#15 Leonardo, Jagoannyaa
ibu Aisha yang kini beranjak remaja
“Ibu Aisha, Leo boleh menonton TV? Ibu Aisha, Leo tidak
boleh makan mi ya?”
Hampir setiap hari, setiap pagi aku mendengar kamu
mengatakan itu. kalimat repetitif yang mencirikan bahwa kamu memang berbeda,
Leo.
Leonardo Rigiwara, selama ini orang berangggapan
bahwa autisme adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Padahal, aku
tegaskan bahwa autisme bukanlah penyakit namun gangguan perkembangan
yang sangat kompleks pada anak. Sering kali gejala terlihat sebelum anak
berusia tiga tahun. Biasanya gangguan perkembangannya meliputi cara
berkomunikasi, berinteraksi sosial dan kemampuan berimajinasi. Leonardo, kamu
selalu berimajinasi tentang profesor dan seekor kancil yang sedang belajar. Siapa
itu profesormu Leo?
Aku kesal ketika kamu dipanggil penyandang autis. Hey, autis
kan bukan penyakit. Kamu normal, bisa berlari, menggenggam tanganku, merangkul
pundakku dan kadang ketika raut mukaku mulai tak beraturan kamu berkata “Ibu
Aisha marah ya? Leo Nakal ya?” bukan Leo, bukaaaaaan. Raut wajahku memburuk
bukan karena kamu, tapi karena kompleksnya masalahku yang mungkin tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan kompleksnya gangguan pada otakmu. Leonardoku,
kenapa autis Disebut sebagai penyandang, karena autis bukan layaknya penyakit
seperti, flu, batuk, radang, yang bisa disembuhkan dengan obat tertentu.
Indra yang kamu miliki sangat sensitif terhadap cahaya,
sentuhan, penciuman, rasa, tingkat sensitifnya membentang pula dari yang berat
sampai yang ringan. Kamu takut akan gelap Leo, kamu marah jika punggungmu
disentuh, dan kamu begitu peka terhadap rasa. Bukan hanya rasa yang dapat
dikecap oleh lidah, tapi rasa yang nurani pun enggan memberi tahu. “Ibu Aisha
jangan sedih ya? Leo mau belajar” kamu selalu bekata demikian sambil menatapku.
"Jumlah anak penyandang autism baik di dunia maupun di
Indonesia, mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Di Batam,
Tanjungpinang dan Karimun jumlahnya penyandang autism yang masuk SLB sekitar 60
orang, namun yang tidak masuk SLB jumlahnya diperkirakan lebih banyak,"
itu berita terakhir yang aku dengar. Hey Leo, banyak temanmu yang seperti kamu.
kamu tidak sendirian sayang.
Di dalam labirin otakmu, disajikan tulisan-tulisan tentang
apa yang kamu rasakan Leo. Siapa sangka, cahaya lampu neon yang bagi orang
normal adalah sesuatu yang biasa, bagi kamu seperti jutaan jarum yang seketika
menyerang ke mata.
Baju yang menurut orang kebanyakan adalah hal yang biasa,
bagi kamu seperti benda kasar yang tajam menusuk-nusuk kulit. Rumput menjadi
sangat menjijikan dan membuat muntah, karpet yang lembut menjadi seperti jarum,
suara detik jarum jam seperti dentuman demi dentuman, bau bunga mawar menjadi
sangat menusuk hidung, roti tawar menjadi sangat bau.
Kamu dan aku, seperti ada benang kasat mata Leo. Yang menghubungkan
setiap neuron kita, yang menjembatani kesulitan berkomunikasi kita, tapi ada
satu bahasa dimana kita berdua bisa paham dan saling mengerti. Ajaibnya,
tanggal lahir kita hanya berjarak dua hari, dekat bukan? Tapi tidak sedekat
jarak aku denganmu kini tentunya. Sekarang kamu beranjak remaja Leo, banyak sekali
kekhawatiranku, Ibu Aisha mu. Bagaimana perilakumu terhadap lawan jenis,
bagaimana kamu mengatasi hormon testosteron yang tidak akan mau bertoleransi
akan kebutuhan khususmu, bagaimana kamu melewati semua tugas perkembangan yang
harus dijalani?
Ada ungkapan
mata adalah jendela jiwa bagi seseorang, tapi itu tidak berlaku bagimu Leo. Neuron
yang terekam dari otakmu cenderung menghindari mata. Kamu memiliki respons yang
sensitif dengan wilayah sekitar mulut. Kini menjadi jelas perbedaannya. Bukan
berarti mata tidak penting bagi orang seperti kamu Leo. Tapi kamu memang tidak
menggunakan informasi yang disampaikan melalui mata. Kamu hanya menggunakan
strategi berkomunikasi yang berbeda.
*Leonardo Rigiwara, jangan makan mi ya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar