Minggu, 05 Oktober 2014

Tidung with Love.



Silakan bilang saya norak atau kampungan di tahun 2014 baru menginjak Pulau Tidung yang masih ada di daerah barat pulau Jawa. Tidung adalah salah satu dari kepulauan seribu. Beberapa teman sering banget ngeributin di sosmed mengenai tur ke pulau Tidung. Sampai pada suatu hari kebetulan saya punya teman yang membuka tour agency dan menyelenggarakan open trip to Tidung, sebelum soksokan bertahan hidup di Sempu atau Derawan kayaknya bolehlah nyicip Tidung. Kemarin saya dan geng gabung di trip yang dibuka sama SyababGroup kalau mau boleh Tanya-tanya aja sama Kak Zia di 27f528bo. Bocoran, tour leadernya ganteng-ganteng. Lumayan lah kalo snorkelling tenggelam sok-sokan minta tolong #eeaaaa


Perjalanan dari cek point yaitu Bandung mengabiskan waktu sekitar dua jam setengah. Kami berangkat tengah malam dan dini hari sudah sampai di pasar ikan Muara Angke. Buat yng nggak tahan sama bau ikan kayak saya siap-siap bawa masker, minyak telon, atau wangi-wangian lain yang bikin kamu nyaman. Awalnya saya pikir menyebrang dari Muara Angke ke Tidung Cuma beberapa menit. Maklum, saya anak pantai selatan. Bukaaan, bukan titisan Nyi Roro Kidul. Kalau pantai selatantepatnya Pangandaran kan mau nyebrang tinggal pake kapal kecil sekedip lima kedip nyampe. Lha ini? Dua sampai tiga jam dari Muara Angke. Antimo mana antimo? Saya pemabuk berat, digoncang dikit aja bisa mual-mual. Untungnya, saya membawa (kok kayak belanjaan ya?) beberapa ekor makhluk yang menghibur. Kalau lagi mabuk laut usahakan duduk di luar kapal dan ngobrol sama temen-temen aja. Jangan sampai diem atau liatin layar handphone dan gadget lainnya. Serius, itu bikin tambah mual.


Voilaaaa…. Sampai di Tidung dan asli norak. Saya pikir bakal ada angkot atau indomaret karena persediaan snack dan minuman dingin kami menipis. Yang ada Cuma sepeda dan bentor, sejenis becak yang dijalankan oleh motor. Setelah beristirahat beberapa jam saya dan teman-teman nggak sabar buat terjun dari jembatan cinta, naik banana boat, dan snorkelling sampe senja.
Yess, water sportnya lumayan lengkap mulai dari banana boat, ufo, apa sik yang kayak donat bunder-bunder gitu, snorkelingnya sepuasnya nggak diwaktu sama si abangnya. Kalap deh kalap, hampir tiga jam nyemplung di air sejak matahari masih agak terik, menyesap senja, sampai adzan magrib badan kami masih basah kuyup. Yang pasti, maen air nya puas sih. Meski saat itu mata saya masih infeksi, Cuma air lautnya bener-bener menggoda. Tengs berat buat SyababGroup yang ngajak join tripnya ini deh. Keren. Asli. Oke norak yak? Iya.


Karena kecapekan snorkelling, kami nggak kebagian sunrise jadinya yaaa foto-foto di jembatan cinta. Ada mitos kalau lompat dari jembatan cinta bakal dape jodoh, Cuma pastiin dulu ya gaes itu dibawah nggak ada kapal atau orang.
Saran saya, nanti lagi kalau kesini bawa makanan agak banyak sebagai perbekalan. Minuman juga, panas banget. Onta juga kalau diajak kayaknya bakal beli es nutri sari.

(+)
Cukup oke dengan harga 300rebu dua hari semalem kita tinggal bawa diri dan makanan
Penginapannya nyaman, bersih, berAC, dan homey.
Watersportnya lumayan lengkap
Pulau kecil yang masih layak buat dikunjungi
Snorkelingnya nggak dikasih batasan waktu, sepuasnya sampai mabok air laut.

(-)
Udah agak kotor dengan sampah hasil bawaan wisatawan
Lampu penerangan sepanjang jalan agak kurang, jadi agak temaram plus gelap nyeremin.
Pengelolaan pemerintah harus ditingkatkan (kayak bener aja gaya si aisha)
Agak susah cari makanan, makanya bawa bekal.
Water sportnya nggak ada flying fish (dipikirnya Bali)

Next pantai mana lagi kita?









Tidak ada komentar:

Posting Komentar