Silakan bilang saya norak atau
kampungan di tahun 2014 baru menginjak Pulau Tidung yang masih ada di daerah
barat pulau Jawa. Tidung adalah salah satu dari kepulauan seribu. Beberapa teman
sering banget ngeributin di sosmed mengenai tur ke pulau Tidung. Sampai pada
suatu hari kebetulan saya punya teman yang membuka tour agency dan
menyelenggarakan open trip to Tidung, sebelum soksokan bertahan hidup di Sempu
atau Derawan kayaknya bolehlah nyicip Tidung. Kemarin saya dan geng gabung di
trip yang dibuka sama SyababGroup kalau mau boleh Tanya-tanya aja sama Kak Zia
di 27f528bo. Bocoran, tour leadernya ganteng-ganteng. Lumayan lah kalo snorkelling
tenggelam sok-sokan minta tolong #eeaaaa
Perjalanan dari cek point yaitu
Bandung mengabiskan waktu sekitar dua jam setengah. Kami berangkat tengah malam
dan dini hari sudah sampai di pasar ikan Muara Angke. Buat yng nggak tahan sama
bau ikan kayak saya siap-siap bawa masker, minyak telon, atau wangi-wangian
lain yang bikin kamu nyaman. Awalnya saya pikir menyebrang dari Muara Angke ke
Tidung Cuma beberapa menit. Maklum, saya anak pantai selatan. Bukaaan, bukan
titisan Nyi Roro Kidul. Kalau pantai selatantepatnya Pangandaran kan mau
nyebrang tinggal pake kapal kecil sekedip lima kedip nyampe. Lha ini? Dua sampai
tiga jam dari Muara Angke. Antimo mana antimo? Saya pemabuk berat, digoncang
dikit aja bisa mual-mual. Untungnya, saya membawa (kok kayak belanjaan ya?)
beberapa ekor makhluk yang menghibur. Kalau lagi mabuk laut usahakan duduk di
luar kapal dan ngobrol sama temen-temen aja. Jangan sampai diem atau liatin
layar handphone dan gadget lainnya. Serius, itu bikin tambah mual.
Voilaaaa…. Sampai di Tidung dan
asli norak. Saya pikir bakal ada angkot atau indomaret karena persediaan snack
dan minuman dingin kami menipis. Yang ada Cuma sepeda dan bentor, sejenis becak
yang dijalankan oleh motor. Setelah beristirahat beberapa jam saya dan
teman-teman nggak sabar buat terjun dari jembatan cinta, naik banana boat, dan snorkelling
sampe senja.
Yess, water sportnya lumayan
lengkap mulai dari banana boat, ufo, apa sik yang kayak donat bunder-bunder
gitu, snorkelingnya sepuasnya nggak diwaktu sama si abangnya. Kalap deh kalap,
hampir tiga jam nyemplung di air sejak matahari masih agak terik, menyesap
senja, sampai adzan magrib badan kami masih basah kuyup. Yang pasti, maen air
nya puas sih. Meski saat itu mata saya masih infeksi, Cuma air lautnya bener-bener
menggoda. Tengs berat buat SyababGroup yang ngajak join tripnya ini deh. Keren.
Asli. Oke norak yak? Iya.
Karena kecapekan snorkelling, kami
nggak kebagian sunrise jadinya yaaa foto-foto di jembatan cinta. Ada mitos
kalau lompat dari jembatan cinta bakal dape jodoh, Cuma pastiin dulu ya gaes
itu dibawah nggak ada kapal atau orang.
Saran saya, nanti lagi kalau kesini
bawa makanan agak banyak sebagai perbekalan. Minuman juga, panas banget. Onta juga
kalau diajak kayaknya bakal beli es nutri sari.
(+)
Cukup oke dengan harga 300rebu dua
hari semalem kita tinggal bawa diri dan makanan
Penginapannya nyaman, bersih,
berAC, dan homey.
Watersportnya lumayan lengkap
Pulau kecil yang masih layak buat
dikunjungi
Snorkelingnya nggak dikasih batasan
waktu, sepuasnya sampai mabok air laut.
(-)
Udah agak kotor dengan sampah hasil
bawaan wisatawan
Lampu penerangan sepanjang jalan
agak kurang, jadi agak temaram plus gelap nyeremin.
Pengelolaan pemerintah harus
ditingkatkan (kayak bener aja gaya si aisha)
Agak susah cari makanan, makanya
bawa bekal.
Water sportnya nggak ada flying
fish (dipikirnya Bali)
Nice vacation with you guys @rolandorecky @SilmiaPutri @naddiroh @deeliciouse @rasyidridho4 @umamlism @Zay3ldaus
Next pantai mana lagi kita?




Tidak ada komentar:
Posting Komentar