#13 Ada apa dengan MU *Manchaster United
Selamat pagi kamu, apa kabar?
Ketika pekikkan gol yang ditendang ke arah gawang lawan MU
menjadi teriakanku sendiri. Seperti tanpa emosi di dalamnya, memang MU sedang
terpuruk atau hanya perasaanku saja? Merahnya MU tidak lagi begitu menyala
dalam mata dak otakku. Aku setengah kesal dengan permainnannya, bukan bukan
kesal pada kamu. Kesal karena beberapa pertandingan aku ketinggalan dan seperti
biasa, tertidur di depan layar TV. Rasanya ingin bertanya pada kamu berapa
akhir skornya, tapi aku tahan, ah iya kan ada berita yang menampilkan, tak
perlu lah aku sok-sokan mencari perhatian kamu lagi.
Tuan,
Berat rasanya menulis surat ini pada kamu. seberat ketika
aku mendengar pelatih MU diganti.
Katamu, jarak bukan sedang menghukum kita tapi sedang
menjaga kita. Maaf tuan, aku menyerah pada jarak ribuan kilometer. Aku payah,
aku pecundang, iya aku pecundang. Lalu untuk apa bebal mempertahankan jika
ujungnya penuh dengan ketidakjelasan dan kebingungan?
Lagi-lagi aku mengatakan ini “Pada dasarnya wanita itu
dipilih” aku menyerah untuk memperjuangkan yang sebenarnya kamu tidak meyakini
atas apa yang aku perjuangkan. Well, aku kan bukan NKRI tidaklah perlu
diperjuangkan.
Kini aku paham, bahwa umur tidak berbanding lurus dengan
keterampilan mengambil keputusan akan hidup yang akan dijalani. Banyak pertimbangan
itu baik, tapi Tuan , tidak selamanya apa yang orang kehendaki kamu dengarkan. Sudahlah,
bebal rasanya aku ini jika terus-terusan berdebat seperti beberapa pengacara di
salah satu stasiun TV yang kupikir mereka beradu mulut hanya untuk melakukan
pembenaran.
Aku yang tidak beretika, iya tidak beretika karena muridku
yang dinyatakan menderita autis menggenggam tanganku erat, kuat, dan enggan aku
tinggalkan. Hey, anak autis tindakannya tidak dapat ku kendalikan. Ah sudahlah,
lagi-lagi aku bebal, keras kepala. Mungkin nanti lain kali aku akan
mengenyahkan tanganku jika ia mulai menggenggam. Mungkin akan ada lagi orang
lain yang bilang “Tidak beretika sekali kamu ini, muridmu hanya ingin
menggenggam tanganmu lalu kamu dengan sombongnya mengenyahkan”. Kamu lupa tuan?
Bahwa hidup tidak hanya terdiri dari etika, ada estetika. Nilai-nilai keindahan
yang kadang sulit digambarkan. Sesulit menebak apakah MU akan menang.
Kukira hanya pada zaman Siti Nurbaya manusia dipilihkan
pasangan, di zaman Citra Kirana menyabet piala citra pun ternyata masih ada,
maksudnya memang baik mungkin Tuan. Tapi, tidakkah kau bosan dipilihkan segala
macam oleh orang yang katakanlah berhak atas dirimu? Hey, siapalah aku beraninya menghasutmu. Itu pilihanmu,
iya, lagi-lagi wanita kan memang dipilih.
Sesak rasanya melihat senja saat ini, rupanya langit malas
mengeluarkan jingga yang ada hanya perubahan dari terik lalu padam. Mendramatisir
sekali rupanya aku ini, matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di
barat. Lalu? Apa masalahnya?
Yang mereka lihat adalah gelak tawaku, kekonyolanku, dan
teriakkanku sangat langit sore, senyumku saat lensa kamera membidik wajahku. Tidak
perlu lah mereka tahu darimana asupan nutrisi yang didapat agar aku mempunyai
energi untuk melakukan hal itu.
Kamu pernah mendengar insting hidup yang dikemukakan Sigmun
Freud? Hahahah sok tahu sekali aku ini, iya kamu harus punya insting hidup. Apa
katamu? Hidup adalah menunggu mati? Iya, kau memang punya seribu alasan untuk
meyakinkan apa yang kamu yakini. Sayangnya, kamu tidak punya alasan untuk
membuat orang-orang disekitarmu paham akan apa yang kau pikirkan.
Tuan, surat ini bukan untuk menyalahkan atau disalahkan. Bukan
perkara siapa yang meninggalkan lalu bagaimana perasaan yang ditinggalkan. Hidup
tidak serumit labirin otakmu yang lagi-lagi gadis dungu seperti aku kadang
tersesat dan sulit memahami jalan keluarnya.
Hidup perkara memilih, karena hidup terdiri dari milyaran
pilihan. Hidup tidak melulu tentang apa yang kau pikirkan, tapi mengenai apa
yang harus kamu lakukan.
Cih, sok-sokan berfilsafat aku ini.
Sudahlah tuan, senja memang selalu jingga. MU tetap memerah.
Dan hidup akan baik-baik saja karena
kita pernah bahagia dan akan selalu bahagia.
*ketika kaki melangkahkan sendiri, menjauh dari arah barat
pulau Jawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar