Jumat, 04 Desember 2015

Untuk dia, Priaku

Ini sepucuk surat, tentang seorang pria.

Ia yang tidak piawai memetik gitar, namun fasih dalam melantunkan ayat-ayat Tuhan

Ia bukan fotografer handal yang mampu menangkap setiap senyuman, namun lihai menciptakan gelak tawa bahkan ketika hati pilu

Ia bukan penulis prosa yang membuat hati melambung, namun selalu mampu menciptakan setiap lembaran hari menjadi cerita yang menarik untuk kelak diceritakan

Ia pria yang berani mendatangi wali wanitanya, bukan memacarinya

Semenjak ia berlabuh, bagiku cinta ada pada hal sederhana namun penuh makna

Cinta ada pada kesediaannya menemani wanitanya dalam keadaan terburuk sekalipun bahkan ketika lipstik dan eyelinner tidak pernah dikenakan, diganti dengan lelehan muntah akibat morningsickness yang tidak berkesudahan selama dua bulan

Cinta ada pada setiap pijitan di telapak kaki, ketika tubuhku ringkih

Cinta ada pada semangkuk suki a la-a la dia dengan bahan seadanya

Cinta ada pada kata amin atas semua doa yang ia lantunkan, satu shaf tepat di depanku

Cinta ada pada penerimaan seutuhnya, ketika tubuh menjadi kurus seketika, wajah tirus, tinggal belulang lalu kemudian mengembung dalam beberapa bulan.

Cinta ada pada sholawat yag ia bisikkan pada perutku yang mulai bergerak memberontak dengan dua degup jantung dalam tubuh

Cinta ada pada kesiapannya mendengarkan tangis dan meredakannya dengan satu pelukan di pinggang

Cinta ada pada segelas es kelapa muda di saat Surakarta kemarau panas serta dedaunan meranggas

Cinta ada pada secangkir air jahe ketika Malang didera hujan petir setengah badai

Cinta bahkan ada pada kesigapannya mengusir kecoak, cicak, bahkan tikus sekalipun

Cinta ada pada pengabdianku seumur hidup, Sebuah ikatan kontrak di mata Tuhan, 

Kepada engkau priaku, aku jatuh cinta dengan telak.
Aisha, wanitamu ditemani ia yang kabarnya juga wanita kini berusia duapuluh empat minggu berdetak di perutku.


2 komentar:

  1. Aishaaaaa.. selalu yaaaa tulisanmu melelehkan hati ini. 😍😍😍😙 ___tj

    BalasHapus