Sabtu, 18 Oktober 2014

BUAHAGI(L)AK



Sebutlah saya perempuan yang tinggal jauh dari keluarga dan belum berkeluarga. Butuh energy lebih untuk sekedar menghalau rasa ingin pulang sekedar memeluk ibu atau menjahili adik-adik. Mengunjungi tempat baru yang belum pernah saya datangi adalah salah satu cara menghalau rasa galau gundah gulana (kok bahasanya kayak buku bahasa Indonesia waktu SD sih)  -___-

Kali ini saya bersama partner sekamar saya, bertolak ke Surabaya menemui dua orang teman kami yang sama-sama berasal dari Jawa Barat, Recky dan Fajar. Recky dari Bandung, Saya dan Devi dari Malang sementara Fajar di Surabaya. Titik temu kami di Surabaya. Perjalanan Malang-Surabaya yang harusnya ditempuh oleh kereta api ditunda selama 70 menit lalu saya dan Devi memilih menggunakan bis, satu setengah jam waktu yang ditempuh dari Malang ke Surabaya.

Singkat cerita kami bertemu di Surabaya berencana menyebrang ke pulau sebrang (yaelah Cuma Madura  padahal) muter-muter Madura, balik menyebrang menggunakan kapal. Sebenarnya agak panik mendengar kapal laut karena sebelumnya saya pernah mabuk laut dari Pulau Tidung ke Pasar Ikan Muara Angke yang bau bangke.
 Satu lagi pesonel jalan-jalan kami, namanya Dori sama-sama dari Bandung juga dan ternyata Dori teman sekampus mantan pacarnya salah satu sahabat saya dan Devi (buset jauh amat). Intinya, dunia sesempit toilet umum ternyata.


Oke saya bahas satu persatu destinasi kami.
1 Jembatan Suramadu
Destinasi pertama adalah jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura, ini kali kedua buat saya. ada peringatan "Awas angin kencang" berasa ingin menimpali "Rindu saya juga, entah buat siapa" #PLAK.  Kiri kanan bukan pohon cemara, tapi laut. Iya, laut. Tempat bertemunya awan sama ombak, tempat berpendarnya fajar sama senja dan bergemuruhnya buih sama deru riak air. *ini review perjalanan woi, bukan cerpen atau prosa. 

Foto Selfie pertama kami
2. Bebek Sinjay
Kita sering banget denger kalo Madura khas sama sate nya, ternyata selain sate ada tempat makan yang hits banget. Namanya Bebek Sinjay, ngantrinya mirip antrian para pria yang mencoba masuk ke hati gadis belia cantik, pinter, dan mama-gendong-dede-able. Oke Skip. Tapi serius, ngantrinya panjang banget. Tempat duduknya rebutan kayak acara games tujuh belasan, makanya alangkah lebih baik kalo dateng ramean dibagi jadi beberapa tim (yaelah). ada yang ngantri buat pesen, ada yang"nge-tag" tempat duduk, ada yang bersihin meja. Yes, sebelum makan berihin dulu mejanya pake hand sanitizer sama tisu guys. Saya nggak terlalu suka bebek sih, terakhr makan bebek entah berapa tahun yang lalu karena alasan sok-sokan mau jadi vegetarian kemudian dimarahi ibu karena takut mandul :( Sambelnya endeeuus, pedes asem, seger. Bikin mata melek, kayak liat abang-abang unyu lagi lari keringetan di stadion. Ati sama ampelanya juga enak, nggak alot dan nggak bau anyir. Dulu saya sempet mikir kalo daging bebek anyir anyep gimanaa gitu, tapi ini ngggak. Recomended lah
Penuhnya buseeet
3. Stadion Bangkalan
Makan udah, sekarang giliran muter-muter wilayah plat M. Nggak sengaja bapak supir yang udah sepuh dan beranak satu yang mengantar kami melintasi bangunan warna-warni kayak pelangi. Awalnya saya pikir itu semacam ruko-ruko, taunya stadion :( saya sih pernah denger kalo stadion Bangkalan memiliki kualitas rumput lebih baik dari GBK dan Jalak Harupat. Sayangnya kami nggak masuk sih, nggak tau juga rumputnya bagus apa nggak, cuma yang pasti katanya rumput tetangga suka lebih hijau daripada rumput halaman sendiri. (apa sih aishaaaa). Stadionnya sepi sih, cuma ada beberapa pasangan yang lagi bobogohan (pacaran dalam bahasa Sunda). Kami agak bingung ketika ingin berfoto berlima, karena tongsis saya tidak bisa digunakan jadi dilakukanlah negosiasi dengan mas-mas yang entah siapa namanya, anyway makasih buat mas-mas itu. Semoga Tuhan memberkati


Kiri Ke kanan Recky, Fajar, Devi, dan Dori


Dono, Kasino, Indro versi Jawa Barat


Makasih mas-mas yang sedang asyik berduaan dan diminta fotoin kami
3. Kapal Ferry Pelabuhan Kamal Madura
Bukan, ini bukan mau napak tilas Jack sama Rose di film Titanic atau Hayati sama Zainuddin di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Saya sih berekspektasi lebih buat bisa kibas-kibas ketek di atas dek kapal, ternyata nggak boleh. Jadi penumpang cuma boleh duduk di ruangan utama sambil disuguhi dangdut. Kami memilih tempat duduk di bagian belakang sayap kanan. Pantatnya sih duduk, tapi naggota badan yang lain? Yaa gitu deh. Lagi-lagi senam pipi, senam saling menjauhkan rahang atas dan rahang bawah, peregangan dengan joget-joget nggak jelas, peregangan tangan dengan cara selfie, juga senam wajah menghadap kamera. Ibu-ibu, bapak-bapak, juga adek-adek. Maafkan kehilafan kami.
1

2

3

4 (percayalah masih banyak foto lainnya)
4. Wisata Religi Sunan Ampel
Rasanya harus seimbang antara mengenyangkan lahir dan mengenyangkan batin. Tempat selanjutnya yang kami tuju adalah Masjid Sunan Ampel. Masjidnya besar, adem, nyaman banget buat ngobrol sama Allah entah sekedar bersimpuh minta jodoh atau berterima kasih karena banyak hal yang lupa saya syukuri selama hidup. Kawasan ini menarik yaitu keberadaan kampung Arab yang sebagian besar ditempati keturunan Arab Yaman (hasil kepo sama ibu-ibu sebelah ketika pakai mukena). Mereka sudah menetap selama ratusan tahun dalam rangka berdagang.Disini kental dengan suasana Timur Tengah dan pasarnya yang menjual barang juga makanan khas timur tengah. Saya berasa jadi Aisha yang sedang mencari Fahri di tengah kerumunan, kurang cadar dan eyelinner tebal aja sih. (dicabok)

Aroma Kurma, rasa bulan Ramadhan ketika berburu tajil, wanita-wanita cantik berhidung mancung mengenakan gamis berjilbab, dan pria-pria mengenakan baju koko, gamis, berpeci saling bersalaman. Aaaaah, damai. Meski saya datang kesini mengenakan skinny jeans :p Oh iya, saya dapet gelang dari kayu yang sama digunakan untuk membangun perahunya Nabi Nuh. Lucuk. Disini batere handphone saya mulai low tapi energi buat pecicilan dan teriak-teriak masih banyak.

5. Zangrandi Es Krim
Pernah ke Ragusa di Jakarta atau Oen di Malang? Nah, Zangrandi ini mirip-mirip Ragusa dan Oen versi Surabaya lah. We all know Surabaya is a hot city, so a visit to this ice cream is the best way to cool down your days. (belaga ngomong bahasa Inggris meski sering jongkok di sawah kawasan Ngamprah buat nyari belut) Bangunan dari tempat ini kayaknya termasuk cagar budaya di Surabaya deh, terlihat dari arsitektur jaman Belanda dimana bentuknya masih dipertahankan serta pintu, jendela kursi rotan beserta mejanya membuat tempo dulu semakin terasa. Bagian depan Zangrandi biasa aja sih sebenarnya, cuma yang cakep adalah karena adanya tulisan besar Zangrandi yang terbuat dari lampu berwarna merah, kalau malam hari nyala terang benderang dan menarik perhatian banget. 



Pas saya membolak-balik halaman per halaman buku menu untuk melihat yang ditawarkan, saya sih tertarik desain bukunya yang lebih mirip kayak buku sejarah juga banyak quote bagus yang bisa bikin bahagia (halah). Bingung banget milih apa yang mau dipesan, sebingung menentukan pilihan hati (tetep kesitu muaranya), berdasarkan kata hati saya menentukan Avocado Fudge untuk saya hajar. Warnanya hijau, ada alpukat dibubuhi cokelat dan ditusuk astor diatasnya. Enak? Iyalah,, Adem.. nyes lumer di mulut. When paradise meet heaven lah .Devi memesan Noddle Ice Cream, jangan bayangin indomi rasa ayam bawang plis.. karena ini eskrim vanila dibentuk mi, dbubuhi kacang dan coklat dan masih ditusuk pakai astor. Recky memesan soes mocha (correct me if i'm wrong) semacam kue sus berisi eskrim mocca yang kuat banget, wanginya mirip lulur yang sering saya pakai, yummy. Fajar memasan (apa ya saya lupa) eskrim pink yang ada buah-buahnnya, seger, cantik-cantik-cantik. (ala syahrini). Kalau Dori (mesen apa ya dia) maafikan saya lupa mesen apa cuma nggak lupa kok kalau Dori keturunan Panjalu Ciamis :( minuman yang ada eskrim vanila diatasnya, ada rasa-rasa Rum gitu deh. Kentang goreng BBQ nya asli juara, nagih. Pizzanya juga, ciamik, Anw apa sih yang nggak enak? Air putihnya aja enak, mungkin berasal dari mata air pegunungan Fuji sampai kami refill sebanyak tiga kali.








Yuhuuu, setelah bercerita banyak hal mulai dari pria gemulai, penyakit wasir, dan segala hal yang lagi-lagi bisa membuat kami tertawa, saya dan Devi harus beranjak pulang ke Malang. Kereta kami berangkat pukul 20.20. Satu kata untuk perjalanan kali ini BUAHAGI(L)AK, dua kata TERIMA KASIH, tiga kata OTOT PIPI SIXPACKS. Bener apa yang pernah dibilang sama Christian Simamora di Pillow Talk Life too short to spend alone . Kali ini saya setuju sama Liverpool yang selalu berkoar "You Never Walk Alone". 




Kesimpulannya sih kalau kata Recky "It's not necessary for me where will we going, if we go with right people. Every single step is like heaven"




Quote yang tepat buat mendeskripsikan perjalanan Malang-Surabaya-Madura-Malang kali ini dari saya "Friends can be new, friends can be old. All of them are as prcious as gold" ngutip dari film Disney yang sampai sekarang saya lupa apa judulnya.




ciao!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar