Sial. Pagi ini
aku terlambat lagi untuk entah keberapa kalinya. Matakuliah isu-isu masyarakat
pedesaan ini memang terlalu pagi untuk manusia makhluk malam dan bulukan
sepertiku, kutarik handuk dengan kasar di gantungan baju belakang pintu,
berlari ke kamar mandi untuk menyikat gigi, mengguyur badan, sekedar mengguyur badan
karena terlalu singkat jika dinamakan mandi jika hanya memakan waktu kurang
dari tiga menit. Lebih cepat dari menyeduh mi instan.
Aku hobi
berlari, jadi tidak masalah jika harus menaiki anak tangga menuju ruangan kelas
yang berada di lantai tiga, berlari ibarat bertanding di jogging track itu
lebih baik daripada mengantri lift lama-lama berdesak-desakan pula dengan
mahasiswa baru nan manja enggan menggunakan tangga. Ini tahun terakhirku di
Universitas Negeri Bandung dimana luas lahannya hampir sama dengan satu
kecamatan tempat tinggalku, Cimahi. Dosen matakuliah ini pasti sudah hapal
benar dengan wajahku, aku mengulang kedua kalinya untuk matakuliah ini. Sulit?
Sama sekai tidak, hanya saja aku pernah mendebat habis-habisan dosen yang
bergelar doktor itu di hadapan teman-teman sekelasku, merasa dilecehkan di
Kartu Hasil Studi pun lahir hurup D. Nilai memang hanya berupa angka
kuantitatif, tapi aku dibesarkan di keluarga Indonesia. “Aa maenya aya nilai D? Matakna ulah ameng wae, ulah naek gunung wae, ulah
hayoh wae diving, diajar sing bener, sing karunya ka Mamah atuh a” (Aa masa ada nilai D? makanya jangan main
melulu, jangan naik gunung, menyelam melulu, belajar yang bener, kasian mamah
kamu ini A) omelan salah satu dari tiga penghuni dirumahku memaksa aku
mengulang matakuliah ini, sekelas dengan adik tingkat tentunya. Ah,
junior-junior yang beberapa tahun kemarin aku jahili di acara perkemahan
jurusan kini harus sekelas denganku. Bukan gengsi, tapi aku kerapkali jadi
bulan-bulanan karena dianggap senior, mengetahui segalanya. Mereka lupa, bahwa
senior juga manusia bukan dewa.
“Fajar
Wicaksana, kamu lagi, kelas saya lagi, dan terlambat lagi padahal ini hampir
akhir semester dan kamu masih saja mempertahankan keterlambatanmu. Masih saja
betah di kelas saya rupanya? Mau bertemu saya lagi tahun depan?” ujar dosen
yang mengenakan kacamata yang selalu duduk di kursinya sepuluh menit sebelum
kelas dimulai.
“Pemuda masa
sekarang, diminta bangun pagi, duduk di kelas saja sulit. Apalagi jika kamu
hidup di masa Rorojongrang meminta Bandung Bondowoso membangun seribu candi
dalam semalam. Huh Tuhan…” lanjut dosenku sambil membenarkan posisi frame
kacamatanya yang berbentuk kucing. Sudah kebal rasanya mendengar celotehan
wanita seperti itu, wanita memang begitu bukan? Cerewet, banyak bicara, banyak
menuntut, agak menyebalkan apalagi ketika memasuki masa menstruasi atau
menapouse. Keganasannya melebihi singa Afrika yang tidak kunjung menemukan rusa
atau zebra untuk diterkam. Hawa panas dosenku di ruangan kelas yang AC nya mati
ini agak teduh oleh mata sayu dari asdos berbaju hijau motif bunga dengan
balutan cardigan pink muda, serasi dengan warna bunga pada dressnya. Dia Senja,
nama lengkapnya Senja Pramudita. Teman seangkatanku, dia pintar lebih
spesifiknya cerdas. Karya tulisnya sering dimuat di beberapa harian baik
regional maupun nasional, aktifis lingkungan hidup sekaligus penggiat acara
yang berbau penyelamatan bumi. Cantik? Tidak terlalu, namun tiga detik adalah
waktu yang terlalu sebentar jiga memandangi guratan alisnya seperti barisan
semut yang sedang bersalaman. Rambutnya ikal dan tebal digerai sebahu,wajahnya
bersih tanpa make up berlebih juga wangi vanilla jika ia berjalan disebelahku.
