#2 Namanya Ratih,
Sama Seperti Dewi Tercantik Di Salah Satu Agama
Ratih, nama kamu masih Ratih kan? Konon Ratih adalah Dewi
tercantik di salah satu agama. Ya, kamu memang cantik, wanita suku Jawa memang
terkenal dengan lemah lembutnya. Aku masih ingat kita pertama bertemu di kampus
dan kamu memakai kemeja bunga-bunga berwarna merah muda. Kamu berkacamata, dan
kamu termasuk mahasiswi tertinggi di angkatan kita.
Kamu manis, semanis cokelat yang selalu kamu cari setelah
memakan santapan utamamu. Kamu selalu jadi pewarasku, penyeimbang delusionalku.
Kamu tahu? Aku adalah orang pencemburu. Pun ketika pria itu, Gerryadi
menggenggam tangan kamu. Melamarmu, lalu menjadikan kamu pendamping hidupnya.
“Gerryadi merebut Ratihku” pekikku dalam hati ketika kamu mengenakan gaun
berwarna putih tulang di siang hari. Ya, kamu cantik dengan gaun itu. Sangat
cantik.
Semula, aku pikir ketika kamu menjadi seorang istri dari
Gerry, kamu akan membiarkan aku menikmati ketidakwarasan, ketidakrasionalan
seorrang diri , bahkan aku berpikir setelah kamu menikah Gerry akan membebanimu
dengan berbagai tugas rumah tangga, dan kamu cukup berdaster ria di rumahmu.
Ternyata tidak, kita masih bisa menikmati seloyang pizza,kita masih bisa
bercengkrama, bercerita tentang banyak
hal yang aku alami, tanpa kamu. Ribuan kilometer darimu membuat aku harus
mewaraskan diri yang masih saja delusional sampai saat ini.
Kamu adalah partner menyanyi terbaik ketika lagu “Lembayung
Bali” dimainkan di tempat karaoke, oh iya salam untuk ibumu ya, mungkin
sekarang serpihan keripik singkong di rumahmu menumpuk karena si pengunyah
remah-remah itu berada jauh meningggalkan Cimahi. Kamu yang selalu mengirim
pesan singkat padaku “bebeb, lagi apa?” singkat, padat, dan membuat aku yakin
kamu rindu aku kan?
Kamu pemakan tempe sejati, sepertinya aku mulai
terpengaruhi. Eh aku baru ingat, kamu selalu aku mintai pendapat perihal pria
yang coba masuk ke kehidupanku, kamu adalah pertimbangan yang cukup aku
perhatikan. karena kamu tidak pernah berpikir parsial, selalu beyond the
problem.
Aku menangis, ketika mendengar janin yang kamu kandung ternyata
tidak berkembang. Payahnya aku, tidak bisa menemani kamu di saat kamu
kesakitan. Tapi doa adalah lengan terpanjang yang dapat memeluk kamu dari
kejauhan. Nampaknya aku harus mengucap
terima kasih pada Majapahit, mereka sudah menurunkan terahnya pada diri
kamu. Terah yang gigih, cermat, dan ehem hemat. Kita masih punya seucap janji?
Sepiring salad dan semangkuk krimsup?
Ini sudah malam, tangan suamimu pasti sudah berada di
pinggangmu kali ini. Ups, waktuku menulis surat cinta untuk kamu sudah habis.
Oia, berhenti menjadi lemot yah kamu? Mari kita buat rencana, menikmati
sepiring penuh salad buah atau sayur dengan semangkuk krimsup hangat, dan
segelas cokelat hangat mungkin.
Tertanda,
Aisha ya A-I-S-H-A
Tidak ada komentar:
Posting Komentar