#4 Untuk Kamu, balita kecilku dulu.
Selamat pagi Ilhamku, berapa umurmu sekarang?
Kenapa saya masih berpikir kalau kamu bocah balita ya? Yang selalu
joget-joget jika ada lagu Livin da Vida Loca nya Ricky Martin. Saat itu umur
kamu masih tiga atu lima tahun ya? Kamu masih sangat lucu dengan pantatmu yang
super montok.
Aku pernah iri dengan bulu mata kamu, tebal dan lentik. Aku mengkin
harus memakai bulu mata palsu seperti yang syahrini punya jika ingin memiliki
bulu mata sepertimu. Hey, kamu terus menerus bertambah tinggi dan sialnya kamu
bertambah tampan. *agak berat mengakui kenyataan kalau kamu memang tampan*
Tahukah kamu? Aku kesal pada wanita-waita yang selalu
mencuri perhatianmu lewat facebook, SMS, telepon, BBM atau apalah entah itu. Kamu
adik kecilku, mereka siapa? Berani-beraninya mengakui memiliki kamu? Kamu milik
kita, bukan mereka.
Ilham, sialnya lagi kamu senang mendaki. Senang menyusuru
sungai, tebing, dan pantai. Dengan begitu kamu kan mudah dikagumi wanita-wanita
yang supercentil itu. Ah, aku tidak suka membahasnya.
Hmm.. maafkan aku bila selalu terus-terusan memarahimu jika
kamu pulang agak malam. Maafkan aku jika aku mengomel tanpa jeda ketika kamu
terus-terusan berduaan dengan laptop atau ponselmu. Iya, aku hanya ingin diajak
berbicara, ditanya “apa kabar” atau “ayo, kita jalan-jalan”. Kamu adik bungsu
tertampan versi on the spot, tapi sepertinya tampan saja tidak cukup dik. Kamu harus
belajar bijaksana, kepekaan, dan mendalami agama. Karena kamu kelak akan
menjadi imam. Akan ada keluarga kecil yang mengamini doamu setiap selesai
sholat fardhu.
Jaga ibu ya, jangan biarkan air mata ibu menetes hanya
gara-gara terlukai oleh delikan matamu yang amat sangat menakutkan bagi kami. Kamu
pria cool, tapi jutek buatku. Eh bagaimana dengan pacarmu? Ah sudahlah, nanti
saja berpacarannya, anggap saja semuanya teman bagi kamu. Jangan memberi
harapan palsu, wanita memang begitu. Dibaikin sedikit bisa GR. *sudut pandang
aku sebagai wanita*
Eh, bagaimana jika Agustus ini kita upacara bendera di
Mahameru? Tengok aku, bilang pada ibu kamu harus menemani aku mendaki. Oh iya,
jangan tergantung pada inhallermu. Jangan mau diperbudak oleh benda kecil yang
pada akhirnya berkuasa atas nafas yang kamu miliki.
Hey Muhammad Ilham Fauzan, aku selalu menganggap kamu adik
kecilku, kenapa? Karena cintaku selalu sama dari dulu.
Selamat menjadi remaja pria, dik. Teh Aish sayang kamu :*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar