Selasa, 11 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #11 Kepada Yang Mulia Maha Patih Gajah Mada



#11 Kepada Yang Mulia Maha Patih Gajah Mada

aku sedikit menaruh benci padamu, berkecamuk perasaanmu jika mendengar namamu. Apa maksudmu menjebak Putri Diah Pitaloka kemudian membunuh pasukan Pajajaran di tengah perjalanan. Tahukah tuan? Akibatnya terasa sampai era milenium tiga saat ini. Para pemegang terah Pajajaran dan Majapahit kurang bisa bersatu. Mana sumpahmu? Yang tidak akan memakan buah palapa jika Nusantara belum bersatu. Tapi tuan, kenyataannya Nusantara memang belum siap dengan keragaman didalamnya, Engkau tidak bisa begitu saja memaksa Nusantara bersatu. Biarkan Nusantara berbeda tapi dengan tujuan yang sama, mungkin akan lebih baik jika demikian. Aku geram dengan perpecahan, aku marah jika ada pengkotak-kotakkan suku,agama, ras,atau apalah itu.  Karena bersatu bukan berarti jadi satu. Kuulangi kalimatku Tuan Maha Patih “Bersatu bukan Menjadi Satu”. Maaf jika urat leherku menjadi tegang ketika mengatakan kalimat itu padamu. Harusnya Engkau paham Tuan Maha Patih, biarkan keseragaman menjadi sebuah kekayaan.


Tuan Maha Patih, betapa sering aku dipandang sebelah mata hanya karena aku berasal dari tanah Pajajaran. Katanya wanita Pajajaran tidak setia, selalu berfoya-foya dan enggan diajak bekerja keras. Entahlah Tuan, aku sungguh benci dengan perpecahan ini, dengan anekdot bahwa wanita Padjajaran hanya berwajah cantik namun tidak berpendidikan. Tuan, itu perang bubat versi pajajaran. Izinkan aku masuk ke Majapahit, ke dalam lingkaran Raden Wijaya yang menemukan buah Maja de tengah hutan lalu membangun kerajaan yang Maha megah. Aku ingin membuktikan bahwa semua yang mereka pikirkan itu tidak selamanya benar. Terah kami Dayang Sumbi adalah pekerja keras dan mempunyai jati diri sebagai wanita mandiri. Ya, aku tahu dalam agamamu ada proses reinkarnasi. Adakah dirimu saat ini? Entahlah Tuan Maha Patih, jika Engkau bersumpah Palapa, maka aku akan berusaha mematahkan akibat perang bubat. Semakin mereka kuat menyatakan dan memandang wanita Pajajaran sebelah mata, maka semakin kuat juga usahaku untuk mematahkan asumsi mereka.


Tuan Maha Patih, kini aku menginjak tanah Singasari dimana Ken Dedes disakiti oleh Ken Arok. Lalu ada prahara antara Mpu Gandring, Tunggul Ametung dan kawan-kawannya yang tidak bisa kusaebutkan dalam suratku ini. Apakah kamu mengenal mereka? Iya, mereka ada pada masa sebelum masamu.  Ah Tuan, dari jamanmu hingga jamanku ternyata masih saja perempuan dijadikan senjata, lalu mengapa pula pria goyah keyakinannya jika ada harta, tahta, dan wanita.

Hey aku ini sedang mengikuti sayembara #30HariMenulisSuratCinta lalu mengapa pula aku harus mengirim surat cinta pada Engkau? Lancang sekali aku ini rupanya. Tidak Tuan, bukan maksudku lancang dan kurang ajar padamu. Abaikanlah suratku ini tuan, aku memang wanita Pajajaran yang bebal, keras kepala, dan pantang menyerah bahkan tak gentar jika ada pandangan-pandangan sinis dari terah Majapahit yang masih saja menganggap sebelah mata.

Ini surat cinta, dari seorang wanita Pajajaran yang mencintai Nusantara.

1 komentar: