#16 penyeru suara di
pasupati
Hai nadia, nampaknya tidak tepat mengirim surat ini di hari
keenambelasku. Kamu masih enggan mendengar surat cinta, muak menerimanya
mungkin. Tapi sungguh nadia, ini surat cinta yang mempunyai komposisi dari
kerinduan, kerinduan berseteru akan hal yang tidak penting untuk diseterukan
lalu diakhiri dengan tawa dan pelukan. Begitulah aku dan kamu, dua wanita yang
keras kepala. Keukeuh tiada tara. Tahukah kamu Nadia? Belakangan aku diingatkan
bahwa wanita harus merunduk, manut, dan pantang membangkang. Karena pria adalah
pemimpin dari wanita. Ah, sayangnya belum ada pria yang kunjung datang
menghampiri kita ya? Mungkin mereka masih tersesat di hati yang lain.
Tujuh dari sepuluh orang akan mengatakan kamu cantik. Memang,
dunia bahkan mengakui bahwa kamu cantik. Tetapi, cantik saja ternyata tidak
cukup ya Nadia? Sungguh wanita secantik kamu tidaklah pantas disia-siakan. Eh bagaimana
kabar kosan kamu? pasti kasurmu terlalu luas untuk kamu tiduri seorang diri
kan? tidak ada aku yang mengganggu kosanmu, memberantakkan kamarmu, lalu
menghabiskan air galon, dan memenuhi tempat sikat gigimu. Ah, aku benci jarak
Nadia. Mungkin seperti kamu yang pelan-pelan membenci surat cinta atau mimpi. Sudahlah
Nadia, mari kita berpikir kalau kita sedang mengarungi jalanan kota Bandung
tepatnya jembatan pasupati. Kamu selalu berteriak-teriak sementara aku di
belakang kemudi. Entah ada apa, tapi yang pasti berteriak di Pasupati adalah
ciri khasmu yang selalu kamu lakukan ketika aku menarik gas motor merahku. Kita
amat sering berselisih paham, bertentangan, saling berteriak dan kemudian
berpelukan. Kemarahan kita memang meledak-ledak namun bersifat temporary,
seperti tatoo yang ditawarkan di pinggir pantai-pantai. Tapi aku harap,
persahabatan kita (aku kok menganggap kamu bukan sahabat ya, sudah seperti
saudara) entahlah apa hubungan kita namanya, abadi. Jadi, kelak ketika kita
punya anak bisa bercerita “Nak, Bunda sama tante Nadia pernah menyebar surat
mengelilingi Bandung loh” atau “Nak, ini loh dulunya kosan tante Nadia. Bunda
sering banget nginep disitu” Meskipun sampai sekarang ita berdua belum tahu siapa
gerangan ayah dari anak-anak kita.
Apa kabar pencernaan kamu? see? Kita sama-sama punya masalah
dalam pencernaan. Tapi aku sih bebal, menjunjung tinggi diet entah sampai
kapan. hahahahaha.kamu menyebalkan kadang, amat keras kepala. Kalau sudah begitu
aku lebih baik makan capcay di gerbang FPTK saja. Bibirmu pedas, sepedas
keripik karuhun rasa cabe hijau. Tapi sikap kamu hangat, sehangat roti gandum
gempol yang diolesi selai kacang. Dan pelukan kamu empuk, seperti beef
tenderloin di Abuba steak. Ah makanan melulu. Iya, kamu ratu kuliner versi on
the spot. Omnivora tapi berbadan singset.
Hey mari biasakan olahraga, berlari diantara rerumputan
stadion misalnya. Maha sempurna Tuhan menciptakan kamu dan adk-adikmu.
(sebenernya fokus pada adik-adikmu sih) adik bungsumu belakangan lebih menarik
daripada adikmu yang tengah. Eh tapi, keduanya tampan aku jadi bingung harus
memilih yang mana. Ah lupa, kodrat wanita kan dipilih. Okay, skip. Otak aku
mulai tidak beres. Mungkin perlu seteguk yakult. Karena pencernaan lancar
mempunyai korelasi tinggi dengan otak yang lancar dalam berpikir. Sudahlah,
tidak usah berpikir terlalu serius atau ilmiah nadia. Ini surat cinta, bukan
makalah yang harus kau kerjakan berlarut-larut malam atau tugas akhir semester yang
mana harus kamu pikirkan sambil menenggak segelas penuh Chamomile tea
(begitukah menulisnya?) aku lebih pandai menulis ronde atau bajigur.
Jadi, kapan kita bisa melahap bebek pedas di bawah jembatan
pasupati? Ditemani kol goreng dan segelas penuh teh tarik dingin? Lalu kamu
akan memesan sebotol air mineral. Atau kapan kita akan mencari sarapan? Kamu masih
suka bubur ayam tanpa kecap kan? ah nampaknya kamu lebih tertarik aku ajak
makan indomi kuah soto pedas.
Ini bukan sekedar surat cinta, tapi surat yang ditulis
sepenuh cinta.
Aisha Nadya bukan Nadia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar