Rabu, 05 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #1 Terurai jarak antara Batavia dan Brawijaya



#1 Terurai jarak antara Batavia dan Brawijaya

Dear silmia,
Apa kabar Jakarta? Semoga banjir Jakarta tidak menggenang di sudut matamu yang bundar dan hitam. Ini surat cinta pertama yang aku tulis seumur hidupku. Kamu orang pertama yang aku kirirmi surat cinta. Mengapa? Karena selalu ada rindu akan keteduhan hati kamu, selalu ingin bercengkrama di beranda sambil menikmati es krim magnum, seperti biasa aku lebih suka es krim magnum bagian luar dan kamu bagian dalam. Ya, kita memang tidak pernah berebut untuk segala apapun yang kita sukai.
Aku mengagumi kemandirianmu, berdiri tegak walau banyak terpaan yang terkadang jika itu menimpa aku, mungkin aku bisa amat sangat terpuruk didalamnya. Silmia, aku rindu menapaki pinggiran jalan kota dengan berjalan kaki tanpa kamu ketakutan sinar matahari yang perempuan lain bilang bisa membuat warna kulit menghitam, kamu mendengarkan semua ocehanku yang tidak penting dan kamu selalu tertawa dengan banyolanku yang konyol dan terkesan seperti badut di taman kota. Sungguh aku menikmati dari setiap detik gelak tawamu yang terkekeh terkadang membuat bahumu bergerak-gerak lucu.
Aku rindu ketika aku berkeringat berlarian mengelilingi stadion dengan lintasan bata merah yang dibubukkan dan kamu menunggu di pinggirannya dengan headset di sepasang telingamu. Ya, kamu selalu tidak pernah lepas dari headset itu, tapi ajaibnya telingamu selalu punya ruang untuk mendengar jeritan tangisanku, tangisan yang super lebay dan kadang mempermasalahkan yang sebetulnya tidak penting.
Aku rindu berada di depan lensa dimana kamu membidik setiap sudut kegilaanku, berteriak histeris melihat adera, bergetaran seluruh tubuh ketika berbicara dengan adera. Aku selalu merasa normal di hadapanmu. Kamu tidak menganggap aku aneh, bahkan keanehanku adalah hiburan untuk kamu. Sungguh suatu kehormatan ketika aku berhasil membuat kamu tertawa, rasanya sama seperti memenagkan piala tingkat Gubernur Jawa Barat.
Kata-kata pedasmu yang mengalahkan keripik ma icih level 10 tapi selalu renyah menurutku, dan aku tidak pernah sekalipun merasa sakit hati akan apa yang kamu ucapkan. Lalu kini kita terurai jarak antara Batavia dan Brawijaya, beribu kilometer dan entah kapan kita akan bertemu. kamu tetap mencintai fajar kan? Dan aku tetap tergila-gila pada senja. See? Perbedaan ternyata bukan alasan untuk tidak saling memahami.

Silmia,  ada sepasang mata di tanah Brawijaya yang merindu merdu suara kamu.
Aku.

*dibuat di ruang kelas H2 105 Gedung Pascasarjana Universitas Negeri Malang

3 komentar:

  1. Hmm... Bagus Aisha, penasaran dengan Silmia yang hangat dan bijaksana :)

    BalasHapus
  2. Aahh,, Aishaaaa.. aku menitikan air mata baca ini. Makasi banget ya sayang
    *i almost dont have words left to say*
    Tunggu aja balasan surat ini di blog ku ya :))

    BalasHapus