Rabu, 20 Desember 2017

Nikah dulu atau kuliah dulu? Bernapas dulu aja sist.



Belakangan ini sering berseliweran foto meme “Nikah dulu atau kuliah dulu?” saya jadi tergelitik hati sampai tidak bisa tidur memikirkannya (lebay tralala). Karena penasaran, saya mewawancarai empat narasumber denganmasing-masing jenjang pendidikan yang berbeda, mulai dari diploma tiga, sarjana, dan magister. Kira-kira begini hasilnya.
Rizka, nama sebenarnya, memutuskan menikah dengan pria yang telah dipacarinya sedang ia masih ada tanggungan yaitu kuliah pada tingkat akhir. Ia cukup berani mengambil keputusan besar, bagaimana tidak di usia duapuluh dua dimana saya masih lalal yeyeye mencari pria yang serius, ia malah sudah menentukan untuk menikah. Begini jawabannya ketika ditanya apa alasan terkuat untuk memutuskan menikah sambil kuliah mengambil jurusan pemasaran jenjang diploma di salah satu universitas negeri di Bandung.
“Aku yakin untuk menikah, pengen lebih dekat ke kebaikan, karena aku tahu pacaran itu semakin lama semakin nggak baik, semakin jauh dari agama. Percuma aku sempurnain ibadah aku, sholat aku, puasa aku, tapi aku masih pacaran, masih menyimpan perassaan sama lawan jenis yang bukan muhrim. Nyimpen perassaan aja dosa, apalgi tatap-tatapan, pegangan, atau bahkan..... terusin sendiri lah ya. Tapi disisi lain aku butuhin sosok a Valdi (pria yang jadi suamiku) buat nemenin aku, ngelengkapin aku, menguatkan aku, jadilah jalan satu-satunya ya menikah.”  Lain lagi dengan Asri (nama sebenarnya juga) yang memutuskan menikah ketika ia belum lulus S1.
“Buat aku nggak ada istilah terlalu muda atau telat menikah, kalau udah waktunya, ada jodohnya, yaudah sikat! Aku suka deket-deket sama lawan jenis tapi terlampau takut sama adzab Allah, jadi yaaa selametin aja. Secara pribadi, aku pernah sakit sama laki-laki terus berdoa sama Allah minta ganti yang lebih baik, ketika doski (keliatan banget Asri remaja era duaribuan) dateng aku dikasih keyakinan aja gitu, karunia lah eta mah.
Lain lagi dengan Nadia dan Mika yang memutuskan menikah ketika tesisnya belum selesai. Mika sebenarnya menikah nggak yakin-yakin amat, karena calon suami dan dirinya berada di pulau yang berbeda, LDR pun menghantui pikirannya. “Namun, sekolah lebih tinggi adalah sebuah permintaan dari suami karena sebelum menikah suaminya mempunyai visi bahwa istri harus punya pendidikan lebih tinggi.” Sungguh visi yang mulia, dimana pria kebanyakan justru takut tersaingi atau enggan mempunyai pasangan dengan tingkat pendidikan lebih tinggi. Sedangkan Nadia, seorang dosen di universitas negeri ternama juga merangkap sebagai selegram menyatakan bahwa pernikahan adalah sarana untuk menyempurnakan separuh agama. “Ayah selalu bilang bahwa pendorong kedua orangtua adalah dengan aku menjadi istri yang taat pada suami, aku nggak bisa ngasih banyak hal ke ayah ibu, dengan menilkah aku ingin kedua orang  tuaku bisa masuk surga. Aku Cuma ingin ibadah.”
Eh pernah denger kabar pernikahan Taqi  si hafidz muda dan Salma anaknya pengacara kondang itu ga? Tenang, saya bukan mimin lambe-lambean yang akan menggosipkan disharmoni rumah tangga mereka, namun dari situ bisa dilihat kan (nggak usah diraba apalagi diterawang) kalau ternyata menikah sambil kuliah itu tidak semudah menyeduh pop mie. Ditambah long distance marriage yang kadang kalo kangen nggak cukup dadah-dadah atau kedip-kedipan doang lewat video call. We want moooorrrre! Usap-usap rambut misalnya, atau pilllow talk membahas siapakah yang keluar terleebih dahulu, ayam atau telur (yakali). Setelah menikah, kebutuhan afeksi jauh lebih tinggi. Bukan sekedar ditanya udah makan atau belum, bukan sekedar ditanya kamu dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa. (You sing ,you loose!)
Lalu tantangan apa saja yang dialami ketika memutuskan menikah sambil kuliah? Berikut jawaban dari mereka.
1.      Manajemen Waktu
Keempat narasumber mengakui bahwa hal yang paling menantang adalah manajemen waktu, dimana harus kejar target antara menyelesaikan tugas akhir kuliah dengan keingin untuk selalu terus bersama pasangan. Ketika bisa menyelesaikan satu pekerjaan dalam satu rentang waktu, itu bagus. Tapi menyelesaikan dua pekerjaan dalam satu rentang waktu, itu membutuhkan keterampilan khusus.
2.      Rasionalisasi Pikiran
Menjadi pengantin baru sungguh indah aduhai dan berasa memiliki dunia dengan pasangan. Nah mereka yang memutuskan menikah sambil kuliah harus menerima kenyataan bahwa hari-hari setelah menikah harus dijalani dengan seperti biasanya, apalagi jika pasangan berada jauh berbeda pulau, meski rindu atau ingin bertemu harus menghadapi kenyataan bahwa harga tiket pesawat tidak semurah harga baso tusuk. Kalau begitu khawatir dong dengan nafkah? Jelas tidak. Sebagaimana janji Allah bahwa menikah berarti membuka rezeki bagi mereka yang menikah asalkan ikhtiar dan berdoa. Inget, ikhtiar dan berdoa yah.
3.      Kalau Hamil Bagaimana?
Tenang, tenang sodara-sodara. Anda hamil bukan tanpa ayah si jabang bayi kan? Ada yang bertanggungjawab kan? Kehamilan adalah hadiah besar yang bisa jadi ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan, menulis tugas akhir sambil hamil? Bisakah? Bisa bisa aja kok. Bahkan kabarnya beberapa dosen akan luluh jika melihat mahasiswa bimbingannya sedang hamil, bukan berarti hamil dijaddikan alasan untuk bermanja-manja loh ya. Camkan!
Ketika hamil muda, beberapa wanita ada yang mengalami mual luar biasa atau ada juga yang biasa saja. nah, tantangannya ada pada menghalau rasa mual, pusing, eneg, dengan sesuatu yang tidak kalah pusing yaitu persoalan kuliah.Lawanlah badai dengan tsunami, lawan kemualan dengan sesuatu yang tidak kalah memusingkan, niscaya akan sedikit kleyengan eeeh tenang..tenang ada kangmas yang siap memijit kaki kita bahkan siap menyuapi kita yang kehilangan nafsu makan.
4.      Ibadah Tidak Pernah Mudah
Saya teringat kalimat yang dilontarkan dosen kemahasiswaan kala itu “Menikah adalah ibadah, menuntut ilmu juga ibadah. Nah, kenapa tidak dua jenis ibadah dilakukan dalam satu waktu.” Saya pun sempat bertekad nikah muda sebelum berusia duapuluh tiga, apa daya tidak ada pria yang datang (malah curhats) Tetapi sungguh menikah sambil kuliah tidak semudah mengucapkannya, urusan kuliah entah itu tugas yang menumpuk, dosen pembimbing yang sulit dihubungi, kemalasan yang hinggap di ubun-ubun, beberapa pelakunya ada yang menyerah menyudahi kuliahnya.
“Ya perempuan kan nanti paling urusannya sekitar dapur, kasur, dan sumur”
Sesungguhnya, permasalahan perempuan saat berumah tangga tidak seputaran itu-itu saja sist, ada banyak hal yang harus perempuan bisa, problem solving salah satunya. Nah di kuliah ini bukan hanya semata demi mendapatkan angka kuantitatif semata di Kartu Hasil Studi, tapi lebih luas daripada itu.
Namun, banyak juga yang enggan menyerah dan bersikukuh menyelesaikan kuliahnya sampai tuntas.
Percayalah, jalan menuju surga itu berliku, berkelok, bahkan terjal dilalui. Bukankah surga yang indah tidak akan dicapai dengan mudah?
Kok jadi dakwah?


Tulisan ini bukan untuk memprovokasi teman-teman agar menikah ketika masih duduk di bangku kuliah, hanya sekedar gambaran bahwa menikah sambil kuliah tidak semudah postingan para selegram, tidak seindah seperti lagu-lagu syahdu yang mengajak kalian berjalan bersama dalam terik dan hujan. 
segala sesuatu yang dilakukan memang akan ada keuntungan ataupun tantangan, karena sesungguhnya hidup adalah rangkaian dari keputusan-keputusan kecil yang didalamnya terdapat paket-paket resiko yang siap muncul ke permukaan, pilihlah resiko yang siap untuk diambil.

Baik, begini kalau bingung mau kuliah dulu atau nikah dulu mending napas dulu aja yha sist.





Minggu, 26 November 2017

Body Image Dissatisfaction

“OMG Aku gendut banget"
"Gila pipi tumpah-tumpah kayak adonan kue cubit"
"Buset ini paha apa guling sih?"
"Pokoknya aku ga boleh makan, aku harus kurus"
"Ini berat badan terberat selama aku hidup"
Begitulah Ceu Kokom setiap melihat cermin di depannya, lalu setiap pagi dan sore menimbang berat badannya jika bergerak ke arah kanan Ceu Kokom menjadi gusar gundah gulana serta menahan nafsu makannya dengan sedemikian kuat hingga berkali-kali masuk rumah sakit akibat tiphus. Ceu Kokom ini terobsesi sekali untuk kurus, entah apa motivasinya. Namun, jika dilihat dari pengalaman masa lalunya, rupanya Ceu Kokom pernah diputuskan pacarnya gara-gara menjadi gendut. Entah berapa banyak nasehat dari teman-temannya, orangtua, bahkan dosen penguji skripsi Ceu Kokom yang seorang profesor mengancam bahwa status kesarjanaanya akan dicabut serta skripsinya yang membahas mengenai 'self acceptance' dinyatakan gagal apabila si Ceu Kokom masih saja berpikiran bahwa dirinya gendut. Kegilaan si Ceu Kokom makin menjadi, ia pernah menangis tersedu-sedu di tempat parkir hanya karena dikatai gendut oleh teman kuliahnya, padahal itu hanya candaan belaka. Segala diet telah dicoba mulai dari diet mayo, diet paleo, diet detox, sampai puasa mutih ala kejawen dijabanin demi mendapat bodi yang aduhai. Oh bukan hanya diet, si Ceu Kokom setiap hari jogging selama satu jam di pagi hari dan aerobik di sore hari dengan menjaga makanan sangat ketat, apa yang terjadi? Ceu Kokom dilarikan ke rumah sakit karena mengalami peradangan usus besar, ini mungkin terjadi karena Ceu Kokom sering mencoba berbagai merk pelangsing mulai dari pil, pencahar, teh daun jati cina,teh daun jati belanda, tinggal air waduk Jatiluhur yang belum dia tenggak. Ceu Kokom menderita tiphus sudah entah keberapa kalinya sampai dokter yang menangani bilang "Kalau kamu tiphus lagi urusannya bukan dengan saya ya, tapi dengan penggali kuburan."
Ceu Kokom sungguh ketakutan, bagaimana kalau ia mati sedang menikah saja belum. Kemudian singkat cerita Ceu Kokom bertemu dengan Mas Paijo, seorang pria yang meyakinkan hatinya, mengembalikan kepercayaan dirinya, merekonstruksi pikiran Ceu Kokom yang sepertinya sudah konslet karena selalu tidak puas akan bentuk badannya, mereka menikah dan hidup bersama, bahagia sewajarnya. Iya sewajarnya, karena selamanya terlalu lama, begitu kata Bung Fiersa Besari. Mas Paijo lelah karena Ceu Kokom selalu bertanya "Sayang aku gendut ya?"
Akhirnya Mas Paijo membelikan Ceu Kokom cermin berukuran 2x1 meter.
"Agar kamu tidak selalu mempercayai angka di timbangan, lihat dirimu Kokom, lihat badanmu."
Ceu Kokom pun menjadi rajin berolahraga sambil mengurus buah hati mereka, melakukan gerakan-gerakan yang diconteknya dari youtube, Ceu Kokom mulai makan dengan benar, kini badannya berangsur-angsur membaik. Juga mentalnya alhamdulilah lebuh waras dari sebelumnya meski kadang kambuh dan harus agak ditampol sama Mas Paijo.


Ilustrasi diatas menjelaskan bahwa Ceu Kokom mengalami Body Image Dissatisfaction.
Apa sih maksudnya?
Body Image Dissatisfaction, adalah uatu gejala pada individu yang memandang rendah akan bentuk tubuhnya. Menurut penelitian body image adalah komponen yang penting dalam hidup manusia karena apabila terdapat gangguan pada body image dapat mengakibatkan ketimpangan dalam banyak hal, misalnya rendahnya self esteem, gangguan pola makan, diet yang tidak sehat, depresi dan juga anxiety (kecemasan). (Striegel_moore & Franko dalam Cash & Prurinsky, 2012)
Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa ketidakpuasan akan bentuk tubuh ini bisa terjadi, namun faktor yang paling mempengaruhi adalah sosiokultural. 
Masyarakat menentukan standar sosial mengenai apa yang cantik dan menarik. (Heinberg dalam Thompson, 2000)
Pernah nonton iklan salah satu susu bubuk dengan tagline "Tumbuh itu keatas, bukan ke samping."?
Atau beberpa iklan pelangsing badanyang menyajikan wanita dengan tubuh gemuk tidak dilirik pria namun digandrungi pria setelah kurus dan mengkonsumsi pelangsing tersebut?
Individu yang mengalami body image dissatisfaction adalah sasaran empuk produk-produk seperti ini. Secara tidak sadar kita digiring dalam standar bahwa cantik itu kurus, tinggi, langsing. 


Lalu, bagaimana agar waras menyikapi body dissatisfaction?
1. Waraskan Pikiran 
Kalau perlu menyertakan data dari seribu orang bertanya apakah anda gendut atau tidak sebarlah angket, buat survei kecil-kecilan (seribu mah nggak kecil woi), tapi apalah artinya seribu orang yang mengatakan anda tidak gendut tapi otak anda terus menerus berkata bahwa anda gendut. Siapa yang salah? Jokowi? Ahok? Buni Yani? Sandiaga Uno? STOP. Mari berpikir lagi, lengkapkah panca indra anda? Alih-alih ingin mendapatkan badan yang ideal, membuat lupa bersyukur akan nikmat yang sungguh tidak dihitung banyaknya. Barangsiapa yang bersyukur akan ditambahkan nikmatnya bukan? Daripada sibuk mengurangi kalori yang masuk, berpikir bahwa makanan itu musuh yang bisa membuat badan bengkak, mari bersyukur di belahan bumi bagian lain ada manusia yang tidak bisa makan sama sekali. Daripada terus menerus memperhatikan jarum timbangan, mari memelihara badan dengan berolahraga, manfaat dari berolahraga sudah pasti sangat banyak, bonusnya adalah berat badan stabil. Lalu jika sudah kurus mau apa? Akankah Tuhan menanyakan berat badan anda di pintu surga? Yang akan ditanya justru bagaimana anda memelihara titipan dariNya berupa badan yang lengkap, sudahkah digunakan dengan kegiatan yang berguna? atau hanya terus menerus meratapi mengeluhkan lemak yang sulit pergi dari perut bagian bawah. (Ngomong sambil ngaca di cermin bedak wardah yang sudah somplak). 

2. Cari Kegiatan yang Melibatkan Kerja Otak
Terlalu banyak memikirkan bentuk badan, kadang membuat otak bekerja santai alias tidak dipakai. Pelajari hal baru yang belum pernah dicoba. Tapi kalu ngak bisa gimana dong? Ubah persepsi "Ini bukan bidang gue deh." menjadi "Oh oke, Gue pasti bisa kok kalau belajar dikit-dikit"
Masuk dalam komunitas yang memberikan energi positif, banyak kok penulis hebat, fotografer handal, penggiat yoga bahkan fashion designer yang bentuk tubuhnya biasa saja, tidak seperti artis Korea namun karya mereka dinikmati banyak orang bahkan mendunia. Ada banyak hal baru yang bisa dikerjakan lalu mengapa terus-menerus memusingkan bentuk badan lantas mengistirahatkan orak untuk berkarya?

3. Berada di Lingkaran penuh Cinta
Pasti punya beberapa orang terdekat yang berpengaruh kan? Jika mereka masih menerima ketika gendut, kurus, kulit menggosong terkena matahari atau rambut mendadak seperti singa, lantas apa masalah anda? Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dua telinga dan dua tangan. Seolah Tuhan ingin bilang "Terserah Lu mau dengerin komentar orang atau tutup kuping Lu dari komentar yang bisa bikin down."Sahabat yang baik nggak akan peduli kok seberapa gendut, berapa banyak jerawat, berapa jumlah garis halus di sekitaran wajah, mereka akan terus support bahkan mengingatkan ketika mulai belok-belok putar haluan nggak karuan. 
"Saya kan langsing untuk membahagiakan pasangan." Benarkah? Coba tanya pasangan, apa sih yang sebenarnya diinginkan? Jangan-jangan itu hanya obsesi dari kita semata. 

4. Makan Benar dan Olahraga
Percuma diet ini itu dilakukan jika tidak diiringi olahraga. Kenapa bisa berkata demikian, percayalah bahwa si Ceu Kokom itu ilustrasi nyata akan hidup saya. Mati-matian menjaga makan, diet segala rupa malah membuat otak saya agak dongo dan nggak nyambung kalau diajak ngobrol. Saya mengubah cara makan saya, boleh lah sekali-kali makan seblak, makan bakso, tapi diimbangi makan sayur juga. Nah olahraga poin terpenting, nggak perlu ke gym kok, cukup di rumah dengan gerakan-gerakan sederhana seperti squat, push up, sit up, plank, mountain climber. Udah kurus? Target saya bukan kurus, tapi sehat. Kalau dahulu saya tiphus lalu berakhir di tangan tukang gali kubur, saya mati ya sendirian nggak ada tanggungan. Kalau sekarang, ada dua nyawa yang harus aya urus, anak dan suami. Olahraga membuat badan saya segar, otot saya terbentuk meski belum kayak Andien atau Agnes Mo, berat badan saya ya gitu-gitu aja. Bedanya, saya merasa lebih bahagia, timbangan geser ke kanan dua angka ya wajarlah. Dari 24 jam yang Tuhan kasih, sisishkan tiga puluh menit atau satu jam untuk berolahraga. Bisa jalan kaki, aerobik, zumba, atau kalau yang sudah menikah bisa melakukan sexercise. *disleding*


Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud secuil upil pun menggurui, hanya berbagi pengalaman saja. Saya alias Ceu Kokom yang pernah merasakan lelahnya mati-matian menjadi kurus, stres bila melihat timbangan naik, menahan tidak makan ketika teman-teman asyik menikmati makanannya di resto favorit, hanya makan oatmeal yang kata adik tingkat saya bentuknya lebih mirip makanan ayam. Saya yang seperti remahan serundeng ayam goreng Suharti bisa pelan-pelan keluar dari kecemasan yang berlebihan dan ketidakpuasan akan bentuk tubuh kok, apalagi kamu. Iya kamu :*




Contoh home workout

Contoh home workout (lagi)



Rabu, 08 November 2017

Menyapih Dini

Kali ini saya akan membahas mengenai penyapihan pada anak. Sebuah kegiatan yang cukup menguras energi, dibumbui drama.
Saya pernah membaca sebuah kultwit dari dokter @ryuhasan bahwasannya menyusui mempunyai efek adiksi pada ibu, kenapa bisa? Menyusui secara langsung memberikan efek rileks, merasa dibutuhkan dan membuat bahagia. Ketika menyusui berhenti tidak heran ada sedikit drama, berasa ada yang hilang, seakan anak tidak bergantung sepenuhnya pada ibu.
Anak saya, Kinanti menyapih dirinya sendiri pada usia 18 bulan. Semua berawal dari flu Singapore yang hinggap di tubuhnya lantas mulutnya dipenuhi sariawan sangat banyak. Mungkin ketika menyusu, sariawan tersebut terkena puting dan perih. Ia jadi trauma melihat payudara, salah satu ART tetangga saya menyarankan agar payudara saya diurut atau diruwat, katanya sih digandoli setan. Enak bener jadi setannya yha????
Oke lanjut, saya tidak melaksanakan apa yang ART tersebut sarankan. Yakali keenakan yang ngurut, yakali setan mana juga gelendotan di payudara.
Awalnya saya menangis tidak berhenti ketika Kinan menolak menyusu, stress, murung, merasa tidak berharga. Otomatis produksi ASI menurun drastis, saya perah dan berusaha meminumkan ASI, ternyata Kinan tetap tidak mau bahkan setelah sembuh dari flu Singapore-nya.
Saya berusaha berkomunikasi, membujuk. "Yuk nak, kan kemarin mah nggak mau karena sakit, sekarang kan udah sembuh, yuk nenen yuk?" 
Tetap menggeleng menolak.
Usaha berbagai cara sudah dilakukan dan tetap menolak. Kinanti menolak dot, karena salah saya sih sejak bayi tidak dikenalkan. Lebih parahnya, ia bisa membedakan mana ASI dan susu UHT, lebih memilih susu UHT yang rasanya lebih gurih-gurih nyoy. Jadi Kinanti fix lepas ASI pada usia satu tahun setengah.

Saya seolah ditegur dengan ada kejadian ini beberapa orangtua bukankah menginginkan anaknya mandiri? Menginginkan anaknya bisa mengambil keputusan yang ia yakini? Lalu mengapa saya memaksakan alih-alih demi kebaikan anak sendiri.
Banyak hal yang harus disyukuri, ketika ibu-ibu diluar sana mewarnai payudaranya dengan lipstik, mengolesi dengan botrowali, atau mencoret-coret memakai betadine agar anaknya berhenti menyusu justru saya seolah dimudahkan, dibebaskan dari kesulitan menyapih.
Mungkin saya tidak bisa mencukupi kebutuhan ASI Kinan hingga S3 tapi ya siapa tahu kelak di masa depan justru Kinan sekolah hingga S3 di luar nagrog sehingga saya bisa nengok sambil bawa oseng cumi asin juga nasi liwet (oke ini mulai halu dan ngaco)


Menyusui bukan perkara mudah ternyata, bukan sekedar menaruh puting payudara di mulut anak, memberi 'makanan' pada anak berbentuk ASI, jauh lebih rumit daripada itu. Ada kelekatan tersendiri ketika proses menyusui langsung dimana anak dan ibu saling bertatap, ada semangat memompa ASI pada ibu yang bekerja, yang juga berarti perjuangannya tidak berarti lebih mudah, bawa cooler bag kemana-mana, belum botol-botol untuk ASI perah juga freezer tambahan untuk penyimpanannya. 
Lalu apakah ibu yang memberikan susu formula tidak berjuang? 
Nggak juga.
Ketahuilah susu formula lebih ribet persiapannya, ya kadang kesiram air panas, ya memastikan dot steril, ya ngecek harga promo di swalayan.
Ibu mana sih yang tidak memberikan sesuatu terbaik untuk anaknya?
Apapun susunya, bagaimana pun bentuknya, berapapun ukurannya (eh gimana?) Kesemuanya adalah usaha memberi asupan nutrisi bagi anak. 
Semangat para ibu dan calon ibu.
Mengutip perkataan teman saya yang diambil dari salah satu merk ternama
"Feeding your baby, not your freezer"


 *gambar diambil dari google














Jumat, 03 November 2017

Hari Ibu Rumah Tangga

"Ibu rumah tangga terbukti lebih stres daripada wanita karier"
Dikutip dari salah satu postingan di instagram yang mana kalimat tersebut hasil studi penelitian di Pennyslavenia State University. Dari postingan tersebut juga saya baru tahu bahwa ada hari ibu rumah tangga. Pernahkan bermimpi bercita-cita jadi ibu rumah tangga? Kalau saya tidak,
Sebelum menikah saya adalah mahasiswa yang hobi sekali jalan. Literally jalan kaki, waktu di Bandung saya pernah berjalan kaki dari Ngamprah ke Ledeng, dari Ledeng ke Cicaheum, begitu pun ketika di Malang hobi jalan tetap saya jalankan. Kebanyang kan bagaimana kagetnya manusia macam saya yang biasanya haha hihi lalala yeyeye menghadapi masalah terberat kalau nggak tugas kuliah tiada henti atau dosen pembimbing tesis yang sulit ditemui kemudian tiba-tiba dihadapkan dengan pekerjaan rumah tangga yang sungguh tiada habisnya.
Stress?Jelas, sering saya menangis bahkan meratapi “Kok gue kuliah jauh-jauh Cuma buat jadi IRT sih?” Lalu kenapa tidak mencoba mencari pekerjaan? Sudah, sayangnya belum ada CV saya yang tertambat pada sembilan PTN dan PTS di jabodetabek. Kemarin, ketika mengisi form KTP baru, saya sempat teridam lamaaaa sekali di kantor kecamatan, pekerjaan di KTP dahulu tertulis mahasiswa kini berganti menjadi mengurus rumah tangga. Hanya mengurus rumah tangga? Hanya? Beneran ‘hanya’? Lalu akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri dan kenyataan. Baik, mari kita bahas bagaimana saya sedikit demi sedikit keluar dari zona stress yang saya alami.
Sebelum menjadi IRT pasti kita punya hobi tapi setelah negara api menyerang, maksud saya setelah menjadi IRT boro-boro memikirkan hobi, yang ada hanyalah pekerjaan rumah yang dari mata terbuka hingga menjelang tidur. Lihat iklan sunlight terbaru di Youtube deh, pesan yang disampaikan bagus. “Memakai sunlight meringkas waktu untuk mencuci piring sehingga ibu bisa melakukan passion yang diminati.” Meskipun maksudnya promosi tapi ada benarnya juga, sebagai IRT harus cermat dalam mengatur waktu. Nah, mengenai hobi lakukan ketika anak sudah tertidur atau ketika pekerjaan selesai. “Kan pekerjaan rumah nggak ada selesainya?” Benarkah pekerjaan rumah tidak ada selesainya? Atau diri kita yang terlalu nge-push diri sendiri. Misal, mencuci baju sebenarnya bisa dilakukan dua hari sekali atau jika punya dana lebih londri kiloan. Memasak? Seperti kata Ale di film Critical Eleven, membangun rumah tangga tidak sama dengan membangun restoran, masak yang simpel tapi bergizi, telur dadar dengan oseng kangkung misalnya. Lalu bagaimana dengan MPASI? (jika sudah memiliki bayi yang mulai makan) berilah anak kita makanan yang biasa kita makan, supaya kelak ketika sudah besar tidak kaget dengan menu makanan keluarga, atau kalau kepepet kan banyak tuh bubur MPASI homemade yang dijual setiap pagi kalau nggak salah namanya ‘Baby-Q’.
Luangkan waktu paling sedikit satu jam setiap hari untuk melakukan apa yang paling kita sukai, bisa menggambar, bernyanyi karaoke di youtube, berolahraga meski tidak ke tempat gym sekarang banyak kok aplikasi home workout yang bisa di download pada ponsel pintar kita masing-masing, saya pribadi suka sekali membaca, menonton film dan menulis. Luangkan saja satu jam untuk kegiatan tersebut, supaya mental kita tetap sehat. Jangan lupakan juga makan sehat dan benar, kadang menjadi IRT lebih memikirkan suami dan anak sehingga lupa pada diri sendiri, sempatkan waktu berolahraga, entah itu hanya push up, sit up, atau jalan keliling sekitaran rumah dan menyapa tetangga tapi nggak usah juga kelamaan bertetangga, alih-alih bersosialisasi malah menjadi gosip kesana kemari. Berolahraga bukan hanya ingin langsing semata (itu mah saya keleus), tapi dengan berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon endorfin yang menimbulkan perasaan senang.
            Beberapa teman-teman mungkin hobi berjualan online nah itu sebuah hobi yang menghasilkan uang sehingga dapat menambah pundi-pundi kas keluarga.  Saya sempat tergrlitik ketika dikomentari “Tapi menulis adalah hobi yang nggak ada uangnya.” Seperti kata Velope Vexia di Film Cinta Laki-laki Biasa “Terlalu sempit jika kebahagiaan diukur dengan materi. Ketika akhir pekan ajak suami ke tempat rekreasi entah itu taman kota, perpustakaan, kolam renang atau mall. Semoga bapak-bapak diluar sana membaca tulisan ini, bahwa ibu perlu dijaga kesehatan mentalnya, rekreasi tipis-tipis tidak akan membuat kantong menjadi tipis.  Lalu bagaimana dengan menyikapi pekerjaan rumah yang membosankan dan itu-itu saja setiap hari? Sebagai pemilik rasi bintang gemini saya dikaruniai sifat yang mudah sekali bosan, tapi saya disentil oleh kata-kata “Setiap pekerjaan rumah tangga yang kamu lakukan, jika diawali dengan bismilah bernilai ibadah.”
Dari situ saya berpikir, bahwa hidup menjadi IRT adalah pekerjaan yang penuh dengan ibadah. Katanya jaminannya surga, jika dilakukan dengan ikhlas. Apalagi wanita yang bekerja, mempunyai karir yang hebat lalu berperan juga sebagai IRT, WOW! Sembah sujud buat mereka.
Percayalah, sebuah keluarga tidak memerlukan ibu yang sempurna, hanya memerlukan ibu bahagia.


Selamat hari ibu rumah tangga :*

*Aisha, IRT yang CV nya ditolak sembilan kali lalu bermimpi menjadi pelancong literasi
**Gambar dari google

Selasa, 31 Oktober 2017

Review Kumpulan Cerpen 'Lekat'

Beberapa hari ke belakang saya diberikan kesempatan untuk membaca kumpulan cerpen yang ditulis oleh teman-teman dead poet society, kumpulan cerpen ini bukan cerpen biasa melainkan ada teori psikologi yang menjadi latar belakangnya, mengapa demikian? Karena para penulisnya adalah para mahasiswa jurusan psikologi. Bagi saya pribadi cerita-cerita yang dikemas cukup mudah dicerna, di akhir tulisan masing-masing penulis menginfokan teori apa yang mereka ambil. Karena latar belakang pendidikan saya adalah bimbingan konseling yang setidaknya bersinggungan dengan teori psikologi, kumpulan cerpen ini cukup membantu, jika dahulu saya sering bingung ketika membaca materi teori psikologi, dengan membaca kumpulan cerpen ini guratan garis di dahi saya setidaknya berkurang berubah menjadi senyuman tipis-tipis “Oh begini toh maksudnya teori ini.” Oh iya kumpulan cerpen ‘Lekat’ ini juga dilengkapi ilustrasi gambar yang cukup bagus loh, jadi nggak bosan bacanya. Cerita-ceritanya menarik, membuat saya enggan berhenti membaca sampai selesai.
Di cerpen yang berjudul ‘Marina dan Aku’ ada kalimat yang membuat hati saya terpelatuque (So zaman now), disitu tertulis bahwa konselor sekolah belum berperan aktif bagi siswa yang memutuskan putus sekolah dan menikah. Ini PR tambahan bagi saya dan teman-teman yang berkutat di dunia bimbingan dan konseling, bagaimana agar peran konselor di sekolah menjadi optimal.
Kesalahan dalam menulis yang paling sering terjadi adalah salah ketik (saya pun masih belajar dalam hal itu), ada beberapa kata yang tidak lengkap hurupnya. PR bagi penulis cerpen adalah bagaimana membuat cerita benar-benar singkat, alur ketat seketat legging teteh jus di geger kalong girang (WOI!!!!), beberapa cerpen terlalu menghadirkan banyak tokoh sehingga akan menimbulkan kebingungan bagi pembaca. Overall bagus kok, saya rasa kumpulan cerpen ini layak terbit dan layak baca terutama bagi kalian mahasiswa baru yang mata kuliahnya bersinggungan dengan teori-teori psikologi.
Saya bukan penulis beneran, hanya ibu rumah tangga yang nekat terjun ke dunia literasi. Kayaknya nggak berhak juga sih menilai ini bagus atau tidak. Tapi saya ingat salah satu dosen pembimbing tesis saya pernah bilang “Karya yang baik adalah karya yang selesai.” Kalau dari ungkapan tersebut berarti kumpulan cerpen ‘Letak’ ini bisa dibilang karya yang baik.

Saya yakin, para penulis kumpulan cerpen ini adalah orang-orang yang cerdas. Kenapa bisa? Orang yang beneran cerdas bisa menyederhanakan sesuatu yang sulit sedang orang yang ingin terlihat cerdas selalu menggunakan kata-kata rumit agar terlihat keren dan sulit dimengerti orang lain. 

Rabu, 25 Oktober 2017

Review Film Cinta Laki-laki Biasa

Film Cinta Laki-laki Biasa ini diangkat dari novelnya Asma Nadia, diperankan oleh Velope Vexia sebagai Nania dan Deva Mahenra sebagai Rafli. Film yang bernuansa romansa namun dibumbui pesan-pesan dalam menjalani hidup. 
Adalah Nania, seorang putri bungsu dari empat bersaudara dilahirkan di keluarga yang kaya raya mahasiswa tingkat akhir trknik arsitektur namun justru memilih tempat praktek di sebuah proyek perumahan sederhana. Kayaknya cuma di film ini kita bisa melihat Velope yang tangannya mulus memegang cangkul, mengaduk semen juga memelester tembok dengan adonan.
Keluarga Nania menginginkan putrinya jatuh pada tangan yang tepat, dijodohkanlah dengan seorang dokter otak lulusan Jerman bernama dr.Tio diperankan oleh Nino Fernandez yang belakangan saya telisik kok mirip Pak Sandiaga Uno ya? Oke Skip.
Tapi hati Nania sepertinya telah jatuh pada Kang Rafli, pemuda asal Pangalengan yang menjadi mentornya ketika praktek kerja lapangan. Apa sih istimewanya Kang Rafli? Di mata Nania, Rafli ini antik seantik mobil datsun tuanya yang berwarna biru muda. Rafli memilih untuk tidak berpacaran dalam proses pencarian jodohnya. dari Rafli juga Nania mengenal istilah taaruf, pendekatan yang dilakukan dalam rangka membina hubungan rumah tangga. "Laki-laki yang berani untuk mengajak perempuan taaruf adalah laki-laki yang yakin bahwa perempuan itu cocok untuknya." Ujar Rafli pada Nania.
Rafli datang pada Nania setelah dua tahun tanpa bertegur sapa bahkan tanpa kontak sekalipun. Rafli meminta Nania untuk melangkah ke jenjang yang lebih jauh yaitu menikah. Nania mengiyakan, mengenalkan Rafli pada keluarga besarnya. Ada adegan lucu sekaligus menegangkan, dimana Rafli diintogerasi oleh Ayah dan ketiga kakak ipar Nania. Perlu diketahui, ketiga kakak iparnya ini adalah orang-orang hebat. Yang satu politikus ternama, yang kedua pengusaha kaya, ketiga dosen psikologi yang pendidikannya tinggi. Sedang rafli hanya lulusan diploma tiga, dicibir mengapa tak mengambil strata satu saja, jawaban Rafli sederhana "Saya ingin cepat bekerja."
Ketiga kakak perempuan Nania berusaha mencari cara agar Nania tidak menikah dengan Rafli, sayangnya semua usaha itu terbantahkan dengan tekad kuat Nania bahwa ia benar-benar ingin Rafli meuntunya ke surga.
Rafli dan Nania menikah dengan mahar seperangkat alat sholat, perhiasan seberat sepuluh gram dan sekaleng cat tembok berwarna biru yang merupakan warna favorit Nania, Mengapa harus cat tembok? Karena Rafli menginginkan yang mengecat kamar utama di rumahnya adalah perempuan yang mendampinginya. 
Nania pun hamil, namun mengalami pendarahan dan bayi yang dikandungnya dilahirkan secara prematur. Ibu beserta ketiga kakak perempuannya mengasihani Nania, berpikir bahwa Nania hidup dalam kesusahan, penuh penderitaan karena menikah dengan seorang pria yang tidak kaya raya. 
"Kebahagiaan terlalu sempit jika cuma dimaknai dengan materi." DHUAR! Kalimat Nania itu menampar ketiga kakak perempuan dan ibunya.
Tekanan dan cobaan tiada ada habisnya pada pernikahan mereka setelah dikarunaia dua anak, Yasmin dan Yusuf. Nania harus masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan parah, sedang niat awalnya ke rumah ssakit adalah menengok salah satu kakaknya yang mencoba bunuh diri akibat pasangannya si politikus handal tertangkap tangan oleh KPK.
Nania mengalami amnesia, tidak ingat apapun. Plot twist, dokter yang merawat Nania adalah Tio, yang gagal dijodohkan oleh ibu Nania. 
Rafli, laki-laki yang biasa-biasa namun menjadi luar biasa. Ia mengambil alih mengurus kedua anaknya, tetap bekerja sebagai mandor di proyek bangunan dan selalu berdoa berserah diri pada Allah. Ingatan Nania tidak kunjung pulih, kedua orangtuanya ingin membawanya ke Jerman. Rafli meminta waktu selama tiga hari untuk membawa Nania ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, ke lapangan proyek bangunan dimana kuli-kuli sering bercanda bersenda gurau serta mengadduk adonan semen dan pasir bersama Nania, lalu rumah tempat mereka tinggal yang mana dibangun dari hasil gotong royong oleh anak buah Rafli, tapi Nania masih belum juga ingat. Rafli kemudian mengajak Nania ke Pengalengan, kerumah ibu Rafli karena dulu Nania sempat ingin lama tinggal disitu, Nania ingin pergi dari hiruk pikuk keluarganya yang memulu membicarakan harta benda. Dari situ ingatan Nania mulai terbangun sedikit demi sedikit. Nania meminum seteguk kopi hitam kental dengan sedikit gula milik Rafli, begitu seleranya ketika dahulu ingatannya masih baik. Rafli menceritakan semua apa yang pernah mereka jalani, Nania berangsur membaik namun belum juga mengingat semuanya sampai akhirnya Rafli menyerah dan menyetujui saran orangtua Nania untuk menjalani pengobatan di Jerman. 
Nania marah, ia memang tidak bisa mengingat semuanya namun ia ingin membuat kenangan baru yang jauh lebih baik dari kenangan sebelumnya, ia mengaku akan belajar mencintai Rafli. namun menurut Rafli, cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari namun ia tumbuh dalam berbagai kenangan masa lalu. 
DHUAAAR! Tiba-tiba ada petir menggelegar, spontan Nania berteriak sambil mengahambur ke arah Rafli, memeluknya. Itu kebiasaan nania sejak dulu, selalu takut dengan petir.
Tiba-tiba ia mengingat semuanya, entah akrena petir atau karena memeluk Rafli.
Yaah.. nggak jadi deh ke Jermannya. *penonton rese*

Film ini membuat saya menangis sesenggukan, bukan karena makin hari saya makin nggak mirip sama Velope Vexia. *dijorokin ke sungai*
Tata gambar yang dimiliki film ini sangat baik.Chemistry antar pemain dapet banget. 
Yang bilang kalau orang Sunda seneng sama hal-hal berbau kemewahan dan bisanya ngegaya doang kayaknya terbantahkan oleh sosok Rafli yang pekerja keras, sederhana, berkemauan keras dan pantang menyerah dalam keadaan tersulit pun. 
Indoensia butuh film seperti ini, nggak melulu menjual mimpi-mimpi ala sinetron India yang megah bermewah-mewah lalu dengan gerakan slow motion mata membelalak.
Banyak pesan-pesan kehidupan yang dibungkus secara apik, seperti bahwa ada hak orang lain di rezeki yang kita dapat, lalu sikap Rafli yang enggan membeli mobil baru karena skala prioritasnya adalah pendidikan anak mengesampingkan gengsi memakai mobil bekas dan tua, lalu bahwa berlimpah materi sama sekali tidak berkorelasi dengan berlimpah kebahagiaan.
Selain pesan kehidupan, terselip dakwah tapi sama sekali tidak menggurui, tantang pentingnya menjaga sholat dimana pu berada, tentang pentingnya menutup aurat, semuanya disajikan rapi dan halus,
Film ini cukup menampar saya, bahwa awal menapaki rumah tangga memang tidak pernah terasa mudah, selalu ada jalan berliku yang sepertinya melelahkan. Tapi seberat apapun ujian dalam berumah tangga sebenarnya tujuannya hanya satu, saling menguatkan dalam keadaan apapun.
Ada kalimat yang diucapkan Nania pada Rafli yang membekas di ingatan saya
"Mencoba dan terus berusaha itu jauh lebih baik, kang. Perkuat harapan dengan doa-doa, insya Allah kita bisa"






Senin, 09 Oktober 2017

Literasi dan Vickynisasi di Rezim Jokowi


Ini kisah nyata dari kehidupan bertetangga yang saya alami di salah satu komplek perumahan Kab. Bogor. Kalau sitkom di salah satu televisi nasional berjudul tetangga masa gitu, tulisan ini membahass tetangga masa kini atau zaman now. Oke mari kita bahas kelucuan para tetangga zaman now.
Saya adalah warga baru, basa-basi sampai basi kadang dilakukan demi saling kenal mengenal. Ada satu ibu-ibu yang bertanya pada saya “Suaminya kerja diimana mbak?’
“BKF bu, badan kebijakan fiskal.” Saya menjawab sambil menyuapi anak, udah kayak ibu-ibu zaman now kan?
“Vixal? Oh paragi ngosrek WC nya?” tanyanya polos
(Vixal? Oh yang digunakan untuk membersihkan WC ya?)
Entah harus ketawa atau nangis, yang jelas ini tanggung jawab suami dan rekan-rekannya di BKF, harus go public, atau mungkin ini salah Bu Menkeu , ah bukan ini pasti salah Jokowi! Jokowi dimana saat rakyatnya tidak bisa membedakan fiskal dan pembersih kamar mandi? Hanya ada di rezim Jokowi!


Tetangga kedua, ia sedang sakit tipes demam tinggi pada malam sebelumnya lalu bercerita tentang kejadian aneh yang dia alami.
“Bu, semalam bantal saya ditarik-tarik nggak tahu sama siapa sampai terbang.” Ujarnya antusias memperagakan bantal terbang, saya jadi membayangkan awan kinton.
“Bantal terbang? Ibu kan lagi demam, panas tinggi, itu sadar apa nggak?” tanya saya kepo.
“Oh mungkin saya lagi halunisasi ya bu?” ia malah balik bertanya.
“Halusinasi bu, bukan halunisasi.” Saya berusaha membenarkan
“Iya halunisasi.” Ia keukeuh dengan halunisasinya, ini semua pasti salah Vicky Burki, eh maksud saya Vicky Prasetyo dengan segala kontroversi hatinya.


Tetangga ketiga heboh bercerita bahwa sekarang ada kejahatan jenis baru.
“Awas bu sekarang lagi musim banget podolfolia.” Ujarnya dengan mata terbelalak.
“Podolfolia?” saya balik bertanya, kalau orang sunda mendengar kata podol pasti telinganya tergelitik, podolfolia? Sebuah kelainan seksual yang menyukai podol? Jarene wong jowo podol iku tembelek, iyo tembelek sing iso jembret. Wah sebuah kelainan seksual jenis baru ini pasti, saya nggak habis fikir bagaimana bisa manusia bercinta dengan podol alias tai. Sedepresi itukah?
“Iya, itu podolfolia yang suka sama anak kecil loh, masa sih nggak tau?” dia malah memandang saya dengan tatapan gemas.
“Oh maksud ibu pedofilia?” saya balik bertanya.
“Iya! Podolfolia,” tetap dengan jawaban keukeuh khas ibu-ibu yang nggak mau disalahkan. Yo wis ben bu, terserah sampean ae batinku.


Tetangga berikutnya, masih zaman now.
“Saya harus prestasi nih bu, untuk sertifikasi guru. Ibu bisa bantu ga?” saya ga pinter-pinter amat sih, tapi yha sebagai orang yang pernah mengenyam strata dua ya ga bisa dibilang bodo-bodo amat juga.
“Prestasi bagaimana maksudnya?’ saya balik nanya.
“Itu loh bu, prestasi yang ngomong di depan orang banyak pakai laptop.” Ia berusaha menjelaskan
“Presentasi maksud ibu? Yang pakai power point kan?’ lagi-lagi saya berusaha membenarkan.
“Kamu tuh, udah salah, ngotot lagi!” dia kemudian melengos.


Seketika saya menjadi bingung, ada apa dengan tetangga zaman now? Rata-rata dari mereka adalah ibu-ibu yang berusia empat puluh tahun keatas, sedang saya yang masih usia kepala dua bisa apa? Iya kepala dua, bukan muka dua ya, maaf.
Yang muda, dianggap sebelah mata. Nasib jadi remah rempeyek emang begini, tapi mari kita ambil positifnya mungkin tetangga zaman now di lingkungan saya itu kiriman Tuhan agar saya tetap bisa tertawa dan awet muda tanpa suntik botox.
Klean Bung, Tuan, Nona dan Nyonya tolong mulai saat ini instal KBBI di ponsel pintar klean yha! Hingga tidak ada lagi Vickynisasi di negeri tercinta ini.
Untuk klean mama-mama muda dan papa-papa hot generasi milenial, plis tolong biasakan anaknya banyak membaca sebelum banyak berbicara, fenomena literasi dan vickynisasi di rezim Jokowi ini salah satu bukti bahwa kaum kita memang lebih senang banyak bicara daripada membaca.



Minggu, 08 Oktober 2017

Saya, korban kekerasan asisten rumah tangga. Sebuah pembelajaran bagi ibu-ibu muda.

Masa sekarang beberapa ibu memilih untuk bekerja di luar rumah, tidak menutup kemungkinan adanya permintaan yang tinggi atas asisten rumah tangga. Menemukan asisten rumah tangga bisa dibilang susah-susah gampang, harus ada kelekatan dengan anak, pribadinya baik atau buruk, karena secara tidak langsung banyaknya interaksi anak dengan asisten rumah tangga akan berpengaruh juga kepada kepribadian anak. Hal yang perlu diwaspadai adalah perilaku kekerasan ART terhadap anak. Saya merupakan korban kekerasan yang dilakukan oleh ART saat balita.
Kira-kira begini cerita singkatnya....
Ibu saya bekerja dari pagi dan pulang ketika sore hari. ART tersebut seringkali mencubit, menampar, menjewer, yang paling parah adalah mengurung saya di gudang yang sangat gelap. Padahal seingat saya, waktu itu hanya meminta mie goreng namun disiksa habis-habisan. Pasti kalian bertanya, mengapa saya tidak mengadu pada ibu? 
Ibu saya pernah bertanya tentang banyaknya lebam biru bekas cubitan atau cengkraman. Di dapur si ART jahanam itu mengacungkan pisau kepada saya ketika saya bercerita berdua saja dengan ibu di ruang makan yang mengisyaratkan bahwa saya dan ibu akan dibunuh jika melaporkan.
Usia saya waktu itu masih tiga tahun, mendapat ancaman seperti itu tentu saya ketakutan dan menutup mulut rapat. Seringkali saya diajak pacaran dengan mamang penjual jepit rambut di pasar Kordon Bandung, saya mengeluhkan ingin pipis saat itu dan si ART menyuruh untuk pipis di pangkuannya. Apa yang terjadi? Saya dicubiti habis-habisan. 
"Dasar anak setan, coba kang masa dia pipis dia pangkuan saya?" begitu dia mengadu pada pacarnya.
Puncaknya ketika saya sedang berada di rumah tetangga yang mana anaknya diasuh oleh ART juga.
ART saya rupanya sedang merumpi, entah apa yang diobrolkan saya lupa. Tanpa disangka ibu saya pulang dari kantor, kebetulan saat itu waktu istirahat. ART ketakutan, karena dia sedang mengenakan pakaian ibu saya. Mulut saya dibekap, dilarang berteriak memanggil ibu. Saya gigit tangannya, saya teriak sekencang-kencangnya memanggil ibu. Ibu akhirnya datang dan memeluk saya yang histeris menangis ketakutan. 
Ibu saat itu datang bersama kakaknya, saya dipeluk oleh uwa sedang ibu mengusir ART yang sungguh biadab itu.


Hal yang menakutkan justru terjadi pasca perginya ART, saya kerapkali bermimpi buruk, tidak berani bertemu orang asing, selalu ketakutan jika berada di tempat yang gelap, sensitif cenderung cengeng berlebihan, saya pun menjadi pribadi yang pendendam.
Ibu mendatangkan ART yang lain, saya malah balik menganiaya dengan memukul menggunakan payung, enggan mengobrol dengan ART, membenci setiap ART padahal belum tentu mereka melakukan hal yang sama.
Saya menjadi pribadi yang enggan bergaul, tertutup, pemalu sampai SMA. 
Beberapa sikap negatif yang muncul akibat tindakan kekerasan tersebut terkadang masih menempel pada saya, misalnya takut akan gelap, sensitif, cengeng, bahkan pendendam. Saya sedang berusaha menguranginya dengan bantuan beberapa pihak, saat ini adalah suami.
Semua berubah setelah saya mengikuti sebuah program kelas broadcasting selama enam bulan, saya dicetak untuk menjadi pribadi yang berani berbicara di depan umum, dilatih untuk menghilangkan urat malu, bahkan dibiasakan untuk menyapa orang baru. Sungguh awalnya menyiksa, tapi itu adalah titik balik hidup saya.


Hal yang bisa diambil dari pengalaman saya adalah bukan tidak boleh menggunakan jasa ART, tapi kita harus lebih selektif memilih. Berikut sedikit tips dari saya untuk ibu-ibu muda pekerja:
1. Sebisa mungkin hindari ART yang berusia puber, emosinya masih belum stabil masih sering pacaran ketimbang memperhatikan anak.
2. Jika ada lebam atau tanda tak wajar pada tubuh anak, selidiki. Jika anak tidak mengaku, pasang CCTV tanpa sepengetahuan ART atau pasang mata-mata entah tetangga ataupun keluarga. Sesekali berikan kunjungan kejutan di siang hari ketika jam istirahat.
3. Saya lebih menyarankan menitipkan anak di tempatnya yaitu daycare, memang harganya lebih mahal ketimbang menggunakan jasa ART tapi mari pikirkan harga mahal sebuah penyembuhan traumatik pasca kekerasan pada anak.
4. Perlakukan ART seperti keluarga, beri perlakuan yang wajar, makanan yang sama dengan apa yang kita makan misalnya, bisa saja sikap orangtua anak yang tidak disukai akan membuat ART melampiaskan kekesalannya pada anak.
5. Simpan benda berharga pada lemari yang tidak bisa dibuka oleh siapapun kecuali kita, menjaga hal-hal yang saya alami, ART menggasak celengan, memakai pakaian ibu saya, bahkan mencuri kebutuhan rumah tangga.

Demikian tips dari saya, semoga membantu :)
*Foto yang digunakan adalah foto dimana saya baru saja lepas dari tindakan kekerasan ART yang diceritakan

Kamis, 05 Oktober 2017

Perihal Jodoh

Membicarakan jodoh tidak pernah ada habisnya, saya teringat satu meme yang mana pria ketakutan dikejar peremepuan berpendidikan tinggi. Agak lucu sih jadinya. Saya sering berkali-kali dicibir “Ngapain sekolah S2 nanti pria nggak ada yang mau sama kamu.” Lebih menyedihkan, nggak sekolah S2 aja emang nggak ada yang mau sama saya kok
Pernah pula saya mendengar ucapan dari seorang perempuan lajang dan muda serta ranum. (((((RANUM))).
“Pokoknya kalau menikah saya nggak mau sama pria yang tingkat pendidikannya dibawah saya, usianya diatas saya, pokonya seganteng nabi Yusuf, sekaya Nabi Sulaiman, sesholeh Nabi Muhammad.” Di dalam hati saya setan-setan berkeliaran seolah ingin ngomong
“Nasateh geulis? Raline Shah lain, Dian Sastro lain, Raisa ge lain meni loba pisan kahayang!”
Beruntung saya dianugerahi kemampuan mengemas kata.
“Wah, berat juga ya. Berarti kamu harus secerdas Siti Aisyah, Sekaya Siti Khadijah dan sesabar Siti Hajar. Semoga bisa ketemu jodohnya ya” Ini saya ngomong gitu sambil nahan nafas, lobang hidung push up naik turun, kembang kempis karena gemas.
Adik cantik Ranum (sebutlah namanya begitu) yang baik, tidak semua hal di dunia ini terjadi atas apa yang kamu inginkan. Kita boleh berharap jodoh yang segala-galanya lebih dari kita tapi yang harus diingat adalah bahwa pernikahan bukanlah ajang bisnis atau transaksi agar kita merasa diuntungkan mendapatkan banyak hal. Pernikahan adalah sebuah hubungan resiprok berkesinambungan seumur hidup melibatkan Tuhan di dalamnya.
Jika menetapkan banyak kriteria bla bla bla silakan ciptakan manusia ideal menurut apa yang kamu dambakan. Da kita mah apa atuh, cuma makhluk Allah.
Oke untuk para pria bukan berarti tidak bekerja keras atau malas meningkatkan kualitas diri, ingin dapat istri cerdas? Ya kamu juga harus mencerdaskan diri, biar kalau diajak ngobrol nggak jaka sembung main pingpong, ga nyambung dong-dong!
Curang rasanya jika kita mengharapkan pasangan yang baik sedang kita enggan memperbaiki diri.
Pendek cerita, seperti yang tadi saya bilang. Saya mah nggak kuliah S2 pun belum laku, jadi hipotesis mamak-mamak beralis palsu yang mengklaim bahwa jika perempuan yang bersekolah tinggi susah jodohnya terbantahkan.
Suami saya ketika menikah pendidikan terakhirnya D3, lalu apakah kami tidak jadi menikah?
Berbeda tingkat pendidikan apakah suami saya ketakutan seperti meme yang dilontarkan akhi-akhi cupet yang saya ceritakan diawal? Tentu tidak. Dia dong yang ngejar saya (hoeks). Nggak ding, saya yakin bahwa jodoh adalah perkara saling mencari dan ditemukan. Kejar-mengejar hanya ada pada penagih utang dan yang berhutang.

Selasa, 26 September 2017

Lembayung Merona


RS Panti Nirmala Malang, 10 November 2014
Aku melihat matanya mulai bergerak. Seperti menguatkan diri untuk bisa terbangun dari keletihannya. Pelan-pelan aku mendekat kearah tempat tidur, tidak tega melihat tangan kirinya yang halus dihiasi jarum dan selang infusan.
“Rona?”
Pelan aku usap tangannya, berharap bisa membantunya terbangun tanpa tersentak.
“Hhh.. aku dimana ini Genta? Puspa, mana Puspa?” ujar Rona sambil memegangi perut sebelah kirinya.
“Kamu di rumah sakit, Rona. Aku membawamu kesini” Puspa mengusap rambut Rona berusaha menenangkan.
“Apa diagnosa dokter?” tanyaku pada Puspa.
“Dugaan sementara ada peradangan entah di usus atau lambung. Mungkin karena Rona terlalu banyak makan pedas ditambah akhir-akhir ini sering sekali begadang untuk mengerjakan tesisnya, sore hari setelah siuman dari pingsan di depan ruang dosen dia kelihatan baik-baik saja, menjelang tengah malam dia mengeluh kesakitan di area perut bagian bawah khawatir pingsan lagi atau bertambah parah kubawalah kemari, tidak bisa gerak sama sekali, naik taksi melewati polisi tidur saja jerit-jerit.”  Puspa seperti juru bicara bagi Rona.
“Biar aku yang menjaga Rona, kasihan kalau kamu harus menunggui disini. Aku khawatir kamu malah sakit.” Ujarku pada Puspa yang wajahnya memperlihatkan kelelahan, karena kami sama-sama mahasiswa pascasarjana yang sedang kejar target lulus secepatnya.
“Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya Genta. Rona, besok pagi aku kesini lagi ya.” Puspa berpamitan pada Rona yang dijawab dengan anggukkan lemah.
“Terima kasih, Puspa. Genta.”
Keesokan harinya teman-teman kampus kami mulai berdatangan menjenguk Rona. Air mukanya mulai cerah, sumringah karena beberapa teman kami memang pandai melontarkan lawakan-lawakan receh. Sayangnya, nafsu makan Rona hampir lenyap, selalu muntah jika berusaha menelan makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Sudah beberapa kali perawat keluar masuk ruangan, entah mengecek tekanan darah, menyuntikkan obat ke dalam infusan yang diikuti teriakan kecil mengaduh kesakitan. Sungguh seandainya bisa bertukar raga, biar aku saja yang merasakan sakitnya.
Malam sudah larut tapi Rona tak kunjung mengantuk.
“Kenapa tidak mau tidur? Kamu butuh istirahat bagaimana bisa sembuh kalau tidak istirahat. “ tanyaku.
“Karena diluar hujan, aku nggak suka hujan. Aku takut petir” jawabnya sambil memegangi ujung selimut.
 “Tidak ada petir, hanya kilat saja. Kenapa harus takut dengan hujan? Kalau hujan janganlah melihat apa yang jatuh, tapi lihatlah apa yang akan tumbuh.” Jawabku ngawur.
“Kamu habis minum apa? Nggak minum air infusan dari suster kan? Kamu mending nulis deh, kumpulan kata mutiara atau puisi gitu. Nanti pasti aku beli satu bukumu, tapi kalau sudah terkenal jangan lupa sama aku ya? Hahaha.” Tawa Rona sungguh merdu mendarat di telingaku.
Jikalah benar aku diberikan kesempatan untuk menulis buku, maka setiap paragrafnya adalah tentang kamu, atau tentang ketidakberdayaanku menolak hatiku untuk berdebar saat kamu tertawa seperti barusan, tawamu adalah melodi terbaik yang pernah aku dengar, lagipula cerita tentang kamu tidak akan mungkin selesai dalam satu buku saja.
 Fajar tiba, kudengar suara adzan itu artinya waktunya Rona untuk beribadah. Kubangunkan ia dengan menepuk pundaknya dengan hati-hati khawatir kaget atau tanganku terkena selang infusan. Lalu kutawarkan untuk kupapah ke kamar mandi agar bisa bersuci sebelum beribadah. “Aku tidak perlu wudhu, dalam Islam jika sakit boleh bersuci dengan tidak berwudhu, tayamum namanya.” Kemudian Rona menempelkan kedua telapak tangannya pada dinding kamar, lalu menyapukan telapak tangannya ke wajah, mengulangi menempelkan telapak tangan ke dinding lalu menyapu tangan kanan dan kiri hingga sikut. Sementara aku bergumam dalam hati betapa dipermudahnya manusia untuk beribadah.
“Genta, bisa minta tolong? Pakaikan mukena tanganku susah bergerak, tapi tolong jangan bersentuhan ya? Nanti aku harus bersuci ulang.” Aku memakaikan pakaian yang Rona sebut mukena. Pakaian khusus yang digunakan jika ia hendak beribadah. Rona tampak cantik, dibalut kain berwarna putih seolah menyatu dengan kulitnya yang  bersih. Apa dayaku, jika cinta ini lengkap dengan pembedanya yang disebut agama.

Universitas Malang Raya, 17 September 2013.
Hari ini kuliah perdanaku di kelas setelah sebelumnya mengikuti pra perkuliahan. Mata kuliah Psikologi Lintas Budaya, kabarnya dosen pengampunya adalah seorang budayawan yang tulisannya sering dimuat di media cetak nasional. Bab pertama kami membahas mengenai stereotipe.
"Selamat pagi mahasiswa-mahasiswi Pascasarjana Psikologi Universitas Malang Raya, hari ini kita akan mambahas stereotipe. Ada yang pernah mendengar kata ini sebelumnya?"
Aku mengacungkan tangan.
"Iya , silakan sebutkan nama dan asal daerahmu"
"Saya Made Magenta Cakrawala dari Bali Pak, stereotipe menurut saya sebuah pandangan terhadap suatu kelompok, dimana cara pandang tersebut digunakan pada setiap anggota kelompok tersebut, entah mengapa saya berasumsi bahwa stereotipe bernada negatif, salah satu teman kost saya adalah orang Minang, dia bilang kalau suku Minang itu irit cenderung pelit padahal di sisi lain mereka perantau hebat yang pantang pulang sebelum sukses di rantau"
"Hmm hanya itu?"
Seisi kelas diam, sunyi.
"Anda semua tentu pernah mendengar jika orang Jawa itu gigih, rajin, pekerja keras, gemar menabung. Berbeda dengan orang Sunda yang pemalas, enggan merantau, apalagi wanitanya terkenal matre, senang berdandan menor, senang berpakaian bagus dan biasanya tidak sekolah tinggi......"
"Izin menyanggah, Pak!" Teriak mahasiswi yang duduk di baris kedua dari belakang.
"Ya mbak? Silakan?" Dosen kami tersenyum sambil mempersilakan mahasiswi tersebut berbicara.
"Saya Lembayung Merona, Rona asal Cimahi, Jawa Barat. Saya tidak setuju dengan apa yang Bapak sampaikan barusan!" Nadanya agak meninggi dengan mata berapi-api namun lidah gemetaran.
"Alasannya?" Tanya dosenku santai sambil menggeser kursor laptopnya
"Bapak dosen yang terhormat, barusan Bapak berkata bahwa stereotipe wanita sunda itu matre, senang berdandan menor, enggan sekolah tinggi, lalu senang berpakaian bagus"
"Anda tersinggung dengan apa yang saya katakan?" Tanya dosenku kembali.
"Boleh saya berpendapat?" Nada suara Rona, ya namanya Rona jadi tidak perlu repot-repot berkenalan kan untuk tahu namanya, mulai merendah.
"Silakan." Ujar dosen kami.
"Bahwa wanita Sunda senang berdandan menor, kami dikaruniai kulit yang cenderung terang, bersih karena jika dilihat dari cerita rakyat legenda Gunung Tangkubanparahu, Dayang Sumbi konon awet muda sampai anak kandungnya sendiri yang bernama Sangkuriang jatuh cinta. Mengapa bisa demikian? Diceritakan bahwa Dayang Sumbi gemar memakan sayuran mentah atau dedaunan, terlepas dari legenda itu benar atau tidak. Orang Sunda memang menggemari sayuran mentah, sepertinya itu yang membuat kulit kami cenderung bersih. Jika kulit bersih dipoles make up sedikit saja sudah terkesan menor" Rona memaparkan hampir tanpa jeda.
"Kemudian mengenai senang berpakaian bagus...” Kali ini Rona mengambil nafas panjang untuk memaparkan pendapat selanjutnya.
“Teman-teman pernah mendengar kalau Bandung Ibu Kota Jawa Barat diberi julukan Paris van Java karena pada masa kolonial kependudukan Belanda semua pakaian terbaru dipajang di Braga, salah satu nama jalan di Bandung. Kemudian jika dilihat dari segi geografis, Jawa Barat rata-rata ada di dataran tinggi. Mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar bahwa Parahyangan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, udaranya sejuk cenderung dingin, coba teman-teman bayangkan ketika kedinginan pakai syal, coat dan sepatu boat di jalanan Bandung yang dingin, pantas kan? Coba kalau udara panas seperti Yogyakarta atau Surabaya saya berpakaian seperti ketika di Bandung. Apa yang terjadi? Koyok wong gendeng." Seketika kelas diwarnai dengan suara tawa.
“Maaf..stok vocabulary bahasa Jawa saya terbatas.” Lanjut Rona
"Kalau matre? Harus dibedakan antara matrealistis dengan realistis, uang memang bukan segalanya namun sesunggunya segala sesuatu tidak bisa dipungkiri memang membutuhkan uang. Kalaulah yang bapak maksud suka uang, ya.. hanya ayam dan itik atuh yang tidak paham nilai uang mah." Lagi-lagi kelas yang tadinya hening seolah terpaku akan penjelasan panjang dari Rona menjadi penuh gelak tawa, ditambah logat Sunda Rona sangat kental. Persis di film televisi. Dosen kami pun ikut tertawa sambil menenangkan kelas.
"Sudah-sudah terima kasih Neng Rona atas penjelasannya, sungguh nama yang bagus Lembayung Merona, pasti dilahirkan ketika menjelang matahari terbenam ya? Stereotipe orang Sunda yang enggan sekolah tinggi dan enggan merantau terbantahkan dengan adanya anda di kelas ini."
Setelah kelas usai aku dan beberapa kawan memilih menyegarkan otak dengan berteduh di kantin kampus. Di lorong yang rimbun oleh tanaman merambat pada atapnya kulihat Ratih dan beberapa mahasiswi sekelasku bercengkrama sambil mengunyah tahu isi dan meneguk segelas es jeruk.
"Genta" ujarku sambil mengulurkan tangan kearah Rona.
"Oh, Rona." balasnya dengan mulut agak penuh dengan makanan. Rona mengambil tisu basah dari tasnya, mengelap bibir dan tangannya.
“Orang Bali ya? Anak kedua? Soalnya nama depanmu Made.” Lanjut Rona.
“Benar.” jawabku pendek
“Magenta? Warna favorit ibumu? Lucu juga ya, dipanggil Genta yang artinya lonceng kan?” Rona bertanya lagi.
“Iya, genta dipakai sebagai tanda waktu kami sembahyang. Kamu tadi berani sekali memotong penjelasan dosen" ujarku dengan nada kekaguman.
"Kenapa harus takut? Dosen tidak akan menggigit mahasiswa yang menyanggah kan? Kelas itu kan ruang diskusi, tempat dimana semua ide berkumpul." Jawab Rona santai.
Alis Rona yang tebal bergerak naik turun jika berbicara bak semut berbaris berhasil mengendap dengan sempurna di ingatanku. Ruang kelas kami di desain menggunakan pola hurup U pada tempat duduknya, aku selalu sengaja memilih tempat duduk bersebrangan dengan Rona, hanya untuk melihat ia menahan kantuk ketika dosen mulai terlalu banyak berbicara, berbinar ketika mata kuliah yang membahas mengenai budaya, atau sesekali mencuri-curi melihat cermin, memastikan bahwa rambutnya tetap rapi, atau sekedar melihat jerawat yang kecilnya tidak seberapa dibanding dagunya yang panjang bak sarang lebah menggantung.

Jalan Bendungan Sigura-gura Malang, 19 Oktober 2013.
Aku memberanikan diri mengunjungi kostan Rona, dengan alasan klasik ala pria zaman dahulu kala jika ingin mengunjungi gadis idamannya yaitu meminjam buku dan mengajak mengerjakan tugas kuliah secara bersama-sama agar mudah berdiskusi. Kostannya cukup dijaga ketat, tamu pria tidak diperkenankan masuk tapi ibu kos menyediakan gazebo tempat menerima tamu sedang kamar Rona berada di lantai dua. Aku duduk menunggu di gazebo, ternyata Rona baru selesai memasak sungguh wangi makanannya menembus dua lubang hidungku dengan cepat.
“Loh Genta? kamu sudah lama datang? Handphoneku kusimpan di kamar, maaf nggak sempat mengecek. Sudah makan? Makan bareng yuk?” Rona dengan cekatan mengambilkan nasi, ayam kecap dan tumis kangkung hasil masakannya.
“Eh jadi tidak enak, aku kan kemari bukan untuk numpang makan, mau pinjam buku. Kok jadi begini ya?” Sebenarnya aku malu, sudah meminjam buku eh malah disuguhi makan pula. “Masakanku nggak enak-enak amat sih, ya anggap saja kamu kelinci percobaanku.” Aku yakin Rona merendah, soalnya rasa masakannya sangat sedap, alangkah bahagianya pria yang bisa menikah dengannya, lidahnya bisa didekap oleh masakan-masakan rumahan setiap hari, jangankan jadi kelinci percobaan jadi tikus di dapurnya pun aku rela.

RS Panti Nirmala Malang, 13 November 2014
“Ta, Genta!” Ada suara lirih yang membangunkanku dari tidur.
“Iya, Rona. Kenapa?” setengah sadar aku melirik kearah jam dinding, rupanya sudah sore. Aku tertidur di kursi cukup lama, satu jam setengah.
“Aku mau keluar, bosan tiduran terus. Aku mau ke taman atau ruang hijau, nggak mungkin kan aku minta naik bianglala ke alun-alun Kota Batu?” Rona merapikan rambut sebahunya, bersiap turun dari tempat tidur.
“Aduh, jangan dong. Kamu masih belum sembuh benar, malah bisa lebih lama kamu disini kalau banyak berjalan.” Aku berusaha mencegah
“Aku bosan Genta, kalau tidak diizinkan jalan aku bisa minta kursi roda. Tolonglah...” matanya memelas sudah dipastikan jika ia memperlihatkan wajah seperti itu aku akan kalah, merunduk. Seperti ada sihir pada matanya, aku mengiyakan.
“Aku minta kursi roda dulu, kamu diam disini. Tidak usah jauh-jauh cukup di taman saja.” Aku segera ke ruangan perawat meminta kursi roda.
Sudah bisa kutebak, Rona bak anak kecil yang sudah lama dikurung di rumah. Senyumnya melebar ketika melihat birunya langit, menoleh ke arah burung-burung yang berkejaran diatas danau buatan.
“Kalau aku sudah keluar dari sini, pokoknya harus ke pantai.” Ujar Rona tiba-tiba.
“Sembuh dulu, berhenti makan pedas baru berpikir liburan. Tesismu menunggu, bukan pantai.” Jawabku agak ketus kemudian dibalas dengan dengusan kesal dari Rona.
Terakhir kami mengunjungi pantai semester lalu. Aku dan seluruh teman seangkatan diwajibkan mengikuti kegiatan pelatihan tindakan konseling pasca trauma menghadapi bencana alam yang berlokasi di pesisir pantai Jawa Timur. Rona sangat bersemangat karena selesai sesi acara kami diperbolehkan menyusuri pantai. Saat itu matanya berbinar ketika matahari menjelang tenggelam, dari jingga menuju ungu.
“Kamu rindu langit sore ya?” tanyaku untuk menghapus dengusan kesal Rona.
“Iya, rasanya sudah lama nggak melihat senja yang cantik.” Jawa Rona sambil terus menatap langit, padahal ini belum senja.
“Kamu suka sekali langit sore?” tanyaku lagi.
“Suka banget, setiap hari ketika aku masih kecil selalu duduk di teras rumah untuk nonton pertunjukkan senja, sayangnya ibuku selalu melarang keluar rumah, katanya tidak baik anak kecil melihat matahari sore, bisa rabun senja. Kalau nanti aku punya anak, aku sih bakal mengajak dia melihat senja.” Jawab Rona sambil masih menerawang kearah langit.
“Kenapa kamu bisa suka sekali sama langit sore?” aku bertanya seperti sedang melakukan wawancara pada responden penelitianku.
“Karena senja itu penyeimbang, dari terik menuju gelap” jawabnya singkat.
“Kamu suka akan keseimbangan ya? Buatku senja itu terlihat seperti pemisah”
“Maksudnya?”
“Dia pemisah, seolah matahari dipaksa berpamitan bukankah mungkin saja langit masih membutuhkan terangnya?” jawabku ngawur.
“Habis minum air infusan lagi? Atau habis mengunyah jarum suntik?” Rona menahan tawa.

Universitas Malang Raya, 22 Oktober 2013.
Kelas filsafat kali ini sungguh membuat mataku ingin dilipat dan daguku meminta ditopang oleh dua tangan. Aku meminta izin keluar kelas untuk mencuci muka dan membeli kopi di kantin agar kantukku hilang.
 “Genta!” sebuah tinjuan kecil mendarat di lengan kananku.
“Mata kuliah filsafat bikin ngantuk ya? Kalau aku sih pusing, takut tersesat dan kebanyakan bertanya akan diri sendiri, terlalu sering monolog. Apalagi kalau sudah berbicara mengenai ketuhanan, aduh ampun deh kapasitas otakku masih belum sampai kesana kayaknya.” Rona mengaduk teh yang baru dibelinya sekaligus mengaduk perasaanku, terselip kata ketuhanan dalam kalimat yang ia lontarkan lagi-lagi membuat aku berpikir bagaimana bisa aku tertarik pada perempuan berbeda keyakinan denganku.
“Dewi Saraswati itu tanggannya ada empat kan ? Aku tahu dari lambang kosmetik yang kupakai sehari-hari, hahaha dangkal sekali yah? Katanya ada hari raya Saraswati, memperingati apa?” lagi-lagi Rona selalu bertanya tentang banyak hal, dia pikir aku Wikipedia berjalan.
Belum sempat kutanggapi, Rona melanjutkan berbicara.
“Kakek dari ibuku suka sekali wayang, kalau liburan aku pasti diceritakan tentang kisah Ramayana, pernah diceritakan tentang Brahma, Wisnu, dan Siwa ketika kami berlibur ke Yogyakarta mengunjungi candi Prambanan. Aku selalu suka kalau baca buku membahas sejarah, seolah kembali ke masa lalu memakai lorong waktu.” Rona selalu terlihat antusias jika menceritakan kakeknya yang telah lama tiada, sepertinya benar adanya bahwa manusia akan terlihat artinya jika telah pergi.
Entah perasaanku saja atau memang benar adanya, perempuan bernama Lembayung Merona ini makin cantik ketika sedang bercerita. Aku bisa berdiskusi apa saja dengannya selain tentang kegiatan kuliah yang kami jalani. Ia sangat tertarik dengan hal-hal berbau budaya, jiwa seninya juga cukup tinggi, kudengar bahwa ketika masih duduk di sekolah dasar beberapa kali menjuarai lomba tari. Jika ada mata kuliah berhubungan dengan budaya, matanya selalu penuh antusias menyimak penjelasan dosen, atau mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak ia pahami. Banyak pertanyaan tak terduga, betapa dia memikirkan jika program keluarga berencana berhasil digaungkan di Bali, maka nama-nama anak ketiga dan keempat di masyarakat kami akan punah.
“Heh, kau naksir ya sama Rona?”colek Willy  dengan logat Tapanulinya yang kental.
“Kuakui Rona itu cantik, tinggi, putih, langsing pula seperti galah untuk mengambil buah di kebun Bapakku tapi mungkin dia sudah dijodohkan. Mana ada orang tua tega melepas anak gadis macam dia pada pria tak jelas. Kau tau usahlah banyak berharap, nanti sakit hati kutakut kau bunuh diri. Pria macam kita ini laku keras di kampung halaman masing-masing” Willy memang manusia yang selalu berkata apa adanya bahkan terkadang terlalu apa adanya.
“Aku jelas pria kok.” Jawabku kesal.
“Jadi benar? Kamu naksir Rona?” sebuah pertanyaan jebakan dari Willy.
“Sungguh sebuah retorika.” Aku menjawab sambil melengos keluar kelas.

Malang, 19 September 2015.
Kupakai kemeja dan toga yang telah dibagikan dua hari sebelum wisuda. Sayang kedua orangtuaku tidak bisa hadir di acara wisuda strata duaku ini karena berbarengan dengan pernikahan salah satu kerabat kami, aku memasuki gedung Graha Cakrawala, sebuah gedung yang digunakan untuk kegiatan pemerimaan mahasiswa baru, wisuda, job fair, bahkan konser artis ibukota. Tampak aura bahagia tersebar di berbagai sudut ruangan. Para wisudawati terlihat manglingi, cantik berpoles make up beserta kebaya dan kain khas daerah masing-masing yang melilit di tubuhnya. Kutengok kanan dan kiri, mencari sepasang mata yang meneduhkan,siapa lagi kalau bukan Rona ia memang belum bisa wisuda hari ini tapi ia janji akan datang untuk aku dan teman-temanku yang lulus hari ini. Lagu “Gaudeamus igtiur” dilantunkan oleh paduan suara kampus, lagu yang selalu dinyanyikan saat pelepasan wisudawan dan penyambutan mahasiswa baru. Aku hampir tidak percaya bisa sampai di tahap ini, diawali dengan proses seleksi yang panjang ketika tes beasiswa. Begadang hingga pagi buta menyelesaikan tesis hasilnya kantung mataku kian tampak dari hari ke hari, menghabiskan hari di perpustakaan dari sejak dibuka hingga ditutup. Menjalani kegiatan perkuliahan selama empat semester lalu akan dilanjutkan dengan program pengabdian demi pemerataan tenaga kependidikan di Indonesia. Kutatap sekeliling gedung Graha Cakrawala, rasanya baru kemarin aku berdiri disini sebagai mahasiswa baru kini sebagai wisudawan. Tidak terasa prosesi wisuda telah selesai,kami semua berfoto dengan kamera yang berbeda-beda, pegal juga ternyata jika terlalu banyak senyum. Aku memilih mengakhirkan diri keluar dari gedung, lagi-lagi mencari Rona. Dari kejauhan kulihat perempuan mengenakan pakaian abu-abu dengan vest putih serta celana jins, membawa sebuket bunga lily di tangan kiri dan cake di tangan kanannya.
 “Hai Genta! Aduh maaf aku tadi bangun kesiangan, dan kamar mandi di kostan ku airnya tiba-tiba mati, nunggu nyala dulu baru deh mandi. Masa iya aku datang tanpa mandi.” Padahal sungguh pun aku tidak peduli Rona sudah mandi atau belum, di mataku tetap cantik meski ia tidak berdandan para wisudawati yang datang.
“Eh ini, buat kamu. Hari ini juga kamu ulang tahun bukan? Usia baru, gelar baru juga. Selamat ya, waduh kesusul nih!” Rona menyodorkan bawannya padaku, aku saja baru ingat kalau ini hari ualng tahunku. Memang tidak pernah ada perayaan, bukankah justru jatah umurku di dunia ini kini berkurang?
“Kamu menanam bunga dulu ya semalam? Jadi terlambat bangun” Bunga yang dibawa Ratih tidak lebih cantik dari yang membawanya.
  
Malang, 22 September 2015
Ini pekan terakhirku di Malang, sebetulnya berat meninggalkan kota ini. Akan ada banyak hal yang dirindukan, bianglala dengan tiket tiga ribu rupiah di kota wisata Batu, alun-alun Kotanya yang disuguhi dengan simbol toleransi dimana mesjid agung dan gereja terletak bersebelahan, kampung arab di sekitaran pasar besar sedang tidak jauh dari sana ada klenteng, bisa dikatakan ini Indonesia versi mini. Jalanannya yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, jogging track lapangan Rampal tempat aku dan Rona berlari atau sesakali menonton konser dan pagelaran seni. Setiap sudut kotanya seolah berbicara tentang kebahagiaan. Namun belum berbicara mengenai perasaan yang aku punya, tidak mudah memendam perasaan selama dua tahun. Seperti teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, perasaan ini harus diungkapkan dengan segera dan tempo sesingkat-singkatnya.
Sore ini aku mengajak Rona berjalan-jalan mengitari Malang, kami menyusuri alun-alun kota memperhatikan anak-anak kecil berlarian tanpa beban, air mancur yang menyembur berirama, penjual es krim yang berkeliling, serta banyak pasangan muda-mudi yang sepertinya sedang dihujani cinta. Kami menepi dari keramaian, di salah satu jembatan penyebrangan menunggu senja tiba, mendadak lidahku kelu, sekujur tubuhku terasa dingin namun banjir dengan keringat.
“Rona, begini. Ada yang harus aku utarakan.” Ujarku dengan tangan yang terus mengepal dan geligi mendadak menggigil.
“Iya? Kenapa? Ada masalah dengan kampus tujuan pengabdianmu nanti?” Rona balas bertanya.
“Lembayung Merona, minggu depan mungkin kita tidak akan melihat senja di tempat yang sama, tidak akan bercanda atau bahkan mengobrol serius tentang banyak teori psikologi yang sungguh membuat otakku seakan terbakar karena saking panasnya, tidak akan ada diskusi tentang budaya, tidak bisa lagi aku melihatmu beribadah menggunakan mukena, dan tidak ada kamu juga yang sekedar berfoto di rumah ibadahku hanya karena ingin merasakan nuansa Bali. Tidak akan ada aku yang tiba-tiba datang ke tempat kost mu entah meminjam buku atau menumpang makan siang, juga tidak ada kamu yang tiba-tiba menghubungiku karena printermu rusak.” Aku mencoba menghela nafas panjang.
 “Iya juga ya, kamu punya kenalan tukang service printer kah?”  Entah memang Rona polos atau ingin melucu menghilangkan ketegangan sehinga melontarkan pertanyaan macam ini.  Aku enggan menjawabnya, khawatir semua yang ada di otakku mendadak buyar berserakan tak beraturan.
“Aku ingin kita tidak lagi berspasi, tidak berjarak. Aku ingin kita bersatu, tidak ada aku atau kamu. Semuanya melebur menjadi kita. Aku ingin kamu menjemur handuk basahku yang sering ditaruh sembarangan, aku ingin kamu mencocokkan pakaian yang akan aku kenakan karena aku buta warna, aku ingin menjadi kelinci percobaan atas resep-resep masakanmu, aku ingin mendengar belasan bahkan puluhan cerita rakyat yang selalu kamu ceritakan yang nanti akan kita ceritakan pada anak-anak kita, aku tidak ingin hanya berkhayal tentang perempuan idaman, aku tidak ingin terus bermimpi, karena kamu sudah cukup nyata. Temani aku mengabdi pada negeri ini, kita bisa melihat gemerlapnya bintang dalam atap sederhana yang kilaunya persis dengan matamu, kita bisa mendengar deburan ombak yang mungkin kencangnya sama dengan degup jantungku saat ini.” Rasanya persis seperti presentasi ujian tesis beberapa bulan yang lalu, lemas, sulit bernafas, serta tenggorokkanku mendadak kering sedang Rona menampakkan tampang polos dan bingung. Dia hanya diam, melihatku dengan tatapan yang heran.
“Tentang perbedaan yang ada diantara kita, mari kita pikirkan jalan keluarnya. Tidak perlu menjadi satu untuk bersatu, menurutku begitu” Rona masih juga tidak bereaksi tetap menatapku dengan bingung. Tiba-tiba ada seorang waria mengamen datang kepada kami. “Mbak, tanya dong sama teman saya yang ini. Kenapa dia bengong kayak gitu, saya bingung jadinya.” Bukannya bertanya pada Rona waria itu malah menjawil daguku dan hampir mencium pipiku. Ya ampun, mimpi apa aku semalam.

Surabaya, 25 September 2015.
Bandara Juanda pagi ini gerimis, biasanya Surabaya bersuhu udara panas kini berubah menjadi sejuk. Semua barangku sudah masuk bagasi. Tidak ada air mata dari semua keluarga dan teman-teman yang mengantar, mereka paham bahwa kepergianku bukan untuk ditangisi, semua ini demi kemajuan negeri. Sejak aku mengungkapkan perasaanku, Rona tidak bisa kuhubungi sama sekali. Aku tidak ingin memaksa menghubunginya mungkin dia ingin diberi waktu untuk berpikir mengenai tawaranku atau mungkin sedang memberi jeda agar bisa melihat apa yang sebenarnya aku rasakan. Mungkin artinya dia tidak ingin hidup denganku, tidak bersedia menamaniku mengabdi. Pesawatku berangkat setengah jam lagi berharap Rona hadir di akhir seperti ketika saat aku wisuda, terlepas dari jawabannya yang menolak, aku tidak keberatan. Mungkin separuh hatiku memang harus ditinggalkan di Malang. Tiba-tiba surat elektronik masuk pada ponselku. Sebuah lampiran teks dari akun Rona.


Kepada Magenta Cakrawala.
Terima kasih untuk empat semester yang sangat berkesan, kamu mengajarkanku bahwa dunia lengkap dengan segala keragamannya. Perihal ungkapanmu tempo hari, aku sama sekali tidak menyangka kamu seberani itu. Terima kasih atas ajakan mengarungi bahtera kehidupan yang lebih menantang. Namun Genta, bagiku menikah bukan sekedar hal-hal seperti yang kau bilang, lebih dari itu. Menikah bagiku adalah menyempurnakan separuh agama, seperti yang selalu kedua orangtuaku bilang. Lalu bagaimana agamaku akan sempurna, jika rumah ibadah yang kita kunjungi berbeda? Genta, aku yakin hatimu luas seperti namamu. Percayalah, bahwa Tuhan kita menciptakan segala yang ada di dalam alam ini dengan penuh cinta, temukan rona lembayung senja yang hangat di cakrawala yang lain. Selamat mengabdi, Genta. Negeri ini butuh orang pemberani sepertimu, orang yang melakukan banyak aksi daripada hanya bertutur belaka. Semoga di lain waktu kita bertemu, tidak ada luka ataupun dera. Semoga selamat sampai tujuan 😊

Lembayung Merona

Kupang, 15 Mei 2040
Kulihat ulang jadwal kerjaku di bulan ini, banyak tugas yang belum aku selesaikan sedangkan seiring bertambahnya usia staminaku menurun, tidak bisa lagi begadang hanya untuk paper beberapa halaman. Ponsel ku sudah ku non aktifkan, lelah mendengar kebisingan yang tiada berkesudahan sepanjang hari, entah panggilan massuk atau pesan singkat dari banyak orang. Padahal sudah kujelaskan, jika ada kepentingan mendesak kupersilakan menghubungi asistenku, ia yang lebih hapal jadwalku sedang ingatanku kadang payah.
“Prof, ada yang ingin bertemu. Pria, seperti mahasiswa tapi bukan dari kampus kita. Katanya dari Jakarta, sudah beberapa kali saya suruh pulang tapi dia tetap ingin menemui Prof, bagaimana?” Tanya Bayu asistenku.
“Suruh masuk saja, kasihan datang jauh dari Jakarta” Jawabku.
Seorang pemuda berusia duapuluhan lebih, mengenakan kemeja kotak-kotak abu dengan lengan digulung sesiku, rambutnya tebal hitam sedang matanya tajam, mengingatkan aku pada seseorang seperti pernah bertemu tapi entah dimana.
“Selamat siang Prof, saya Tirta Asmarandhana. Mahasiswa lulusan Universitas Jakarta Raya.” Ujarnya menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Iya? Ada keperluan apa anda datang jauh kemari?" Tanyaku setelah bersalaman.
“Saya ingin anda menjadi promotor dalam penelitian saya yang didanai pemerintah. Saya sudah berusaha mengubungi anda lewat surat elektronik, pesan singkat, juga berusaha menghubungi lewat telepon, namun dikarenakan tidak ada respon saya berinisiatif mendatangi anda kemari, itu pun saran dari ibu saya yang mana pernah berkawan dengan anda” jelasnya
“Ibumu? Siapa?” tanyaku lagi
“Ibu saya namanya Rona Prof, teman kuliah anda di Malang.” Jawabnya.
“Rona? Lembayung Merona? Kamu putranya?” Aku lagi-lagi bertanya mencoba meyakinkan.
“Iya, betul. Benar kan anda mengenalnya?” Jawabnya disertai senyuman.
Aku pernah menangkap senyum yang sama dari orang yang berbeda lalu kubingkai, kusimpan dalam peti kenangan sebaik-baiknya.