Minggu, 09 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #8 Pria Marlboro Merah



#8 Pria Marlboro Merah

Selamat pagi, bagaimana kabar Singkawang? Masih panas kah? Sepanas telinga kamu kalau aku menelepon dan berteriak-teriak meminta pulang dari Malang? Atau sepanas kepala kamu ketika menghitung pemasukan dan pengeluaran perusahaan tempat kamu bekerja sekarang? Hahahaha 

Hei senja di sungai apa itu? Barito kah? Aku ingin naik speedboat, menyusuri sungai di Kalimantan siapa tahu nanti bisa bertemu buaya muara, katanya buaya adalah binatang paling setia. Haruskah aku bertanya dimana mendapatkan pria yang setia dari seekor buaya muara? Lalu perayaan imlek disana bagaimana? Katanya mayoritas penduduknya adalah tionghoa ya? Ah aku ingin menonton pertunjukkan barongsai dan liong dengan dentuman musiknya yang bisa menghentakkan kaki-kaki barongsai yang lincah. Musik barongsai itu konon dapat mengusir roh-roh jahat . Aku ingin memakan kue keranjang yang manis. aku juga ingin mengunjungi museum Kutai, seperti apa rupa dari Mulawarman, raja yang terkenal itu. Banyak sekali rupanya keinginanku, sama seperti banyaknya omelanku ketika kamu terus menerus begadang dan tidak bisa putus hubungan dengan si Marlboro merah.
Lambung kamu bagaimana? Tolong hentikan memakan makanan instan, tubuh kamu perlu asupan makanan yang bergizi, Sukma. Kasihan kamu, kasihan tubuh kamu. Lagi-lagi dijejali nikotin kan? Hih aku benci mendengar marlboro merah, tapi kenapa kamu amat mencintainya?

Hey Sukma, aku sudah mulai betah di tanah Brawijaya ini. Tidak ada lagi gadis yang berteriak-teriak di ponselmu meminta pulang, yang ada gadis yang ingin menginjakkan kakinya di pasir pantai Derawan. Kapan ya? Ah kamu kan sibuk sekarang. Kenapa sih berasa susah kita buat bertemu? ayo ajarkan aku makan menggunakan sumpit. Iya, Cuma kamu orang yang berani mengumpat aku dengan “Belegug!” atau “Bleweh!” dan sialnya aku tidak berani melawan kamu, hah tampangmu yang garang kadang menakutkan. Kamu yang menyebalkan tapi kadang aku rindukan. Tolong jangan Ge-Er, aku memang gampang rindu pada orang-orang yang berarti di hidupku.
iya, kamu orang yang termasuk berarti di hidup aku. Aku yang selalu menghubungi ponsel kamu  pun ketika memilih sepatu yang akan aku beli. Ah aku memang tidak berbakat untuk memilih, karena kodrat wanita adalah dipilih kan? Hahahahaha
jadi kapan? kamu libur lalu kita menonton sendratari Ramayana. Sekalipun aku benci pada Rama yang sok suci dan tidak mempercayai Sinta. Kenapa? mau bilang aku belegug lagi? Iya, aku belegug dan kamu yang pintar.
Aku agak tidak suka dengan prinsip kamu “Aku mencari perempuan yang bisa diajak susah?” heh cemen sekali, sementara banyak perempuan di luar sana mati-matian bekerja keras untuk memperbaiki hidupnya agar tidak menjadi orang susah. ah sudahlah, aku kadang enggan berdebat dengan kamu karena kamu selalu menang.
Kamu pria yang selalu keluar dari zona nyaman, memang bagitu seharusnya pria. Tidak melulu ada di ketiak ayah dan ibunya. Tidak melulu ada di tempat kelahirannya dan enggan beranjak meninggalkan kotanya.
“Meminum jamu sambil memakan tinja, indah wajahmu mengalahkan lembayung senja”  ujarmu kemarin, heh kenapa harus tinja? Kata kamu karena langit senja kuning seperti tinja.  Alasan macam apa itu heh? Tapi kamu selalu punya pantun yang membuatku terpingkal-pingkal seperti “Aya hileud nempel dina tonggong, beungeutmu buleud siga tolombong” huahahahahahah .
Kamu cocok menjadi pemain stand up comedy. Bisa membuat orang tertawa. Tapi aku lebih senang jika kamu menjadi pria yang mulai menjadi baik, bukan berarti kamu tidak baik sih. Kamu kadang kasar, bebal, dan keras kepala. Ah pria memang begitu bukan. Pasti kamu malas jika aku membahas gender. Cepatlah liburan mari kita ke Prambanan.

*ditulis oleh gadis berkumis tipis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar