Kamis, 06 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #6 Ada apa dengan malam di bulan arafah?



#6  Ada apa dengan malam di bulan arafah?

 Hai laila, mungkin ketika aku menuliskan surat ini kamu sudah terlelap dalam tempat tidurmu. Anggap saja ini sebagai dongeng pengantar tidurmu. Tuhan Maha Baik ya, menciptakan manusia se-ceria kamu. Masih aku ingat kamu orang pertama yang menyapa aku dengan panggilan “Teteh”. Ah, terasa tua saja usiaku jika dipanggil teteh. Tapi belakangan aku sedikit merasa bangga, hanya ada satu orang yang dipanggil teteh di kelas kita. Kenapa namamu Laila? Ibumu melahirkan kamu ketika malam tiba kah? Mari berterima kasih pada bidan yang telah membantu proses kelahiranmu di malam hari, mungkin saja kan bidan itu mengantuk? Tapi tetap terjaga agar kamu bisa melihat dunia dengan proses normal.

Kamu memahami aku ketika mengalami gegar budaya di kota ini, Malang. Tapi kamu selalu meyakinkan aku bahwa ada kemudahan setelah kesulitan. Laila, pernahkah kamu merasa bersedih? Sepertinya kok aku tidak pernah melihat gurat kesedihan di mata bundarmu ya? Kamu selalu tertawa, selalu ceria dan membawa kebahagiaan. Apapun yang kamu ceritakan kok terasa lucu di mataku ya? Nampaknya kamu mempunyai jiwa entertainment, yang bisa membuat orang merasa terhibur.

Kamu selalu menyisakan melon ketika menghabiskan salad buah yang kamu beli di kantin kampus. Kenapa tidak suka melon? Tapi semoga kamu masih suka kalau aku repotkan dan aku mintai tolong. Begitu banyak hal yang merepotkan kamu yang aku bebankan. Entah itu urusan kuliahku atau urusan segala macam yang membuat aku kebingungan dibuatnya. Iya, aku mudah sekali bingung. Nampaknya aku tidak cocok jika menjadi Gubernur Jakarta yang permasalahannya seabrek-abrek.

Hey, apa kabar hati kamu? Ah sudahlah. Kamu tidak perlu menangisi sesuatu yang harus berakhir padahal belum pernah dimulai. Ingat Laila, tidak ada satu pria pun yang bisa membuat kamu menangis, dan pria yang bisa membuat kamu menangis sungguh tidak layak mendapatkan air matamu. Ingat konsep cermin? Jodoh kita adalah apa yang kita sinergikan pada dunia. Aku sangat percaya pria hebat diluar sana akan datang pada kamu pada suatu hari. Setelah kamu siap dan di waktu yang tepat tentunya. Lagi-lagi Tuhan Maha baik, Ia ingin kita selalu memantaskan diri agar kelak pantas bersanding dengan pria yang telah Tuhan pilihkan pada jalan takdir hidup kita.

Aku rasa, tidak akan ada yang percaya wajah seimut kamu adalah mahasiswa pascasarjana. Kamu lebih pantas menjadi gadis belia yang duduk di bangku sekolah menengah pertama. Hahahaha maafkan aku yang banyak sekali bercanda. Oh iya, masih ada satu janjiku yang belum aku tepati. Semangkuk es krim di Illy?
Tertanda,
Aisha gadis Sunda yang mengalami gegar budaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar