Selasa, 21 April 2015

Habis Konsumtif Terbitlah Korupsi

Hari ini tanggal 21 April yang mana bertepatan dengan hari lahir R.A Kartini. Oke, saya idak akan membahas mengenai penyamarataan gender, emansipasi, atau masalah kebaya yang dikenakan para wanita saat merayakan hari kartini. Saya akan membahas mengenai korupsi. Nggak nyambung? Oke kita bahas. Beberapa jurnal ilmiah mengenai perilaku konsumtif yang saya baca memaarkan bahwa wanita lah yang banyak melakukan tindakan konsumtif. Mulai dari baju, sepatu, warna-warni harus serasi dengan tas yang dijinjing. Jujur saya mungkin bisa dibilang wanita udik, nggak paham mengenai merk-merk tas yang buanyyyaak beredar KW nya. Saya mengutamakan fungsi (baca : ngirit). Balik ke topik mengenai hubungan antara perilaku konsumtif, korupsi, dan hari kartini serta wanita sebagai objeknya. Wanita fitrahnya adalah menyukai keindahan, saya juga mengakui itu. Seneng banget kalau rapi, cantik, wangi, terawat, dan ciamik. Tapi, kadang ada beberapa oknum wanita Indonesia yang mengatasnamakan “cara menghargai diri” dengan menghambur-hamburkan uang demi satu kata “cantik”. Bagus sih kalau si wanita itu pake duit sendiri, hasil kerja sendiri, lalu bagaimana jika yang bersangkutan adalah seorang istri dari suami yang punya gaji pas-pasan. Seiring tuntutan istri yang bejibun menumpuk setinggi puncak Mahameru sedangkan penghasilan suami agak surut bak Situ Ciburuy di daerah Bandung Barat. Apa yang akan terjadi? Yang namanya suami baik hati pasti nggak akan tahan mendengar istri merajuk, meringis, bahkan menangis agar keingiannya dipenuhi, jererengjeng…. Si suami mengambil jalan pintas dengan melakukan tindakan korupsi, bahasa halusnya memakai uang yang bukan haknya. Dosa siapa sih sebenernya? Oke sementara perilaku korupsi terus-terusan menjamur kian hari sementara solusinya sampai kini belum ada. Trus kita bisa apa dong? Ngebom si pelaku korup? Ngeracun pakai baygon? Atau demo teriak-teriak “stop korupsi”? sepertinya ada hal yang bisa dilakukan oleh kita sebagai wanita.  Saya sebut kita karena terakhir saya cek sih saya masih dan insya allah akan selalu menjadi wanita :p . kalau belum punya suami dan masih bingung dengan “terus gue bisa apa dong sebagai wanita Indonesia masa kini?” beberapa yang bisa kita lakukan adalah sebagai berikut (ini kok ga enak dibaca macem karya ilmiah beneran aja)


Hindari perilaku konsumtif sejak dini, caranya? Kurang-kurangilah menghambur-hamburkan uang buat hal yang tidak penting, selalu merasa cukup dengan apa yang didapat, dan jangan terbawa arus serta terombang-ambing dengan tren yang nggak aka nada habisnya sampai nanti Julius Caesar punya akun facebook bahkan instagram. Tidakan keciiiiil yang bisa diambil? Kurangin nongkrong nggak jelas, mending diem dirumah ajakin temen-temennya keumah, cobain resep masakan baru, mau enak nggak enak masa bodo yang penting udah belajar. Kalo ga enak, belajar lag, belajar lagi, dan lagi. Browsing resep-resep resto, beli bahannya, bikin yang non MSG plus pake bahan-bahan racikan yang kita tau bener asal muasalny.  Ngemall secukupnya, ganti dengan jalan-jalan di taman, bawa tiker atau kain, gelar, tiduran sambil bawa bekel ajakin temen-temen. Apalagi yah? Kalo yang suka buang-buang duit gegara beli baju mari kita belajar menjahit. (padahal saya juga belum bisa menjahit, bikin pola aja susah payah). Suka nyalon? Beli bahan-bahannya dan saling nyalonin sama temen. Nyalon jadi RW boleh, camat boleh, presiden juga boleh buanget. (kriuk, oke ini garing) Inget ya gaeess yang namanya peran wanita ternyata berperan juga dalam tindakan korupsi, naudzubilah. Ya pokoknya mah gitu… jangan sampai slogan “Habis gelap terbitlah terang” nya RA Katini beganti jadi “Habis konsumtif terbitlah Korupsi” amit-amit, pait-pait-pait. Hidup wanita Indonesia!!!!! Eh selamat hari Kartini dulu dong buat kita wanita Indonesia.  

1 komentar: