Jumat, 14 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #15 Leonardo, Jagoannyaa ibu Aisha yang kini beranjak remaja



#15  Leonardo, Jagoannyaa ibu Aisha yang kini beranjak remaja

“Ibu Aisha, Leo boleh menonton TV? Ibu Aisha, Leo tidak boleh makan mi ya?”
Hampir setiap hari, setiap pagi aku mendengar kamu mengatakan itu. kalimat repetitif yang mencirikan bahwa kamu memang berbeda, Leo.

Leonardo Rigiwara, selama ini orang berangggapan bahwa autisme adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Padahal, aku tegaskan bahwa autisme bukanlah penyakit namun gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Sering kali gejala terlihat sebelum anak berusia tiga tahun. Biasanya gangguan perkembangannya meliputi cara berkomunikasi, berinteraksi sosial dan kemampuan berimajinasi. Leonardo, kamu selalu berimajinasi tentang profesor dan seekor kancil yang sedang belajar. Siapa itu profesormu Leo? 

Aku kesal ketika kamu dipanggil penyandang autis. Hey, autis kan bukan penyakit. Kamu normal, bisa berlari, menggenggam tanganku, merangkul pundakku dan kadang ketika raut mukaku mulai tak beraturan kamu berkata “Ibu Aisha marah ya? Leo Nakal ya?” bukan Leo, bukaaaaaan. Raut wajahku memburuk bukan karena kamu, tapi karena kompleksnya masalahku yang mungkin tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kompleksnya gangguan pada otakmu. Leonardoku, kenapa autis Disebut sebagai penyandang, karena autis bukan layaknya penyakit seperti, flu, batuk, radang, yang bisa disembuhkan dengan obat tertentu.

Indra yang kamu miliki sangat sensitif terhadap cahaya, sentuhan, penciuman, rasa, tingkat sensitifnya membentang pula dari yang berat sampai yang ringan. Kamu takut akan gelap Leo, kamu marah jika punggungmu disentuh, dan kamu begitu peka terhadap rasa. Bukan hanya rasa yang dapat dikecap oleh lidah, tapi rasa yang nurani pun enggan memberi tahu. “Ibu Aisha jangan sedih ya? Leo mau belajar” kamu selalu bekata demikian sambil menatapku.

"Jumlah anak penyandang autism baik di dunia maupun di Indonesia, mengalami peningkatan dalam 10 tahun terakhir. Di Batam, Tanjungpinang dan Karimun jumlahnya penyandang autism yang masuk SLB sekitar 60 orang, namun yang tidak masuk SLB jumlahnya diperkirakan lebih banyak," itu berita terakhir yang aku dengar. Hey Leo, banyak temanmu yang seperti kamu. kamu tidak sendirian sayang.

Di dalam labirin otakmu, disajikan tulisan-tulisan tentang apa yang kamu rasakan Leo. Siapa sangka, cahaya lampu neon yang bagi orang normal adalah sesuatu yang biasa, bagi kamu seperti jutaan jarum yang seketika menyerang ke mata.

Baju yang menurut orang kebanyakan adalah hal yang biasa, bagi kamu seperti benda kasar yang tajam menusuk-nusuk kulit. Rumput menjadi sangat menjijikan dan membuat muntah, karpet yang lembut menjadi seperti jarum, suara detik jarum jam seperti dentuman demi dentuman, bau bunga mawar menjadi sangat menusuk hidung, roti tawar menjadi sangat bau.

Kamu dan aku, seperti ada benang kasat mata Leo. Yang menghubungkan setiap neuron kita, yang menjembatani kesulitan berkomunikasi kita, tapi ada satu bahasa dimana kita berdua bisa paham dan saling mengerti. Ajaibnya, tanggal lahir kita hanya berjarak dua hari, dekat bukan? Tapi tidak sedekat jarak aku denganmu kini tentunya. Sekarang  kamu beranjak remaja Leo, banyak sekali kekhawatiranku, Ibu Aisha mu. Bagaimana perilakumu terhadap lawan jenis, bagaimana kamu mengatasi hormon testosteron yang tidak akan mau bertoleransi akan kebutuhan khususmu, bagaimana kamu melewati semua tugas perkembangan yang harus dijalani?

Ada ungkapan mata adalah jendela jiwa bagi seseorang, tapi itu tidak berlaku bagimu Leo. Neuron yang terekam dari otakmu cenderung menghindari mata. Kamu memiliki respons yang sensitif dengan wilayah sekitar mulut. Kini menjadi jelas perbedaannya. Bukan berarti mata tidak penting bagi orang seperti kamu Leo. Tapi kamu memang tidak menggunakan informasi yang disampaikan melalui mata. Kamu hanya menggunakan strategi berkomunikasi yang berbeda.

*Leonardo Rigiwara, jangan makan mi ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar