Rabu, 19 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #18 Kepada Nyonya Pramuditha



#18 Kepada Nyonya Pramuditha

Bogor masih kota hujan kan? deras kah hujannya? Yang pasti rindu aku pada kamu tidak kalah deras dengan hujan di Kota Bogor. Hey anak kecil yang sudah bisa membuat anak kecil, apa kabar kamu? bagaimana kabar Syahrini sekarang?  Random sekali aku ini. Tapi mungkin tidak serandom pekerjaan kamu kini. Bagaimana bisa, seorang anak manusia yang dididik untuk menjadi konselor banting stir menjadi seorang bankir. Sungguh luar biasa, decak kagu tiada tara untukmu wahai nyonya Pramuditha. Wanita muda, lincah, cekatan dan tidak enggan keluar zona nyaman. Ah, beruntungnya tuan Pramuditha mempersunting kamu dan menjadikanmu permaisuri di istana kecil kalian.

Tasikmalaya mempersatukan kita. Aku dan kamu. lalu kini terpisah jarak antara barat dan timur, dua mata angin yang saling berjauhan. Tapi begitulah, kita dijauhkan agar saling merindu. Hey aku belum menyapa kamu. selamat malam, kamu pasti sedang kelelahan setelah bergulat di tengah sesaknya penumpang kereta api dan lelahnya bekerja seharian mengitari ibukota dan sekitarnya. Anggap saja ini pelepas lelah atau penatmu. Aku takut, kamu enggan bercerita atau berbagi keluh kesahmu lalu nanti di kemudian hari semuanya meledak, seperti gunung kelud beberapa hari terakhir ini.

Tapi, aku sangat percaya. Kamu wanita kuat, hebat dan cermat membaca masalah. Meski kadang panikmu melebihi nenek-nenek yang kehilangan kacamata bacanya. Tapi percayalah, kamu kuat dan hebat. Lagi-lagi aku mengulang kata hebat. Iya, kamu memang hebat. Selalu mampu bekerja bahkan dibawah tekanan, selalu menyelesaikan persoalan, tapi sayangnya kamu kurang tegas. Lihatlah, Tuhan mengirim kamu di pekerjaan yang memerlukan ketegasan cukup tinggi. Sungguh Tuhan mencintai kamu Nyonya Pramuditha.
Serangkaian upacara pernikahanmu membuat aku haru, mulai dari siraman, ngeuyeuk seureuh sampai akad nikah yang kamu malah menangis, diikuti aku menangis di belakangmu. Hey, itu sudah setahun berlalu ya? Kamu cantik mengenakan kebaya ungu. Saat itu aku tahu, kamu akan mulai menjauh, menapaki hidup baru dan beranjak dari cerita-cerita geje lagi tidak penting yang selalu aku bicarakan padamu. Tapi, aku tidak kehilangan kamu. kamu masih ada, masih dan selalu manis, semanis monte yang ada di kamarmu, tawa kamu masih dan selalu renyah. Erenyah almond yang ada di tpoles bening di sudut kamarmu.

Kurang ajar sekali aku ini, mengirimimu surat cinta di malam hari. Maafkan aku mengganggu “pillow talk” mu ya Nyonya. Jika tuan memarahimu, marahi saja aku.

Kepada Nyonya Pramuditha

Dari si Calon Nyonya “Entah Belum tahu siapa”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar