#14 Surat Cinta Untuk Semesta
Hari ini hari kasih sayang, tapi bagiku setiap hari adalah hari yang harus diisi kasih sayang, termasuk kepada engkau, semesta.
Selamat siang semesta, terima kasih hari ini aku dapat bangun di pagi hari setelah semalaman khawatir akan muntahan lahar salah satu elemenmu, api. Semalam aku teguncang, padahal sedikit yang kau lakukan wahai semesta. Menggeserkan lempengan bumi yang manusia namakan gempa vulkanik. Beberapa bulan ke belakang elemen lainmu berbicara, setengah berteriak mungkin. Kau genangkan air di penjuru ibukota, di utara pulau jawa. Iya semesta, aku tahu ini caramu berbicara pada kami manusia yang seakan-akan tuli tak mau mendengar apa yang ingin kau katakan.
“Matahari terasa dekat di Malang” aku berucap dalam hati kemarin. Teriknya membakar kulit dan seakan mengigit. Ternyata engkau berteriak ketika malam. Sekelebat kilat dari arah barat terlihat di langit kota tempatku berdiri. “Ini Tuhan lakukan hanya dengan menjentikkan jari” seakan itu yang ingin engkau ucapkan pada kami.
Duhai semesta, debu yang agak menusuk hidungku belum seberapa dengan bahasa yang ingin kau ucapkan pada kami. Semesta, tahukah engkau? bahwa Tuhan adalah diagram terbesar yang mengisi hidup aku dan engkau. Semestaku , aku seringkali menangis ketika tidak paham apa maksud bahasamu. Tapi rasanya tidak pantas aku menangis berurai air mata, sedang Tuhan memberiku mata air kehidupan yang tiada pernah kering .
Semesta, aku cinta engkau tapi mungkin tidak sebesar cinta matahari pada engkau. tahu kenapa? matahari kagum akan pesonamu, ia selalu memancarkan cahayanya agar engkau selalu bersinar sehingga cantikmu tertangkap lensa mata umat manusia.
Semestaku, aku tahu engkau kini sedang sakit. Iya, lebih tepatnya elemen bumi-mu sakit. Tubuhnya semakin panas. Kemaraumu semakin panjang, hujanmu bak tangis yang tak terbendung, dan muntahan lahar dari gunung-gunung merapi adalah bukti engkau muak, mual, dan pening berkepanjangan kan?
Semesta yang aku kasihi, aku tidak ingin menyesal. Aku tidak ingin menyadari keindahan dan kecantikanmu setelah semuanya pergi. Mungkin ini tidak banyak membantumu untuk menghapus marah dan duengkau. Tapi semesta, aku yakin banyak orang yang berpikiran sama sepertiku. Mereka mau menjaga engkau, melindungi engkau, karena atas nama cinta kami ingin melihat senyummu kembali.
*ditulis pada tanggal 14 Februari 2014 ketika televisi gencar menyiarkan muntahanmu
Hari ini hari kasih sayang, tapi bagiku setiap hari adalah hari yang harus diisi kasih sayang, termasuk kepada engkau, semesta.
Selamat siang semesta, terima kasih hari ini aku dapat bangun di pagi hari setelah semalaman khawatir akan muntahan lahar salah satu elemenmu, api. Semalam aku teguncang, padahal sedikit yang kau lakukan wahai semesta. Menggeserkan lempengan bumi yang manusia namakan gempa vulkanik. Beberapa bulan ke belakang elemen lainmu berbicara, setengah berteriak mungkin. Kau genangkan air di penjuru ibukota, di utara pulau jawa. Iya semesta, aku tahu ini caramu berbicara pada kami manusia yang seakan-akan tuli tak mau mendengar apa yang ingin kau katakan.
“Matahari terasa dekat di Malang” aku berucap dalam hati kemarin. Teriknya membakar kulit dan seakan mengigit. Ternyata engkau berteriak ketika malam. Sekelebat kilat dari arah barat terlihat di langit kota tempatku berdiri. “Ini Tuhan lakukan hanya dengan menjentikkan jari” seakan itu yang ingin engkau ucapkan pada kami.
Duhai semesta, debu yang agak menusuk hidungku belum seberapa dengan bahasa yang ingin kau ucapkan pada kami. Semesta, tahukah engkau? bahwa Tuhan adalah diagram terbesar yang mengisi hidup aku dan engkau. Semestaku , aku seringkali menangis ketika tidak paham apa maksud bahasamu. Tapi rasanya tidak pantas aku menangis berurai air mata, sedang Tuhan memberiku mata air kehidupan yang tiada pernah kering .
Semesta, aku cinta engkau tapi mungkin tidak sebesar cinta matahari pada engkau. tahu kenapa? matahari kagum akan pesonamu, ia selalu memancarkan cahayanya agar engkau selalu bersinar sehingga cantikmu tertangkap lensa mata umat manusia.
Semestaku, aku tahu engkau kini sedang sakit. Iya, lebih tepatnya elemen bumi-mu sakit. Tubuhnya semakin panas. Kemaraumu semakin panjang, hujanmu bak tangis yang tak terbendung, dan muntahan lahar dari gunung-gunung merapi adalah bukti engkau muak, mual, dan pening berkepanjangan kan?
Semesta yang aku kasihi, aku tidak ingin menyesal. Aku tidak ingin menyadari keindahan dan kecantikanmu setelah semuanya pergi. Mungkin ini tidak banyak membantumu untuk menghapus marah dan duengkau. Tapi semesta, aku yakin banyak orang yang berpikiran sama sepertiku. Mereka mau menjaga engkau, melindungi engkau, karena atas nama cinta kami ingin melihat senyummu kembali.
*ditulis pada tanggal 14 Februari 2014 ketika televisi gencar menyiarkan muntahanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar