Rabu, 19 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #19 kamu ijjah si penyuka lagu gambar gajah



#19 kamu ijjah si penyuka lagu gambar gajah

Selamat ulang tahun ijjah,
Bagaimana? Terkejut dengan teddy bear dan setangkai mawar merah?
Kita pernah punya resolusi. Menginjakkan kaki di Jerman, entah untuk apa.  Entah hanya menumpang makan tutug oncom atau hanya mencari sebotol tauco. Sepertinya surat ini ditulis dengan otak yang setengah, hati yang setengah, iya kita memang manusia setengah-setengah. Setengah dari kita ada pada jodoh yang Tuhan turunkan entah kapan. menjijikan bukan menjadi dewasa? Menggelikan bukan meninggalkan remaja? Ternyata permasalahan bukan hany mengenai ekstrakurikuler di sekolah, pementasan drama di gedung kesenian, atau ngeceng kakak kelas di kelas sebelah.

Iya jah, hidup tidak sesempit itu kan? kita harus mengkaji etika dan estetika.
Kamu tidak perlu takut melangkah, tidak perlu gentar digertak amarah atau ciut ketika dianggap lemah. Karena cinta buat kamu mungkin terdiri dari ikan bumbu kuning yang bersanding dengan tempe goreng ditambah sambel terasi. Cinta itu simpel kan jah? Tidak melulu membuat kamu ruwet atau pusing, bagaikan kebakaran jenggot. Ups, kamu sensitif dengan jenggot dan brewok. Tenang saja, aku sedang membicarakan santa klaus yang tersesat lalu jatuh di cerobong asap kemudian terbakar tungku dan menghilang di kegelapan.

Cinta itu serius, seserius kamu yang belajar memasak dan membina diri menjadi wanita yang siap diperistri pria hebat. Bagaimana? Sudah berapa resep masakan yang kamu uji cobakan? Berapa banyak lidah yang kamu puaskan ijjah? Senang sekali menjadi pria yang bisa bersanding dengan kamu. cantik, pandai berdandan, bisa memasak, ah bodoh sekali yang menyia-nyiakan kamu. tidak kalah dungu dengan kerbau yang dicucuk hidung.

Hey, seperti apa rasa pizza remo sekarang? Pasti manis kan? tapi mungkin kalah manisnya dengan manusia yang kamu tatap matanya saat makan pizza. Kamu tidak pantas disia-siakan, sama seperti tukang cilok yang lewat di depan komplek. Ah, apa pula aku membandingkan kamu dengan datangnya tukang cilok. Tukang cilok kan ditunggu-tunggu. Tapi kamu memang tidak pantas untuk dilewatkan, seperti baso tahu dan siomay khas Bandung yang selalu ingin aku hampiri jika liburan telah datang.

Sudahlah ijjah, akan mencari yang seperti apa lagi kamu ini?
Pria itu tidak perlu tampan, mapan, punya ini itu, bekerja di kantoran, kyai dari salah satu pesantren, atau bermobil mewah. Pria cukup mempunyai tanggung jawab yang bisa diandalkan. Karena estafet kedua orang tua dari seorang anak perempuan akan dilimpahkan pada pria yang kita yakini sebagai partner hidup kita. Sok tahu sekali ya aku ini? Banyak bicara...hahahaha

Ijjah, kamu beranjak dewasa kini. Dulu, kita hanya membicarakan akan main apa, peralatanmasak-masakan apa yang akan kita pakai, atau kamu yang selalu menyebalkan ketika menangis jejeritan. Kini kamu tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik, bahkan bisa mempercantik aku ketika wisuda. Luar biasa....
Yang terpenting, bukan berapa tahun kamu hidup. Namun berapa banyak hidup dalam tahun-tahun kamu.
Hey ijjah,

Selamat ulang tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar