#6 Ada apa dengan
malam di bulan arafah?
Hai laila, mungkin
ketika aku menuliskan surat ini kamu sudah terlelap dalam tempat tidurmu.
Anggap saja ini sebagai dongeng pengantar tidurmu. Tuhan Maha Baik ya,
menciptakan manusia se-ceria kamu. Masih aku ingat kamu orang pertama yang
menyapa aku dengan panggilan “Teteh”. Ah, terasa tua saja usiaku jika dipanggil
teteh. Tapi belakangan aku sedikit merasa bangga, hanya ada satu orang yang
dipanggil teteh di kelas kita. Kenapa namamu Laila? Ibumu melahirkan kamu
ketika malam tiba kah? Mari berterima kasih pada bidan yang telah membantu
proses kelahiranmu di malam hari, mungkin saja kan bidan itu mengantuk? Tapi
tetap terjaga agar kamu bisa melihat dunia dengan proses normal.
Kamu memahami aku ketika mengalami gegar budaya di kota ini,
Malang. Tapi kamu selalu meyakinkan aku bahwa ada kemudahan setelah kesulitan.
Laila, pernahkah kamu merasa bersedih? Sepertinya kok aku tidak pernah melihat
gurat kesedihan di mata bundarmu ya? Kamu selalu tertawa, selalu ceria dan
membawa kebahagiaan. Apapun yang kamu ceritakan kok terasa lucu di mataku ya?
Nampaknya kamu mempunyai jiwa entertainment, yang bisa membuat orang merasa
terhibur.
Kamu selalu menyisakan melon ketika menghabiskan salad buah
yang kamu beli di kantin kampus. Kenapa tidak suka melon? Tapi semoga kamu
masih suka kalau aku repotkan dan aku mintai tolong. Begitu banyak hal yang
merepotkan kamu yang aku bebankan. Entah itu urusan kuliahku atau urusan segala
macam yang membuat aku kebingungan dibuatnya. Iya, aku mudah sekali bingung.
Nampaknya aku tidak cocok jika menjadi Gubernur Jakarta yang permasalahannya
seabrek-abrek.
Hey, apa kabar hati kamu? Ah sudahlah. Kamu tidak perlu
menangisi sesuatu yang harus berakhir padahal belum pernah dimulai. Ingat
Laila, tidak ada satu pria pun yang bisa membuat kamu menangis, dan pria yang
bisa membuat kamu menangis sungguh tidak layak mendapatkan air matamu. Ingat
konsep cermin? Jodoh kita adalah apa yang kita sinergikan pada dunia. Aku
sangat percaya pria hebat diluar sana akan datang pada kamu pada suatu hari. Setelah
kamu siap dan di waktu yang tepat tentunya. Lagi-lagi Tuhan Maha baik, Ia ingin
kita selalu memantaskan diri agar kelak pantas bersanding dengan pria yang
telah Tuhan pilihkan pada jalan takdir hidup kita.
Aku rasa, tidak akan ada yang percaya wajah seimut kamu
adalah mahasiswa pascasarjana. Kamu lebih pantas menjadi gadis belia yang duduk
di bangku sekolah menengah pertama. Hahahaha maafkan aku yang banyak sekali
bercanda. Oh iya, masih ada satu janjiku yang belum aku tepati. Semangkuk es
krim di Illy?
Tertanda,
Aisha gadis Sunda yang mengalami gegar budaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar