Sabtu, 18 Oktober 2014

Dari Fajar kepada Senja

Sial. Pagi ini aku terlambat lagi untuk entah keberapa kalinya. Matakuliah isu-isu masyarakat pedesaan ini memang terlalu pagi untuk manusia makhluk malam dan bulukan sepertiku, kutarik handuk dengan kasar di gantungan baju belakang pintu, berlari ke kamar mandi untuk menyikat gigi, mengguyur badan, sekedar mengguyur badan karena terlalu singkat jika dinamakan mandi jika hanya memakan waktu kurang dari tiga menit. Lebih cepat dari menyeduh mi instan.

Aku hobi berlari, jadi tidak masalah jika harus menaiki anak tangga menuju ruangan kelas yang berada di lantai tiga, berlari ibarat bertanding di jogging track itu lebih baik daripada mengantri lift lama-lama berdesak-desakan pula dengan mahasiswa baru nan manja enggan menggunakan tangga. Ini tahun terakhirku di Universitas Negeri Bandung dimana luas lahannya hampir sama dengan satu kecamatan tempat tinggalku, Cimahi. Dosen matakuliah ini pasti sudah hapal benar dengan wajahku, aku mengulang kedua kalinya untuk matakuliah ini. Sulit? Sama sekai tidak, hanya saja aku pernah mendebat habis-habisan dosen yang bergelar doktor itu di hadapan teman-teman sekelasku, merasa dilecehkan di Kartu Hasil Studi pun lahir hurup D. Nilai memang hanya berupa angka kuantitatif, tapi aku dibesarkan di keluarga Indonesia. “Aa maenya aya nilai D? Matakna ulah ameng wae, ulah naek gunung wae, ulah hayoh wae diving, diajar sing bener, sing karunya ka Mamah atuh a”  (Aa masa ada nilai D? makanya jangan main melulu, jangan naik gunung, menyelam melulu, belajar yang bener, kasian mamah kamu ini A) omelan salah satu dari tiga penghuni dirumahku memaksa aku mengulang matakuliah ini, sekelas dengan adik tingkat tentunya. Ah, junior-junior yang beberapa tahun kemarin aku jahili di acara perkemahan jurusan kini harus sekelas denganku. Bukan gengsi, tapi aku kerapkali jadi bulan-bulanan karena dianggap senior, mengetahui segalanya. Mereka lupa, bahwa senior juga manusia bukan dewa.

“Fajar Wicaksana, kamu lagi, kelas saya lagi, dan terlambat lagi padahal ini hampir akhir semester dan kamu masih saja mempertahankan keterlambatanmu. Masih saja betah di kelas saya rupanya? Mau bertemu saya lagi tahun depan?” ujar dosen yang mengenakan kacamata yang selalu duduk di kursinya sepuluh menit sebelum kelas dimulai.

“Pemuda masa sekarang, diminta bangun pagi, duduk di kelas saja sulit. Apalagi jika kamu hidup di masa Rorojongrang meminta Bandung Bondowoso membangun seribu candi dalam semalam. Huh Tuhan…” lanjut dosenku sambil membenarkan posisi frame kacamatanya yang berbentuk kucing. Sudah kebal rasanya mendengar celotehan wanita seperti itu, wanita memang begitu bukan? Cerewet, banyak bicara, banyak menuntut, agak menyebalkan apalagi ketika memasuki masa menstruasi atau menapouse. Keganasannya melebihi singa Afrika yang tidak kunjung menemukan rusa atau zebra untuk diterkam. Hawa panas dosenku di ruangan kelas yang AC nya mati ini agak teduh oleh mata sayu dari asdos berbaju hijau motif bunga dengan balutan cardigan pink muda, serasi dengan warna bunga pada dressnya. Dia Senja, nama lengkapnya Senja Pramudita. Teman seangkatanku, dia pintar lebih spesifiknya cerdas. Karya tulisnya sering dimuat di beberapa harian baik regional maupun nasional, aktifis lingkungan hidup sekaligus penggiat acara yang berbau penyelamatan bumi. Cantik? Tidak terlalu, namun tiga detik adalah waktu yang terlalu sebentar jiga memandangi guratan alisnya seperti barisan semut yang sedang bersalaman. Rambutnya ikal dan tebal digerai sebahu,wajahnya bersih tanpa make up berlebih juga wangi vanilla jika ia berjalan disebelahku. Aku benci jika ia tersenyum, itu memutuskan beberapa urat saraf di otakku. Seperti terkena “space dementia”  secara singkat berarti kehilangan fungsi intelektual baik itu berpikir, mengingat, dan mempertimbangkan sesuat yang parah, sehingga mengganggu fungsi sehari-hari. Lebay? Mungkin. Tapi ada magnet tersendiri jika Senja berjarak beberapa meter didepanku. Seperti Jacob Black yang ter-imprint oleh Renneseme anak dari si vampire Edward Cullen dan Bella Swan yang filmnya sempat dijejali penonton di semua studio film.

“Fajar, tugas dari ibu Setiawati dikumpulkan ke aku saja ya. Kirim email biar nggak ribet, sudah selesai kan?” suara renyah Senja membuyarkan lamunanku. “Hah? Apa? Tugas? Kan udah? Kok ada tugas?” semoga Senja tidak membaca gugupku Ya Tuhan. “Kamu kan tadi kesiangan, tugas hukuman mungkin ya lebih tepatnya. Buat reflection paper tentang masyarakat desa aja sih, nggak susah kan? Lagian skripsi kamu kan tentang Desa Adat Cireundeu Cimahi kan, gampang dong? Kecil lah tugas kayak ginian buat kamu” Senja menyodorkan secarik kertas berituiskan alamat emailnya. “Ini emailku, kamu kirim maksimal empat hari kedepan ya Jar, enggak terlambat lagi ya minggu depan masa senior tukang bentak-bentak juniornya terlambat melulu, perlu aku SMS supaya kamu bangun pagi nggak sih? Absen kamu sudah bolong tiga loh, jangan sampai ngulang lagi. Bosen nanti Bu Setiawatinya, hehehe cerewet banget ya aku? Skripsi kamu apa kabar Jar?” kalimat Senja meluncur dengan selamat di telingaku selancar tol Cipularang di tengah malam, agak ngebut tapi tanpa menukik. “Iya, skripsiku? Kabar baik” jawabku ngasal. “Duluan ya, laper” lanjutku sambil menggendong ranselku. “Bye, Senja”

Koperasi Mahasiswa pada jam makan siang memang bukan tempat yang tepat buat dikunjungi. Tapi rasa karedok dan pecelnya itu nagih. Karedok, makanan khas Sunda berbahan dasar sayuran mentah yang ditambahkan bumbu kacang. Aku lebih suka menambahkan tahu, lontong, kerupuk dan segelas teh tawar panas. Setelah makan aku harus segera ke Desa Adat Cireundeu bersama dua orang temanku yang juga meneliti disana, Restu dan Dera. Kampung Cireundeu adalah desa adat yang terletak di lembah gunung namun secara administratif berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Hal yang menarik dari kampung ini yaitu di mulut jalan terdapat tulisan Hanacaraka “Wilujeng Sumping di Kampung Cireundeu” dengan arti selamat datang para tamu di daerah kampung Cireundeu. Kampung ini tidak memposisikan sebagai objek wisata, tetapi lebih focus pada desa yang masih memelihara tradisi lama yang diwariskan oleh tetua adat dulu. Masyarakat Kampung Cireundeu beranggapan bahwa sekecil apapun makna kehidupan yang diwariskan oleh para leluhur wajib untuk dipertahankan. Jika orang awam melihat secara sekilas, ada dua hal yang paling menarik pada masyarakat Kampung Adat Cireundeu yaitu bahan makanan pokok dan tradisi satu Sura.

Baiklah aku jelaskan sedikit mengenai penelitianku mengenai Kampung Adat Cireundeu. Prinsip hidup warganya adalah “Ngindung Ka Waktu, Mibapa Ka Jaman” artinya “Ngindung Ka Waktu” adalah mereka sebagai warga desa adat memiliki cara, ciri, dan keyakinan masing-masing. Sedangkan “Mibapa Ka Jaman” berarti masyarakat desa adat tidak melawan perubahan zaman tapi mengikuti adanya teknologi seperti alat elektronik, alat komunikasi, dan penerangan.
Wayah kieu ngalamun keneh Jar? Ngalamunkeun naon sih maneh? Matakna boga kabogoh ameh semangat skripsina” (Hari gini masih melamun Jar? Melamun gara-gara apa sih? Makanya punya pacar supaya semangat mengerjakan skripsi) Restu merebut Milo kaleng dingin dari genggamanku. “Halah si Fajar mah bencong, loba kasieun. Ngomong bogoh ka awewe wae hese, sok-sokan cool, kalem, padahal mah gegebegan mun nempo nu dpikabogoh” ( Halah si Fajar bencong banyak banget ketakutannya, bilang cinta ke wanita aja susah, sok-sokan cool, kalem, padahal deg-degan kalau orang ketemu orang yang dicintai) Dera meimpali Restu sambil mengaduk-aduk isi tasnya mencari charger kamera digitalnya.

Sent! Tugas hukumanku terkirim ke email Senja. Kurogoh ponsel di saku ransel untuk mengirim SMS pada Senja.
To : Senja
Tugasku udah dikirim ke email. Tks

From : Senja
Sip Jar, nanti aku cek. Anw dua minggu lagi aku sidang skripsi, Surat Keputusannya udah ada. Aku bakal seneng kok kalo kamu dateng. Nggak perlu bawa pom-pom atau perkusi sih, senyumin aku pas keluar ruang sidang udah istimewa banget J

To : Senja
Congrats. We’ll see ya.

Agak sulit mendeskripsikan kedekatanku dengan Senja. Kami hampir selalu bersama, mengerjakan tugas, nonton film baru, menghadiri festival buku, berburu foto matahari terbit dan terbenam, tapi aku masih saja kaku, kelu benar memanggil namanya, keringat dingin sering mengalir deras ketika itu aku menarik tangannya di Sungai Citatih Sukabumi saat arung jeram lalu tiba-tiba perahu kami terbalik. Sesuai namanya, Senja menyukai matahari terbenam, berlari dengan running shoes berwarna merah, rambut diikat, jaket nude pink plus earphone di sepasang telinganya. Anak rambutnya terlepas perlahan dari tali rambut, keringat berlomba menuruni dahi, pelipis dan berakhir di dagu lancipnya. 
Senja yang sering sekali terkilir di bagian pergelangan kaki, berteriak meringis kesakitan jika aku mencoba menbetulkan posisi urat kaki yang disposisi. Senja yang selalu makan pedas, membubuhkan banyak sekali sambal pada bakso yang ia makan, lalu beberapa hari kemudian terkapar karena diare atau maag kronisnya kambuh. Wanita, rentan sekali akan penyakit yang berhubugan dengan pencernaan tapi tidak pernah kapok untuk meninggalkan apa yang membuat mereka sakit. Bagus bukan analogi yang aku gunakan?

Hari ini Senja sidang skripsi, ia berpakaian rapi rambut diikat dengan harnet, berkemeja putih tulang dipadukan blazer coklat dan mengenakan rok selutut. Sepatu hak setinggi 12cm berwarna coklat tuanya serasi dengan tas selendang yang ia bawa di bahu kanannya, sementara tangan kirinya membawa tumpukan skripsi, kertas, dan catatan kecil untuk keperluan presentasi sidangnya.
“Fajar, doain ya? Laptop aku mati dong tadi malem, udah pengen nangis aja. Terus sempet muntah-muntah efek makan rujak pula, agak migraine dan semoga kuat deh ya di hadapan dosen-dosen nanti. Mana dua professor yang jadi penguji aku, eyeliner aku ngebantu mata panda nggak? Listik yang aku pake sekarang pucet ga? Jar? Cengo melulu ih, jawaab” Senja terus menerus bercermin di depan ruang sidang, padahal mataku mungkin bisa menjadi cermin terbaik baginya. Ia selalu cantik dimataku, entah dengan atau tanpa eyeliner, masa bodoh dengan lipstick warna apa yang ia kenakan, yang aku tahu cerocosan kalimat dari bibirnya walau berisik tapi itu yang aku akan rindukan nanti. “I don't care, as long as I'm with you” kalau kata Mowgli sih kurang lebih begitu. Senja mengikuti program sarjana mengajar ke pelosok daerah selama setahun kedepan. Agak sedih sih, hey? Tapi siapa aku? Berhak merasa kehilangan padahal tidak pernah memiliki. Belum memiliki lebih tepatnya, aku lebih memilih memapankan diri terlebih dahulu sebelum berani mengutarakan perasaanku. Itu semacam prinsip didikan kedua orangtua sejak aku duduk di bangku SMA.
“Minum seteguk. Makan ini” aku menyodorkan sebotol air mineral dan satu bar coklat hitam pada Senja. “Good Luck” sambungku sambil menepuk pundaknya.

Empat puluh lima menit berlalu, Senja keluar dari ruangan sidang yang berisi dua orang professor sebagai dosen penguji dan satu dosen pembimbing skripsi. “Aku luluuuus kyaaaaaa luluuuuss” Senja berteriak melompat-lompat dengan mata berkaca-kaca menghambur ke pundakku sambil meraih ponsel hendak menelepon ibu atau bapaknya mungkin. “Ibu, Senja udah selesai sidangnya, lancar Alhamdulilah semua berkat doa Ibu sama Bapak” beberapa teman kami mulai berebut memeluk Senja. Ada banyak bahagia menggebu sekaligus haru tapi ada secuil kesedihan. Senja sudah lulus, berarti minggu depan ia akan mengikuti pelatihan fisik dan mental untuk berangkat ke pulau terpencil sebagai pengajar. Kudengar satu nama Kecamatan sasaran program mengajar di daerah terpencil yang akan didatangi Senja dan timnya adalah Amfoang. Satu kecamatan di daerah Kupang, kabarnya diperlukan waktu perjalanan selama setengah hari untuk menuju daerah sasaran, tidak ada koneksi bagi layanan seluler apalagi internet. Agak khawatir sebenarnya, tapi Senja adalah wanita yang mempunyai kemauan yang keras mempuyai prinsip “A comfort zone is a beautiful place but nothing ever grows there”

From : Senja  
Jar bisa anter ke bandara nyanyi-nyanyi sayonara bisa kali?

To : Senja
Sip. Penerbangan jam berapa?

From : Senja
Lusa jam empat pagi dari Jakarta kumpul di kampus sih jam 10 malem, Cuma pengen sarapan dulu roti gempol. Roti bakar gandum selai kacang ditemenin greentea milkshake, sebelum nanti Cuma makan singkong rebus sama sayur daun singkong atau apa sih makanan daerah timur gitu. Terus pengen bakso Akung yang pedeeees banget, pengen naek ayunan di taman lalu lintas. Ah, I’ll be missing Bandung Jar, include You L eh belum boleh gloomy yah? Kan masih lusa hahahaha

To : Senja
Yaudah, besok hubungi lagi aja.


“Tengs loh Jar aku kenyaaaang banget muter-muter Bandung hari ini, eh perlu nyanyi lagu Leavin’ on a jet plane ga sih? Hahaha sedih ih, Ibu juga sempet nangis kemarin malem, takut aku kenapa-kenapa, kebayang nggak tanpa sinyal, listrik kadang katanya mati seharian, mandi nampung air hujan, jalan nyebrang sungai. Cuma setahun sih, doain semoga lancar ya Jar, semoga aku nggak teriak-teriak minta pulang. Hahaha Kamu harus sidang bulan depan, jadi ambil S2 di Jogja nya?  ” dibalik tawa Senja sore ini ada kekhawatiran mendalam.

“Kamu jangan hiperaktif di tempat baru, bawa tisu basah yang banyak buat mandi, skripsiku selesai kok, udah daftar sidang juga dan udah cari info S2” ujarku sambil menyetir menatap jalan Setiabudi yang disiram gerimis, basah, agak berkabut dan awan hitam menggumpal membentuk gerombolan warna kelabu.

Bulan pertama Senja masih memposting beberapa foto tempatnya mengabdi di instagram, mengirim beberapa pesan singkat, menelepon bercerita kalau dia harus naik ke pohon kamboja di dekat kuburan hanya untuk mendapatkan sinyal, tawa khasnya masih bisa aku dengar namun sudah hampir delapan bulan ia tak mengabari, tak ada postingan apapun di jejaring sosial, ponselnya pun agak susah dihubungi, kabarnya ia dipindah ke daerah yang lebih terpencil. Sepuluh jam dari Kupang. Empat bulan lagi ia akan pulang, aku akan bercerita tentang tesisku mengenai kampung idiot di Ponorogo. Aku punya waktu empat bulan lagi untuk mengumpulkan keberanian mengutarakan perasaanku pada Senja. Empat bulan, sekitar seratus duapuluh hari lebih.

From : Senja
Hai Jar, udah kayak manusia gua gini lah aku. Ini di pusat Kota Kupang. Aku pulang minggu depan, udah kangen banget lah sama macetnya jalan Dago, sama ketan bakar Lembang, sama sorabi yang dimasak sambil jongkok terus bau tungku. Yang dikangenin makanan melulu yah? Hahaha.. ini wajahu udah tanning kayak orang Uganda. See You next week ya Fajar

To : Senja
Ada tempat ngopi baru di dago Pakar, nanti kita kesana.

Aku memilih kemeja flanelku yang berwarna biru dan celana pendek army untuk menjemput Senja di Bandara, mengajak ke kedai kopi di daerah Dago Pakar yang desainnya menggunakan batu-batu, kayu, dan greentea latte nya Senja pasti suka. Butuh keberanian yang harus disusun dari bulan ke bulan bahkan tahun ke tahun. Hari ini Senja harus tahu perasaanku, tidak peduli kulit dia menghitam, model rambut dia tidak beraturan, dan kehabisan eyeliner juga lipstick selama di daerah terpencil.
“Fajar!” ada suara memanggil namaku di koridor travel di Jalan Cipaganti. Pemilik suara itu mengenakan kaos berwarna biru muda, syal motif abstrak, dan sandal jepit. Ah istimewa namun sederhana, menarik.

“Aku kucel banget, belum bedakan, nggak sempet mandi beneran Cuma mandi boongan pakai tisu basah,saran kamu sebalum aku pergi aku bawa tisu basah yang banyak dan itu bener-bener ngebantu banget, jangan-jangan kamu kalau mendaki gunung nggak pernah mandi juga yah? lipstick, lipbalm, dan eyeliner aku habis, belum makan juga. Jar ini udah mirip pithecanthropus erectus versi gondrong belum? Eh gimana-gimana tesis kamu ngebahas apa sih? Aih ketinggalan banyak cerita yah aku. Aku juga mau cerita banyak hal sama kamu Jar kamu harus tahu aku tiap hari nyebrang sungai bahkan nunggu air sungai surut Cuma buat ngajar anak SD di desa sebelah, aku bawa foto-foto beberapa murid aku mereka cerdas-cerdas banget udah bisa nyanyi Indonesia Raya padahal Cuma diajarin beberapa kali, Cuma di Amfiong kamu bakal nangis ketika Indonesia Raya dinyanyiin. Biasanya anak-anak SD disini kan suka agak seenaknya yah kalo pas upacara nyanyi Indonesia Raya, ih banyak banget lah yang mau aku ceritain, jadi kita kemana sekarang?” dari cerocosannya aku tidak yakin dia belum makan.
Just follow me” ujarku sambil merebut koper besarnya.

Aku memlih tempat duduk di lantai dua. Sepasang sofa empuk, satu meja bundar menghadap ke langit arah barat, pas sekali jika duduk disini sore hari saat matahari beralih dari terik ke terbenam.
“Mas saya mau greentea latte, kentang goreng, kalau kamu masih suka hot chocolate sama pizza tungku kan Jar?” Senja memesan makanan yang biasa aku makan.

“Iya, itu aja dulu mas” ujarku pada mas-mas berseragam hitam di kedai ini. Bahkan Senja masih hapal minuman dan makanan favoritku. Aku termasuk orang yang enggan mencoba hal baru untuk makanan atau minuman.

“Enak ya Jar tempatnya, sofanya empuk. Udik banget ya, udah lama nggak pernah duduk di sofa. Eh aku mau cerita ih, gini loh jar…” Senja menghela napas dalam-dalam.

“Aku diajak nikah sama engineer yang kebetulan kemarin ada proyek di Kupang. Aku belum berani bilang iya atau enggak sebelum dia ketemu sama ibu dan bapak. Singkat cerita Rega, nama si engineer ini pas off duty ketemu sama ibu dan bapa, kerumah. Ibu dan bapa bilang iya. Lamaran resminya rencananya bulan depan pas tanggal 24 Oktober bertepatan sama ulang tahun yang ke-24. Boleh jujur nggak sih? Aku agak ngarep loh Jar sama kamu. The way how you take care of me itu beneran bikin nyaman, Cuma aku nggak mau ngarep lebih dan nggak berani buat jatuh cinta sama kamu. Kamu manusia paling dingin, bales sms pendek-pendek kayak telegram, jutek dan cenderung kayak males sama aku. Mungkin aku aja sih yang nggak tahu diri ya? Cewek cengeng, pecicilan , dan suka nanya-nanya hal nggak penting sama kamu, kok berani-beraninya menyimpan perasaan sama pria cerdas, keren, penyelam terbaik versi kampus yang sering meraih medali di pertandingan lari. Kamu terlihat terlalu sempurna Fajar, maaf ya..bertahun-tahun aku nunggu kamu, menjaga hati aku untuk tidak dimasuki siapapun tapi kamu nggak kunjung datang sampai aku mikir kayaknya emang perasaan yang tidak bersifat resiprok. Aduh, lapar bikin aku cerewet Jar” Senja mengunyah kentang gorengnya dan meneguk greentea latte yang ia sudah pesan.

Hot chocolate sore ini yang terpahit yang pernah aku teguk, matahari terbenamnya berwarna jingga keunguan, seperti suasana mencekam tapi Senja bilang itu matahari terbenam terbaik yang pernah ia lihat.

-------------------------------------- Lima bulan kemudian----------------------------------------------
Kuobrak-abrik isi lemari di kamarku, penerbangan Jogja-Bandung hanya untuk menghadiri pernikahan Senja Pramudita dengan Rega Natara, engineer yang ia temui di Amfiong. Seikat bunga lily putih, sekotak hadiah yang sudah aku siapkan dari jauh-jauh hari, satu lagi amplop berwarna jingga. Ada satu pesan yang harus ia tahu. Setelah menelepon Restu dan Dera, bolak-balik mematut diri di cermin, bertanya pada Mamah dan dua adik perempuanku tentang pakaian apa yang harus aku kenakan. “Aa nganggo batik ieu we, kasep. Jiga Papah basa ngalamar Mamah a” (Aa pakai batik ini saja, ganteng. Mirip Papah ketika melamar Mamah) tiga wanita dirumahku mulai ikut-ikutan rebut aku harus mengenakan apa. Sampai Restu dan Dera menjemput mereka menyambut aku dengan senyum miris. “Kadang Jar, kita harus menerima kalau cinta memang nggak mesti memiliki, klasik sih tapi beneran kan? Ilmu ikhlas kalau kata Aa Gym mah” Restu sok-sokan bijak mengusap pundakku. “Berangkat bray, nanti kita nyanyi Bunga terakhirnya Beby Romeo” tukas Dera sambil mendorong tubuhku keluar kamar.







Dari Fajar kepada Senja
Terlalu takut aku mengirimu seikat bunga lily putih, seperangkat mug bunga-bunga, dan secarik kertas ini. Kamu harus tahu Senja, aku manusia terdingin versi buku Pintar yang dijual di Pasar Buku Palasari. Kenapa mug? Kamu selalu bilang ingin menyiapkan Milo untuk suamimu kelak setap pagi. Kenapa bunga lily? Kamu perempuan anti mainstream, tidak suka mawar. Aku sempat punya hobi baru saat kamu pergi, menunggu kamu. Lagi-lagi aku bodoh, sibuk memapankan diri, menghimpun kekuatan hanya untuk meminta izin mendapatkan hati kamu. Tapi aku lupa, Fajar dan Senja adalah dua waktu dimana matahari bersinar dengan cantik,berwarna jingga singkat tapi berada di waktu yang berbeda. Fajar mengantarkan gelap pada terik lalu Senja penyeimbang dari terik ke gulita. Satu hal yang aku paham, mereka berendar pada planet yang sama (h)eart. Apapun yang terjadi, bersinarlah pada orbit kebahagiaan yang kamu pilih. Selamat, Senja.


Fajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar