#7 You are not poor lady at poor city.
Halah, lagi-lagi kamu. Manusia pertama yang aku temui di
awal perkuliahan ketika S1 dulu. Lalu ternyata kita satu perguruan karate,
tunggu...kamu bersabuk hitam? Baiklah, kamu kakak seniorku. Ada apa gerangan semesta
mempertemukan lagi-lagi denganmu? Di kota yang jaraknya ribuan kilometer dari
Bandung. Entah berapa ribu hari yang kita lewati bersama (kok agak geli
menulisnya ya?) mulai dari dosen pembimbing yang sama, jadwal sidang skripsi
yang sama, wisuda yang sama. Bahkan tidak hanya waktu yang kita lalui bersama,
banyak benda yang sama mulai dari benda yang dipakai di kepala sampai ke ujung
kaki.
Ah Devi, aku kadang belum bisa memahami kamu yang terlalu
keras kepala, bebal dan enggan mendengarkan apa yang aku katakan. Jangankan
aku, ibumu pun kadang kamu abaikan jadi mungkin aku tidak perlu sakit hati
ketika kamu tidak mengindahkan perkataanku. Tapi Devi, itu sebagai bukti
peduliku pada kamu. Kamu yang kadang terlalu banyak mengeluarkan uang untuk
hal-hal yang tidak terlalu penting. Kamu yang kadang berantakan padahal
ternyata kamu bisa membiasakan diri menjadi lebih rapi.
Ah Devi, entah berapa kali kita tertawa dan menangis
bersama. Iya, tertawa karena melihat pemandangan yang menyegarkan mata, sebut
saja demikian. Pemandangan yang terdiri
dari sepasang mata yang indah, badan yang tegap, dan punggung yang kokoh. Iya,
ini kami sedang berbicara tentang pria. Seleramu akan pria tampan memang tidak
pernah salah. Tapi, lagi-lagi kamu pandai dan cerdik bak kancil, dengan mudah
menutupi keguaran atau grogi ketika berpapasan dengan mahasiswa terkeren versi
pascasarjana UM itu. Kamu yang pandai sekali berakting, hmmm....kamu suka
menipu aku tidak sih? Dengan bakat aktingmu itu? Tapi kita berhasil menipu
beberapa orang bahwa kita habis berlibur di Bali. hahahahaha
Yang jelas Tuhan tidak pernah menciptakan suatu kebetulan
bukan? Tuhan membiarkan kita hidup di kota nun jauh dari Bandung supaya aku
belajar lebih santai, tidak terburu-buru. Dan mungkin Tuhan ingin kamu belajar
lebih terstruktur dan tidak berantakan. Entahlah, kadang kamu lebih senang
menyendiri ketimbang bercerita padaku. Mungkin aku kurang mempunyai telinga
ajaib sehingga kamu berpikir ulang untuk bercerita.
Kelak ketika kita menua, akan ada cerita konyol yang bisa
kita bagi dengan anak cucu kita. Kamu yang tertabrak gerobak tahu telor
misalnya, atau aku yang sampai saat ini kesusahan memakai sumpit ketika makan.
Oh iya, coba terus berbicara bahasa Inggris. Kamu lebih
cocok jadi Cinta Laura ketimbang Dosen BK. Iya, wajahmu yang mirip Julia Perez
nampaknya akan juga mendapatkan bule berkebangsaan Spanyol. Ah sudahlah, aku
jadi terbawa cerita FTV yang selalu kamu tonton.
Kamu tengil, kadang menyebalkan, dan membuat geram.
Sudahlah, tidak ada gunanya juga menyimpan hal demikian di dalam otak dan
hatiku. Mari kita berlatih yoga saja, sehingga badan kita kelak seperti si
instruktur yoga itu. Hey, ayo belajar mengemudikan motor. Percayalah, belajar
mengemudikan motor jauh lebih mudah dibandingkan belajar mengendalikan hati dan
perasaan.
Mari tebarkan pesona Pasundan dan keanggunan Parahyangan di
tanah Brawijaya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar