Senin, 29 September 2014

You Never Walk Alone \m/

Selamat pagi, iya kamu Don Rolando.

Surat ini ditulis dengan seciprat lima bahkan sepuluh ciprat keringat sisa lari pagi. Kamu tahu kan? Aku merasa cantik ketika berkeringat, aku bisa saja jatuh cinta dan bisa tiba-tiba cinta dengan pria yang berkeringat setelah berlari atau bersepeda. Iya, hobiku memang mencium ketiak orang lain.
Apa yang belum aku ceritakan hari ini? Sepertinya semua hal sudah kamu tahu, sepertinya banyak sekali momen di tahun ini dengan kamu. Mulai dari konferensi meja bundar para jomblo di tempat duduk si Ronald, terjebak diantara kemacetan Ibukota yang ternyata lebih ganas dari hardikan ibu tiri, terkantuk-kantuk sepanjang Cipularang, terbahak-bahak membahas kebodohan antara tikung-menikung, bahkan Saskia yang berceloteh “Om Recky jangan galau mulu, nanti mati. Lalu liburan ceria bersama ibu-ibu rumpi di Tidung yang mana dugong-dugong bertebaran sepanjang pantai. Bahagia adalah “Sahabatnya Aisha bersahabat sama Recky dan temennya Recky temenan sama Aisha lalu mantan gebetannya Recky adalah temen Aisha laluuuu…jadilah koko crunch”
Matamu masih terjaga dari mamah-mamah muda yang menyusui anaknya di lobby rumah sakit itu kan? Hahahah.. entah berapa orang yang mengira kita pasangan. Chemistry nya dapet, saling menciptakan momen sering, bercerita tentang apa yang kita alami masing-masing hamper selalu. Ah, mereka hanya tidak tahu bagaimana kita berebut berteriak bercerita. Kita seperti dua kutub yang sama, seperti cermin. Apa? Kita? *obras heula tah bujal maneh* Jadi, lebih baik mana, kamu dicurigai pasanganku atau dicurigai jadi kusir delman di wilayah gunung batu yang menebar polusi karpet hijau *baca : ee kuda*.  Sebutlah kita dua makhluk korban tikungan dan selalu jadi korban friendzone.

Hidup ternyata tidak melulu tentang romansa ya Recky? romansa cuma kayak ee munding di hidup ini.  Ada tukang kindeuw yang berkeliling di kawasan Ngamprah. Ada tumis toge yang katanya penyubur peranakan pria, ada juga quote “Break her bed not her heart”, ada kiat menurunkan berat badan dengan cara jalan bebek selama sejam. Aisha in wonderland, duniaku dikelilingi manusia-manuisa dan benda-benda serta makhluk aneh. Mulai dari engsel pintu yang kelelahan karena selalu dibuka tutup, model victoria secret KW super yang bersayap merah muda, nasi goreng kasmaran di Gandawijaya, bahkan toko  Sunda yang hanya menjual bra dan celana dalam. Tuhaaaan, apapula ini? Mari namakan semuanya kekonyolan tanpa henti.

“Aku ngantuk, belum sholat, full make up dan pengen pup. Mana dulu?” ujarku. Aku sangat sering bertanya hal-hal tidak penting dan kamu lebih sering menjawab hal-hal yang jauh lebih tidak penting.
“Make up dulu bersihin, sholat baru boker. Kan modol nggak perlu cantik. Pinggiran klosetnggak akan memuji kamu meski full make up” *jawaban macam kau pernah bersahabat dengan pinggiran kloset

Satu hari, bahkan sering hari aku berteriak. Khawatir berlebihan cenderung cemas. “Jodoh aing siapa sih Recky?”
Dengan ala-ala Pat Kai kamu menjawab “Suatu saat ada orang yang menerima kamu apa adanya, tidak berkomentar dan banyak menuntut soal fisik, dia yang tahan dengan kekurangan kamu, dia yang bisa bikin kamu tidak tenggelam dalam romansa lainnya”

“Aku bahagia ketika teman-teman aku bahagia. Tapi aku tidak mau kebahagiaan kamu nantinya harus mengorbankan perasaan orang lain” katamu, ah begog yah kamu? Iya begog tapi hampir semua diksinya tepat sasaran. Asal kita percaya sama Allah bahwa jodoh adalah takdir yang diusahakan. Jangan mau kalah sama Andika Kangen Band yang udah kawin tiga kali dan kepedeannya tingkat dewa Siwa.

Anyway, cameuh is cangkeul serius. Rahang bawah makin maju dan itu pegal tiada tara Ya Tuhan… yes, obrolan kita mulai ngaco. Gimana? Masih tertarik pergi ke Jepang? Bye Recky, aku jauh lebih cinta Eropa. Tergila-gila pada Jerman, kenapa? Karena bendera Jerman mirip dengan kalung wisuda UPI. Sederhana bukan? Hahaha

Eropa menjanjikan kastil-kastil megah, trotoar tanpa debu dimana aku bisa lari pagi atau bersepeda. Ah, lagi-lagi lari. Iya, aku sedang mati-matian menurunkan berat badan tapi tidak menurunkan harga diri kok. 

Kamu, semacam team HRD yang meng-iya atau tidak-kan pria yang masuk ke hidup aku. Pria mantan susis yang katanya hendak bertobat dan tidak akan lagi takluk kepada wanita.  Ketahuilah Recky, harga diri pria ada pada wibawanya. Lelah yah menjadi dewasa?

I miss my chillhood, ketika ciki boom berhadiah uang limaratus bergambar orang utan, es serut yang dibubuhi sirup penuh pewarna buatan, tazos yang dikoleksi dari chiki balls, Bepe-bepean yang kepalanya hampir potong tertidur di bekas dud rokok gudang garam milik Bapakku, burger yang bunyinya mirip bel SD Nilem dimana pada saat itu makanan paling mahal dan mewah, kapal laut yang berputar di baskom merah si Ibu, andai ada mesin waktu yang bisa mengajak traveling ke masa lalu. Atau traveling ke masa depan? Terlalu pengecut bagiku untuk mengintip masa depan. Lebih baik merencanakan traveling mengeilingi Indonesia dimulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan beakhir di Lombok. Tapi kamu kan tidak terlalu suka traveling, kamu lebih suka karaoke lagu galau. Iya, suara kamu bagus. Lebih bagus dari Nassar KDI atau Bojes AFI.

Apalagi yang belum kita bahas sih Recky?

Yang pasti kamu belum berkunjung ke kosanku. Sembilan bulan lagi waktuku di Malang. Kabar gembira untuk kita semua, si Aisha sudah betah di kota yang jaman dahulu ditiggali oleh Ken Dedes si wanita pemilik betis terindah. *kemudian melirik betisku yang lebih mirip sama talas Bogor namun berbulu*

Okay, see you at Gazebo kosan. Dengan tumis toge, tempe goreng, dan tahu krispi. Jangan lupa bawa pisang molen Kartika Sari.

Bye~