Bridezilla, kata benda yang merujuk pada makhluk berwujud
perempuan lebih tepatnya wanita yang hendak melangsungkan pernikahan. Kenapa bridezilla?
Kaarena wanita mendadak akan dipenuhi macam-macam pikiran irrasional. Pernikahan
menguras seluruh energy fisik dan psikis, dimulai dari proses seleksi calon
suami, setelah ada direpoti dengan prosesi khitbah atau lamaran, kemudian
beranjut ke proses persiapan pernikahan yang melibatkan dua keluarga besar,
karena kita tinggal di Indonesia maka pernikahan adalah proses penyatuan dua
keluarga besar. Ketika sebagian calon mempelai wanita memikirkan hari H
pernikahan, saya justru memikirkan kehidupan setelah menikah. Saya dahulu
sempat berpikir bahwa pre-marital syndrome atau sindrom pra nikah adalah suatu
mitos yang mengada-ada, tidak terlihat wujudnya seperti apa dan kurang masuk
akal. “Is he the right man?” biasanya kalimat itu yang terus-menerus menghantui
pikiran dari mulai bangun tidur sampai menjelang tidur. Wajar sih, karena
menikah merupakan ibadah besar, ibadah menyempurnakan separuh agama makanya
setan yang mengusik pun sekelas jendral yang bisa jadi pangkatnya berderet
berbintang banyak. Beberapa kali saya bertanya pada banyak calon mempelai
wanita, mereka pun merasakan hal yang sama, mulai dari nangis-nangis nggak
jelas, sensitifitas melonjak, stabilitas emosi goyah, bahkan ada yang sempat
kepikiran buat kabur ketika malam sebelum pernikahan berlangsung, duh jangan
sampai lah kepikiran yang aneh macem gitu. Ternyata semua wanita mengalaminya,
mulai ragu, takut, cemas. Takut kebebasan terenggut, biasanya bisa pergi sama
teman-teman tanpa khawatir pulang malam mungkin setelah menikah bakal ada pria
yang harus diperhatikan, takut tidak bisa menjadi istri yang baik, takut tidak
bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kelak. Tapi balik lagi ke niat
menikah itu apa sih, saya pernah berdiskusi dengan salah satu sepupu saya yang
kini sudah menjadi ibu. Menikah ibarat terjun payung dari tebing yang tinggi,
kita tidak tahu dibawah jurang ada apa, ada siapa, dan bagaimana keadaaannya. Yang
kita punya adalah parasut kasat mata, perlindungan yang tidak terlihat tapi
nyata adanya, Allah. Percaya bahwa menikah adalah sarana memperkaya
amalan-amalan baik di dunia untuk bekal di akherat kelak. Buat saya, menikah
hampir mirip seperti rafting selalu
ada jeram berikutnya setelah kita melalui jeram sebelumnya (iya deh yang nemu
calon lakik di sungai).
Ragu wajar, gimana enggak? Dua pertiga hidup kita akan
dihabiskan dengan pasangan, manusia asing yang tidak pernah kita perkirakan
sebelumnya. Manusia yang akan kita lihat pas bangun tidur sampai tidur lagi,
partner hidup, manusia yang harus kita terima semua kelebihan dan
kekurangannya. Bisa aja kan kelak ada kebiasaan-kebiasaan pasangan yang bikin jengkel, menyimpan handuk sembarangan,
lupa menutup pasta gigi, seenaknya menyimpan baju kotor, sering menyimpan
benda-benda tidak pada tempatnya, pelupa tingkat kabupaten Bandung Barat,
mendengkur ketika tidur, ah masih banyak lagi mungkin kebiasaan-kebiasaan kecil
yang harus ditoleransi yang sampai saat ini saya malah belum tahu betul
kebiasaan-kebiasaan calon pasangan saya secara detail karena sejak awal kenal
sampai hari ini saja baru bertemu sebanyak sepuluh kali. Tidak ada satupun
pasangan yang cocok di dunia ini, Lady Diana sama Pangeran Charles yang
hidupnya serba enak dan nggak usah mikirin besok mau masak apa aja bisa pisah,
Chris Martin dan Gwyneth Paltrow yang sama-sama punya misi hidup sehat, sama-sama
vegetarian aja bisa cerai. Salah satu sahabat saya yang sudah menikah bilang “Menjelang
hari H, kepala wanita akan diisi dengan penuh kecemasan dan keraguan sementara
kepala pria akan diisi dengan ingin menyegerakan. Kamu nggak sendirian kok, aku
gitu, si X gitu, si Y juga. Kamu normal” Kalimat tersebut membuat saya yakin
bahwa saya tidak abnormal (weleh). Saya manusia dengan pemahaman agama dalam
kategori “biasa”, berbekal pesantren kilat dan kuliah subuh demi mengisi buku
tugas setiap ramadhan, masuk TPA ketika usia sekolah dasar, dan bermodalkan dua
jam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam seminggu sekali wajarlah kalau
menginginkan suami yang tingkat pemahaman agamanya jauh lebih tinggi supaya
bisa digiring atau digeret eh digandeng ke surga barengan. Balik lagi sih ke
agama, bahwa menikah adalah ibadah, bahwa jika ingin menjadi umat Rasul ya
harus menikah, bahwa dengan menikah bisa menimba pahala sebanyak mungkin. Bersyukurnya
makhluk Bridezilla yang nulis ini dapet pasangan yang bukan Groomzilla, calon
pendamping saya kayaknya alhamdulilah sudah lulus sertifikasi dan uji emisi bahkan
sudah punya surat izin mengemudikan naga (terinspirasi dari film How to Train
Your Dragon), jadi makhluk Bridezilla macam saya ini bisa lah dikendalikan
dengan aman.
Keep Calm and Happy Wedding

Tidak ada komentar:
Posting Komentar