Rabu, 19 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #16 penyeru suara di pasupati



#16  penyeru suara di pasupati

Hai nadia, nampaknya tidak tepat mengirim surat ini di hari keenambelasku. Kamu masih enggan mendengar surat cinta, muak menerimanya mungkin. Tapi sungguh nadia, ini surat cinta yang mempunyai komposisi dari kerinduan, kerinduan berseteru akan hal yang tidak penting untuk diseterukan lalu diakhiri dengan tawa dan pelukan. Begitulah aku dan kamu, dua wanita yang keras kepala. Keukeuh tiada tara. Tahukah kamu Nadia? Belakangan aku diingatkan bahwa wanita harus merunduk, manut, dan pantang membangkang. Karena pria adalah pemimpin dari wanita. Ah, sayangnya belum ada pria yang kunjung datang menghampiri kita ya? Mungkin mereka masih tersesat di hati yang lain.

Tujuh dari sepuluh orang akan mengatakan kamu cantik. Memang, dunia bahkan mengakui bahwa kamu cantik. Tetapi, cantik saja ternyata tidak cukup ya Nadia? Sungguh wanita secantik kamu tidaklah pantas disia-siakan. Eh bagaimana kabar kosan kamu? pasti kasurmu terlalu luas untuk kamu tiduri seorang diri kan? tidak ada aku yang mengganggu kosanmu, memberantakkan kamarmu, lalu menghabiskan air galon, dan memenuhi tempat sikat gigimu. Ah, aku benci jarak Nadia. Mungkin seperti kamu yang pelan-pelan membenci surat cinta atau mimpi. Sudahlah Nadia, mari kita berpikir kalau kita sedang mengarungi jalanan kota Bandung tepatnya jembatan pasupati. Kamu selalu berteriak-teriak sementara aku di belakang kemudi. Entah ada apa, tapi yang pasti berteriak di Pasupati adalah ciri khasmu yang selalu kamu lakukan ketika aku menarik gas motor merahku. Kita amat sering berselisih paham, bertentangan, saling berteriak dan kemudian berpelukan. Kemarahan kita memang meledak-ledak namun bersifat temporary, seperti tatoo yang ditawarkan di pinggir pantai-pantai. Tapi aku harap, persahabatan kita (aku kok menganggap kamu bukan sahabat ya, sudah seperti saudara) entahlah apa hubungan kita namanya, abadi. Jadi, kelak ketika kita punya anak bisa bercerita “Nak, Bunda sama tante Nadia pernah menyebar surat mengelilingi Bandung loh” atau “Nak, ini loh dulunya kosan tante Nadia. Bunda sering banget nginep disitu” Meskipun sampai sekarang ita berdua belum tahu siapa gerangan ayah dari anak-anak kita.

Apa kabar pencernaan kamu? see? Kita sama-sama punya masalah dalam pencernaan. Tapi aku sih bebal, menjunjung tinggi diet entah sampai kapan. hahahahaha.kamu menyebalkan kadang, amat keras kepala. Kalau sudah begitu aku lebih baik makan capcay di gerbang FPTK saja. Bibirmu pedas, sepedas keripik karuhun rasa cabe hijau. Tapi sikap kamu hangat, sehangat roti gandum gempol yang diolesi selai kacang. Dan pelukan kamu empuk, seperti beef tenderloin di Abuba steak. Ah makanan melulu. Iya, kamu ratu kuliner versi on the spot. Omnivora tapi berbadan singset.

Hey mari biasakan olahraga, berlari diantara rerumputan stadion misalnya. Maha sempurna Tuhan menciptakan kamu dan adk-adikmu. (sebenernya fokus pada adik-adikmu sih) adik bungsumu belakangan lebih menarik daripada adikmu yang tengah. Eh tapi, keduanya tampan aku jadi bingung harus memilih yang mana. Ah lupa, kodrat wanita kan dipilih. Okay, skip. Otak aku mulai tidak beres. Mungkin perlu seteguk yakult. Karena pencernaan lancar mempunyai korelasi tinggi dengan otak yang lancar dalam berpikir. Sudahlah, tidak usah berpikir terlalu serius atau ilmiah nadia. Ini surat cinta, bukan makalah yang harus kau kerjakan berlarut-larut malam atau tugas akhir semester yang mana harus kamu pikirkan sambil menenggak segelas penuh Chamomile tea (begitukah menulisnya?) aku lebih pandai menulis ronde atau bajigur.

Jadi, kapan kita bisa melahap bebek pedas di bawah jembatan pasupati? Ditemani kol goreng dan segelas penuh teh tarik dingin? Lalu kamu akan memesan sebotol air mineral. Atau kapan kita akan mencari sarapan? Kamu masih suka bubur ayam tanpa kecap kan? ah nampaknya kamu lebih tertarik aku ajak makan indomi kuah soto pedas.

Ini bukan sekedar surat cinta, tapi surat yang ditulis sepenuh cinta.

Aisha Nadya bukan Nadia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar