Rabu, 12 Februari 2014

#13 Ada apa dengan MU *Manchester United



#13 Ada apa dengan MU *Manchaster United

Selamat pagi kamu, apa kabar?
Ketika pekikkan gol yang ditendang ke arah gawang lawan MU menjadi teriakanku sendiri. Seperti tanpa emosi di dalamnya, memang MU sedang terpuruk atau hanya perasaanku saja? Merahnya MU tidak lagi begitu menyala dalam mata dak otakku. Aku setengah kesal dengan permainnannya, bukan bukan kesal pada kamu. Kesal karena beberapa pertandingan aku ketinggalan dan seperti biasa, tertidur di depan layar TV. Rasanya ingin bertanya pada kamu berapa akhir skornya, tapi aku tahan, ah iya kan ada berita yang menampilkan, tak perlu lah aku sok-sokan mencari perhatian kamu lagi.

Tuan,
Berat rasanya menulis surat ini pada kamu. seberat ketika aku mendengar pelatih MU diganti.
Katamu, jarak bukan sedang menghukum kita tapi sedang menjaga kita. Maaf tuan, aku menyerah pada jarak ribuan kilometer. Aku payah, aku pecundang, iya aku pecundang. Lalu untuk apa bebal mempertahankan jika ujungnya penuh dengan ketidakjelasan dan kebingungan?
Lagi-lagi aku mengatakan ini “Pada dasarnya wanita itu dipilih” aku menyerah untuk memperjuangkan yang sebenarnya kamu tidak meyakini atas apa yang aku perjuangkan. Well, aku kan bukan NKRI tidaklah perlu diperjuangkan.

Kini aku paham, bahwa umur tidak berbanding lurus dengan keterampilan mengambil keputusan akan hidup yang akan dijalani. Banyak pertimbangan itu baik, tapi Tuan , tidak selamanya apa yang orang kehendaki kamu dengarkan. Sudahlah, bebal rasanya aku ini jika terus-terusan berdebat seperti beberapa pengacara di salah satu stasiun TV yang kupikir mereka beradu mulut hanya untuk melakukan pembenaran.
Aku yang tidak beretika, iya tidak beretika karena muridku yang dinyatakan menderita autis menggenggam tanganku erat, kuat, dan enggan aku tinggalkan. Hey, anak autis tindakannya tidak dapat ku kendalikan. Ah sudahlah, lagi-lagi aku bebal, keras kepala. Mungkin nanti lain kali aku akan mengenyahkan tanganku jika ia mulai menggenggam. Mungkin akan ada lagi orang lain yang bilang “Tidak beretika sekali kamu ini, muridmu hanya ingin menggenggam tanganmu lalu kamu dengan sombongnya mengenyahkan”. Kamu lupa tuan? Bahwa hidup tidak hanya terdiri dari etika, ada estetika. Nilai-nilai keindahan yang kadang sulit digambarkan. Sesulit menebak apakah MU akan menang.


Kukira hanya pada zaman Siti Nurbaya manusia dipilihkan pasangan, di zaman Citra Kirana menyabet piala citra pun ternyata masih ada, maksudnya memang baik mungkin Tuan. Tapi, tidakkah kau bosan dipilihkan segala macam oleh orang yang katakanlah berhak atas dirimu?  Hey, siapalah aku beraninya menghasutmu. Itu pilihanmu, iya, lagi-lagi wanita kan memang dipilih.
Sesak rasanya melihat senja saat ini, rupanya langit malas mengeluarkan jingga yang ada hanya perubahan dari terik lalu padam. Mendramatisir sekali rupanya aku ini, matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat. Lalu? Apa masalahnya?

Yang mereka lihat adalah gelak tawaku, kekonyolanku, dan teriakkanku sangat langit sore, senyumku saat lensa kamera membidik wajahku. Tidak perlu lah mereka tahu darimana asupan nutrisi yang didapat agar aku mempunyai energi untuk melakukan hal itu.
Kamu pernah mendengar insting hidup yang dikemukakan Sigmun Freud? Hahahah sok tahu sekali aku ini, iya kamu harus punya insting hidup. Apa katamu? Hidup adalah menunggu mati? Iya, kau memang punya seribu alasan untuk meyakinkan apa yang kamu yakini. Sayangnya, kamu tidak punya alasan untuk membuat orang-orang disekitarmu paham akan apa yang kau pikirkan.

Tuan, surat ini bukan untuk menyalahkan atau disalahkan. Bukan perkara siapa yang meninggalkan lalu bagaimana perasaan yang ditinggalkan. Hidup tidak serumit labirin otakmu yang lagi-lagi gadis dungu seperti aku kadang tersesat dan sulit memahami jalan keluarnya.
Hidup perkara memilih, karena hidup terdiri dari milyaran pilihan. Hidup tidak melulu tentang apa yang kau pikirkan, tapi mengenai apa yang harus kamu lakukan.

Cih, sok-sokan berfilsafat aku ini.
Sudahlah tuan, senja memang selalu jingga. MU tetap memerah.  Dan hidup akan baik-baik saja karena kita pernah bahagia dan akan selalu bahagia.

*ketika kaki melangkahkan sendiri, menjauh dari arah barat pulau Jawa



Tidak ada komentar:

Posting Komentar