Aku benci jika ia tersenyum, itu memutuskan beberapa urat saraf di otakku. Seperti
terkena “space dementia” secara singkat
berarti kehilangan fungsi intelektual baik itu berpikir, mengingat, dan
mempertimbangkan sesuat yang parah, sehingga mengganggu fungsi sehari-hari.
Lebay? Mungkin. Tapi ada magnet tersendiri jika Senja berjarak beberapa meter
didepanku. Seperti Jacob Black yang ter-imprint oleh Renneseme anak dari si
vampire Edward Cullen dan Bella Swan yang filmnya sempat dijejali penonton di
semua studio film.
“Fajar, tugas
dari ibu Setiawati dikumpulkan ke aku saja ya. Kirim email biar nggak ribet,
sudah selesai kan?” suara renyah Senja membuyarkan lamunanku. “Hah? Apa? Tugas?
Kan udah? Kok ada tugas?” semoga Senja tidak membaca gugupku Ya Tuhan. “Kamu
kan tadi kesiangan, tugas hukuman mungkin ya lebih tepatnya. Buat reflection paper tentang masyarakat desa
aja sih, nggak susah kan? Lagian skripsi kamu kan tentang Desa Adat Cireundeu
Cimahi kan, gampang dong? Kecil lah tugas kayak ginian buat kamu” Senja
menyodorkan secarik kertas berituiskan alamat emailnya. “Ini emailku, kamu
kirim maksimal empat hari kedepan ya Jar, enggak terlambat lagi ya minggu depan
masa senior tukang bentak-bentak juniornya terlambat melulu, perlu aku SMS
supaya kamu bangun pagi nggak sih? Absen kamu sudah bolong tiga loh, jangan
sampai ngulang lagi. Bosen nanti Bu Setiawatinya, hehehe cerewet banget ya aku?
Skripsi kamu apa kabar Jar?” kalimat Senja meluncur dengan selamat di telingaku
selancar tol Cipularang di tengah malam, agak ngebut tapi tanpa menukik. “Iya,
skripsiku? Kabar baik” jawabku ngasal. “Duluan ya, laper” lanjutku sambil
menggendong ranselku. “Bye, Senja”
Koperasi
Mahasiswa pada jam makan siang memang bukan tempat yang tepat buat dikunjungi.
Tapi rasa karedok dan pecelnya itu nagih. Karedok, makanan khas Sunda berbahan
dasar sayuran mentah yang ditambahkan bumbu kacang. Aku lebih suka menambahkan
tahu, lontong, kerupuk dan segelas teh tawar panas. Setelah makan aku harus
segera ke Desa Adat Cireundeu bersama dua orang temanku yang juga meneliti
disana, Restu dan Dera. Kampung Cireundeu adalah desa adat yang terletak di
lembah gunung namun secara administratif berada di Kelurahan Leuwigajah,
Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Hal yang menarik dari kampung ini yaitu di
mulut jalan terdapat tulisan Hanacaraka “Wilujeng Sumping di Kampung Cireundeu”
dengan arti selamat datang para tamu di daerah kampung Cireundeu. Kampung ini
tidak memposisikan sebagai objek wisata, tetapi lebih focus pada desa yang
masih memelihara tradisi lama yang diwariskan oleh tetua adat dulu. Masyarakat
Kampung Cireundeu beranggapan bahwa sekecil apapun makna kehidupan yang
diwariskan oleh para leluhur wajib untuk dipertahankan. Jika orang awam melihat
secara sekilas, ada dua hal yang paling menarik pada masyarakat Kampung Adat
Cireundeu yaitu bahan makanan pokok dan tradisi satu Sura.
Baiklah aku
jelaskan sedikit mengenai penelitianku mengenai Kampung Adat Cireundeu. Prinsip
hidup warganya adalah “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” artinya “Ngindung Ka
Waktu” adalah mereka sebagai warga desa adat memiliki cara, ciri, dan keyakinan
masing-masing. Sedangkan “Mibapa Ka Jaman” berarti masyarakat desa adat tidak
melawan perubahan zaman tapi mengikuti adanya teknologi seperti alat
elektronik, alat komunikasi, dan penerangan.
“Wayah kieu ngalamun keneh Jar? Ngalamunkeun
naon sih maneh? Matakna boga kabogoh ameh semangat skripsina” (Hari gini
masih melamun Jar? Melamun gara-gara apa sih? Makanya punya pacar supaya
semangat mengerjakan skripsi) Restu merebut Milo kaleng dingin dari
genggamanku. “Halah si Fajar mah bencong,
loba kasieun. Ngomong bogoh ka awewe wae hese, sok-sokan cool, kalem, padahal
mah gegebegan mun nempo nu dpikabogoh” ( Halah si Fajar bencong banyak
banget ketakutannya, bilang cinta ke wanita aja susah, sok-sokan cool, kalem,
padahal deg-degan kalau orang ketemu orang yang dicintai) Dera meimpali Restu
sambil mengaduk-aduk isi tasnya mencari charger kamera digitalnya.
Sent! Tugas
hukumanku terkirim ke email Senja. Kurogoh ponsel di saku ransel untuk mengirim
SMS pada Senja.
To : Senja
Tugasku udah dikirim ke email. Tks
From : Senja
Sip Jar, nanti aku cek. Anw dua minggu lagi aku sidang
skripsi, Surat Keputusannya udah ada. Aku bakal seneng kok kalo kamu dateng. Nggak
perlu bawa pom-pom atau perkusi sih, senyumin aku pas keluar ruang sidang udah
istimewa banget J
To : Senja
Congrats. We’ll see ya.
Agak sulit
mendeskripsikan kedekatanku dengan Senja. Kami hampir selalu bersama,
mengerjakan tugas, nonton film baru, menghadiri festival buku, berburu foto
matahari terbit dan terbenam, tapi aku masih saja kaku, kelu benar memanggil
namanya, keringat dingin sering mengalir deras ketika itu aku menarik tangannya
di Sungai Citatih Sukabumi saat arung jeram lalu tiba-tiba perahu kami
terbalik. Sesuai namanya, Senja menyukai matahari terbenam, berlari dengan running shoes berwarna merah, rambut
diikat, jaket nude pink plus earphone di sepasang telinganya. Anak rambutnya
terlepas perlahan dari tali rambut, keringat berlomba menuruni dahi, pelipis
dan berakhir di dagu lancipnya.
Senja yang sering sekali terkilir di bagian pergelangan
kaki, berteriak meringis kesakitan jika aku mencoba menbetulkan posisi urat
kaki yang disposisi. Senja yang selalu makan pedas, membubuhkan banyak sekali
sambal pada bakso yang ia makan, lalu beberapa hari kemudian terkapar karena
diare atau maag kronisnya kambuh. Wanita, rentan sekali akan penyakit yang
berhubugan dengan pencernaan tapi tidak pernah kapok untuk meninggalkan apa
yang membuat mereka sakit. Bagus bukan analogi yang aku gunakan?
Hari ini Senja
sidang skripsi, ia berpakaian rapi rambut diikat dengan harnet, berkemeja putih
tulang dipadukan blazer coklat dan mengenakan rok selutut. Sepatu hak setinggi
12cm berwarna coklat tuanya serasi dengan tas selendang yang ia bawa di bahu
kanannya, sementara tangan kirinya membawa tumpukan skripsi, kertas, dan
catatan kecil untuk keperluan presentasi sidangnya.
“Fajar, doain
ya? Laptop aku mati dong tadi malem, udah pengen nangis aja. Terus sempet
muntah-muntah efek makan rujak pula, agak migraine dan semoga kuat deh ya di
hadapan dosen-dosen nanti. Mana dua professor yang jadi penguji aku, eyeliner
aku ngebantu mata panda nggak? Listik yang aku pake sekarang pucet ga? Jar?
Cengo melulu ih, jawaab” Senja terus menerus bercermin di depan ruang sidang,
padahal mataku mungkin bisa menjadi cermin terbaik baginya. Ia selalu cantik
dimataku, entah dengan atau tanpa eyeliner, masa bodoh dengan lipstick warna
apa yang ia kenakan, yang aku tahu cerocosan kalimat dari bibirnya walau
berisik tapi itu yang aku akan rindukan nanti. “I don't
care, as long as I'm with you” kalau kata Mowgli sih kurang lebih
begitu. Senja mengikuti program sarjana
mengajar ke pelosok daerah selama setahun kedepan. Agak sedih sih, hey? Tapi
siapa aku? Berhak merasa kehilangan padahal tidak pernah memiliki. Belum
memiliki lebih tepatnya, aku lebih memilih memapankan diri terlebih dahulu
sebelum berani mengutarakan perasaanku. Itu semacam prinsip didikan kedua
orangtua sejak aku duduk di bangku SMA.
“Minum seteguk.
Makan ini” aku menyodorkan sebotol air mineral dan satu bar coklat hitam pada
Senja. “Good Luck” sambungku sambil
menepuk pundaknya.
Empat puluh
lima menit berlalu, Senja keluar dari ruangan sidang yang berisi dua orang
professor sebagai dosen penguji dan satu dosen pembimbing skripsi. “Aku
luluuuus kyaaaaaa luluuuuss” Senja berteriak melompat-lompat dengan mata
berkaca-kaca menghambur ke pundakku sambil meraih ponsel hendak menelepon ibu
atau bapaknya mungkin. “Ibu, Senja udah selesai sidangnya, lancar Alhamdulilah
semua berkat doa Ibu sama Bapak” beberapa teman kami mulai berebut memeluk
Senja. Ada banyak bahagia menggebu sekaligus haru tapi ada secuil kesedihan.
Senja sudah lulus, berarti minggu depan ia akan mengikuti pelatihan fisik dan
mental untuk berangkat ke pulau terpencil sebagai pengajar. Kudengar satu nama
Kecamatan sasaran program mengajar di daerah terpencil yang akan didatangi
Senja dan timnya adalah Amfoang. Satu kecamatan di daerah Kupang, kabarnya
diperlukan waktu perjalanan selama setengah hari untuk menuju daerah sasaran,
tidak ada koneksi bagi layanan seluler apalagi internet. Agak khawatir
sebenarnya, tapi Senja adalah wanita yang mempunyai kemauan yang keras mempuyai
prinsip “A comfort zone is a beautiful
place but nothing ever grows there”
From
: Senja
Jar
bisa anter ke bandara nyanyi-nyanyi sayonara bisa kali?
To
: Senja
Sip.
Penerbangan jam berapa?
From
: Senja
Lusa
jam empat pagi dari Jakarta kumpul di kampus sih jam 10 malem, Cuma pengen
sarapan dulu roti gempol. Roti bakar gandum selai kacang ditemenin greentea
milkshake, sebelum nanti Cuma makan singkong rebus sama sayur daun singkong
atau apa sih makanan daerah timur gitu. Terus pengen bakso Akung yang pedeeees
banget, pengen naek ayunan di taman lalu lintas. Ah, I’ll be missing Bandung
Jar, include You L eh belum boleh gloomy yah? Kan masih lusa hahahaha
To
: Senja
Yaudah,
besok hubungi lagi aja.
“Tengs loh Jar
aku kenyaaaang banget muter-muter Bandung hari ini, eh perlu nyanyi lagu Leavin’ on a jet plane ga sih? Hahaha
sedih ih, Ibu juga sempet nangis kemarin malem, takut aku kenapa-kenapa,
kebayang nggak tanpa sinyal, listrik kadang katanya mati seharian, mandi
nampung air hujan, jalan nyebrang sungai. Cuma setahun sih, doain semoga lancar
ya Jar, semoga aku nggak teriak-teriak minta pulang. Hahaha Kamu harus sidang
bulan depan, jadi ambil S2 di Jogja nya?
” dibalik tawa Senja sore ini ada kekhawatiran mendalam.
“Kamu jangan
hiperaktif di tempat baru, bawa tisu basah yang banyak buat mandi, skripsiku
selesai kok, udah daftar sidang juga dan udah cari info S2” ujarku sambil
menyetir menatap jalan Setiabudi yang disiram gerimis, basah, agak berkabut dan
awan hitam menggumpal membentuk gerombolan warna kelabu.
Bulan pertama Senja
masih memposting beberapa foto tempatnya mengabdi di instagram, mengirim
beberapa pesan singkat, menelepon bercerita kalau dia harus naik ke pohon
kamboja di dekat kuburan hanya untuk mendapatkan sinyal, tawa khasnya masih
bisa aku dengar namun sudah hampir delapan bulan ia tak mengabari, tak ada
postingan apapun di jejaring sosial, ponselnya pun agak susah dihubungi,
kabarnya ia dipindah ke daerah yang lebih terpencil. Sepuluh jam dari Kupang.
Empat bulan lagi ia akan pulang, aku akan bercerita tentang tesisku mengenai
kampung idiot di Ponorogo. Aku punya waktu empat bulan lagi untuk mengumpulkan
keberanian mengutarakan perasaanku pada Senja. Empat bulan, sekitar seratus
duapuluh hari lebih.
From
: Senja
Hai
Jar, udah kayak manusia gua gini lah aku. Ini di pusat Kota Kupang. Aku pulang
minggu depan, udah kangen banget lah sama macetnya jalan Dago, sama ketan bakar
Lembang, sama sorabi yang dimasak sambil jongkok terus bau tungku. Yang
dikangenin makanan melulu yah? Hahaha.. ini wajahu udah tanning kayak orang
Uganda. See You next week ya Fajar
To
: Senja
Ada
tempat ngopi baru di dago Pakar, nanti kita kesana.
Aku memilih
kemeja flanelku yang berwarna biru dan celana pendek army untuk menjemput Senja
di Bandara, mengajak ke kedai kopi di daerah Dago Pakar yang desainnya
menggunakan batu-batu, kayu, dan greentea
latte nya Senja pasti suka. Butuh keberanian yang harus disusun dari bulan
ke bulan bahkan tahun ke tahun. Hari ini Senja harus tahu perasaanku, tidak
peduli kulit dia menghitam, model rambut dia tidak beraturan, dan kehabisan
eyeliner juga lipstick selama di daerah terpencil.
“Fajar!” ada
suara memanggil namaku di koridor travel di Jalan Cipaganti. Pemilik suara itu
mengenakan kaos berwarna biru muda, syal motif abstrak, dan sandal jepit. Ah istimewa
namun sederhana, menarik.
“Aku kucel
banget, belum bedakan, nggak sempet mandi beneran Cuma mandi boongan pakai tisu
basah,saran kamu sebalum aku pergi aku bawa tisu basah yang banyak dan itu
bener-bener ngebantu banget, jangan-jangan kamu kalau mendaki gunung nggak
pernah mandi juga yah? lipstick, lipbalm, dan eyeliner aku habis, belum makan
juga. Jar ini udah mirip pithecanthropus erectus versi gondrong belum? Eh gimana-gimana tesis kamu
ngebahas apa sih? Aih ketinggalan banyak cerita yah aku. Aku juga mau cerita
banyak hal sama kamu Jar kamu harus tahu aku tiap hari nyebrang sungai bahkan
nunggu air sungai surut Cuma buat ngajar anak SD di desa sebelah, aku bawa
foto-foto beberapa murid aku mereka cerdas-cerdas banget udah bisa nyanyi
Indonesia Raya padahal Cuma diajarin beberapa kali, Cuma di Amfiong kamu bakal
nangis ketika Indonesia Raya dinyanyiin. Biasanya anak-anak SD disini kan suka
agak seenaknya yah kalo pas upacara nyanyi Indonesia Raya, ih banyak banget lah
yang mau aku ceritain, jadi kita kemana sekarang?” dari cerocosannya aku tidak
yakin dia belum makan.
“Just follow me” ujarku sambil merebut
koper besarnya.
Aku
memlih tempat duduk di lantai dua. Sepasang sofa empuk, satu meja bundar
menghadap ke langit arah barat, pas sekali jika duduk disini sore hari saat
matahari beralih dari terik ke terbenam.
“Mas
saya mau greentea latte, kentang goreng, kalau kamu masih suka hot chocolate
sama pizza tungku kan Jar?” Senja memesan makanan yang biasa aku makan.
“Iya,
itu aja dulu mas” ujarku pada mas-mas berseragam hitam di kedai ini. Bahkan
Senja masih hapal minuman dan makanan favoritku. Aku termasuk orang yang enggan
mencoba hal baru untuk makanan atau minuman.
“Enak
ya Jar tempatnya, sofanya empuk. Udik banget ya, udah lama nggak pernah duduk
di sofa. Eh aku mau cerita ih, gini loh jar…” Senja menghela napas dalam-dalam.
“Aku
diajak nikah sama engineer yang kebetulan kemarin ada proyek di Kupang. Aku
belum berani bilang iya atau enggak sebelum dia ketemu sama ibu dan bapak.
