#5 Moodbooster from
East Java
Surat cinta ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk
mencurahkan isi hati yang sedalam-dalamnya.
Sebelum menulis surat ini biarkan aku menyebutkan nama
kalian satu persatu. Dua orang pria yang selalu duduk di bangku kiri bagian
belakang itu Mas Dedi dan mas Cahyo. Mas
Dedi ini piawai sekali jika membawakan lagu galau, mas Anang mah lewaaaaat. Hahahaha.
Kalau mas Cahyo, apapun tingkah lakunya selalu bisa membuat kita sekelas
tertawa. Bahkan diamnya mas Cahyo pun sudah bisa kita terpingkal-pingkal. Mereka
stok pria yang ada di kelas kita. Yang mengisi bangku bagian depan, yang berada
di tengah-tengah namanya Mbak Yuan, ia ketua kelas kita, yang selalu memfasilitasi proses perkuliahan
aku dan teman-temanku. Di sebelah kanannya ada Muya (ia tidak mau dipanggil
Mbak katanya, karena umur kita hampir sama) wanita yang lihai membuat power
point menjadi hal yang menarik untuk disimak, di sebelah kanannya Muya ada Mbak
Hanik, ia wanita yang amat sangat kalem, nggak jauh lah sama aku (iya, nggak
jauh tapi amat jauh banget). Di bagian bangku depan sayap kiri ada Rosa, jangan
tertipu dengan keanggunannya dan jangan sampai mengusik dia, dia galak,
pemberani, dan kritis. Oh iya, dia cantik pantas rasanya jika ia menyandang Duta Kampus,
sayang sekali dia tidak jomblo. :P di sebelah kiri Rosa ada Laela, nama
lengkapnya Laelatul Arofah. Jelas sekali ia dilahirkan di malam hari,kita patut
berterima kasih pada bidan yang sungguh baik hati menolong proses kelahiran
Laela di malam hari. Jika Laela memegang kamera pasti ada Hernika, panggil saja
Nika yang berfoto ria di kelas. Nika, dimana mantan kekasihnya ada di kelas
sebelah dan aku sering meminta mereka untuk balikan. Mereka cocok sih. Bak Bima
dan Dewi arimbi di pewayangan. Sudah,
jangan ganggu Laela dan Nika ketika sedang berfoto. Ahhh mereka cantik-cantik, yah foto mereka
bisa membuat pria senang memandanginya. Nika itu selalu mengenakan rok ketika
kuliah, nampaknya aku harus belajar pada dia.. heheheh. Nah, mbak yang berbaju
oren itu namanya Mbak Arum, Galuh Prasetyoningrum. Ia bundanya ksatria kecil
bernama Nendra sekaligus bendahara kelas kita. Kalau urusan memilih pakaian,
makanan, atau kue-kue dia ahlinya. Di sebelahnya mbak Arum itu ada Mbak Miya.
Mbak Miyatim ini seorang konselor sekolah di salah satu sekolah menengah
kejuruan daerah Wlingi. Mbak miya mempunyai semangat tinggi untuk belajar, ia
rela mengurangi waktu tidurnya untuk mengerjakan tugas, tapi tetap bisa aktif
selama di kelas, super bukan?
Okay mari kita pindah ke bangku belakang dimana aku
duduk. Begitu lah,ini mata kuliah
statistik maka aku yang pernah diduga menderita diskalkulia memilih untuk duduk
di belakang saja. Di sebelah kananku ada Mbak Rina. Wanita berkulit putih
berkacamata dan berambut lurus ini seorang ibu dari tiga anak dan satu suami
(yaiyalah satu suami) daerah asalnya adalah Menado, ia sama dengan aku. Agak
kesulitan memahami bahasa Jawa. Hehehehe
Ini nih, di sebelah kiriku ada Desika. Dia jago sekali
kalau berada di tempat karaoke, spesialis lagu dangdut tentunya. Hahahaha. Ya,
selalu ada tawa ketika kita berada di dekatnya Desika. Di sebelah kiri Desika
ada Dian. Dian adalah tipe mahasiswa yang tidak bisa mengerjakan tugas jika
sekelilingnya ribut. Bagaimana jika kita mengerjakan tesis di kuburan Cina saja
Dian?hehehe Di sebelah dian ada wanita berkemeja hijau dan berkawat gigi.
.namanya Terry, wanita yang excited sekali jika membahas LDR. Ia mahasiswi
idola salah satu dosen, nama lengkapnya Sophia Terry. Tapi semoga tidak pernah
menjadi kekasi h gelapnya Sheila On Seven ya? (itu SEPHIA aishaaaa). Nah yang
selalu duduk di depan laptop namanya Irma.wanita pengendara vespa yang selalu
mengkoleksi film korea. Irma sama denganku, penyuka senja. Dia hobi membaca
komik detektif Conan, penganalisis yang baik nampaknya. Terlihat dari
kacamatanya (apa hubungannya aisha?)
“Nampaknya aku tidak
berjodoh dengan Jawa Timur” kalimat itu berkali-kali aku ucapkan sambil menahan
air mata. Sesak rasanya ketika dinyatakan aku gagal dan harus berkemas kembali
ke Jawa Barat. Sempat memaki pada Tuhan dan setengah mengumpat bahwa dunia
tidak adil. Sempat juga merasa terasing karena aku satu-satunya gadis bersuku
Sunda diantara kalian. Akibat perang bubat ternyata sangat berpengaruh besar,
sering sekali aku wanita Sunda dipandang sebelah mata di kota ini. Lalu aku
merasa dicemplungkan pada atmosfer dimana semua manusia berbicara menggunakan
bahasa Jawa. What the....umpatku dalam hati. Anekdot-anekdot tentang orang
Sunda, ah kehidupan macam apa ini?
Sebulan, dua bulan, sampai empat bulan. Tubuhku ternyata
bereaksi. Rupanya ada korelasi yang cukup kuat antara ketahanan tubuh dan
tingkat stress yang tinggi. Aku kalah dengan serangga penyebar chikungunya.
Lalu kenapa harus terserang ketika di kota orang? Aku lemah, berwajah buruk
rupa tak bergairah saat itu. Tapi tunggu dulu, itu kalian kan? Yang mengunjungi
kamar paling ujung di lantai dua? Aku tergolek lemah dan kalian datang dan
meramaikan tempat tidurku? Aku tidak sedang bermimpi kan? Kalian ada di kamar
tidurku? Sekali lagi kuulangi, itu kalian kan? Teman-teman sekelasku?
Pandanganku mulai kabur, menahan tangis antara terharu dan menahan sakit chikungunya
yang aku derita. Iya, kalian menghiasi kamarku. Kalian seraya mendoakan supaya
aku lekas sembuh dan selalu mendorong aku untuk bangkit dari sakitku.
Ketika nenekku wafat, hey? Kalian juga mengucap al fatihah
di ruang kelas kita. Ya Tuhan, lagi-lagi aku terharu, kalian orang baik, sangat
baik. Dan hanya Tuhan lah yang bisa membalas semua kebaikan kalian.
Aku aisha, yang selalu sok-sokan berbicara bahasa Jawa.
Bukan, bukan maksud menyepelekan tapi aku ingin mengalahkan gegar budaya yang
aku alami. Aku ingin melebur, bersatu dengan kalian. Ah kalian pasti aneh
melihat aku yang selalu kegirangan melihat daun kemangi atau sayuran hijau
lainnya ketika kita makan bersama. Mungkin terah Dayang Sumbi yang konon gemar
memakan dedaunan agar awet muda menurun kepadaku.
Kalian adalah rumah kedua. Kenapa? di rumahku, aku dipanggil
teteh. Iya, kalian memang rumah bagiku. Tempat nyaman untuk kembali dan
tertawa. Eh iya, maafkan aku yang selalu asal nyeplos ketika berbicara. Aku
memang begitu, mulutku bekerja lebih cepat ketimbang otakku. Kalian mungkin agak jengah dengan cara
berbicara aku yang blak-blakan, lidahku agak belibet ketika diskusi. Lagi-lagi
mulutku selalu lebih berkuasa ketimbang otakku.
Ah kalian, selalu bisa memberikan senyuman atau gelak tawa
ketika aku ingat rumah. Iya, bernyanyi lagu jawa, meski aku tidak paham apa
artinya tapi aku tahu maknanya. Apa itu? Ada judul lagu tentang “Semok-semok”
lalu apaa? Ah entahlah tapi aku mulai menyukai budaya Jawa. Aku arep sinau boso
jowo loh. *sudah benarkah penempatan kosa kata ku?
Aku ingin kita berjanji, tahun 2015 kelak nama kita
terpanggil di Gedung Graha Cakrawala. Gedung megah dimana aku pernah melihat
Afgan konser, dimana aku pernah bergetar saat melakukan registrasi ulang, karena
di kampusku dulu belum ada gedung serbaguna semega ini. Hey, kita pasti akan
duduk bersama di gedung itu kan? Cantik
dan tampan mengenakan toga. Berani pegang janji ini? Mari melangitkan mimpi
namun selalu membumikan hati.
*Ditulis oleh mahasiswi dengan NIM 130111809277
Allahumma Sholli'ala Sayyidina Muhammad...
BalasHapusSemoga Allah mendengar doa panjengan neng cantik...
Amin.... Amin.... Amin....