Jumat, 01 Mei 2015

Bridezilla

Bridezilla, kata benda yang merujuk pada makhluk berwujud perempuan lebih tepatnya wanita yang hendak melangsungkan pernikahan. Kenapa bridezilla? Kaarena wanita mendadak akan dipenuhi macam-macam pikiran irrasional. Pernikahan menguras seluruh energy fisik dan psikis, dimulai dari proses seleksi calon suami, setelah ada direpoti dengan prosesi khitbah atau lamaran, kemudian beranjut ke proses persiapan pernikahan yang melibatkan dua keluarga besar, karena kita tinggal di Indonesia maka pernikahan adalah proses penyatuan dua keluarga besar. Ketika sebagian calon mempelai wanita memikirkan hari H pernikahan, saya justru memikirkan kehidupan setelah menikah. Saya dahulu sempat berpikir bahwa pre-marital syndrome atau sindrom pra nikah adalah suatu mitos yang mengada-ada, tidak terlihat wujudnya seperti apa dan kurang masuk akal. “Is he the right man?” biasanya kalimat itu yang terus-menerus menghantui pikiran dari mulai bangun tidur sampai menjelang tidur. Wajar sih, karena menikah merupakan ibadah besar, ibadah menyempurnakan separuh agama makanya setan yang mengusik pun sekelas jendral yang bisa jadi pangkatnya berderet berbintang banyak. Beberapa kali saya bertanya pada banyak calon mempelai wanita, mereka pun merasakan hal yang sama, mulai dari nangis-nangis nggak jelas, sensitifitas melonjak, stabilitas emosi goyah, bahkan ada yang sempat kepikiran buat kabur ketika malam sebelum pernikahan berlangsung, duh jangan sampai lah kepikiran yang aneh macem gitu. Ternyata semua wanita mengalaminya, mulai ragu, takut, cemas. Takut kebebasan terenggut, biasanya bisa pergi sama teman-teman tanpa khawatir pulang malam mungkin setelah menikah bakal ada pria yang harus diperhatikan, takut tidak bisa menjadi istri yang baik, takut tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kelak. Tapi balik lagi ke niat menikah itu apa sih, saya pernah berdiskusi dengan salah satu sepupu saya yang kini sudah menjadi ibu. Menikah ibarat terjun payung dari tebing yang tinggi, kita tidak tahu dibawah jurang ada apa, ada siapa, dan bagaimana keadaaannya. Yang kita punya adalah parasut kasat mata, perlindungan yang tidak terlihat tapi nyata adanya, Allah. Percaya bahwa menikah adalah sarana memperkaya amalan-amalan baik di dunia untuk bekal di akherat kelak. Buat saya, menikah hampir mirip seperti rafting selalu ada jeram berikutnya setelah kita melalui jeram sebelumnya (iya deh yang nemu calon lakik di sungai).


Ragu wajar, gimana enggak? Dua pertiga hidup kita akan dihabiskan dengan pasangan, manusia asing yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya. Manusia yang akan kita lihat pas bangun tidur sampai tidur lagi, partner hidup, manusia yang harus kita terima semua kelebihan dan kekurangannya. Bisa aja kan kelak ada kebiasaan-kebiasaan pasangan yang  bikin jengkel, menyimpan handuk sembarangan, lupa menutup pasta gigi, seenaknya menyimpan baju kotor, sering menyimpan benda-benda tidak pada tempatnya, pelupa tingkat kabupaten Bandung Barat, mendengkur ketika tidur, ah masih banyak lagi mungkin kebiasaan-kebiasaan kecil yang harus ditoleransi yang sampai saat ini saya malah belum tahu betul kebiasaan-kebiasaan calon pasangan saya secara detail karena sejak awal kenal sampai hari ini saja baru bertemu sebanyak sepuluh kali. Tidak ada satupun pasangan yang cocok di dunia ini, Lady Diana sama Pangeran Charles yang hidupnya serba enak dan nggak usah mikirin besok mau masak apa aja bisa pisah, Chris Martin dan Gwyneth Paltrow yang sama-sama punya misi hidup sehat, sama-sama vegetarian aja bisa cerai. Salah satu sahabat saya yang sudah menikah bilang “Menjelang hari H, kepala wanita akan diisi dengan penuh kecemasan dan keraguan sementara kepala pria akan diisi dengan ingin menyegerakan. Kamu nggak sendirian kok, aku gitu, si X gitu, si Y juga. Kamu normal” Kalimat tersebut membuat saya yakin bahwa saya tidak abnormal (weleh). Saya manusia dengan pemahaman agama dalam kategori “biasa”, berbekal pesantren kilat dan kuliah subuh demi mengisi buku tugas setiap ramadhan, masuk TPA ketika usia sekolah dasar, dan bermodalkan dua jam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam seminggu sekali wajarlah kalau menginginkan suami yang tingkat pemahaman agamanya jauh lebih tinggi supaya bisa digiring atau digeret eh digandeng ke surga barengan. Balik lagi sih ke agama, bahwa menikah adalah ibadah, bahwa jika ingin menjadi umat Rasul ya harus menikah, bahwa dengan menikah bisa menimba pahala sebanyak mungkin. Bersyukurnya makhluk Bridezilla yang nulis ini dapet pasangan yang bukan Groomzilla, calon pendamping saya kayaknya alhamdulilah sudah lulus sertifikasi dan uji emisi bahkan sudah punya surat izin mengemudikan naga (terinspirasi dari film How to Train Your Dragon), jadi makhluk Bridezilla macam saya ini bisa lah dikendalikan dengan aman.


Keep Calm and Happy Wedding