#12 Kepadanya yang tidak bisa dibohongi, Nurani
Selamat Pagi, Nurani, peluk cium dari jauh untuk kamu.
12 Tanggal lahir kamu kan?
Ini hari kedua belas aku menulis surat cinta.
Apa kabar Cimahi? Sudah punya lampu stopan kah kini?
Hahahaha apa kabar pemkot? Masih ada lampu yang membuat aku melongo ketika pertama
kali melihatnya?
Nurani, kamu memang orang yang tak pantas dan tak bisa
dibohongi. Secara harfiah namamu adalah bagian terkecil dari hati yang dimiliki
manusia. Aku rindu berlari mengelilingi lapangan Brigif kota Cimahi dengan
kamu. Di sini, di Malang jogging tracknya tidak seindah Brigif dan aku belum
mendapatkan partner untuk berolahraga, berkeringat dan mau berpanas-panasan
seperti kamu.
Hey, kamu harus banyak minum supaya ginjalmu tidak kambuh
lagi. Semua keluargaku selalu ingat kamu, iya Nurani punya suara yang khas.
Lucu, imut, seperti gadis SMP yang sedang puber. Jadi, masih suka nongkrong di
lapangan softball kampus? Tempat ter-Cozy versi kita kan itu? eh apa kabar si
Mput? Motor Mio mu yang selalu setia. Andai Mput adalah pria, sudah aku pacari
saja dia.
Kamu, yang selalu bersedia menjemputku ketika tiba di
Bandung. Kamu juga yang selalu bersedia mengantarku ketika akan meninggalkan
Bandung. Hati kamu terbuat dari apa Nurani? Lembut bak gula-gula kapas, manis. Sungguh
bodoh jika ada pria yang berani menyia-nyiakan kamu. Iya, sekali lagi aku
bilang “Bodoh”. Pria memang begitu Nurani, semasa muda mereka ingin bersama
wanita berbadan kerempeng, berkulit putih bak tembok yang baru di cat, rambut
panjang berwarna bak harum manis, berbehel, dan selalu berbaju seksi. Tapi jika
mereka sudah sadar , bahwa mereka butuh rumah untuk pulang. Kejam ya? Begitulah
mereka. Tapi janji Tuhan adalah pasti. Ketika kamu melepas atau dilepas oleh
seseorang, Tuhan akan menjanjikan memberikan yang lebih baik. Mari sabar
menunggunya, Nurani.
Aku rindu berenang.
Ah, banyak sekali yang aku rindukan. Kamu partner terhebatku
ketika berolahraga. Meskipun jika berenang yang bisa kita lakukan hanyalah gaya
katak dan gaya anjing. Yang penting kita tertawa setelahnya. Bagaimana masakan
kamu? Ayam goreng bumbu kuningmu itu enak sekali. Di Malang mana ada yang
seperti itu. Kamu rindu pantai? Selalu ada benda yang kau bawa ketika pulang
liburan, entah itu gelang, kalung, atau apapun. Iya, kamu memang dermawan.
Selalu ingat akan sahabat. Tidak salah kan jika pagi ini aku ingat kamu?
Agak sensitif memang ketika menanyakan ini padamu, apa kabar
skripsimu? Ayolah, aku ingin mendampingi kamu memakai toga. Aku berjanji untuk
pulang jika kamu wisuda. Manusia cerdas seperti kamu sangat layak memakai toga,
melenggang di Gymnasium lalu menerima banyak bunga. Ayo bayangkan hari itu
terlebih dahulu, lalu mundur membayangkan hari ketika kamu sidang skripsi, lalu
mundur bayangkan ketika kamu mengerjakan skripsi. Sekarang, mulailah membuka
laptopmu dan mengerjakan barang selembar atu dua lembar skripsimu. Aku sayang
kamu nurani. Bahkan seisi planet Uranus dan Saturnus pun kuberi tahu, bahwa aku
peduli dengan kamu, dengan skripsi kamu. Karena kamu mahasiswa cerdas, bahkan
lebih cerdas daripada aku.
Berapa purnama yang kita lewati bersama? Berapa jalanan yang
kita lewati? Berapa keliling lapangan yang kita lalui dengan berlari? Berapa
banyak surabi yang kita makan? Rasanya akan kalah banyak dengan rindu aku akan
kamu.
Tertanda
Aku dan keringatku yang rindu kamu :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar