Ini sepucuk surat, tentang seorang pria.
Ia yang tidak piawai memetik gitar, namun fasih dalam
melantunkan ayat-ayat Tuhan
Ia bukan fotografer handal yang mampu menangkap setiap
senyuman, namun lihai menciptakan gelak tawa bahkan ketika hati pilu
Ia bukan penulis prosa yang membuat hati melambung, namun
selalu mampu menciptakan setiap lembaran hari menjadi cerita yang menarik untuk
kelak diceritakan
Ia pria yang berani mendatangi wali wanitanya, bukan
memacarinya
Semenjak ia berlabuh, bagiku cinta ada pada hal sederhana
namun penuh makna
Cinta ada pada kesediaannya menemani wanitanya dalam keadaan
terburuk sekalipun bahkan ketika lipstik dan eyelinner tidak pernah dikenakan,
diganti dengan lelehan muntah akibat morningsickness yang tidak berkesudahan selama
dua bulan
Cinta ada pada setiap pijitan di telapak kaki, ketika
tubuhku ringkih
Cinta ada pada semangkuk suki a la-a la dia dengan bahan
seadanya
Cinta ada pada kata amin atas semua doa yang ia lantunkan,
satu shaf tepat di depanku
Cinta ada pada penerimaan seutuhnya, ketika tubuh menjadi
kurus seketika, wajah tirus, tinggal belulang lalu kemudian mengembung dalam beberapa bulan.
Cinta ada pada sholawat yag ia bisikkan pada perutku yang
mulai bergerak memberontak dengan dua degup jantung dalam tubuh
Cinta ada pada kesiapannya mendengarkan tangis dan
meredakannya dengan satu pelukan di pinggang
Cinta ada pada segelas es kelapa muda di saat Surakarta kemarau panas serta dedaunan meranggas
Cinta ada pada secangkir air jahe ketika Malang didera hujan petir setengah badai
Cinta bahkan ada pada kesigapannya mengusir kecoak, cicak,
bahkan tikus sekalipun
Cinta ada pada pengabdianku seumur hidup, Sebuah ikatan kontrak di
mata Tuhan,
Kepada engkau priaku, aku jatuh cinta dengan telak.
Aisha, wanitamu
ditemani ia yang kabarnya juga wanita kini berusia duapuluh empat minggu berdetak di perutku.
