Setiap anak gadis pasti pernah
denger cerita tentang putri Cinderella kan? Putri yang cantik jelita namun
dijadikan babu oleh ibu tiri dan saudari tirinya, ingin mengikuti pesta dansa
namun tidak memiliki pakaian layak dan dengan bantuan peri baik ia diberikan
kereta kencana dari labu, gaun cantik serta sepasang sepatu kaca. Nah, berawal
dari sepatu kaca yang tertinggal maka Cinderella dicari sang pangeran singkat
cerita mereka hidup bahagia selamanya. Well, itu Cuma ada dalam negeri dongeng
bukan?
Perlu diketahui, kini ada kelainan
perilaku yang dinamakan Cinderella Complex, gejala yang diperlihatkan adalah
wanita yang sangat memerlukan kasih saying dari pria, mempunyai role model
pasangan paling ideal adalah ayahnya yang menyayangi dengan sepenuh hati. Wanita
yang mengalami Cinderella complex memiliki sebuah ketakutan untuk mandiri, yang
ada di dalam pikiran mereka adalah keinginan untuk diselamatkan, dilindungi,
dan tentunya disayangi oleh “sang pangeran”. Faktor penyebab terjadinya Cinderella Complex
yaitu perlakuan orang tua yang terlalu memanjakan anak perempuannya bahksan
sampai mereka berusia remaja atau dewasa. Setelah tumbuh menjadi wanita deasa
biasanya yang terkena Cinderella Complex enggan hidup mandiri dan dihantui rasa
ketergantungan akan orang lain, selalu membutuhkan orang dalam menjalankan
kegiatannya sehari-hari.
Sementara pada pria terdapat
Sindrom Peter Pan. Tahu kan Peter Pan? Bukan band asal Antapani Bandung
tentunya, tapi Peter Pan tokoh dalam negeri dongeng. Watak Peter Pan yang serba
kekanak-kanakan. Tokoh ini digambarkan sebagai sosok anak kecil yang menolak
menjadi dewasa dan lebih memilih untuk menjadi anak-anak agar bisa terus
bermain. Lalu apa hubungannya dengan Peter Pan Syndrome? Gangguan perilaku yang
ditunjukkan adalah laki-laki yang menolak untuk menjadi dewasa dan cenderung
bersikap manja. Hal yang dapat mempengaruhinya adalah lingkungan. Pria yang
terkena Peter Pan Syndrome cenderung mencari pasangan yang memiliki sifat
keibuan. Peter Pan Syndrome memiliki beberapa ciri-ciri yang Nampak secara
kasat mata yaitu 1) cenderung tidak bertanggungjawab 2) sulit untuk berkomitmen
3) tidak bisa menerima kritik 4) enggan disebut tua dan sealu ingin menjadi
anak muda 5) enggan disalahkdan dan mudah menyalahkan.
Well, Cinderella Complex dan Peter
Pan Syndrome harus mulai diputus mata rantainya agar tidak menciptakan genarasi
“manja” yang tersebar dimana-mana. Ketergantungan akan manusia lain memang
sebuah kebutuhan karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial, namun porsi
akan ketergantungan terhadap orang lain tersebut perlu dipertimbangkan. Kemudian
perlu adanya penanaman sikap disiplin dan tanggungjawab terutama pada pria,
agar generasi “Peter Pan” tidak lagi berhamburan di linimasa yang kita pijak
ini.
Kebayang dong reptnya seperti apa
jika si Peter Pan ini dikawinkan dengan Cinderella?
Yang pria enggan mendapat
tanggungjawab, malas menjadi dewasa, selalu ingin dimanja sementara wanita
ingin dijunjung tinggi, diperlakukan secara hormat, diantar kemana-mana karena
dihantui ketakutan. Terus aja kayak gitu sampai nanti Doraemon dinobatkan
sebagai Walikota Tasikmalaya.
Karena hidup tidak seindah negeri
dongeng, alangkah baiknya jika kita mendongeng pada anak hidari kata “dan
mereka hidup berbahagia selamanya”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar