Rabu, 10 Desember 2014

Putus Mata Rantai Cinderella Complex dan Peter Pan Syndrome

Setiap anak gadis pasti pernah denger cerita tentang putri Cinderella kan? Putri yang cantik jelita namun dijadikan babu oleh ibu tiri dan saudari tirinya, ingin mengikuti pesta dansa namun tidak memiliki pakaian layak dan dengan bantuan peri baik ia diberikan kereta kencana dari labu, gaun cantik serta sepasang sepatu kaca. Nah, berawal dari sepatu kaca yang tertinggal maka Cinderella dicari sang pangeran singkat cerita mereka hidup bahagia selamanya. Well, itu Cuma ada dalam negeri dongeng bukan?

Perlu diketahui, kini ada kelainan perilaku yang dinamakan Cinderella Complex, gejala yang diperlihatkan adalah wanita yang sangat memerlukan kasih saying dari pria, mempunyai role model pasangan paling ideal adalah ayahnya yang menyayangi dengan sepenuh hati. Wanita yang mengalami Cinderella complex memiliki sebuah ketakutan untuk mandiri, yang ada di dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”.  Faktor penyebab terjadinya Cinderella Complex yaitu perlakuan orang tua yang terlalu memanjakan anak perempuannya bahksan sampai mereka berusia remaja atau dewasa. Setelah tumbuh menjadi wanita deasa biasanya yang terkena Cinderella Complex enggan hidup mandiri dan dihantui rasa ketergantungan akan orang lain, selalu membutuhkan orang dalam menjalankan kegiatannya sehari-hari.

Sementara pada pria terdapat Sindrom Peter Pan. Tahu kan Peter Pan? Bukan band asal Antapani Bandung tentunya, tapi Peter Pan tokoh dalam negeri dongeng. Watak Peter Pan yang serba kekanak-kanakan. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok anak kecil yang menolak menjadi dewasa dan lebih memilih untuk menjadi anak-anak agar bisa terus bermain. Lalu apa hubungannya dengan Peter Pan Syndrome? Gangguan perilaku yang ditunjukkan adalah laki-laki yang menolak untuk menjadi dewasa dan cenderung bersikap manja. Hal yang dapat mempengaruhinya adalah lingkungan. Pria yang terkena Peter Pan Syndrome cenderung mencari pasangan yang memiliki sifat keibuan. Peter Pan Syndrome memiliki beberapa ciri-ciri yang Nampak secara kasat mata yaitu 1) cenderung tidak bertanggungjawab 2) sulit untuk berkomitmen 3) tidak bisa menerima kritik 4) enggan disebut tua dan sealu ingin menjadi anak muda 5) enggan disalahkdan dan mudah menyalahkan.

Well, Cinderella Complex dan Peter Pan Syndrome harus mulai diputus mata rantainya agar tidak menciptakan genarasi “manja” yang tersebar dimana-mana. Ketergantungan akan manusia lain memang sebuah kebutuhan karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial, namun porsi akan ketergantungan terhadap orang lain tersebut perlu dipertimbangkan. Kemudian perlu adanya penanaman sikap disiplin dan tanggungjawab terutama pada pria, agar generasi “Peter Pan” tidak lagi berhamburan di linimasa yang kita pijak ini.

Kebayang dong reptnya seperti apa jika si Peter Pan ini dikawinkan dengan Cinderella?
Yang pria enggan mendapat tanggungjawab, malas menjadi dewasa, selalu ingin dimanja sementara wanita ingin dijunjung tinggi, diperlakukan secara hormat, diantar kemana-mana karena dihantui ketakutan. Terus aja kayak gitu sampai nanti Doraemon dinobatkan sebagai Walikota Tasikmalaya.

Karena hidup tidak seindah negeri dongeng, alangkah baiknya jika kita mendongeng pada anak hidari kata “dan mereka hidup berbahagia selamanya”

Sabtu, 18 Oktober 2014

Dari Fajar kepada Senja

Sial. Pagi ini aku terlambat lagi untuk entah keberapa kalinya. Matakuliah isu-isu masyarakat pedesaan ini memang terlalu pagi untuk manusia makhluk malam dan bulukan sepertiku, kutarik handuk dengan kasar di gantungan baju belakang pintu, berlari ke kamar mandi untuk menyikat gigi, mengguyur badan, sekedar mengguyur badan karena terlalu singkat jika dinamakan mandi jika hanya memakan waktu kurang dari tiga menit. Lebih cepat dari menyeduh mi instan.

Aku hobi berlari, jadi tidak masalah jika harus menaiki anak tangga menuju ruangan kelas yang berada di lantai tiga, berlari ibarat bertanding di jogging track itu lebih baik daripada mengantri lift lama-lama berdesak-desakan pula dengan mahasiswa baru nan manja enggan menggunakan tangga. Ini tahun terakhirku di Universitas Negeri Bandung dimana luas lahannya hampir sama dengan satu kecamatan tempat tinggalku, Cimahi. Dosen matakuliah ini pasti sudah hapal benar dengan wajahku, aku mengulang kedua kalinya untuk matakuliah ini. Sulit? Sama sekai tidak, hanya saja aku pernah mendebat habis-habisan dosen yang bergelar doktor itu di hadapan teman-teman sekelasku, merasa dilecehkan di Kartu Hasil Studi pun lahir hurup D. Nilai memang hanya berupa angka kuantitatif, tapi aku dibesarkan di keluarga Indonesia. “Aa maenya aya nilai D? Matakna ulah ameng wae, ulah naek gunung wae, ulah hayoh wae diving, diajar sing bener, sing karunya ka Mamah atuh a”  (Aa masa ada nilai D? makanya jangan main melulu, jangan naik gunung, menyelam melulu, belajar yang bener, kasian mamah kamu ini A) omelan salah satu dari tiga penghuni dirumahku memaksa aku mengulang matakuliah ini, sekelas dengan adik tingkat tentunya. Ah, junior-junior yang beberapa tahun kemarin aku jahili di acara perkemahan jurusan kini harus sekelas denganku. Bukan gengsi, tapi aku kerapkali jadi bulan-bulanan karena dianggap senior, mengetahui segalanya. Mereka lupa, bahwa senior juga manusia bukan dewa.

“Fajar Wicaksana, kamu lagi, kelas saya lagi, dan terlambat lagi padahal ini hampir akhir semester dan kamu masih saja mempertahankan keterlambatanmu. Masih saja betah di kelas saya rupanya? Mau bertemu saya lagi tahun depan?” ujar dosen yang mengenakan kacamata yang selalu duduk di kursinya sepuluh menit sebelum kelas dimulai.

“Pemuda masa sekarang, diminta bangun pagi, duduk di kelas saja sulit. Apalagi jika kamu hidup di masa Rorojongrang meminta Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam semalam. Huh Tuhan…” lanjut dosenku sambil membenarkan posisi frame kacamatanya yang berbentuk kucing. Sudah kebal rasanya mendengar celotehan wanita seperti itu, wanita memang begitu bukan? Cerewet, banyak bicara, banyak menuntut, agak menyebalkan apalagi ketika memasuki masa menstruasi atau menapouse. Keganasannya melebihi singa Afrika yang tidak kunjung menemukan rusa atau zebra untuk diterkam. Hawa panas dosenku di ruangan kelas yang AC nya mati ini agak teduh oleh mata sayu dari asdos berbaju hijau motif bunga dengan balutan cardigan pink muda, serasi dengan warna bunga pada dressnya. Dia Senja, nama lengkapnya Senja Pramudita. Teman seangkatanku, dia pintar lebih spesifiknya cerdas. Karya tulisnya sering dimuat di beberapa harian baik regional maupun nasional, aktifis lingkungan hidup sekaligus penggiat acara yang berbau penyelamatan bumi. Cantik? Tidak terlalu, namun tiga detik adalah waktu yang terlalu sebentar jiga memandangi guratan alisnya seperti barisan semut yang sedang bersalaman. Rambutnya ikal dan tebal digerai sebahu,wajahnya bersih tanpa make up berlebih juga wangi vanilla jika ia berjalan disebelahku. Aku benci jika ia tersenyum, itu memutuskan beberapa urat saraf di otakku. Seperti terkena “space dementia”  secara singkat berarti kehilangan fungsi intelektual baik itu berpikir, mengingat, dan mempertimbangkan sesuat yang parah, sehingga mengganggu fungsi sehari-hari. Lebay? Mungkin. Tapi ada magnet tersendiri jika Senja berjarak beberapa meter didepanku. Seperti Jacob Black yang ter-imprint oleh Renneseme anak dari si vampire Edward Cullen dan Bella Swan yang filmnya sempat dijejali penonton di semua studio film.

“Fajar, tugas dari ibu Setiawati dikumpulkan ke aku saja ya. Kirim email biar nggak ribet, sudah selesai kan?” suara renyah Senja membuyarkan lamunanku. “Hah? Apa? Tugas? Kan udah? Kok ada tugas?” semoga Senja tidak membaca gugupku Ya Tuhan. “Kamu kan tadi kesiangan, tugas hukuman mungkin ya lebih tepatnya. Buat reflection paper tentang masyarakat desa aja sih, nggak susah kan? Lagian skripsi kamu kan tentang Desa Adat Cireundeu Cimahi kan, gampang dong? Kecil lah tugas kayak ginian buat kamu” Senja menyodorkan secarik kertas berituiskan alamat emailnya. “Ini emailku, kamu kirim maksimal empat hari kedepan ya Jar, enggak terlambat lagi ya minggu depan masa senior tukang bentak-bentak juniornya terlambat melulu, perlu aku SMS supaya kamu bangun pagi nggak sih? Absen kamu sudah bolong tiga loh, jangan sampai ngulang lagi. Bosen nanti Bu Setiawatinya, hehehe cerewet banget ya aku? Skripsi kamu apa kabar Jar?” kalimat Senja meluncur dengan selamat di telingaku selancar tol Cipularang di tengah malam, agak ngebut tapi tanpa menukik. “Iya, skripsiku? Kabar baik” jawabku ngasal. “Duluan ya, laper” lanjutku sambil menggendong ranselku. “Bye, Senja”

Koperasi Mahasiswa pada jam makan siang memang bukan tempat yang tepat buat dikunjungi. Tapi rasa karedok dan pecelnya itu nagih. Karedok, makanan khas Sunda berbahan dasar sayuran mentah yang ditambahkan bumbu kacang. Aku lebih suka menambahkan tahu, lontong, kerupuk dan segelas teh tawar panas. Setelah makan aku harus segera ke Desa Adat Cireundeu bersama dua orang temanku yang juga meneliti disana, Restu dan Dera. Kampung Cireundeu adalah desa adat yang terletak di lembah gunung namun secara administratif berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Hal yang menarik dari kampung ini yaitu di mulut jalan terdapat tulisan Hanacaraka “Wilujeng Sumping di Kampung Cireundeu” dengan arti selamat datang para tamu di daerah kampung Cireundeu. Kampung ini tidak memposisikan sebagai objek wisata, tetapi lebih focus pada desa yang masih memelihara tradisi lama yang diwariskan oleh tetua adat dulu. Masyarakat Kampung Cireundeu beranggapan bahwa sekecil apapun makna kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur wajib untuk dipertahankan. Jika orang awam melihat secara sekilas, ada dua hal yang paling menarik pada masyarakat Kampung Adat Cireundeu yaitu bahan makanan pokok dan tradisi satu Sura.

Baiklah aku jelaskan sedikit mengenai penelitianku mengenai Kampung Adat Cireundeu. Prinsip hidup warganya adalah “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” artinya “Ngindung Ka Waktu” adalah mereka sebagai warga desa adat memiliki cara, ciri, dan keyakinan masing-masing. Sedangkan “Mibapa Ka Jaman” berarti masyarakat desa adat tidak melawan perubahan zaman tapi mengikuti adanya teknologi seperti alat elektronik, alat komunikasi, dan penerangan.
Wayah kieu ngalamun keneh Jar? Ngalamunkeun naon sih maneh? Matakna boga kabogoh ameh semangat skripsina” (Hari gini masih melamun Jar? Melamun gara-gara apa sih? Makanya punya pacar supaya semangat mengerjakan skripsi) Restu merebut Milo kaleng dingin dari genggamanku. “Halah si Fajar mah bencong, loba kasieun. Ngomong bogoh ka awewe wae hese, sok-sokan cool, kalem, padahal mah gegebegan mun nempo nu dpikabogoh” ( Halah si Fajar bencong banyak banget ketakutannya, bilang cinta ke wanita aja susah, sok-sokan cool, kalem, padahal deg-degan kalau orang ketemu orang yang dicintai) Dera meimpali Restu sambil mengaduk-aduk isi tasnya mencari charger kamera digitalnya.

Sent! Tugas hukumanku terkirim ke email Senja. Kurogoh ponsel di saku ransel untuk mengirim SMS pada Senja.
To : Senja
Tugasku udah dikirim ke email. Tks

From : Senja
Sip Jar, nanti aku cek. Anw dua minggu lagi aku sidang skripsi, Surat Keputusannya udah ada. Aku bakal seneng kok kalo kamu dateng. Nggak perlu bawa pom-pom atau perkusi sih, senyumin aku pas keluar ruang sidang udah istimewa banget J

To : Senja
Congrats. We’ll see ya.

Agak sulit mendeskripsikan kedekatanku dengan Senja. Kami hampir selalu bersama, mengerjakan tugas, nonton film baru, menghadiri festival buku, berburu foto matahari terbit dan terbenam, tapi aku masih saja kaku, kelu benar memanggil namanya, keringat dingin sering mengalir deras ketika itu aku menarik tangannya di Sungai Citatih Sukabumi saat arung jeram lalu tiba-tiba perahu kami terbalik. Sesuai namanya, Senja menyukai matahari terbenam, berlari dengan running shoes berwarna merah, rambut diikat, jaket nude pink plus earphone di sepasang telinganya. Anak rambutnya terlepas perlahan dari tali rambut, keringat berlomba menuruni dahi, pelipis dan berakhir di dagu lancipnya. 
Senja yang sering sekali terkilir di bagian pergelangan kaki, berteriak meringis kesakitan jika aku mencoba menbetulkan posisi urat kaki yang disposisi. Senja yang selalu makan pedas, membubuhkan banyak sekali sambal pada bakso yang ia makan, lalu beberapa hari kemudian terkapar karena diare atau maag kronisnya kambuh. Wanita, rentan sekali akan penyakit yang berhubugan dengan pencernaan tapi tidak pernah kapok untuk meninggalkan apa yang membuat mereka sakit. Bagus bukan analogi yang aku gunakan?

Hari ini Senja sidang skripsi, ia berpakaian rapi rambut diikat dengan harnet, berkemeja putih tulang dipadukan blazer coklat dan mengenakan rok selutut. Sepatu hak setinggi 12cm berwarna coklat tuanya serasi dengan tas selendang yang ia bawa di bahu kanannya, sementara tangan kirinya membawa tumpukan skripsi, kertas, dan catatan kecil untuk keperluan presentasi sidangnya.
“Fajar, doain ya? Laptop aku mati dong tadi malem, udah pengen nangis aja. Terus sempet muntah-muntah efek makan rujak pula, agak migraine dan semoga kuat deh ya di hadapan dosen-dosen nanti. Mana dua professor yang jadi penguji aku, eyeliner aku ngebantu mata panda nggak? Listik yang aku pake sekarang pucet ga? Jar? Cengo melulu ih, jawaab” Senja terus menerus bercermin di depan ruang sidang, padahal mataku mungkin bisa menjadi cermin terbaik baginya. Ia selalu cantik dimataku, entah dengan atau tanpa eyeliner, masa bodoh dengan lipstick warna apa yang ia kenakan, yang aku tahu cerocosan kalimat dari bibirnya walau berisik tapi itu yang aku akan rindukan nanti. “I don't care, as long as I'm with you” kalau kata Mowgli sih kurang lebih begitu. Senja mengikuti program sarjana mengajar ke pelosok daerah selama setahun kedepan. Agak sedih sih, hey? Tapi siapa aku? Berhak merasa kehilangan padahal tidak pernah memiliki. Belum memiliki lebih tepatnya, aku lebih memilih memapankan diri terlebih dahulu sebelum berani mengutarakan perasaanku. Itu semacam prinsip didikan kedua orangtua sejak aku duduk di bangku SMA.
“Minum seteguk. Makan ini” aku menyodorkan sebotol air mineral dan satu bar coklat hitam pada Senja. “Good Luck” sambungku sambil menepuk pundaknya.

Empat puluh lima menit berlalu, Senja keluar dari ruangan sidang yang berisi dua orang professor sebagai dosen penguji dan satu dosen pembimbing skripsi. “Aku luluuuus kyaaaaaa luluuuuss” Senja berteriak melompat-lompat dengan mata berkaca-kaca menghambur ke pundakku sambil meraih ponsel hendak menelepon ibu atau bapaknya mungkin. “Ibu, Senja udah selesai sidangnya, lancar Alhamdulilah semua berkat doa Ibu sama Bapak” beberapa teman kami mulai berebut memeluk Senja. Ada banyak bahagia menggebu sekaligus haru tapi ada secuil kesedihan. Senja sudah lulus, berarti minggu depan ia akan mengikuti pelatihan fisik dan mental untuk berangkat ke pulau terpencil sebagai pengajar. Kudengar satu nama Kecamatan sasaran program mengajar di daerah terpencil yang akan didatangi Senja dan timnya adalah Amfoang. Satu kecamatan di daerah Kupang, kabarnya diperlukan waktu perjalanan selama setengah hari untuk menuju daerah sasaran, tidak ada koneksi bagi layanan seluler apalagi internet. Agak khawatir sebenarnya, tapi Senja adalah wanita yang mempunyai kemauan yang keras mempuyai prinsip “A comfort zone is a beautiful place but nothing ever grows there”

From : Senja  
Jar bisa anter ke bandara nyanyi-nyanyi sayonara bisa kali?

To : Senja
Sip. Penerbangan jam berapa?

From : Senja
Lusa jam empat pagi dari Jakarta kumpul di kampus sih jam 10 malem, Cuma pengen sarapan dulu roti gempol. Roti bakar gandum selai kacang ditemenin greentea milkshake, sebelum nanti Cuma makan singkong rebus sama sayur daun singkong atau apa sih makanan daerah timur gitu. Terus pengen bakso Akung yang pedeeees banget, pengen naek ayunan di taman lalu lintas. Ah, I’ll be missing Bandung Jar, include You L eh belum boleh gloomy yah? Kan masih lusa hahahaha

To : Senja
Yaudah, besok hubungi lagi aja.


“Tengs loh Jar aku kenyaaaang banget muter-muter Bandung hari ini, eh perlu nyanyi lagu Leavin’ on a jet plane ga sih? Hahaha sedih ih, Ibu juga sempet nangis kemarin malem, takut aku kenapa-kenapa, kebayang nggak tanpa sinyal, listrik kadang katanya mati seharian, mandi nampung air hujan, jalan nyebrang sungai. Cuma setahun sih, doain semoga lancar ya Jar, semoga aku nggak teriak-teriak minta pulang. Hahaha Kamu harus sidang bulan depan, jadi ambil S2 di Jogja nya?  ” dibalik tawa Senja sore ini ada kekhawatiran mendalam.

“Kamu jangan hiperaktif di tempat baru, bawa tisu basah yang banyak buat mandi, skripsiku selesai kok, udah daftar sidang juga dan udah cari info S2” ujarku sambil menyetir menatap jalan Setiabudi yang disiram gerimis, basah, agak berkabut dan awan hitam menggumpal membentuk gerombolan warna kelabu.

Bulan pertama Senja masih memposting beberapa foto tempatnya mengabdi di instagram, mengirim beberapa pesan singkat, menelepon bercerita kalau dia harus naik ke pohon kamboja di dekat kuburan hanya untuk mendapatkan sinyal, tawa khasnya masih bisa aku dengar namun sudah hampir delapan bulan ia tak mengabari, tak ada postingan apapun di jejaring sosial, ponselnya pun agak susah dihubungi, kabarnya ia dipindah ke daerah yang lebih terpencil. Sepuluh jam dari Kupang. Empat bulan lagi ia akan pulang, aku akan bercerita tentang tesisku mengenai kampung idiot di Ponorogo. Aku punya waktu empat bulan lagi untuk mengumpulkan keberanian mengutarakan perasaanku pada Senja. Empat bulan, sekitar seratus duapuluh hari lebih.

From : Senja
Hai Jar, udah kayak manusia gua gini lah aku. Ini di pusat Kota Kupang. Aku pulang minggu depan, udah kangen banget lah sama macetnya jalan Dago, sama ketan bakar Lembang, sama sorabi yang dimasak sambil jongkok terus bau tungku. Yang dikangenin makanan melulu yah? Hahaha.. ini wajahu udah tanning kayak orang Uganda. See You next week ya Fajar

To : Senja
Ada tempat ngopi baru di dago Pakar, nanti kita kesana.

Aku memilih kemeja flanelku yang berwarna biru dan celana pendek army untuk menjemput Senja di Bandara, mengajak ke kedai kopi di daerah Dago Pakar yang desainnya menggunakan batu-batu, kayu, dan greentea latte nya Senja pasti suka. Butuh keberanian yang harus disusun dari bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun. Hari ini Senja harus tahu perasaanku, tidak peduli kulit dia menghitam, model rambut dia tidak beraturan, dan kehabisan eyeliner juga lipstick selama di daerah terpencil.
“Fajar!” ada suara memanggil namaku di koridor travel di Jalan Cipaganti. Pemilik suara itu mengenakan kaos berwarna biru muda, syal motif abstrak, dan sandal jepit. Ah istimewa namun sederhana, menarik.

“Aku kucel banget, belum bedakan, nggak sempet mandi beneran Cuma mandi boongan pakai tisu basah,saran kamu sebalum aku pergi aku bawa tisu basah yang banyak dan itu bener-bener ngebantu banget, jangan-jangan kamu kalau mendaki gunung nggak pernah mandi juga yah? lipstick, lipbalm, dan eyeliner aku habis, belum makan juga. Jar ini udah mirip pithecanthropus erectus versi gondrong belum? Eh gimana-gimana tesis kamu ngebahas apa sih? Aih ketinggalan banyak cerita yah aku. Aku juga mau cerita banyak hal sama kamu Jar kamu harus tahu aku tiap hari nyebrang sungai bahkan nunggu air sungai surut Cuma buat ngajar anak SD di desa sebelah, aku bawa foto-foto beberapa murid aku mereka cerdas-cerdas banget udah bisa nyanyi Indonesia Raya padahal Cuma diajarin beberapa kali, Cuma di Amfiong kamu bakal nangis ketika Indonesia Raya dinyanyiin. Biasanya anak-anak SD disini kan suka agak seenaknya yah kalo pas upacara nyanyi Indonesia Raya, ih banyak banget lah yang mau aku ceritain, jadi kita kemana sekarang?” dari cerocosannya aku tidak yakin dia belum makan.
Just follow me” ujarku sambil merebut koper besarnya.

Aku memlih tempat duduk di lantai dua. Sepasang sofa empuk, satu meja bundar menghadap ke langit arah barat, pas sekali jika duduk disini sore hari saat matahari beralih dari terik ke terbenam.
“Mas saya mau greentea latte, kentang goreng, kalau kamu masih suka hot chocolate sama pizza tungku kan Jar?” Senja memesan makanan yang biasa aku makan.

“Iya, itu aja dulu mas” ujarku pada mas-mas berseragam hitam di kedai ini. Bahkan Senja masih hapal minuman dan makanan favoritku. Aku termasuk orang yang enggan mencoba hal baru untuk makanan atau minuman.

“Enak ya Jar tempatnya, sofanya empuk. Udik banget ya, udah lama nggak pernah duduk di sofa. Eh aku mau cerita ih, gini loh jar…” Senja menghela napas dalam-dalam.

“Aku diajak nikah sama engineer yang kebetulan kemarin ada proyek di Kupang. Aku belum berani bilang iya atau enggak sebelum dia ketemu sama ibu dan bapak. Singkat cerita Rega, nama si engineer ini pas off duty ketemu sama ibu dan bapa, kerumah. Ibu dan bapa bilang iya. Lamaran resminya rencananya bulan depan pas tanggal 24 Oktober bertepatan sama ulang tahun yang ke-24. Boleh jujur nggak sih? Aku agak ngarep loh Jar sama kamu. The way how you take care of me itu beneran bikin nyaman, Cuma aku nggak mau ngarep lebih dan nggak berani buat jatuh cinta sama kamu. Kamu manusia paling dingin, bales sms pendek-pendek kayak telegram, jutek dan cenderung kayak males sama aku. Mungkin aku aja sih yang nggak tahu diri ya? Cewek cengeng, pecicilan , dan suka nanya-nanya hal nggak penting sama kamu, kok berani-beraninya menyimpan perasaan sama pria cerdas, keren, penyelam terbaik versi kampus yang sering meraih medali di pertandingan lari. Kamu terlihat terlalu sempurna Fajar, maaf ya..bertahun-tahun aku nunggu kamu, menjaga hati aku untuk tidak dimasuki siapapun tapi kamu nggak kunjung datang sampai aku mikir kayaknya emang perasaan yang tidak bersifat resiprok. Aduh, lapar bikin aku cerewet Jar” Senja mengunyah kentang gorengnya dan meneguk greentea latte yang ia sudah pesan.

Hot chocolate sore ini yang terpahit yang pernah aku teguk, matahari terbenamnya berwarna jingga keunguan, seperti suasana mencekam tapi Senja bilang itu matahari terbenam terbaik yang pernah ia lihat.

-------------------------------------- Lima bulan kemudian----------------------------------------------
Kuobrak-abrik isi lemari di kamarku, penerbangan Jogja-Bandung hanya untuk menghadiri pernikahan Senja Pramudita dengan Rega Natara, engineer yang ia temui di Amfiong. Seikat bunga lily putih, sekotak hadiah yang sudah aku siapkan dari jauh-jauh hari, satu lagi amplop berwarna jingga. Ada satu pesan yang harus ia tahu. Setelah menelepon Restu dan Dera, bolak-balik mematut diri di cermin, bertanya pada Mamah dan dua adik perempuanku tentang pakaian apa yang harus aku kenakan. “Aa nganggo batik ieu we, kasep. Jiga Papah basa ngalamar Mamah a” (Aa pakai batik ini saja, ganteng. Mirip Papah ketika melamar Mamah) tiga wanita dirumahku mulai ikut-ikutan rebut aku harus mengenakan apa. Sampai Restu dan Dera menjemput mereka menyambut aku dengan senyum miris. “Kadang Jar, kita harus menerima kalau cinta memang nggak mesti memiliki, klasik sih tapi beneran kan? Ilmu ikhlas kalau kata Aa Gym mah” Restu sok-sokan bijak mengusap pundakku. “Berangkat bray, nanti kita nyanyi Bunga terakhirnya Beby Romeo” tukas Dera sambil mendorong tubuhku keluar kamar.







Dari Fajar kepada Senja
Terlalu takut aku mengirimu seikat bunga lily putih, seperangkat mug bunga-bunga, dan secarik kertas ini. Kamu harus tahu Senja, aku manusia terdingin versi buku Pintar yang dijual di Pasar Buku Palasari. Kenapa mug? Kamu selalu bilang ingin menyiapkan Milo untuk suamimu kelak setap pagi. Kenapa bunga lily? Kamu perempuan anti mainstream, tidak suka mawar. Aku sempat punya hobi baru saat kamu pergi, menunggu kamu. Lagi-lagi aku bodoh, sibuk memapankan diri, menghimpun kekuatan hanya untuk meminta izin mendapatkan hati kamu. Tapi aku lupa, Fajar dan Senja adalah dua waktu dimana matahari bersinar dengan cantik,berwarna jingga singkat tapi berada di waktu yang berbeda. Fajar mengantarkan gelap pada terik lalu Senja penyeimbang dari terik ke gulita. Satu hal yang aku paham, mereka berendar pada planet yang sama (h)eart. Apapun yang terjadi, bersinarlah pada orbit kebahagiaan yang kamu pilih. Selamat, Senja.


Fajar

Alun-alun Kota wisata Batu



Warga Kota Batu harus bangga sama alun-alun yang dimilikinya. Kenapa? Karena Alun-alun ini menjadi satu-satunya alun-alun di Indonesia yang memiliki Ferris Wheel atau Bianglala atau Kolecer dalam bahasa Sunda. Harga tiketnya murah banget, tiga ribu rupiah kita bisa naik kincir beserta menikmati pemandangan kota Batu dari atas. Nggak serem kok, saya termasuk manusia yang agak takut ketinggian tapi kalau naik kincir ini nggak cukup satu putaran, biasanya tiga putaran baru deh ngerasa pusing dan minta turun  Selain itu, alun-alun Kota Batu juga dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas yang menarik. Apa aja sih?  Ditengah  alun-alun ada patung apel yang merupakan simbol dari Kota Batu, apelnya Batu emmng manis, seger, renyah. Ada juga mini playground untuk anak-anak.  Selain itu ada air mancur di salah satu sudut yang suaranya bisa bikin adem telinga. Buat kalian yang merokok, maaf banget alun-alun ini no smoking area.  Serta ada ruang informasi yang berbentuk strawberry raksasa dan toilet dengan bentuk apel besar.  

Anggaplah ini London Eye

Alun-alun dari atas kincir


Kami takut ketinggian, takut kehilangan apalagi memiliki.



Di depannya ada Masjid Agung dimana masjidnya bersih, toiletnya resik, dan cakep banget kalo ngabuburit nyari senja disini. Tapi jangan coba-coba buat berhias sekedar pake bedak atau lipstick di dalam masjid, yang ada bakal dimarahin pake bahasa Jawa sama ibu-ibu berusia paruh baya. Saya sih nggak terlalu sakit hati kalau dimarahin, soalnya nggak paham apa yang ibu tersebut maksud .



Kalo laper nyebrang deh ke Pos Ketan Legenda yang jual ketan dengan toping berbagai rasa mulai dari keju, cokelat, durian, gula merah hingga ayam pedas. Buat saya sih yang enak ketan campur yang diatasnya dipakein susu, gula merah sama bubuk kedelai. Klasik sih rasanya. Oh iya, jangan aneh kalau antriannya agak panjang dan tempat duduknya rebutan. Di sebelah ketan ada ceker pedas yang pedasnya bisa bikin bibir jontor. Cuma saya sih tobat nggak mau makan ceker apalagi yang pedas.

Alun-alun Kota Wisata batu pas lah dijadiin buat tempat hiburan murah dan hampir gratisan malah.

Pesan saya, kalau mau main-main jangan di hati orang mending di kincir alun-alun Kota Batu aja.


BUAHAGI(L)AK



Sebutlah saya perempuan yang tinggal jauh dari keluarga dan belum berkeluarga. Butuh energy lebih untuk sekedar menghalau rasa ingin pulang sekedar memeluk ibu atau menjahili adik-adik. Mengunjungi tempat baru yang belum pernah saya datangi adalah salah satu cara menghalau rasa galau gundah gulana (kok bahasanya kayak buku bahasa Indonesia waktu SD sih)  -___-

Kali ini saya bersama partner sekamar saya, bertolak ke Surabaya menemui dua orang teman kami yang sama-sama berasal dari Jawa Barat, Recky dan Fajar. Recky dari Bandung, Saya dan Devi dari Malang sementara Fajar di Surabaya. Titik temu kami di Surabaya. Perjalanan Malang-Surabaya yang harusnya ditempuh oleh kereta api ditunda selama 70 menit lalu saya dan Devi memilih menggunakan bis, satu setengah jam waktu yang ditempuh dari Malang ke Surabaya.

Singkat cerita kami bertemu di Surabaya berencana menyebrang ke pulau sebrang (yaelah Cuma Madura  padahal) muter-muter Madura, balik menyebrang menggunakan kapal. Sebenarnya agak panik mendengar kapal laut karena sebelumnya saya pernah mabuk laut dari Pulau Tidung ke Pasar Ikan Muara Angke yang bau bangke.
 Satu lagi pesonel jalan-jalan kami, namanya Dori sama-sama dari Bandung juga dan ternyata Dori teman sekampus mantan pacarnya salah satu sahabat saya dan Devi (buset jauh amat). Intinya, dunia sesempit toilet umum ternyata.


Oke saya bahas satu persatu destinasi kami.
1 Jembatan Suramadu
Destinasi pertama adalah jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura, ini kali kedua buat saya. ada peringatan "Awas angin kencang" berasa ingin menimpali "Rindu saya juga, entah buat siapa" #PLAK.  Kiri kanan bukan pohon cemara, tapi laut. Iya, laut. Tempat bertemunya awan sama ombak, tempat berpendarnya fajar sama senja dan bergemuruhnya buih sama deru riak air. *ini review perjalanan woi, bukan cerpen atau prosa. 

Foto Selfie pertama kami
2. Bebek Sinjay
Kita sering banget denger kalo Madura khas sama sate nya, ternyata selain sate ada tempat makan yang hits banget. Namanya Bebek Sinjay, ngantrinya mirip antrian para pria yang mencoba masuk ke hati gadis belia cantik, pinter, dan mama-gendong-dede-able. Oke Skip. Tapi serius, ngantrinya panjang banget. Tempat duduknya rebutan kayak acara games tujuh belasan, makanya alangkah lebih baik kalo dateng ramean dibagi jadi beberapa tim (yaelah). ada yang ngantri buat pesen, ada yang"nge-tag" tempat duduk, ada yang bersihin meja. Yes, sebelum makan berihin dulu mejanya pake hand sanitizer sama tisu guys. Saya nggak terlalu suka bebek sih, terakhr makan bebek entah berapa tahun yang lalu karena alasan sok-sokan mau jadi vegetarian kemudian dimarahi ibu karena takut mandul :( Sambelnya endeeuus, pedes asem, seger. Bikin mata melek, kayak liat abang-abang unyu lagi lari keringetan di stadion. Ati sama ampelanya juga enak, nggak alot dan nggak bau anyir. Dulu saya sempet mikir kalo daging bebek anyir anyep gimanaa gitu, tapi ini ngggak. Recomended lah
Penuhnya buseeet
3. Stadion Bangkalan
Makan udah, sekarang giliran muter-muter wilayah plat M. Nggak sengaja bapak supir yang udah sepuh dan beranak satu yang mengantar kami melintasi bangunan warna-warni kayak pelangi. Awalnya saya pikir itu semacam ruko-ruko, taunya stadion :( saya sih pernah denger kalo stadion Bangkalan memiliki kualitas rumput lebih baik dari GBK dan Jalak Harupat. Sayangnya kami nggak masuk sih, nggak tau juga rumputnya bagus apa nggak, cuma yang pasti katanya rumput tetangga suka lebih hijau daripada rumput halaman sendiri. (apa sih aishaaaa). Stadionnya sepi sih, cuma ada beberapa pasangan yang lagi bobogohan (pacaran dalam bahasa Sunda). Kami agak bingung ketika ingin berfoto berlima, karena tongsis saya tidak bisa digunakan jadi dilakukanlah negosiasi dengan mas-mas yang entah siapa namanya, anyway makasih buat mas-mas itu. Semoga Tuhan memberkati


Kiri Ke kanan Recky, Fajar, Devi, dan Dori


Dono, Kasino, Indro versi Jawa Barat


Makasih mas-mas yang sedang asyik berduaan dan diminta fotoin kami
3. Kapal Ferry Pelabuhan Kamal Madura
Bukan, ini bukan mau napak tilas Jack sama Rose di film Titanic atau Hayati sama Zainuddin di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Saya sih berekspektasi lebih buat bisa kibas-kibas ketek di atas dek kapal, ternyata nggak boleh. Jadi penumpang cuma boleh duduk di ruangan utama sambil disuguhi dangdut. Kami memilih tempat duduk di bagian belakang sayap kanan. Pantatnya sih duduk, tapi naggota badan yang lain? Yaa gitu deh. Lagi-lagi senam pipi, senam saling menjauhkan rahang atas dan rahang bawah, peregangan dengan joget-joget nggak jelas, peregangan tangan dengan cara selfie, juga senam wajah menghadap kamera. Ibu-ibu, bapak-bapak, juga adek-adek. Maafkan kehilafan kami.
1

2

3

4 (percayalah masih banyak foto lainnya)
4. Wisata Religi Sunan Ampel
Rasanya harus seimbang antara mengenyangkan lahir dan mengenyangkan batin. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah Masjid Sunan Ampel. Masjidnya besar, adem, nyaman banget buat ngobrol sama Allah entah sekedar bersimpuh minta jodoh atau berterima kasih karena banyak hal yang lupa saya syukuri selama hidup. Kawasan ini menarik yaitu keberadaan kampung Arab yang sebagian besar ditempati keturunan Arab Yaman (hasil kepo sama ibu-ibu sebelah ketika pakai mukena). Mereka sudah menetap selama ratusan tahun dalam rangka berdagang.Disini kental dengan suasana Timur Tengah dan pasarnya yang menjual barang juga makanan khas timur tengah. Saya berasa jadi Aisha yang sedang mencari Fahri di tengah kerumunan, kurang cadar dan eyelinner tebal aja sih. (dicabok)

Aroma Kurma, rasa bulan Ramadhan ketika berburu tajil, wanita-wanita cantik berhidung mancung mengenakan gamis berjilbab, dan pria-pria mengenakan baju koko, gamis, berpeci saling bersalaman. Aaaaah, damai. Meski saya datang kesini mengenakan skinny jeans :p Oh iya, saya dapet gelang dari kayu yang sama digunakan untuk membangun perahunya Nabi Nuh. Lucuk. Disini batere handphone saya mulai low tapi energi buat pecicilan dan teriak-teriak masih banyak.

5. Zangrandi Es Krim
Pernah ke Ragusa di Jakarta atau Oen di Malang? Nah, Zangrandi ini mirip-mirip Ragusa dan Oen versi Surabaya lah. We all know Surabaya is a hot city, so a visit to this ice cream is the best way to cool down your days. (belaga ngomong bahasa Inggris meski sering jongkok di sawah kawasan Ngamprah buat nyari belut) Bangunan dari tempat ini kayaknya termasuk cagar budaya di Surabaya deh, terlihat dari arsitektur jaman Belanda dimana bentuknya masih dipertahankan serta pintu, jendela kursi rotan beserta mejanya membuat tempo dulu semakin terasa. Bagian depan Zangrandi biasa aja sih sebenarnya, cuma yang cakep adalah karena adanya tulisan besar Zangrandi yang terbuat dari lampu berwarna merah, kalau malam hari nyala terang benderang dan menarik perhatian banget. 



Pas saya membolak-balik halaman per halaman buku menu untuk melihat yang ditawarkan, saya sih tertarik desain bukunya yang lebih mirip kayak buku sejarah juga banyak quote bagus yang bisa bikin bahagia (halah). Bingung banget milih apa yang mau dipesan, sebingung menentukan pilihan hati (tetep kesitu muaranya), berdasarkan kata hati saya menentukan Avocado Fudge untuk saya hajar. Warnanya hijau, ada alpukat dibubuhi cokelat dan ditusuk astor diatasnya. Enak? Iyalah,, Adem.. nyes lumer di mulut. When paradise meet heaven lah .Devi memesan Noddle Ice Cream, jangan bayangin indomi rasa ayam bawang plis.. karena ini eskrim vanila dibentuk mi, dbubuhi kacang dan coklat dan masih ditusuk pakai astor. Recky memesan soes mocha (correct me if i'm wrong) semacam kue sus berisi eskrim mocca yang kuat banget, wanginya mirip lulur yang sering saya pakai, yummy. Fajar memasan (apa ya saya lupa) eskrim pink yang ada buah-buahnnya, seger, cantik-cantik-cantik. (ala syahrini). Kalau Dori (mesen apa ya dia) maafikan saya lupa mesen apa cuma nggak lupa kok kalau Dori keturunan Panjalu Ciamis :( minuman yang ada eskrim vanila diatasnya, ada rasa-rasa Rum gitu deh. Kentang goreng BBQ nya asli juara, nagih. Pizzanya juga, ciamik, Anw apa sih yang nggak enak? Air putihnya aja enak, mungkin berasal dari mata air pegunungan Fuji sampai kami refill sebanyak tiga kali.








Yuhuuu, setelah bercerita banyak hal mulai dari pria gemulai, penyakit wasir, dan segala hal yang lagi-lagi bisa membuat kami tertawa, saya dan Devi harus beranjak pulang ke Malang. Kereta kami berangkat pukul 20.20. Satu kata untuk perjalanan kali ini BUAHAGI(L)AK, dua kata TERIMA KASIH, tiga kata OTOT PIPI SIXPACKS. Bener apa yang pernah dibilang sama Christian Simamora di Pillow Talk Life too short to spend alone . Kali ini saya setuju sama Liverpool yang selalu berkoar "You Never Walk Alone". 




Kesimpulannya sih kalau kata Recky "It's not necessary for me where will we going, if we go with right people. Every single step is like heaven"




Quote yang tepat buat mendeskripsikan perjalanan Malang-Surabaya-Madura-Malang kali ini dari saya "Friends can be new, friends can be old. All of them are as prcious as gold" ngutip dari film Disney yang sampai sekarang saya lupa apa judulnya.




ciao!

Museum Angkut Malang rasa Europe

Indonesia sebagian masyarakatnya senang bermimpi, kayaknya Museum yang satu ini tepat banget dikunjungi bagi perempuan yang hobi banget bermimpi seperti saya. Kenapa? Banyak banget miniatur-miniatur kota di luar  negeri.

Museum Angkut atau yang bernama lengkap Museum Angkut Plus Movie Star Studio merupakan wahana permainan terbaru di Kota Wisata Batu. Bisa ditempuh dengan perjalanan sekitar 50 menit dari Kota Malang. (hanya jika tidak macet). Museum Angkut merupakan satu group dengan Jatim Park, Batu Secret Zoo dan Batu Night Spectacular.


Daya tarik utama museum ini adalah koleksi aneka mobil dan kendaraan bermotor historis hingga masa kini. Beberapa set tema disediakan untuk berfoto antara lain tema Batavia, Eropa (Buckingham) dan Amerika (Hollywood, Las Vegas, Broadway). Terdapat pula area makan Pasar Apung. Memasuki pintu utama, beruntung sekali saya tidak berdesak-desakan karena bukan akhir pecan dan belum musim liburan.Alur masuk museum dari lantai dasar yang sudah beraroma banyak alat angkutan mulai kereta kuda hingga mobil balap beserta patung Michael Schumacer yang dengan bebas bisa dipeluk-peluk lalu dilanjutkan ke lantai 2.

Badannya kekar dan keras :(


Di lantai 2 kami disarankan untuk menikmati view alam kota Batu dari satu tempat yang bernama Appolo. 

Kota Batu diambil dari Appolo


Dari Appolo, rute selanjutnya membawa kami menuju pameran koleksi mobil-mobil jaman dahulu. Menyusuri jalanan itu kami dibawa ke sebuah tempat yang bernama Batavia. Ini seperti replika kota tua di Jakarta. Ada sketsel Pelabuhan Sunda Kelapa dan Stasiun Jakarta Kota di sanaBerbagai alat transportasi mulai dari kereta roda yang ditarik sapi, sepeda, hingga mobil tua ada di sana.

becak Malang

ala-ala pedangang sate. Model : Devi :p



Dari situ, rute selanjutnya mengantar kami menuju pameran koleksi sepeda dari jaman baheula. Begitu seterusnya hingga memasuki dimensi benua Eropa sebagai negara penghasil mesin otomotif terbesar dunia. Ada sketsa ruangan Italia beserta vespa warna-warni, saya seneng banget bisa bertemu dengan vespa warna kuning. aaaaakkkkkkk, lalu ada Jerman beserta miniature tembok Berlin, Inggris dengan kotak telepon yang khas berwarna merah, Perancis beserta miniature menara Eiffel dan masih banyak lagi sudut yang dipenuhi dengan koleksi kendaraan keluaran mereka lengkap dengan spot foto yang mewakili ikon masing-masing negara.
Sesungguhnya bau oli dimana-mana

maafkan kami (lagi-lagi) selfie

This my favorite spot

Judul : Menunggu. Talent : Devi

Melangkah

My roomate and I

Italia ! Vespa !


Ada miniatur Buckingham Palace dimana didalamnya terdapat kereta yang bisa dinaiki secara gratis, juga ada patung lilin Ratu Elizabeth.Setelah melalui itu semua, tibalah kami di tempat yang bernama Gangster Town. Arena kota digambarkan mirip seperti sebagian jalan dalam Universal Studio yang sebenarnya belum pernah saya kunjungi di Singapura. Hahahahah


Gangster Town merupakan sket terakhir dari seluruh rangkaian yang dimiliki oleh Museum Angkut. Keluar dari situ kami digiring untuk memasuki sensasi simulator gerbong kereta api yang dibuat persis bergerak seperti jika kita menaiki kereta api jaman dahulu untuk kemudian berhenti di area food market dan pasar seni, Pasar Apung.

Alamat:Jl. Terusan Sultan Agung No. 2 Kota Wisata Batu

Kontak/Telepon:+62-341 595007 

Jam Buka:Loket - 11am 

Operasional : 12pm - 8pm

Harga Tiket Masuk Museum Angkut + Movie Star Studio:

Senin – Kamis : Rp. 50.000,- 

Jumat – Minggu : Rp. 75.000,- 

Harga Tiket Terusan Museum Angkut + Movie Star Studio + D’Topeng Kingdom:

Senin – Kamis : Rp. 60.000,- Jumat – Minggu : Rp. 85.000,- 

Camera Charge:Rp 30.000 untuk kamera digital

Rp. 50.000 untuk kamera DSLR