Singkat cerita Rega, nama si engineer ini pas off duty ketemu sama ibu dan
bapa, kerumah. Ibu dan bapa bilang iya. Lamaran resminya rencananya bulan depan
pas tanggal 24 Oktober bertepatan sama ulang tahun yang ke-24. Boleh jujur
nggak sih? Aku agak ngarep loh Jar sama kamu. The way how you take care of me itu beneran bikin nyaman, Cuma aku
nggak mau ngarep lebih dan nggak berani buat jatuh cinta sama kamu. Kamu
manusia paling dingin, bales sms pendek-pendek kayak telegram, jutek dan
cenderung kayak males sama aku. Mungkin aku aja sih yang nggak tahu diri ya?
Cewek cengeng, pecicilan , dan suka nanya-nanya hal nggak penting sama kamu,
kok berani-beraninya menyimpan perasaan sama pria cerdas, keren, penyelam
terbaik versi kampus yang sering meraih medali di pertandingan lari. Kamu
terlihat terlalu sempurna Fajar, maaf ya..bertahun-tahun aku nunggu kamu,
menjaga hati aku untuk tidak dimasuki siapapun tapi kamu nggak kunjung datang
sampai aku mikir kayaknya emang perasaan yang tidak bersifat resiprok. Aduh,
lapar bikin aku cerewet Jar” Senja mengunyah kentang gorengnya dan meneguk greentea latte yang ia sudah pesan.
Hot chocolate sore
ini yang terpahit yang pernah aku teguk, matahari terbenamnya berwarna jingga
keunguan, seperti suasana mencekam tapi Senja bilang itu matahari terbenam
terbaik yang pernah ia lihat.
--------------------------------------
Lima bulan kemudian----------------------------------------------
Kuobrak-abrik
isi lemari di kamarku, penerbangan Jogja-Bandung hanya untuk menghadiri
pernikahan Senja Pramudita dengan Rega Natara, engineer yang ia temui di
Amfiong. Seikat bunga lily putih, sekotak hadiah yang sudah aku siapkan dari
jauh-jauh hari, satu lagi amplop berwarna jingga. Ada satu pesan yang harus ia
tahu. Setelah menelepon Restu dan Dera, bolak-balik mematut diri di cermin,
bertanya pada Mamah dan dua adik perempuanku tentang pakaian apa yang harus aku
kenakan. “Aa nganggo batik ieu we, kasep. Jiga Papah basa ngalamar Mamah a” (Aa
pakai batik ini saja, ganteng. Mirip Papah ketika melamar Mamah) tiga wanita
dirumahku mulai ikut-ikutan rebut aku harus mengenakan apa. Sampai Restu dan
Dera menjemput mereka menyambut aku dengan senyum miris. “Kadang Jar, kita
harus menerima kalau cinta memang nggak mesti memiliki, klasik sih tapi beneran
kan? Ilmu ikhlas kalau kata Aa Gym mah” Restu sok-sokan bijak mengusap
pundakku. “Berangkat bray, nanti kita nyanyi Bunga terakhirnya Beby Romeo”
tukas Dera sambil mendorong tubuhku keluar kamar.
Dari Fajar kepada Senja
Terlalu takut aku mengirimu seikat bunga
lily putih, seperangkat mug bunga-bunga, dan secarik kertas ini. Kamu harus
tahu Senja, aku manusia terdingin versi buku Pintar yang dijual di Pasar Buku
Palasari. Kenapa mug? Kamu selalu bilang ingin menyiapkan Milo untuk suamimu
kelak setap pagi. Kenapa bunga lily? Kamu perempuan anti mainstream, tidak suka
mawar. Aku sempat punya hobi baru saat kamu pergi, menunggu kamu. Lagi-lagi aku
bodoh, sibuk memapankan diri, menghimpun kekuatan hanya untuk meminta izin
mendapatkan hati kamu. Tapi aku lupa, Fajar dan Senja adalah dua waktu dimana
matahari bersinar dengan cantik,berwarna jingga singkat tapi berada di waktu
yang berbeda. Fajar mengantarkan gelap pada terik lalu Senja penyeimbang dari
terik ke gulita. Satu hal yang aku paham, mereka berendar pada planet yang sama
(h)eart. Apapun yang terjadi, bersinarlah pada orbit kebahagiaan yang kamu
pilih. Selamat, Senja.
Fajar





























