Selasa, 25 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #25 Re : Diversity become University



#25 Re : Diversity become University

Hai nona cantik berkacamata berbehel dan berponi. Malang dingin malam ini, sedingin kue putu yang udah aku beli. Kayaknya mau basi. Eh aku bertemu si Mahapatih Gajah Mada dengan gada di bahu kanannya, masihkah kamu kesal pada dia? Geram? Atau apalah perasaan yang kamu rasakan? Aku hanya menaruh geram Kiky, semacam geram pada orang yang hendak bergerilya mendapatkan hati kita padahal kemudian hanya singgah, mereka pikir hati kita halte ya? Hanya pemberhentian sementara? Atau mereka pikir hati kita dufan, bisa dijadikan wahana permainan. Ah Kiky, lelaki memang begitu, aku sempat berpikir kenapa lesbian semakin banyak, karena pria semakin merajai dan membodohi wanita. Susah juga ketika tombol hati menyala lebih lama daripada tombol otak. Menyebalkan ya?
Kiky, boys always be boys. Right?

Kenapa jadi membahas gender? kenapa membahas perbedaan?
Ini surat cinta? Bukan Kiky, ini surat misuh.
Aku tidak bisa menulis surat seindah kamu, semagis kamu, yang menyihir pembaca dengan mantra-mantra ditiupkan lewat jari yang menari diatas keyboard.
Apa kabar hati kamu? bagaimana lutung yang sudah dilepaskan di hutan belantara? Masihkah ia bisa makan? Eh masihkah ia memakan buah? Atau ada lutung yang lain? Serupa siamang bahkan wau-wau atau kera Jawa?
 Oh iya ky, lagi-lagi berbicara mengenai perasaan.
Perasaan wanita ternyata mudah sekali digoyahkan. Menemukan orang yang bisa menganggap aku normal adalah keajaiban bagiku. Kamu salah satunya. Normal ketika menapaki bukit Burangrang dengan bernyanyi Cherrybelle, normal ketika aku ingin berfoto di rumah peribadatan semua agama tanpa dianggap hina dina dan mendustakan tauhidku, mendustakan keimananku. Karena iman adalah sebuah relationship antara aku dan Tuhanku kan Ky?

Aku masih punya impian,  aku masih ingin mengamini Al Fatihah imamku dan berada pada posisi satu shaf di belakangnya. Kamu yang pernah bilang “Tidurlah Aisha, pangeranmu menunggu Cinderellanya tertidur” Kamu kenal dengan pangeran itu Ky? Tidaklah perlu mengendarai kuda putih seperti di negeri dongeng, lebih baik jika mengendarai Pajero Sport putih *ditoyor Kiky*

Bukan apa yang mereka kendarai, tapi lebih ke bagaimana mereka mengendarai hati kita. Iya, pria perlu punya kemudi kan Ky? Dan aku navigatornya, berada di sebelah kiri, mengingatkan jika ada tikungan tajam, bernyanyi agar ia tidak mengantuk, lalu memijat kepalanya ketika kemacetan ada di depan mata. Hey, apa yang kita bicarakan sebenarnya?
Aku sedang kacau Ky, sekacau judul tesis aku yang ditolak dosen. Sekacau aku yang ternyata mengigau di malam hari, sekacau rambut aku yang belakangan rontok di lantai kosan. Ini surat apa sih sebenarnya?
 Kiky, jodoh itu perihal mencari dan ditemukan kan?

*ditulis dengan perasaan bak anak kecil yang balon hijaunya meletus

2 komentar:

  1. Jodoh itu perihal gembok dan anak kunci. Berdoa saja tak banyak tukang duplikat kunci sehingga tak banyak jodoh-jodoh palsu yang berkeliaran :')

    BalasHapus
  2. jodoh itu ibaratkan kita mau membeli rumah yang nyaman untuk kita tinggali hingga akhir hayat kita, jika masih belum merasa pas dan cocok dia akan terus mencari rumah yang tepat. kalaupun belum sempurna rumah itu, maka dia akan menyempurnakannya ketika dia sudah menempatinya. jadi jangan mencari pasangan yang sempurna, tapi carilah pasangan yang bisa menjadikan kalian sempurna dihapanNYA

    BalasHapus