Rabu, 05 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #2 Namanya Ratih, Sama Seperti Dewi Tercantik Di Salah Satu Agama



#2  Namanya Ratih, Sama Seperti Dewi Tercantik Di Salah Satu Agama

Ratih, nama kamu masih Ratih kan? Konon Ratih adalah Dewi tercantik di salah satu agama. Ya, kamu memang cantik, wanita suku Jawa memang terkenal dengan lemah lembutnya. Aku masih ingat kita pertama bertemu di kampus dan kamu memakai kemeja bunga-bunga berwarna merah muda. Kamu berkacamata, dan kamu termasuk mahasiswi tertinggi di angkatan kita.
Kamu manis, semanis cokelat yang selalu kamu cari setelah memakan santapan utamamu. Kamu selalu jadi pewarasku, penyeimbang delusionalku. Kamu tahu? Aku adalah orang pencemburu. Pun ketika pria itu, Gerryadi menggenggam tangan kamu. Melamarmu, lalu menjadikan kamu pendamping hidupnya. “Gerryadi merebut Ratihku” pekikku dalam hati ketika kamu mengenakan gaun berwarna putih tulang di siang hari. Ya, kamu cantik dengan gaun itu. Sangat cantik.
Semula, aku pikir ketika kamu menjadi seorang istri dari Gerry, kamu akan membiarkan aku menikmati ketidakwarasan, ketidakrasionalan seorrang diri , bahkan aku berpikir setelah kamu menikah Gerry akan membebanimu dengan berbagai tugas rumah tangga, dan kamu cukup berdaster ria di rumahmu. Ternyata tidak, kita masih bisa menikmati seloyang pizza,kita masih bisa bercengkrama,  bercerita tentang banyak hal yang aku alami, tanpa kamu. Ribuan kilometer darimu membuat aku harus mewaraskan diri yang masih saja delusional sampai saat ini.
Kamu adalah partner menyanyi terbaik ketika lagu “Lembayung Bali” dimainkan di tempat karaoke, oh iya salam untuk ibumu ya, mungkin sekarang serpihan keripik singkong di rumahmu menumpuk karena si pengunyah remah-remah itu berada jauh meningggalkan Cimahi. Kamu yang selalu mengirim pesan singkat padaku “bebeb, lagi apa?” singkat, padat, dan membuat aku yakin kamu rindu aku kan?
Kamu pemakan tempe sejati, sepertinya aku mulai terpengaruhi. Eh aku baru ingat, kamu selalu aku mintai pendapat perihal pria yang coba masuk ke kehidupanku, kamu adalah pertimbangan yang cukup aku perhatikan. karena kamu tidak pernah berpikir parsial, selalu beyond the problem.
Aku menangis, ketika mendengar janin yang kamu kandung ternyata tidak berkembang. Payahnya aku, tidak bisa menemani kamu di saat kamu kesakitan. Tapi doa adalah lengan terpanjang yang dapat memeluk kamu dari kejauhan. Nampaknya aku harus mengucap  terima kasih pada Majapahit, mereka sudah menurunkan terahnya pada diri kamu. Terah yang gigih, cermat, dan ehem hemat. Kita masih punya seucap janji? Sepiring salad dan semangkuk krimsup?  
Ini sudah malam, tangan suamimu pasti sudah berada di pinggangmu kali ini. Ups, waktuku menulis surat cinta untuk kamu sudah habis. Oia, berhenti menjadi lemot yah kamu? Mari kita buat rencana, menikmati sepiring penuh salad buah atau sayur dengan semangkuk krimsup hangat, dan segelas cokelat hangat mungkin.
Tertanda,

Aisha ya A-I-S-H-A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar