#3 Teruntuk Pria penikmat Kopi Hitam
Hai tuan, apa kabar kamu hari ini? Semoga suara sengaumu
diujung telepon kemarin-kemarin sudah berubah menjadi merdu. Sudah kubilang
berkali-kali jika hujan turun tidak perlu memaksakan menyusuri jalanan Bandung
yang supermacet. Kamu tahu kan? Hujan di zaman sekarang banyak zat asam yang
tidak baik untuk tubuhmu. Ah semoga saja kelak istrimu adalah seorang dokter,
hingga aku tak perlu selalu mengingatkanmu untuk menyesap teh sereh di sore
hari.
Eh apa kabar sungai dimana kita mencemplungkan diri dan
berpose bak Dewa-Dewi, hahahaha. Kamu Dewa Pawang Galau dan aku? Aku Dewi apa
ya? Dewi Lebay tiada tara, tepatnya. hahaha
Masih berkutat dengan ruang siaran dan microphone mu hari
ini?
Namamu Rofi, halah menyebut namamu sendiri saja kamu
kesusahan, tapi cadelmu itu adalah ciri khas yang selalu aku hapal jika
menyalakan tombol radio dikamarku. Perutmu membuncit kini, nampaknya ada
korelasi antara perkembangan otakmu dan kemajuan perutmu ya? Hahahahaha tapi
kegilaanmu akan kopi hitam masih sama kan? Kecintaanmu pada mpek-mpek bang Rico
di pinggir BEC masih sama kan? Tidak berubah? Artinya, kamu masih Rofi-ku. Eh maaf,
Rofi kita. Iya iya, kamu memang pacar kita bersama. Hahahah selalu menyediakan
bahu untukku menangis, dan juga sahabat-sahabatku yang lain.
“Kamu harus bisa membedakan antara kagum, sayang, dan cinta,
Aisha” kata-katamu yang selalu kamu ulangi terus menerus kepada aku. Ah rofi,
bagaimana kalau kamu menjadi tim penyeleksi pendamping hidupku? Halah, aku ini
sok-sokan seleksi padahal satu pria pun tidak ada. hahahah
Kamu, masih mau meneleponku sekedar berbagi apa itu teori
konseling kan? Bagaimana pendidikan inklusi di dekolah? Apa peran bimbingan dan
konseling yang sesungguhnya? Ehm, dan kamu masih mau membagikan jurnal ilmiah
yang selalu aku minta kan?
Ah Rofi, andai kita satu kampus. Aku tidak akan kesusahan
mencari pundak dan otak. Untuk bercerita dan berpikir tentang usulan tesis yang
harus aku kumpulkan segera. Hey, waktu kita tinggal tiga semester lagi. Lalu,
kita akan ditempatkan di daerah jauh dari kota Bandung. Iya, kota kita.
Aku masih berharap, kelak kamu menjadi rektor di salah satu
Universitas yaaa mungkin aku menjadi pembantu rektor. Berarti aku menjadi
pembantu kamu? Ah biarlah, memang harus bergaul dengan pria tercerdas di
angkatanmu *ya, mrnurutku kamu pria tercerdas di angkatanmu* agar aku bisa
tertular ide-ide brilianmu.
Aku masih berharap, kita ada pada satu panggung. Entah memandu
acara bersama atau menjadi pembicara di satu seminar. Kelak kita akan wujudkan
itu. Semoga tidak hanya semoga.
*surat ini dibuat sambil menyesap teh hangat di pagi hari,
iya teh dari Gunung Bromo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar