing. 
Lakum dinukum waliyadin.
Hal lain yang membuat saya takjub adalah ketika dospem saya tersebut menolak mentah-mentah parcel yang saya berikan. Saya keukeuh ingin memberi, beliau keukeuh ingin menolak. Padahal hanya buah-buahan semata bukan barang mahal. Akhirnya kami sepakat bertukar alias barter, beliau memberikan saya madu Sumbawa untuk diminum agar bayi dalam janin saya kuat. Ah Pak Imanuel Hitipeuw, disaat orang diluar sana gemar sekali diberi, ini malah gemar memberi.


Saya pernah menjadi pihak pembanding proposal tesis di seminar skripsi seorang suster, namanya suster Flo. Penelitiannya tentang studi kasus sistem pendidikan di Papua, meeeen penelitian tesis saya mah bak noda saus pentol di baju anak SD. Nah membahas penelitian, mahasiswa UM ini luar biyasaaak penelitiannya (saya nggak termasuk lah yah) salah satu teman sebimbingan meneliti karakter wayang Semar dalam pribadi seorang konselor. Boom! Seperti kita ketahui lah ya, wayang adalah salah satu cagar budaya aselik Indonesia. Bagaimana bisa cobaaa kepikiran dihubungkan dengan pribadi konselor.


Lalu ada teman lain yang meneliti konsep diri waria, studi kasus penelitiannya, dia yang kebetulan laki-laki hidup dengan waria. Totalitas tanpa batas bukan? Penelitian tesis sampek idup bareng beberapa waria. Ada lagi teman dari Padang, salah satu Uni di angkatan kami meneliti tentang Buya Hamka, saya ingat Buya Hamka ya jadi ingat Engku Zainudin yang diperankan Herjunot Ali dan Hayati yang diperankan Pevita Pearce di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wirjk, juga jangan lupakan Reza Rahadian si pemain segala bisa lha ini dibuat penelitian tesis, warbiyasak! 

Lain lagi dengan salah satu tesis di jurusan Bahasa Indonesia, membahas mengenai lirik lagu Letto yang bernuansa religius. Bener juga ya? Tapi sadar nggak sih? Mas Sabrang Damar Pinuluh alias Noe nggak pernah menyisipkan kata Tuhan di dalam lirik lagunya, tapi semuaaaa lagunya bernuansa religius. Cadas! 


Seperti yang saya bilang di awal, kuliah di UM bukan sekedar pelajaran KBM semata di kelas, beberapa dosennya termasuk dospem saya yang gelarnya profesor penampilannya sederhana sekali bertopi, berjaket hitam kadang bersendal gunung bahkan sering ikut nongkrong sekedar minum kopi di kantin pojok camil. Pernah suatu hari Prof. Fattah   berseloroh "Kamu? perempuan Sunda yakin mau menikah dengan orang Jawa? Orang Jawa itu agak pelit dan perhitungan loh, siap-siap ya?" (Pelit sih nggak tapi setelah menikah ternyata suami saya memang membuatkan anggaran pengeluaran yang sungguh sangat rinci jadi kami paham arus kas perginya kemana saja)

Nah duduk makan siang bareng di kantin yang dirindangi pepohonan itu hal biasa. Iya, kami duduk semeja, ingat betul saya waktu itu semeja dengan dosen Bimbingan Konseling Lintas Budaya namanya Bu Muslihati, yaa biasa aja gitu ngobrol nanya kabar bahas kuliah, bahas hal-hal ringan, mengomentari menu saya yang istiqamah terdiri dari nasi, sayur bayam, dan tahu krispi. "Sesekali boleh loh mbak makan protein tinggi, kan sedang kuliah, otaknya dipakai berpikir"
Sungguh saya terharu, dosen manaa coba yang memperhatikan menu makanan yang dimakan mahasiwanya?
Terlepas dari konflik beasiswa yang kadang harus menunggu pencairan agak lama, atau pelayanan tata usaha yang kadang bermuka masam, sudahlah semua itu tertutup dengan semua kebaikan orang-orang yang tersebar di sekeliling saya.


Kalau ketika SD saya berulang-ulang dipahamkan bahwa semboyan Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, nah di UM ini saya berasa terjun praktek aja gitu. Meski awalnya ada gegar budaya, wajarlah itu menandakan saya manusia, bukan orang-orangan sawah yang nggak pernah galau.
UM seolah menyiapkan saya, untuk menjadi pribadi yang tahan dengan keanekaragaman, membuka lebar-lebar mata saya. 
UM lebih dari sekedar kampus, namun sekolah hidup.
Nah buat klean yang mau jadi dosen, UM lagi buka lowongan dosen tetap non PNS nih, cek aja um.ac.id siapa tahu berjodoh sama UM. Ini saya nggak dibayar sepeserpun, jadi bukan iklan loh. Bisalah kalau jadi dosen klean makan siang di bakso jalan semarang, di jalan terusan surabaya makan lalapan sinchan, nasi tongkol bu Didik, atau tahu telor cah ndeso nah agak jauhan dikit ada ayam nelongso dan bakso hebring. Buat snacknya ada sempol ayam dan pentol pak Koboi. Dua tahun kuliah disana khatam banget yhaa sama makanan wakakakakak.
Aduh UM semoga kelak kita bertemu lagi ya ðŸ’™ðŸ’™ðŸ’™


Rabu, 24 Januari 2018

Penataran pranikah di KUA, sebuah kegiatan yang benar adanya ataukah fiktif belaka?


Semalam saya dan suami berdiskusi sebelum tidur (bahasa kerennya pillowtalk), topik yang kami bicarakan adalah mengenai konseling pranikah. Nah, buat kalian yang sudah menikah pernah nggak sih masuk ke KUA ikut semacam penataran yang katanya salah satu syarat sebelum melangsungkan pernikahan. Saya akan bercerita mengenai pengalaman saya, entah sama atau tidak dengan teman-teman.

Tiga hari sebelum melaksanakan akad, saya dan bapak saya menuju KUA karena terus-menerus dihubungi juga ditanyai kapan akan mengikuti penataran sebelum menikah. Di otak saya, penataran pra menikah adalah semacam workshop atau sesi konseling dengan tenaga ahli di bidangnya, paling tidak lulusan sarjana konseling atau psikologi lah ya, ternyata tidak begitu sodara-sodara! Saya, Bapak, dan salah satu pegawai KUA berada dalam ruangan yang biasa digunakan untuk melaksanakan akad, iyee cuma kita bertiga. Pertanyaan demi pertanyaaan yang dilontarkan kok lama-lama jadi lucu. Kira-kira begini gambarannya :

Petugas KUA : Neng, Neng teh mahasiswa S2 sedang si mas calonnya hanya lulusan D3. Awas neng, harus hormat sama suami.
Saya :(menoleh ke Bapak saya, sesi macam apa ini) Loh pak, kan sudah ada aturannya bagaimanapun istri patuh dan hormat pada suami, sepemahaman saya begitu pak, aturan Allah itu mah

Kemudian petugas KUA bertanya lagi
x

Petugas KUA : Neng asli Sunda, si Mas asli Jawa, yang satu dari barat satunya dari timur, akan sulit neng. Itu teh bisa jadi pemicu prahara rumah tangga. Kalian pacaran berapa lama?
Saya :  Kami nggak pacaran pak, tukeran CV, selang dua bulan dari bertukar CV lamaran, empat bulan dari lamaran ya insya allah menikah
Petugas KUA : waduh, apalagi kalau gitu. Kenal aja belum dalam tapi memutuskan menikah, cik saya tanya sekali lagi, neng yakin? apa alasannya bisa yakin?

*Narik napas dalam-dalam*
Saya : Begini pak, ditanya siap nggak siap mah nggak akan ada yang siap, tapi saya yakin kalau nikah teh menyempurnakan separuh agama. Pokoknya mah bismilah aja. 

Ini ngapa kek saya yang sok-sokan paham tentang menikah ya?
Bapak saya yang duduk di kursi belakang cuma ngangguk-ngangguk dan senyum.
Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya saya pikir nggak perlu ditanyakan sebegitunya, lalu dimasukkan unsur suku lah, jarak lah,apalah apalah.
Saya jadi penasaran, kalau Teh Happy Salma yang menikah sama Tjokorda Bagus Dwi Santana Kerthyasa (mampus sampek apal namanya dong) itu sama petugasnya ditanyai apa dong?

