Rabu, 10 Desember 2014

Putus Mata Rantai Cinderella Complex dan Peter Pan Syndrome

Setiap anak gadis pasti pernah denger cerita tentang putri Cinderella kan? Putri yang cantik jelita namun dijadikan babu oleh ibu tiri dan saudari tirinya, ingin mengikuti pesta dansa namun tidak memiliki pakaian layak dan dengan bantuan peri baik ia diberikan kereta kencana dari labu, gaun cantik serta sepasang sepatu kaca. Nah, berawal dari sepatu kaca yang tertinggal maka Cinderella dicari sang pangeran singkat cerita mereka hidup bahagia selamanya. Well, itu Cuma ada dalam negeri dongeng bukan?

Perlu diketahui, kini ada kelainan perilaku yang dinamakan Cinderella Complex, gejala yang diperlihatkan adalah wanita yang sangat memerlukan kasih saying dari pria, mempunyai role model pasangan paling ideal adalah ayahnya yang menyayangi dengan sepenuh hati. Wanita yang mengalami Cinderella complex memiliki sebuah ketakutan untuk mandiri, yang ada di dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk diselamatkan, dilindungi, dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”.  Faktor penyebab terjadinya Cinderella Complex yaitu perlakuan orang tua yang terlalu memanjakan anak perempuannya bahksan sampai mereka berusia remaja atau dewasa. Setelah tumbuh menjadi wanita deasa biasanya yang terkena Cinderella Complex enggan hidup mandiri dan dihantui rasa ketergantungan akan orang lain, selalu membutuhkan orang dalam menjalankan kegiatannya sehari-hari.

Sementara pada pria terdapat Sindrom Peter Pan. Tahu kan Peter Pan? Bukan band asal Antapani Bandung tentunya, tapi Peter Pan tokoh dalam negeri dongeng. Watak Peter Pan yang serba kekanak-kanakan. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok anak kecil yang menolak menjadi dewasa dan lebih memilih untuk menjadi anak-anak agar bisa terus bermain. Lalu apa hubungannya dengan Peter Pan Syndrome? Gangguan perilaku yang ditunjukkan adalah laki-laki yang menolak untuk menjadi dewasa dan cenderung bersikap manja. Hal yang dapat mempengaruhinya adalah lingkungan. Pria yang terkena Peter Pan Syndrome cenderung mencari pasangan yang memiliki sifat keibuan. Peter Pan Syndrome memiliki beberapa ciri-ciri yang Nampak secara kasat mata yaitu 1) cenderung tidak bertanggungjawab 2) sulit untuk berkomitmen 3) tidak bisa menerima kritik 4) enggan disebut tua dan sealu ingin menjadi anak muda 5) enggan disalahkdan dan mudah menyalahkan.

Well, Cinderella Complex dan Peter Pan Syndrome harus mulai diputus mata rantainya agar tidak menciptakan genarasi “manja” yang tersebar dimana-mana. Ketergantungan akan manusia lain memang sebuah kebutuhan karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial, namun porsi akan ketergantungan terhadap orang lain tersebut perlu dipertimbangkan. Kemudian perlu adanya penanaman sikap disiplin dan tanggungjawab terutama pada pria, agar generasi “Peter Pan” tidak lagi berhamburan di linimasa yang kita pijak ini.

Kebayang dong reptnya seperti apa jika si Peter Pan ini dikawinkan dengan Cinderella?
Yang pria enggan mendapat tanggungjawab, malas menjadi dewasa, selalu ingin dimanja sementara wanita ingin dijunjung tinggi, diperlakukan secara hormat, diantar kemana-mana karena dihantui ketakutan. Terus aja kayak gitu sampai nanti Doraemon dinobatkan sebagai Walikota Tasikmalaya.

Karena hidup tidak seindah negeri dongeng, alangkah baiknya jika kita mendongeng pada anak hidari kata “dan mereka hidup berbahagia selamanya”