Kamis, 07 November 2013

Untuk Pria dengan Jarak Ribuan Kilometer dari Saya

Satu nama yang jarang saya menulis tentangnya.

Pria yang tampan pada masanya, bintang lapangan basket dan berkutat dengan teknik industri semasa kuliahnya.
Manusia yang kaku, terkesan tidak ramah dan dingin.
Pintar matematika dan selalu memaksa saya mengerjakan soal matematika.
Pernah berharap saya menjadi bintang lapangan basket, tapi saya memilih karate sebagai ekstrakulikuler.
Bukan tipe pria yang romantis, hangat, dan selalu memeluk dan mencium sang gadis setiap pagi.
Pernah melarang saya pergi arung jeram. “Ini musim hujan. Kamu perempuan.”
Sering menelepon jika magrib tiba “Kamu dimana? Ini sudah magrib”
Kami tidak pernah terlibat percakapan yang panjang, ya..kecuali membahas masa lalunya sebagai bintang lapangan basket.
Ia selalu memandang tidak suka dan nyinyir kepada setiap pria yang mendekati saya, cemburu? Mungkin
Kini, ketika saya berada ribuan kilometer jauhnya dari rumah ia selalu rajin mengirim pesan singkat “Jaga kesehatan”
Dan saya memanggil dia, Bapak.
Kami dua manusia yang amat berbeda ternyata, saya tidak menyukai angka, cerewet, berisik, suka gegabah dalam bertindak, tergesa-gesa, bertindak dahulu baru berpikir, imajiner, suka berkhayal.
Ia yang menyukai angka, pendiam, kaku, pemikir, dan realistis.
Tidak ada bapak yang sempurna, setiap bapak mempunyai caranya sendiri-sendiri untuk mencintai anaknya. Dan setiap bapak ingin anaknya mendapatkan yang terbaik, itu pasti.

Ia.....
selalu khawatir ketika anaknya pergi dibalik marahnya ketika anak-anaknya pulang telat ada kekhawatiran dan ketakutan akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap anak-anaknya, karena ia tahu dunia luar tidak seramah si dalam rumah.

selalu khawatir ketika anak perempuannya didekati pria lain, bukan..bukan tidak suka pada pria tersebut. Tetapi khawatir si pria tidak bisa memberikan apa yang bisa ia berikan. Takut pria tersebut tidak bisa melindungi, seperti ia melindungi anak perempuannya, karena tongkat estafet yang ia pegang harus diserahkan paa pria yang tepat

selalu menganggap ketiga anak-anaknynya masih kecil. Kenapa? Karena cintanya masih sama seperti ketika anak-anaknya  lahir.

Bapak, selamat ulang tahun. Tidak ada kado, hadiah atau apapun yang bisa dikirim dari ribuan kilometer jauhnya dari rumah. Namun doa adalah tangan terpanjang saya yang bisa menjangkau memeluk bapak. 

Teteh sayang bapak :*
Malang, 8 Novmber 2013


Rabu, 06 November 2013

Dancing Our Tounge at Pujasega, Garut.

Garut adalah salah satu kota dimana saya tidak pernah bosan untuk mengunjunginya. Garut terkenal dengan objek wisata air panasnya, kita bisa menemukan banyak tempat berendam air panas. Sudah berenang atau berendam pasti lapar dong? Kali ini saya akan mengulas mengenai rumah makan Pujasega, Garut. Resto yang buka dari pukul 09.00 sampai dengan pukul 22.00 ini menyediakan menu makanan mulai dari makanan Sunda, Asian hingga Europe, harga yang ditawarkan beragam mulai dari Rp. 5.000 sampai dengan Rp.65.000 per satu menu makanan. Tempat duduk yang disediakan pun luas, kita bisa memilih kursi, sofa, atau lesehan dengan menggunakan bantal supaya bisa duduk dengan nyaman. Free wi-fi membuat makhluk macam saya betah berlama-lama di Pujasega, sayangnya sinyal wi-fi tidak sampai ke tempat duduk lesehan yang berada di belakang Resto. Uniknya tempat ini, kita merasa berada di tengah sawah sekaligus diatas kolam. Meja yang saya pilih adalah meja lesehan di sebelah miniatur sawah dan diatas kolam ikan. Saya dan rombongan memesan Colenak sebagai makanan pembuka,  Gurame Asam manis, Sate Kambing, Sapo Tahu, Sop kaki sapi, Tumis kangkung, Tom Yam, dan Zupa-zupa. Dan jangan pikir saya memesan semua makanan untuk dimakan sendiri ya? Bisa-bisa pulang kenyang bego kalau semua masuk ke perut saya. Karena saya termasuk manusia pemakan sayur dan bukan pemakan daging merah, saya memilih  Tom Yam. Okay kita bahas satu per satu.

1. Gurame Asam Manis
Ikan gurame di goreng kering, crispy dan renyah disiram saus juicy yang terdiri dari potongan buah nanas, paprika hijau, paprika merah, bawang bombay, cabai merah. Saus tomat agak dominan. Asem, manis, tapi kalau kurang manis boleh lah kamu ngajak saya buat makan terus makannya sambil ngeliatin wajah saya, dijamin manis banget :P


2.       Sate Kambing
Saya nggak suka daging merah, jadi nggak makan sate kambing yang dipesan oleh salah tante saya. Menurut penuturan dari narasumber (kok berasa seminar gini ya? Hahaha) tekstur dagingnya empuk, nggak ada bau kambing sama sekali, satenya disajikan dengan sambal kecap dan bumbu kacang yang kental dan gurih. Satu porsi sate kambing terdiri dari 10 tusuk sate belum termasuk nasi ya?



3.       Sapo Tahu
Tofu Jepang yang lembut ditumis dengan sayuran pelengkap yang terdiri dari wortel, paprika merah,paprika hijau,bawang bombay, jamur kancing, udang ukuran sedang. Yang saya suka dari sapo tahu ini adalah rasa bawang putih yang berpadu dengan irisan jahe yang dimemarkan, cocok banget dimakan pas cuaca kota Garut mendung atau hujan, tapi kalau dimakan pas cuaca panas juga enak-enak aja sih (maklum ababil :p)



4.       Sop Kaki Sapi
Sop yang kuahnya segar, lengkap dengan irisan seledri, daun bawang, dan bawang goreng ditabur diatasnya. Disertakan dengan irisan jeruk nipis, sambal dan kecap. 



5.       Tumis Kangkung
Naaah ini favorit saya, kangkung ditumis dengan bumbu yang juicy, disajikan diatas hot plate alias piring panas. Dilengkapi dengan telur puyuh dan irisan daging sapi. Kata sepupu saya yang memakan dagingnya, empuk, gurih dan nggak keras. Kangkungnya fresh, nggak terlalu matang tapi nggak mentah juga, renyah.



6.       Tom Yam
Tom yam adalah sup khas Thailand, rasanya asam dan pedas. Tom Yam di Pujasega ini terdiri dari jamur, udang ukuran sedang, dan cumi-cumi yang diiris. Buat kamu penyuka seafood kayak saya, cobain deh Tom Yam disini, pedas, asam, segeeer deh.



7.       Zupa-zupa
Sepupu saya yang lainnya memesan zupa-zupa, tekstur roti yang menyelimuti supnya lembut. Isi supnya pun dilengkapi potongan daging ayam yang cukup banyak. Creamy, melted, gurih dan rasa susunya menari-nari di mulut Cuma nggak tau juga nari nya gaya apa, ngebor, goyang patah-patah atau goyang itik. Hehehehehe




Minuman di Resto Pujasega ini pun beragam mulai dari minuman tradisional seperti bandrek, bajigur, aneka jus, sampai berbagai macam kopi mulai dari robusta, capucino dan kopi luwak.
Saran saya sih, kalau makan disini pesennya beda-beda karena porsi yang disajikan cukup besar, jadi bisa saling tukeran makanan atau bahkan patungan. Hehehehe

"SKRIPSI ADALAH HARGA DIRI"


Saya, mahasiswa yang mengenyam sembilan semester di masa studi (jangan ditiru ya adik-adik tercinta). Manusia dengan kecemasan diatas rata-rata orang kebanyakan, memaknai skripsi sebagai tugas akhir yang cukup berat. Nangis-nangis dan geleng-geleng ketika dihadapkan dengan angka serta SPSS yang saya anggap mimpi buruk laksana diteror mantan pacar. Kecemasan saya terjawab ketika sidang skripsi saya yang heboh di persiapan, mulai dari laptop yang tiba-tiba mati total, badan yang sempoyongan dan muntah-muntah, serta speaker di ruang sidang yang harus dicari-cari oleh akang office boy di setiap sudut kantor jurusan. 

Well, 45 menit di ruang sidang berasa keringat dingin mengalir adari seluruh tepian jidat saya nan lebar dan puaaanjang (itulah choki-choki). Keluar dari ruang sidang disambut pelukan sahabat-sahabat saya yang rela jauh-jauh datang hanya umtuk menyaksikan saya sidang. “Udah kan aish? Gitu doang?”

Yang selama ini nangis-nangis kalau mau bimbingan skripsi, yang selama ini mumet sampai wajah jerawatan nggak karuan, yang selama ini menenggak entah berapa cangkir kopi hitam setiap malam, yang selama ini butuh banget banyak dukungan dan bantuan, yang selama ini rela nunggu dosen di depan ruangannya sampe tiduran di koridor. See?

Saya yang nggak pinter-pinter amat, bisa kok lolos di ruang sidang. Saya yang bego statistiknya nggak ketulungan bisa kok ngejawab angka meskipun gelagapan. Saya yang merasa butuh banyak liburan karena stres berkepanjangan, bisa kok ketawal-ketawa setelah sidang. Modal skripsi ternyata adalah tiga D (Data, dosen, diri) yang point ketiga ini nih yang paling susah dikalahkan dan dimengerti apa maunya.

Skripsi adalah harga diri dan sebuah karya akan perjalanan hati (cieileh bahasanya). Godaan mengerjakannya kadang lebih banyak ketimbang niat dan tekad yang bulat sebulat telapak tangan doraemon yang selalu kalah kalau diajak suit jepang. Yang tidak kalah penting dari skripsi adalah lembaran ucapan terima kasih. Tuliskan semua orang yang berperan penting dalam proses penulisan skripsi, orang tua, adek, kakak, bibi, om, uwa, keponakan, keluarga besar sebesar-besarnya cantumin aja karena mereka kita ada dan skripsi kita tercipta, sahabat-sahabat, karena buat saya ruh skripsi itu ada pada sahabat. Orang yang bareng ngantri bimbingan ke dosen pembimbing, orang yang bantuin pusing-pusing mikirin data yang tidak kunjung valid, bahkan sahabat yang rela ngasih free ngeprint dan minjemin komputer atau laptop. Semua dosen dan staf jurusan juag nggak kalah penting loh. Well, orang yang ngajakin kita liburan pas mumet skripsi juga ditulis aja, nggak peduli dia bakal baca atau nggak. Yang penting, kiata sudah berterima kasih atas ajakannya mendinginkan otak yang ngebul ngerjain skripsi.

Anyway, orang dong-dong yang lebay bin alay kayak saya aja bisa kok ngerjain skripsi, lulus dengan predikat yang sangat memuaskan pula. Apalagi kalian, orang hebat yang punya segudang potensi yang kalo ditulis udah kayak shaf orang lagi sholat idul fitri. Keep spirit guys

Hei Tuan berkaus abu-abu





Hey tuan, apa ada dalam pikiranmu hingga dahimu mengernyit dan alis agak terangkat ke sudut atas matamu. Tanganmu yang dilipat di dada menandakan kau sedang berjaga-jaga, tidak ingin dibaca pikiran dan hatimu.

Hey tuan berkaus abu, apa yang kamu lihat? Matamu tajam namun tersirat gurat keteduhan, senyummu menandakan banyak arti yang tidak mudah ditangkap, lambaian tanganmu menandakan keramahan yang tersembunyi di balik sedikit keangkuhan.

Hey tuan berkaus abu, apa yang hendak kau bicarakan? Bibirmu kadang ditekuk karena kikuk, sapamu seperti ragu, ya seperti warna kaus yang kau kenakan. Abu-abu, agak penuh dengan ketidakjelasan.

Hey tuan berkaus abu, mengagumimu dari jauh sudah cukup bagiku, sudah cukup membuat hariku berwarna, tidak abu-abu seperti kausmu, tidak bisa melihat lebih dekat namun cukup menutupi kepuasanku dengan semburat wajahmu yang ragu, diantara lalu-lalang orang kemudian kau sering hilang dari pandang.