Mari kita tinggalkan pengalaman penataran pranikah saya yang nggak banget. Kembali ke pillowtalk saya dengan suami mengenai konseling pra nikah, Kemenag ini sebetulnya butuh tenaga ahli konseling ga sih? Kalau ternyata karyawannya tidak memungkinkan menangani lalu kenapa tidak menggunakan tenaga teman-teman saya yang lulusan S1 atau S2 Bimbingan Konseling? Banyak dari mereka yang banting stir bahkan masih nganggur kayak saya (ealah curhat),
karena sepemahaman saya bahwa konseling pra pernikahan seyogyanya (seyogyanya, setasiknya, sebogornya) adalah kegiatan pembekalan pada pasangan yang hendak menikah dengan memahami potensi dan masalah yang akan muncul di kehidupan pernikahan itu sendiri serta bagaimana upaya baik preventif maupun kuratif. Konseling pranikah juga berfungsi menjembatani harapan-harapan dan impian pasangan serta bagaimana visi misi pernikahan ke depan. Berat? yaiya lah. Menikah itu peroses perjanjian dunia akherat, nggak bisa dibuat mainan perlu pembekalan yang serius.


Saya berharap kejadian yang saya alami hanya terjadi pada diri saya saja, Semoga di tempat lain tidak demikian, Siapalah saya ini, berharap pada kebijakan kementerian terkait rasanya sulit. Setidaknya, para pasangan yang hendak menikah mempunyai kesadaran sendiri untuk mengikuti program konseling pra nikah, nah sebaliknya pihak ahli konseling itu sendiri bisa mewadahi pasangan-pasangan tersebut.


Berikut masukan materi yang bisa diberikan di konseling pra nikah :
1. Memberikan informasi tentang kehidupan setelah pernikahan kepada calon mempelai.
Saya pribadi membayangkan menikah itu kayak lagunya "Marry Your Daughterr" nya Brian Mc Knight, indah kan? Syahdu. Kenyataanya? Sungguh lebih rumit dari itu, bersatunya dua kepala yang berbeda pada satu atap, dua kebiasaan berbeda dengan bawaaan dua pola asuh orangtua yang juga berbeda memungkinkan munculnya konflik. Saat pasangan jatuh cinta, kebanyakan tidak memikirkan kehidupan masa depan, lebih fokus ke menikmati perasaan saling mencintai. Padahal, membicarakan masa depan yang 'nyata'  sebelum menikah akan meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kesalahpahaman.

2. Meningkatkan kemampuan komunikasi dengan pasangan.
Ini penting, mengapa? Kesalahpahaman berawal dari ketidakmampuan menyerap informasi dalam proses komunikasi. Contoh, suami saya berasal dari Jawa Timur yang kalau bicara nada dasarnya tinggi, lantang, dan tanpa basa-basi. Bertolak belakang dengan saya yang berasal dari Sunda dimana nada dasar cenderung rendah, agak mendayu-dayu atau someah. Perbedaan nada dasar saat berbicara menyebabkan seringnya terjadi miskomunikasi, saya sering menganggap digertak, diteriaki, bahkan merasa sering dimarahi padahal menurut suami "Yaelah aku sekeluarga emang gini kalau ngomong, kenceng, teriak-teriak" Jalan tengah yang kami ambil, saya berusaha kebal dan tidak baper ketika suami berbicara agak naik nada dasarnya, sedangkan suami mencoba mengambil nada lebih rendah ketika mengawali pembicaraan. Win win solution kan?

3. Membahas finansial 
Masalah finansial adalah salah satu yang krusial dalam kehidupan pasca menikah, anggaran, tabungan, pengeluaran, kemampuan mengatur anggaran perlu diberikan kepada calon mempelai. Hal tersebut dirasa perlu agar permasalahan finansial ini tidak merusak keharmonisan rumah tangga.

4. Pembagian waktu dan peran masing-masing.
Kehidupan setelah menikah tentu akan berbeda dengan sebelum menikah. Menikah bukan berarti tidak menjadi diri sendiri. Menurut saya, pria lebih sering asyik terlarut dalam hobinya, apakah sudah menikah harus berhenti? Tentu tidak, ada porsi yang berbeda namun pria harus tetap mempunyai hobi, selama hobi tersebut tidak mengganggu rumah tangga tentunya. Membagi peran tidak kalah penting, apalagi setelah mempunyai anak. Pembagian tugas ketika istri baru melahirkan, sibuk begadang menyusui anak, mengurus anak, kesemuanya itu alangkah lebih baik jika dilaksanakan dengan sistem pembagian tugas. 


Ah elah macam saya udah nikah berbelas-belas tahun sok-sokan ngasih masukan materi.
Intinya gitu aja sih, semoga kelak teman-teman ahli konseling (yang sudah menikah) bisa terlibat dalam proses penataran pranikah  di KUA setempat yang mana saat ini dilaksanakan hanya demi prasyarat semata tanpa ada kegiatan 'beneran'.