Saya, mahasiswa yang mengenyam sembilan semester di masa
studi (jangan ditiru ya adik-adik tercinta). Manusia dengan kecemasan diatas
rata-rata orang kebanyakan, memaknai skripsi sebagai tugas akhir yang cukup
berat. Nangis-nangis dan geleng-geleng ketika dihadapkan dengan angka serta
SPSS yang saya anggap mimpi buruk laksana diteror mantan pacar. Kecemasan saya
terjawab ketika sidang skripsi saya yang heboh di persiapan, mulai dari laptop
yang tiba-tiba mati total, badan yang sempoyongan dan muntah-muntah, serta
speaker di ruang sidang yang harus dicari-cari oleh akang office boy di setiap
sudut kantor jurusan.
Well, 45 menit di ruang sidang berasa keringat dingin
mengalir adari seluruh tepian jidat saya nan lebar dan puaaanjang (itulah
choki-choki). Keluar dari ruang sidang disambut pelukan sahabat-sahabat saya
yang rela jauh-jauh datang hanya umtuk menyaksikan saya sidang. “Udah kan aish?
Gitu doang?”
Yang selama ini nangis-nangis kalau mau bimbingan skripsi,
yang selama ini mumet sampai wajah jerawatan nggak karuan, yang selama ini
menenggak entah berapa cangkir kopi hitam setiap malam, yang selama ini butuh
banget banyak dukungan dan bantuan, yang selama ini rela nunggu dosen di depan
ruangannya sampe tiduran di koridor. See?
Saya yang nggak pinter-pinter amat, bisa kok lolos di ruang
sidang. Saya yang bego statistiknya nggak ketulungan bisa kok ngejawab angka
meskipun gelagapan. Saya yang merasa butuh banyak liburan karena stres
berkepanjangan, bisa kok ketawal-ketawa setelah sidang. Modal skripsi ternyata
adalah tiga D (Data, dosen, diri) yang point ketiga ini nih yang paling susah
dikalahkan dan dimengerti apa maunya.
Skripsi adalah harga diri dan sebuah karya akan perjalanan
hati (cieileh bahasanya). Godaan mengerjakannya kadang lebih banyak ketimbang
niat dan tekad yang bulat sebulat telapak tangan doraemon yang selalu kalah
kalau diajak suit jepang. Yang tidak kalah penting dari skripsi adalah lembaran
ucapan terima kasih. Tuliskan semua orang yang berperan penting dalam proses
penulisan skripsi, orang tua, adek, kakak, bibi, om, uwa, keponakan, keluarga
besar sebesar-besarnya cantumin aja karena mereka kita ada dan skripsi kita
tercipta, sahabat-sahabat, karena buat saya ruh skripsi itu ada pada sahabat.
Orang yang bareng ngantri bimbingan ke dosen pembimbing, orang yang bantuin
pusing-pusing mikirin data yang tidak kunjung valid, bahkan sahabat yang rela
ngasih free ngeprint dan minjemin komputer atau laptop. Semua dosen dan staf
jurusan juag nggak kalah penting loh. Well, orang yang ngajakin kita liburan
pas mumet skripsi juga ditulis aja, nggak peduli dia bakal baca atau nggak.
Yang penting, kiata sudah berterima kasih atas ajakannya mendinginkan otak yang
ngebul ngerjain skripsi.
Anyway, orang dong-dong yang lebay bin alay kayak saya aja
bisa kok ngerjain skripsi, lulus dengan predikat yang sangat memuaskan pula.
Apalagi kalian, orang hebat yang punya segudang potensi yang kalo ditulis udah
kayak shaf orang lagi sholat idul fitri. Keep spirit guys

Tidak ada komentar:
Posting Komentar