Kamis, 06 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #7 You are not poor lady at poor city.



#7 You are not poor lady at poor city.

Halah, lagi-lagi kamu. Manusia pertama yang aku temui di awal perkuliahan ketika S1 dulu. Lalu ternyata kita satu perguruan karate, tunggu...kamu bersabuk hitam? Baiklah, kamu kakak seniorku. Ada apa gerangan semesta mempertemukan lagi-lagi denganmu? Di kota yang jaraknya ribuan kilometer dari Bandung. Entah berapa ribu hari yang kita lewati bersama (kok agak geli menulisnya ya?) mulai dari dosen pembimbing yang sama, jadwal sidang skripsi yang sama, wisuda yang sama. Bahkan tidak hanya waktu yang kita lalui bersama, banyak benda yang sama mulai dari benda yang dipakai di kepala sampai ke ujung kaki.

Ah Devi, aku kadang belum bisa memahami kamu yang terlalu keras kepala, bebal dan enggan mendengarkan apa yang aku katakan. Jangankan aku, ibumu pun kadang kamu abaikan jadi mungkin aku tidak perlu sakit hati ketika kamu tidak mengindahkan perkataanku. Tapi Devi, itu sebagai bukti peduliku pada kamu. Kamu yang kadang terlalu banyak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. Kamu yang kadang berantakan padahal ternyata kamu bisa membiasakan diri menjadi lebih rapi.
Ah Devi, entah berapa kali kita tertawa dan menangis bersama. Iya, tertawa karena melihat pemandangan yang menyegarkan mata, sebut saja demikian.  Pemandangan yang terdiri dari sepasang mata yang indah, badan yang tegap, dan punggung yang kokoh. Iya, ini kami sedang berbicara tentang pria. Seleramu akan pria tampan memang tidak pernah salah. Tapi, lagi-lagi kamu pandai dan cerdik bak kancil, dengan mudah menutupi keguaran atau grogi ketika berpapasan dengan mahasiswa terkeren versi pascasarjana UM itu. Kamu yang pandai sekali berakting, hmmm....kamu suka menipu aku tidak sih? Dengan bakat aktingmu itu? Tapi kita berhasil menipu beberapa orang bahwa kita habis berlibur di Bali. hahahahaha

Yang jelas Tuhan tidak pernah menciptakan suatu kebetulan bukan? Tuhan membiarkan kita hidup di kota nun jauh dari Bandung supaya aku belajar lebih santai, tidak terburu-buru. Dan mungkin Tuhan ingin kamu belajar lebih terstruktur dan tidak berantakan. Entahlah, kadang kamu lebih senang menyendiri ketimbang bercerita padaku. Mungkin aku kurang mempunyai telinga ajaib sehingga kamu berpikir ulang untuk bercerita.

Kelak ketika kita menua, akan ada cerita konyol yang bisa kita bagi dengan anak cucu kita. Kamu yang tertabrak gerobak tahu telor misalnya, atau aku yang sampai saat ini kesusahan memakai sumpit ketika makan. 

Oh iya, coba terus berbicara bahasa Inggris. Kamu lebih cocok jadi Cinta Laura ketimbang Dosen BK. Iya, wajahmu yang mirip Julia Perez nampaknya akan juga mendapatkan bule berkebangsaan Spanyol. Ah sudahlah, aku jadi terbawa cerita FTV yang selalu kamu tonton.

Kamu tengil, kadang menyebalkan, dan membuat geram. Sudahlah, tidak ada gunanya juga menyimpan hal demikian di dalam otak dan hatiku. Mari kita berlatih yoga saja, sehingga badan kita kelak seperti si instruktur yoga itu. Hey, ayo belajar mengemudikan motor. Percayalah, belajar mengemudikan motor jauh lebih mudah dibandingkan belajar mengendalikan hati dan perasaan.

Mari tebarkan pesona Pasundan dan keanggunan Parahyangan di tanah Brawijaya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar