#11 Kepada Yang Mulia Maha Patih Gajah Mada
aku sedikit menaruh benci padamu, berkecamuk perasaanmu jika
mendengar namamu. Apa maksudmu menjebak Putri Diah Pitaloka kemudian membunuh
pasukan Pajajaran di tengah perjalanan. Tahukah tuan? Akibatnya terasa sampai
era milenium tiga saat ini. Para pemegang terah Pajajaran dan Majapahit kurang
bisa bersatu. Mana sumpahmu? Yang tidak akan memakan buah palapa jika Nusantara
belum bersatu. Tapi tuan, kenyataannya Nusantara memang belum siap dengan
keragaman didalamnya, Engkau tidak bisa begitu saja memaksa Nusantara bersatu.
Biarkan Nusantara berbeda tapi dengan tujuan yang sama, mungkin akan lebih baik
jika demikian. Aku geram dengan perpecahan, aku marah jika ada
pengkotak-kotakkan suku,agama, ras,atau apalah itu. Karena bersatu bukan berarti jadi satu.
Kuulangi kalimatku Tuan Maha Patih “Bersatu bukan Menjadi Satu”. Maaf jika urat leherku menjadi tegang ketika mengatakan kalimat itu padamu. Harusnya Engkau paham Tuan Maha Patih, biarkan keseragaman menjadi sebuah kekayaan.
Tuan Maha Patih, betapa sering aku dipandang sebelah mata
hanya karena aku berasal dari tanah Pajajaran. Katanya wanita Pajajaran tidak
setia, selalu berfoya-foya dan enggan diajak bekerja keras. Entahlah Tuan, aku
sungguh benci dengan perpecahan ini, dengan anekdot bahwa wanita Padjajaran
hanya berwajah cantik namun tidak berpendidikan. Tuan, itu perang bubat versi
pajajaran. Izinkan aku masuk ke Majapahit, ke dalam lingkaran Raden Wijaya yang
menemukan buah Maja de tengah hutan lalu membangun kerajaan yang Maha megah. Aku
ingin membuktikan bahwa semua yang mereka pikirkan itu tidak selamanya benar.
Terah kami Dayang Sumbi adalah pekerja keras dan mempunyai jati diri sebagai
wanita mandiri. Ya, aku tahu dalam agamamu ada proses reinkarnasi. Adakah
dirimu saat ini? Entahlah Tuan Maha Patih, jika Engkau bersumpah Palapa, maka
aku akan berusaha mematahkan akibat perang bubat. Semakin mereka kuat menyatakan
dan memandang wanita Pajajaran sebelah mata, maka semakin kuat juga usahaku
untuk mematahkan asumsi mereka.
Tuan Maha Patih, kini aku menginjak tanah Singasari dimana
Ken Dedes disakiti oleh Ken Arok. Lalu ada prahara antara Mpu Gandring, Tunggul
Ametung dan kawan-kawannya yang tidak bisa kusaebutkan dalam suratku ini. Apakah
kamu mengenal mereka? Iya, mereka ada pada masa sebelum masamu. Ah Tuan, dari jamanmu hingga jamanku ternyata
masih saja perempuan dijadikan senjata, lalu mengapa pula pria goyah
keyakinannya jika ada harta, tahta, dan wanita.
Hey aku ini sedang mengikuti sayembara
#30HariMenulisSuratCinta lalu mengapa pula aku harus mengirim surat cinta pada
Engkau? Lancang sekali aku ini rupanya. Tidak Tuan, bukan maksudku lancang dan
kurang ajar padamu. Abaikanlah suratku ini tuan, aku memang wanita Pajajaran
yang bebal, keras kepala, dan pantang menyerah bahkan tak gentar jika ada
pandangan-pandangan sinis dari terah Majapahit yang masih saja menganggap
sebelah mata.
Ini surat cinta, dari seorang wanita Pajajaran yang
mencintai Nusantara.
hidup tasik !!!!!!
BalasHapus