Minggu, 09 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #10 Punapi Gatra?



#10 Punapi Gatra?

Rahajeng Semeng Bli, hanya itu sapaan bahasa Bali yang aku hapal. Payah kan? hahahaha
Sepayah aku ketika mengerjakan Ujian Akhir Statistik, lalu heboh menghubungi kamu dan berteriak-teriak “Ini gimanaaaa siiiih? Ya Ampun aku dongdong banget” begitulah Bli, aku pernah diduga menderita diskalkulia, kesulitan menghitung angka. Payah kan? tapi hidup bukan hanya tentang matematika kan? apapun informasi tentang angka yang masuk dalam otakku tidak mampu hinggap bertahan lama. “Hidup itu bersyukur dan terus dijalani” begitu kan katamu? Aku bersyukur walaupun tidak pandai matematika berarti Tuhan (mari kita sebut saja Tuhan, sebuah kata universal dalam berbagai agama)  memberikan kelebihan di bidang lain, entah bidang apa aku pun belum paham. 

Memahami hal baru, belajar di kota lain agak sulit bagiku tapi mungkin mudah bagimu yang jam terbangnya sudah beberapa kali lipat diatasku. Katakanlah itu jam terbang, berarti kamu titisan ikan Indosiar. Hahahaha. Bagaimana? Sudah berhasil menemukan kamus Bahasa Sunda dari kerajaan Pajajaran kah? Kosa kata Bahasa Sundamu mulai banyak. kamu harus belajar Bahasa Malinau supaya bisa menyapa gadis-gadis di sebelah Asramamu.

Sebentar, namamu siapa? Putu? Berarti anak pertama di keluargamu? Lalu kalau anak kedua itu Kadek, anak ketiga itu Komang dan anak keempat itu Ketut. Iya kan? lalu bagaimana dengan adanya program KB yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia? Itu berarti orang bernama Ketut di Bali semakin sedikit? See? Aku kadang memikirkan hal-hal yang tidak penting lalu mengalami gangguan tidur.
Aku memikirkan kemana perginya Gajah Mada, aku memikiran kenapa Rama begitu menyebalkaan pada Sinta, aku memikirkan Hanoman sedang apa, aku memikirkan bagaimana rupa Arjuna yang katanya setengah ketampanannya dibagikan pada pria di seisi dunia. 

Beruntunglah kamu lahir di wilayah yang budayanya beragam. Sejujurnya aku iri ketika liburan kemarin kamu menginjak pasir pantai, kamu mengirimkan senja di Pantai Kuta, iya.. aku tergila-gila pada senja, pada langit yang merona. Kemudian orang bilang senja terindah di dunia ada di Pantai Kuta. Kapan ya aku bisa ke Bali? Aku ingin ,melihat para pria berudeng, berpakaian putih, dan banyak wanita cantik meletakkan sesajen buah-buahan di kepalanya. Mereka berbondong-bondong mengunjungi Pura. Lalu semilir bau dupa agak menyeruak di hidungku. Aku pecinta segala sesuatu berbau budaya. Bagiku itu budaya, mungkin bagi kamu itu upacara sakral yang dijalankan dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan. Aku sudah lama mengenal Dewi Saraswati, sok kenal sih lebih tepatnya. Dewi bertangan empat kan? satu tangan memegang lontar yang menggambarkan pengetahuan universal, tangan kedua memegang genitri atu tasbih kalau dalam agamaku yang melambangkan kekuatan dan pengetahuan spiritual, tangan ketiga memegang kecapi yang melambangkan seni dan ilmu pengetahuan, yang keempat memegang apa ya? Bunga teratai kalau tidak salah.  Aku lupa. Nenekku dulu sering bercerita tentang dewa-dewi mulai dari Dewa Siwa, Wisnu, apalagi? Beberapa orang bilang agamamu menyembah berhala, tapi belakangan kamu menjelaskan bahwa visualisasi manusia akan Tuhan itu terbatas maka disimbolkan demikian. Ah malas sekali berdebat mengenai agama. Menurutku, apapun agamanya selalu mengajarkan akan kebenaran dan kebaikan. Iya kan? sayang sekali Bhineka tunggal ika hanyalah sebuah wacana di Nusantara ternyata. 

Kamu paham teori behavioral tentang punishment? Aku pernah mengalami itu berkenaan dengan Bali tentunya. Masih jelas dalam ingatanku, usiaku lima tahun ketika itu. Aku belajar tari Bali, karena pinggangku kurang bisa meliuk kemudian ditendang. Sialnya aku kapok berlatih, aku memilih meninggalkan sanggar tari yang instrukturnya menyebalkan itu. tapi, aku masih tertarik melihat pertunjukkan tari kecak yang digelar ketika matahari terbenam kan? Hhhmm... aku ingin bertemu Hanoman. Ya..ya..ya aku banyak sekali maunya, banyak sekali berbicara, dan banyak sekali sok tahunya. 

Lalu apalagi yang aku bisa lihat di Bali? Tanah Lot, tempat yang ditemukan oleh Hyang Dwi Jendra namun dikenal juga dengan sebutan Dharma Yatra, iya kah? Ah aku memang sok tahu. Hahahaha,
Aku ingin melihat lumba-lumba di Pantai Lovina. Kampungan sekali aku ini. Terbelalak matanya ketika melihat pantai, melongo ketika melihat anak penyu. Entahlah apa yang akan terjadi jika mataku menagkap lumba-lumba melompat. Mungkin akan berteriak dan ikut-ikutan melompat.

“Kasihan kamu, orang Bandung tidak pernah melihat pantai” ujarmu waktu itu. sialnya itu benar. Bandung itu “Dilingkung Gunung, Heurin ku Tangtung” mana ada pantai di Bandung?  Tapi lebih kasihan lagi kamu, seumur hidupmu tidak pernah mendapatkan surat. Iya anggaplah ini surat sebagai ucapan terima kasih, terima kasih telah menjadi guide di “Bali”. Eh I wanna take a pic at “Real Bali” .  Eh nggak a pic juga sih Bli,  a lot of pics tepatnya. Jadi kapan kamu akan membidikkan kamera ponselmu yang tahan di kedalaman air tawar satu meter itu menangkap senyum kami? Aku dan Devi. Foto kami lumayan kok, lumayan dijadikan teman ogoh-ogoh untuk mengusir roh jahat. Silahkan tertawa, silahkan. Kami memang dua gadis pecicilan yang bergerak dan tak bisa diam. Tolong jangan suruh kami diam, diamnya kami berarti sakit atau lapar. Hahahaha. Maafkan kami pecicilan di Pura, tempat suci bagi agamamu. Entahlah Bli, kami menemukan sosok abang pada kamu. Kami harus banyak bergaul dengan orang yang tenang seperti kamu.

 Oh iya, tenang saja aku akan merepotkan kamu lagi. Tidak hanya merepotkanmu meminta difoto tapi mungkin merepotkan dengan bertanya tugas,meminta jurnal, meminta file, kemudian mungkin merepotkan dengan berteriak-teriak ketika ada satu dosen yang enggan aku sebut namanya lalu membebankan tugas yang kadang memuakkan. Sudahlah bli, berhenti merendahkan dirimu. Aku harus banyak belajar dari kamu.

Matur Suksma

Wanita pecicilan yang masih saja penasaran dengan Gajah Mada

Tidak ada komentar:

Posting Komentar