Rabu, 05 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #3 Teruntuk Pria penikmat Kopi Hitam



#3 Teruntuk Pria penikmat Kopi Hitam

Hai tuan, apa kabar kamu hari ini? Semoga suara sengaumu diujung telepon kemarin-kemarin sudah berubah menjadi merdu. Sudah kubilang berkali-kali jika hujan turun tidak perlu memaksakan menyusuri jalanan Bandung yang supermacet. Kamu tahu kan? Hujan di zaman sekarang banyak zat asam yang tidak baik untuk tubuhmu. Ah semoga saja kelak istrimu adalah seorang dokter, hingga aku tak perlu selalu mengingatkanmu untuk menyesap teh sereh di sore hari.
Eh apa kabar sungai dimana kita mencemplungkan diri dan berpose bak Dewa-Dewi, hahahaha. Kamu Dewa Pawang Galau dan aku? Aku Dewi apa ya? Dewi Lebay tiada tara, tepatnya. hahaha
Masih berkutat dengan ruang siaran dan microphone mu hari ini?
Namamu Rofi, halah menyebut namamu sendiri saja kamu kesusahan, tapi cadelmu itu adalah ciri khas yang selalu aku hapal jika menyalakan tombol radio dikamarku. Perutmu membuncit kini, nampaknya ada korelasi antara perkembangan otakmu dan kemajuan perutmu ya? Hahahahaha tapi kegilaanmu akan kopi hitam masih sama kan? Kecintaanmu pada mpek-mpek bang Rico di pinggir BEC masih sama kan? Tidak berubah? Artinya, kamu masih Rofi-ku. Eh maaf, Rofi kita. Iya iya, kamu memang pacar kita bersama. Hahahah selalu menyediakan bahu untukku menangis, dan juga sahabat-sahabatku yang lain.
“Kamu harus bisa membedakan antara kagum, sayang, dan cinta, Aisha” kata-katamu yang selalu kamu ulangi terus menerus kepada aku. Ah rofi, bagaimana kalau kamu menjadi tim penyeleksi pendamping hidupku? Halah, aku ini sok-sokan seleksi padahal satu pria pun tidak ada. hahahah
Kamu, masih mau meneleponku sekedar berbagi apa itu teori konseling kan? Bagaimana pendidikan inklusi di dekolah? Apa peran bimbingan dan konseling yang sesungguhnya? Ehm, dan kamu masih mau membagikan jurnal ilmiah yang selalu aku minta kan?
Ah Rofi, andai kita satu kampus. Aku tidak akan kesusahan mencari pundak dan otak. Untuk bercerita dan berpikir tentang usulan tesis yang harus aku kumpulkan segera. Hey, waktu kita tinggal tiga semester lagi. Lalu, kita akan ditempatkan di daerah jauh dari kota Bandung. Iya, kota kita.
Aku masih berharap, kelak kamu menjadi rektor di salah satu Universitas yaaa mungkin aku menjadi pembantu rektor. Berarti aku menjadi pembantu kamu? Ah biarlah, memang harus bergaul dengan pria tercerdas di angkatanmu *ya, mrnurutku kamu pria tercerdas di angkatanmu* agar aku bisa tertular ide-ide brilianmu.
Aku masih berharap, kita ada pada satu panggung. Entah memandu acara bersama atau menjadi pembicara di satu seminar. Kelak kita akan wujudkan itu. Semoga tidak hanya semoga.


*surat ini dibuat sambil menyesap teh hangat di pagi hari, iya teh dari Gunung Bromo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar