#8 Pria Marlboro Merah
Selamat pagi, bagaimana kabar Singkawang? Masih panas kah?
Sepanas telinga kamu kalau aku menelepon dan berteriak-teriak meminta pulang
dari Malang? Atau sepanas kepala kamu ketika menghitung pemasukan dan
pengeluaran perusahaan tempat kamu bekerja sekarang? Hahahaha
Hei senja di sungai apa
itu? Barito kah? Aku ingin naik speedboat, menyusuri sungai di Kalimantan siapa
tahu nanti bisa bertemu buaya muara, katanya buaya adalah binatang paling
setia. Haruskah aku bertanya dimana mendapatkan pria yang setia dari seekor
buaya muara? Lalu perayaan imlek disana bagaimana? Katanya mayoritas
penduduknya adalah tionghoa ya? Ah aku ingin menonton pertunjukkan barongsai
dan liong dengan dentuman musiknya yang bisa menghentakkan kaki-kaki barongsai
yang lincah. Musik barongsai itu konon dapat mengusir roh-roh jahat . Aku ingin
memakan kue keranjang yang manis. aku juga ingin mengunjungi museum Kutai,
seperti apa rupa dari Mulawarman, raja yang terkenal itu. Banyak sekali rupanya
keinginanku, sama seperti banyaknya omelanku ketika kamu terus menerus begadang
dan tidak bisa putus hubungan dengan si Marlboro merah.
Lambung kamu bagaimana? Tolong hentikan memakan makanan
instan, tubuh kamu perlu asupan makanan yang bergizi, Sukma. Kasihan kamu,
kasihan tubuh kamu. Lagi-lagi dijejali nikotin kan? Hih aku benci mendengar
marlboro merah, tapi kenapa kamu amat mencintainya?
Hey Sukma, aku sudah mulai betah di tanah Brawijaya ini.
Tidak ada lagi gadis yang berteriak-teriak di ponselmu meminta pulang, yang ada
gadis yang ingin menginjakkan kakinya di pasir pantai Derawan. Kapan ya? Ah
kamu kan sibuk sekarang. Kenapa sih berasa susah kita buat bertemu? ayo ajarkan
aku makan menggunakan sumpit. Iya, Cuma kamu orang yang berani mengumpat aku
dengan “Belegug!” atau “Bleweh!” dan sialnya aku tidak berani melawan kamu, hah
tampangmu yang garang kadang menakutkan. Kamu yang menyebalkan tapi kadang aku
rindukan. Tolong jangan Ge-Er, aku memang gampang rindu pada orang-orang yang berarti
di hidupku.
iya, kamu orang yang termasuk berarti di hidup aku. Aku yang
selalu menghubungi ponsel kamu pun
ketika memilih sepatu yang akan aku beli. Ah aku memang tidak berbakat untuk
memilih, karena kodrat wanita adalah dipilih kan? Hahahahaha
jadi kapan? kamu libur lalu kita menonton sendratari
Ramayana. Sekalipun aku benci pada Rama yang sok suci dan tidak mempercayai
Sinta. Kenapa? mau bilang aku belegug lagi? Iya, aku belegug dan kamu yang
pintar.
Aku agak tidak suka dengan prinsip kamu “Aku mencari
perempuan yang bisa diajak susah?” heh cemen sekali, sementara banyak perempuan
di luar sana mati-matian bekerja keras untuk memperbaiki hidupnya agar tidak
menjadi orang susah. ah sudahlah, aku kadang enggan berdebat dengan kamu karena
kamu selalu menang.
Kamu pria yang selalu keluar dari zona nyaman, memang bagitu
seharusnya pria. Tidak melulu ada di ketiak ayah dan ibunya. Tidak melulu ada
di tempat kelahirannya dan enggan beranjak meninggalkan kotanya.
“Meminum jamu sambil memakan tinja, indah wajahmu
mengalahkan lembayung senja” ujarmu
kemarin, heh kenapa harus tinja? Kata kamu karena langit senja kuning seperti
tinja. Alasan macam apa itu heh? Tapi
kamu selalu punya pantun yang membuatku terpingkal-pingkal seperti “Aya hileud
nempel dina tonggong, beungeutmu buleud siga tolombong” huahahahahahah .
Kamu cocok menjadi pemain stand up comedy. Bisa membuat
orang tertawa. Tapi aku lebih senang jika kamu menjadi pria yang mulai menjadi
baik, bukan berarti kamu tidak baik sih. Kamu kadang kasar, bebal, dan keras
kepala. Ah pria memang begitu bukan. Pasti kamu malas jika aku membahas gender.
Cepatlah liburan mari kita ke Prambanan.
*ditulis oleh gadis berkumis tipis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar