Satu nama yang jarang saya menulis tentangnya.
Pria yang tampan pada masanya, bintang lapangan basket dan
berkutat dengan teknik industri semasa kuliahnya.
Manusia yang kaku, terkesan tidak ramah dan dingin.
Pintar matematika dan selalu memaksa saya mengerjakan soal
matematika.
Pernah berharap saya menjadi bintang lapangan basket, tapi
saya memilih karate sebagai ekstrakulikuler.
Bukan tipe pria yang romantis, hangat, dan selalu memeluk
dan mencium sang gadis setiap pagi.
Pernah melarang saya pergi arung jeram. “Ini musim hujan.
Kamu perempuan.”
Sering menelepon jika magrib tiba “Kamu dimana? Ini sudah
magrib”
Kami tidak pernah terlibat percakapan yang panjang,
ya..kecuali membahas masa lalunya sebagai bintang lapangan basket.
Ia selalu memandang tidak suka dan nyinyir kepada setiap
pria yang mendekati saya, cemburu? Mungkin
Kini, ketika saya berada ribuan kilometer jauhnya dari rumah
ia selalu rajin mengirim pesan singkat “Jaga kesehatan”
Dan saya memanggil dia, Bapak.
Kami dua manusia yang amat berbeda
ternyata, saya tidak menyukai angka, cerewet, berisik, suka gegabah dalam
bertindak, tergesa-gesa, bertindak dahulu baru berpikir, imajiner, suka
berkhayal.
Ia yang menyukai angka, pendiam,
kaku, pemikir, dan realistis.
Tidak ada bapak yang sempurna,
setiap bapak mempunyai caranya sendiri-sendiri untuk mencintai anaknya. Dan setiap bapak ingin anaknya mendapatkan yang terbaik, itu pasti.
Ia.....
selalu khawatir ketika anaknya
pergi dibalik marahnya ketika anak-anaknya pulang telat ada kekhawatiran dan
ketakutan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap anak-anaknya,
karena ia tahu dunia luar tidak seramah si dalam rumah.
selalu khawatir ketika anak
perempuannya didekati pria lain, bukan..bukan tidak suka pada pria tersebut. Tetapi
khawatir si pria tidak bisa memberikan apa yang bisa ia berikan. Takut pria
tersebut tidak bisa melindungi, seperti ia melindungi anak perempuannya, karena
tongkat estafet yang ia pegang harus diserahkan paa pria yang tepat
selalu menganggap ketiga anak-anaknynya
masih kecil. Kenapa? Karena cintanya masih sama seperti ketika anak-anaknya lahir.
Bapak, selamat ulang tahun. Tidak ada
kado, hadiah atau apapun yang bisa dikirim dari ribuan kilometer jauhnya dari
rumah. Namun doa adalah tangan terpanjang saya yang bisa menjangkau memeluk
bapak.
Teteh sayang bapak :*
Malang, 8 Novmber 2013








