Kamis, 20 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #21 Selamat pagi, cik gu



#21 Selamat pagi, cik gu 

Hai, apa kabar anak-anak didikmu? Masih suka menemani mereka beribadah meskipun agamanya berbeda dengan kamu? senangnya, kamu bisa memahami keberagaman dalam kesatuan. Lalu apa kabar anak didikmu yang diduga mengalami Autis dan ADHD? Masih sulit fokus kah mereka, rasanya ingin cepat menyusun tesis dan melakukan penelitian disana.meskipun judul tesisku mengenai anak autis ditolak dan diminta menggantinya.

Sudah lama kita tidak saling bertegur sapa, agak sulit menulis surat untuk orang yang jarang berinteraksi denganku. Kemana saja kamu? Terlalu asyik dengan duniamu, sampai-sampai aku dilupakan. Hehehe , menyebalkan ya aku? Iya, seperti kamu yang kadang menyebalkan dan lupa waktu jika sudah dengan kekasihmu. Ups frontal sekali ya aku? Maafkan aku yang frontal, karena kadang kamu bebal dan tidak peka atas apa yang ingin aku sampaikan. Aku tidak harus tantrum seperti yang dialami anak autis kan agar kamu bisa memperhatikan? iya, aku ingin diperhatikan.

Masih susah tidur? Tidak apa daripada kamu susah bangun dan tidak pernah bangun. Hahahaha
Hentikan pemakaian obat tidurmu itu, atau kalau perlu aku bakar parik obatnya? Itu sungguh membahayakan. Bagaimana jika menghitung domba, emm bukan menghitung monyet saja agar kamu lekas tidur, diselingi Al Fatihah tentunya. Ah, perkara agama kamu jauh lebih handal daripada aku. Percayalah.


Menggelikan ya? Hati kita pernah tertambat di tempat yang sama namun kemudian berakhir juga. Ah sudahlah, tapi aku bahagia pernah menyesap kopi dalam satu meja, berteriak atas satu pertandingan, dan melihat jingga pada langit sore. See? Akhirnya aku sendiri lagi, eh tidak , tiak sendiri. Aku dan kamu punya sahabat yang ajaibnya mengalahkan keajaiban candi Borobudur Indonesia.

Banyak sekali yang ingin aku katakan, tentang iritabilita atau peka terhadap rangsang yang mungkin belum kamu miliki secara optimal. Iya, kamu kadang tidak memikirkan sekelilingmu, dingin sedingin salju, dan cuek seperti bebek. Cuek adalah hak kamu kan? tapi peduli juga adalah hak aku kan?

Aku masih ingat saat kamu ketakutan dan panik bekas cacar di wajahmu yang nyaris tanpa noda. Ketahuilah, kecantikan sempurna ada pada hati, seberapapun banyaknya bekas cacar di wajahmu sama sekali tidak ada pengaruhnya dengan kecantikan hati yang seharusnya kita miliki. Cerewet sekali ya aku ini?

Kamu ada di jantung Indonesia saat ini, jahat yah persaingan yang ada disana? Jahat mana dengan aku yang selalu berkata frontal dan terkesan original? Tidak, sama sekali tidak bermaksud menyakiti hati. Tapi bukti peduli bahwa kamu harus berubah. Manusia makhluk pembelajar kan? dan aku sangat yakin kamu masih manusia kan? hehehehehehe

Apa kabar kosan kamu jaman dulu ya? Itu kosan yang katanya di belakangnya ada penunggunya. Saat semester satu aku sering sekali kesitu, sampai pernah muntah-muntah gara-gara dismenoraku keterlaluan. Lalu segelas tes manis dari kamu sedikit meredakan, terima kasih ya 


Well, apa rencana kamu setelah ini? Tidak ada lamaran, pernikahan atau rencana menjadi nyonya X di tahun ini kan? Butuh kekuatan luar biasa untuk mengatur rencana selanjutnya, tapi aku yakin kamu lebih kuat dari Gajah Mada yang sanggup mempersatukan nusantara. Sadarkah, patah hati mengajarkan kita bahwa cinta tak hanya dari si dia. Menjijikan ya bahasaku? Tapi ada “rumah” bagi kita yang siap memeluk saat rapuh, pundak-pundak untuk menangis, tangan yang kuat untuk menegarkan, dan tawa yang keras saat kita mendapatkan kebahagiaan. Tahukah siapa mereka? Para tujuh wanita selain kita yang sungguh luar biasa. Sadarilah, mereka berharga.

Dari Manusia Berlidah Frontal untuk menajamkan iritabilita

Aisha Nadya yang belum menjadi nyonya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar