#18 Kepada Nyonya Pramuditha
Bogor masih kota hujan kan? deras kah hujannya? Yang pasti
rindu aku pada kamu tidak kalah deras dengan hujan di Kota Bogor. Hey anak
kecil yang sudah bisa membuat anak kecil, apa kabar kamu? bagaimana kabar
Syahrini sekarang? Random sekali aku
ini. Tapi mungkin tidak serandom pekerjaan kamu kini. Bagaimana bisa, seorang
anak manusia yang dididik untuk menjadi konselor banting stir menjadi seorang
bankir. Sungguh luar biasa, decak kagu tiada tara untukmu wahai nyonya
Pramuditha. Wanita muda, lincah, cekatan dan tidak enggan keluar zona nyaman. Ah,
beruntungnya tuan Pramuditha mempersunting kamu dan menjadikanmu permaisuri di
istana kecil kalian.
Tasikmalaya mempersatukan kita. Aku dan kamu. lalu kini
terpisah jarak antara barat dan timur, dua mata angin yang saling berjauhan. Tapi
begitulah, kita dijauhkan agar saling merindu. Hey aku belum menyapa kamu.
selamat malam, kamu pasti sedang kelelahan setelah bergulat di tengah sesaknya
penumpang kereta api dan lelahnya bekerja seharian mengitari ibukota dan
sekitarnya. Anggap saja ini pelepas lelah atau penatmu. Aku takut, kamu enggan
bercerita atau berbagi keluh kesahmu lalu nanti di kemudian hari semuanya
meledak, seperti gunung kelud beberapa hari terakhir ini.
Tapi, aku sangat percaya. Kamu wanita kuat, hebat dan cermat
membaca masalah. Meski kadang panikmu melebihi nenek-nenek yang kehilangan
kacamata bacanya. Tapi percayalah, kamu kuat dan hebat. Lagi-lagi aku mengulang
kata hebat. Iya, kamu memang hebat. Selalu mampu bekerja bahkan dibawah
tekanan, selalu menyelesaikan persoalan, tapi sayangnya kamu kurang tegas. Lihatlah,
Tuhan mengirim kamu di pekerjaan yang memerlukan ketegasan cukup tinggi.
Sungguh Tuhan mencintai kamu Nyonya Pramuditha.
Serangkaian upacara pernikahanmu membuat aku haru, mulai
dari siraman, ngeuyeuk seureuh sampai akad nikah yang kamu malah menangis,
diikuti aku menangis di belakangmu. Hey, itu sudah setahun berlalu ya? Kamu cantik
mengenakan kebaya ungu. Saat itu aku tahu, kamu akan mulai menjauh, menapaki
hidup baru dan beranjak dari cerita-cerita geje lagi tidak penting yang selalu
aku bicarakan padamu. Tapi, aku tidak kehilangan kamu. kamu masih ada, masih
dan selalu manis, semanis monte yang ada di kamarmu, tawa kamu masih dan selalu
renyah. Erenyah almond yang ada di tpoles bening di sudut kamarmu.
Kurang ajar sekali aku ini, mengirimimu surat cinta di malam
hari. Maafkan aku mengganggu “pillow talk” mu ya Nyonya. Jika tuan memarahimu,
marahi saja aku.
Kepada Nyonya Pramuditha
Dari si Calon Nyonya “Entah Belum tahu siapa”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar