Kamis, 06 Februari 2014

#30HariMenulisSuratCinta #5 Moodbooster from East Java



#5  Moodbooster from East Java

Surat cinta ini dibuat dengan sebenar-benarnya untuk mencurahkan isi hati yang sedalam-dalamnya.

Sebelum  menulis surat ini biarkan aku menyebutkan nama kalian satu persatu. Dua orang pria yang selalu duduk di bangku kiri bagian belakang itu Mas Dedi dan mas Cahyo.  Mas Dedi ini piawai sekali jika membawakan lagu galau, mas Anang mah lewaaaaat. Hahahaha. Kalau mas Cahyo, apapun tingkah lakunya selalu bisa membuat kita sekelas tertawa. Bahkan diamnya mas Cahyo pun sudah bisa kita terpingkal-pingkal. Mereka stok pria yang ada di kelas kita. Yang mengisi bangku bagian depan, yang berada di tengah-tengah namanya Mbak Yuan, ia ketua kelas kita,  yang selalu memfasilitasi proses perkuliahan aku dan teman-temanku. Di sebelah kanannya ada Muya (ia tidak mau dipanggil Mbak katanya, karena umur kita hampir sama) wanita yang lihai membuat power point menjadi hal yang menarik untuk disimak, di sebelah kanannya Muya ada Mbak Hanik, ia wanita yang amat sangat kalem, nggak jauh lah sama aku (iya, nggak jauh tapi amat jauh banget). Di bagian bangku depan sayap kiri ada Rosa, jangan tertipu dengan keanggunannya dan jangan sampai mengusik dia, dia galak, pemberani, dan kritis. Oh iya, dia cantik  pantas rasanya jika ia menyandang Duta Kampus, sayang sekali dia tidak jomblo. :P di sebelah kiri Rosa ada Laela, nama lengkapnya Laelatul Arofah. Jelas sekali ia dilahirkan di malam hari,kita patut berterima kasih pada bidan yang sungguh baik hati menolong proses kelahiran Laela di malam hari. Jika Laela memegang kamera pasti ada Hernika, panggil saja Nika yang berfoto ria di kelas. Nika, dimana mantan kekasihnya ada di kelas sebelah dan aku sering meminta mereka untuk balikan. Mereka cocok sih. Bak Bima dan Dewi arimbi di pewayangan.  Sudah, jangan ganggu Laela dan Nika ketika sedang berfoto.  Ahhh mereka cantik-cantik, yah foto mereka bisa membuat pria senang memandanginya. Nika itu selalu mengenakan rok ketika kuliah, nampaknya aku harus belajar pada dia.. heheheh. Nah, mbak yang berbaju oren itu namanya Mbak Arum, Galuh Prasetyoningrum. Ia bundanya ksatria kecil bernama Nendra sekaligus bendahara kelas kita. Kalau urusan memilih pakaian, makanan, atau kue-kue dia ahlinya. Di sebelahnya mbak Arum itu ada Mbak Miya. Mbak Miyatim ini seorang konselor sekolah di salah satu sekolah menengah kejuruan daerah Wlingi. Mbak miya mempunyai semangat tinggi untuk belajar, ia rela mengurangi waktu tidurnya untuk mengerjakan tugas, tapi tetap bisa aktif selama di kelas, super bukan? 

Okay mari kita pindah ke bangku belakang dimana aku duduk.  Begitu lah,ini mata kuliah statistik maka aku yang pernah diduga menderita diskalkulia memilih untuk duduk di belakang saja. Di sebelah kananku ada Mbak Rina. Wanita berkulit putih berkacamata dan berambut lurus ini seorang ibu dari tiga anak dan satu suami (yaiyalah satu suami) daerah asalnya adalah Menado, ia sama dengan aku. Agak kesulitan memahami bahasa Jawa. Hehehehe
Ini nih, di sebelah kiriku ada Desika. Dia jago sekali kalau berada di tempat karaoke, spesialis lagu dangdut tentunya. Hahahaha. Ya, selalu ada tawa ketika kita berada di dekatnya Desika. Di sebelah kiri Desika ada Dian. Dian adalah tipe mahasiswa yang tidak bisa mengerjakan tugas jika sekelilingnya ribut. Bagaimana jika kita mengerjakan tesis di kuburan Cina saja Dian?hehehe Di sebelah dian ada wanita berkemeja hijau dan berkawat gigi. .namanya Terry, wanita yang excited sekali jika membahas LDR. Ia mahasiswi idola salah satu dosen, nama lengkapnya Sophia Terry. Tapi semoga tidak pernah menjadi kekasi h gelapnya Sheila On Seven ya? (itu SEPHIA aishaaaa). Nah yang selalu duduk di depan laptop namanya Irma.wanita pengendara vespa yang selalu mengkoleksi film korea. Irma sama denganku, penyuka senja. Dia hobi membaca komik detektif Conan, penganalisis yang baik nampaknya. Terlihat dari kacamatanya (apa hubungannya aisha?)
 “Nampaknya aku tidak berjodoh dengan Jawa Timur” kalimat itu berkali-kali aku ucapkan sambil menahan air mata. Sesak rasanya ketika dinyatakan aku gagal dan harus berkemas kembali ke Jawa Barat. Sempat memaki pada Tuhan dan setengah mengumpat bahwa dunia tidak adil. Sempat juga merasa terasing karena aku satu-satunya gadis bersuku Sunda diantara kalian. Akibat perang bubat ternyata sangat berpengaruh besar, sering sekali aku wanita Sunda dipandang sebelah mata di kota ini. Lalu aku merasa dicemplungkan pada atmosfer dimana semua manusia berbicara menggunakan bahasa Jawa. What the....umpatku dalam hati. Anekdot-anekdot tentang orang Sunda, ah kehidupan macam apa ini?

Sebulan, dua bulan, sampai empat bulan. Tubuhku ternyata bereaksi. Rupanya ada korelasi yang cukup kuat antara ketahanan tubuh dan tingkat stress yang tinggi. Aku kalah dengan serangga penyebar chikungunya. Lalu kenapa harus terserang ketika di kota orang? Aku lemah, berwajah buruk rupa tak bergairah saat itu. Tapi tunggu dulu, itu kalian kan? Yang mengunjungi kamar paling ujung di lantai dua? Aku tergolek lemah dan kalian datang dan meramaikan tempat tidurku? Aku tidak sedang bermimpi kan? Kalian ada di kamar tidurku? Sekali lagi kuulangi, itu kalian kan? Teman-teman sekelasku? Pandanganku mulai kabur, menahan tangis antara terharu dan menahan sakit chikungunya yang aku derita. Iya, kalian menghiasi kamarku. Kalian seraya mendoakan supaya aku lekas sembuh dan selalu mendorong aku untuk bangkit dari sakitku.

Ketika nenekku wafat, hey? Kalian juga mengucap al fatihah di ruang kelas kita. Ya Tuhan, lagi-lagi aku terharu, kalian orang baik, sangat baik. Dan hanya Tuhan lah yang bisa membalas semua kebaikan kalian.
Aku aisha, yang selalu sok-sokan berbicara bahasa Jawa. Bukan, bukan maksud menyepelekan tapi aku ingin mengalahkan gegar budaya yang aku alami. Aku ingin melebur, bersatu dengan kalian. Ah kalian pasti aneh melihat aku yang selalu kegirangan melihat daun kemangi atau sayuran hijau lainnya ketika kita makan bersama. Mungkin terah Dayang Sumbi yang konon gemar memakan dedaunan agar awet muda menurun kepadaku.

Kalian adalah rumah kedua. Kenapa? di rumahku, aku dipanggil teteh. Iya, kalian memang rumah bagiku. Tempat nyaman untuk kembali dan tertawa. Eh iya, maafkan aku yang selalu asal nyeplos ketika berbicara. Aku memang begitu, mulutku bekerja lebih cepat ketimbang otakku.  Kalian mungkin agak jengah dengan cara berbicara aku yang blak-blakan, lidahku agak belibet ketika diskusi. Lagi-lagi mulutku selalu lebih berkuasa ketimbang otakku. 

Ah kalian, selalu bisa memberikan senyuman atau gelak tawa ketika aku ingat rumah. Iya, bernyanyi lagu jawa, meski aku tidak paham apa artinya tapi aku tahu maknanya. Apa itu? Ada judul lagu tentang “Semok-semok” lalu apaa? Ah entahlah tapi aku mulai menyukai budaya Jawa. Aku arep sinau boso jowo loh. *sudah benarkah penempatan kosa kata ku?

Aku ingin kita berjanji, tahun 2015 kelak nama kita terpanggil di Gedung Graha Cakrawala. Gedung megah dimana aku pernah melihat Afgan konser, dimana aku pernah bergetar saat melakukan registrasi ulang, karena di kampusku dulu belum ada gedung serbaguna semega ini. Hey, kita pasti akan duduk bersama di gedung itu kan?  Cantik dan tampan mengenakan toga. Berani pegang janji ini? Mari melangitkan mimpi namun selalu membumikan hati. 

*Ditulis oleh mahasiswi dengan NIM 130111809277

1 komentar:

  1. Allahumma Sholli'ala Sayyidina Muhammad...
    Semoga Allah mendengar doa panjengan neng cantik...
    Amin.... Amin.... Amin....

    BalasHapus