RS Panti Nirmala Malang, 10 November 2014
Aku melihat matanya mulai bergerak. Seperti menguatkan diri untuk bisa
terbangun dari keletihannya. Pelan-pelan aku mendekat kearah tempat tidur,
tidak tega melihat tangan kirinya yang halus dihiasi jarum dan selang infusan.
“Rona?”
Pelan aku usap
tangannya, berharap bisa membantunya terbangun tanpa tersentak.
“Hhh.. aku dimana ini
Genta? Puspa,
mana Puspa?” ujar Rona sambil memegangi perut sebelah kirinya.
“Kamu
di rumah sakit, Rona. Aku membawamu kesini” Puspa mengusap rambut Rona berusaha
menenangkan.
“Apa
diagnosa dokter?” tanyaku pada Puspa.
“Dugaan
sementara ada peradangan entah di usus atau lambung. Mungkin karena Rona
terlalu banyak makan pedas ditambah akhir-akhir ini sering sekali begadang
untuk mengerjakan tesisnya, sore hari setelah siuman dari pingsan di depan
ruang dosen dia kelihatan baik-baik saja, menjelang tengah malam dia mengeluh
kesakitan di area perut bagian bawah khawatir pingsan lagi atau bertambah parah
kubawalah kemari, tidak bisa gerak sama sekali, naik taksi melewati polisi
tidur saja jerit-jerit.” Puspa seperti
juru bicara bagi Rona.
“Biar
aku yang menjaga Rona, kasihan kalau kamu harus menunggui disini. Aku khawatir
kamu malah sakit.” Ujarku pada Puspa yang wajahnya memperlihatkan kelelahan,
karena kami sama-sama mahasiswa pascasarjana yang sedang kejar target lulus
secepatnya.
“Kalau
ada apa-apa kamu hubungi aku ya Genta. Rona, besok pagi aku kesini lagi ya.”
Puspa berpamitan pada Rona yang dijawab dengan anggukkan lemah.
“Terima
kasih, Puspa. Genta.”
Keesokan
harinya teman-teman kampus kami mulai berdatangan menjenguk Rona. Air mukanya
mulai cerah, sumringah karena beberapa teman kami memang pandai melontarkan
lawakan-lawakan receh. Sayangnya, nafsu makan Rona hampir lenyap, selalu muntah
jika berusaha menelan makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Sudah
beberapa kali perawat keluar masuk ruangan, entah mengecek tekanan darah,
menyuntikkan obat ke dalam infusan yang diikuti teriakan kecil mengaduh
kesakitan. Sungguh seandainya bisa bertukar raga, biar aku saja yang merasakan
sakitnya.
Malam
sudah larut tapi Rona tak kunjung mengantuk.
“Kenapa
tidak mau tidur? Kamu butuh istirahat bagaimana bisa sembuh kalau tidak
istirahat. “ tanyaku.
“Karena
diluar hujan, aku nggak suka hujan. Aku takut petir” jawabnya sambil memegangi
ujung selimut.
“Tidak ada petir, hanya kilat saja. Kenapa
harus takut dengan hujan? Kalau hujan janganlah melihat apa yang jatuh, tapi
lihatlah apa yang akan tumbuh.” Jawabku ngawur.
“Kamu
habis minum apa? Nggak minum air infusan dari suster kan? Kamu mending nulis
deh, kumpulan kata mutiara atau puisi gitu. Nanti pasti aku beli satu bukumu,
tapi kalau sudah terkenal jangan lupa sama aku ya? Hahaha.” Tawa Rona sungguh
merdu mendarat di telingaku.
Jikalah
benar aku diberikan kesempatan untuk menulis buku, maka setiap paragrafnya
adalah tentang kamu, atau tentang ketidakberdayaanku menolak hatiku untuk
berdebar saat kamu tertawa seperti barusan, tawamu adalah melodi terbaik yang
pernah aku dengar, lagipula cerita tentang kamu tidak akan mungkin selesai
dalam satu buku saja.
Fajar tiba, kudengar suara adzan itu artinya
waktunya Rona untuk beribadah. Kubangunkan ia dengan menepuk pundaknya dengan
hati-hati khawatir kaget atau tanganku terkena selang infusan. Lalu kutawarkan
untuk kupapah ke kamar mandi agar bisa bersuci sebelum beribadah. “Aku tidak
perlu wudhu, dalam Islam jika sakit boleh bersuci dengan tidak berwudhu,
tayamum namanya.” Kemudian Rona menempelkan kedua telapak tangannya pada
dinding kamar, lalu menyapukan telapak tangannya ke wajah, mengulangi
menempelkan telapak tangan ke dinding lalu menyapu tangan kanan dan kiri hingga
sikut. Sementara aku bergumam dalam hati betapa dipermudahnya manusia untuk
beribadah.
“Genta,
bisa minta tolong? Pakaikan mukena tanganku susah bergerak, tapi tolong jangan
bersentuhan ya? Nanti aku harus bersuci ulang.” Aku memakaikan pakaian yang
Rona sebut mukena. Pakaian khusus yang digunakan jika ia hendak beribadah. Rona
tampak cantik, dibalut kain berwarna putih seolah menyatu dengan
kulitnya yang bersih. Apa dayaku, jika cinta ini lengkap dengan
pembedanya yang disebut agama.
Universitas Malang Raya, 17 September
2013.
Hari ini kuliah perdanaku di kelas setelah sebelumnya mengikuti pra
perkuliahan. Mata kuliah Psikologi Lintas Budaya, kabarnya dosen pengampunya adalah
seorang budayawan yang tulisannya sering dimuat di media cetak nasional. Bab
pertama kami membahas mengenai stereotipe.
"Selamat pagi
mahasiswa-mahasiswi Pascasarjana Psikologi Universitas Malang Raya, hari ini
kita akan mambahas stereotipe. Ada yang pernah mendengar kata ini
sebelumnya?"
Aku mengacungkan
tangan.
"Iya , silakan
sebutkan nama dan asal daerahmu"
"Saya Made Magenta
Cakrawala dari Bali Pak, stereotipe menurut saya sebuah pandangan terhadap
suatu kelompok, dimana cara pandang tersebut digunakan pada setiap anggota
kelompok tersebut, entah mengapa saya berasumsi bahwa stereotipe bernada
negatif, salah satu teman kost saya adalah orang Minang, dia bilang kalau suku
Minang itu irit cenderung pelit padahal di sisi lain mereka perantau hebat yang
pantang pulang sebelum sukses di rantau"
"Hmm hanya
itu?"
Seisi kelas diam,
sunyi.
"Anda semua
tentu pernah mendengar jika orang Jawa itu gigih, rajin, pekerja keras, gemar
menabung. Berbeda dengan orang Sunda yang pemalas, enggan merantau, apalagi
wanitanya terkenal matre, senang berdandan menor, senang berpakaian bagus dan
biasanya tidak sekolah tinggi......"
"Izin
menyanggah, Pak!" Teriak mahasiswi yang duduk di baris kedua dari
belakang.
"Ya mbak?
Silakan?" Dosen kami tersenyum sambil mempersilakan mahasiswi tersebut
berbicara.
"Saya Lembayung
Merona, Rona asal Cimahi, Jawa Barat. Saya tidak setuju dengan apa yang Bapak
sampaikan barusan!" Nadanya agak meninggi dengan mata berapi-api namun
lidah gemetaran.
"Alasannya?"
Tanya dosenku santai sambil menggeser kursor laptopnya
"Bapak dosen
yang terhormat, barusan Bapak berkata bahwa stereotipe wanita sunda itu matre,
senang berdandan menor, enggan sekolah tinggi, lalu senang berpakaian
bagus"
"Anda
tersinggung dengan apa yang saya katakan?" Tanya dosenku kembali.
"Boleh saya
berpendapat?" Nada suara Rona, ya namanya Rona jadi tidak perlu
repot-repot berkenalan kan untuk tahu namanya, mulai merendah.
"Silakan." Ujar dosen kami.
"Bahwa wanita
Sunda senang berdandan menor, kami dikaruniai kulit yang cenderung terang,
bersih karena jika dilihat dari cerita rakyat legenda Gunung Tangkubanparahu,
Dayang Sumbi konon awet muda sampai anak kandungnya sendiri yang bernama
Sangkuriang jatuh cinta. Mengapa bisa demikian? Diceritakan bahwa Dayang Sumbi
gemar memakan sayuran mentah atau dedaunan, terlepas dari legenda itu benar atau
tidak. Orang Sunda memang menggemari sayuran mentah, sepertinya itu yang
membuat kulit kami cenderung bersih. Jika kulit bersih dipoles make up sedikit saja
sudah terkesan menor" Rona memaparkan hampir tanpa jeda.
"Kemudian
mengenai senang berpakaian bagus...” Kali ini Rona mengambil nafas panjang
untuk memaparkan pendapat selanjutnya.
“Teman-teman pernah
mendengar kalau Bandung Ibu Kota Jawa Barat diberi julukan Paris van Java
karena pada masa kolonial kependudukan Belanda semua pakaian terbaru dipajang
di Braga, salah satu nama jalan di Bandung. Kemudian jika dilihat dari segi
geografis, Jawa Barat rata-rata ada di dataran tinggi. Mungkin beberapa dari
kalian pernah mendengar bahwa Parahyangan diciptakan ketika Tuhan sedang
tersenyum, udaranya sejuk cenderung dingin, coba teman-teman bayangkan ketika
kedinginan pakai syal, coat dan sepatu boat di jalanan Bandung yang dingin,
pantas kan? Coba kalau udara panas seperti Yogyakarta atau Surabaya saya
berpakaian seperti ketika di Bandung. Apa yang terjadi? Koyok wong gendeng." Seketika kelas diwarnai dengan suara tawa.
“Maaf..stok vocabulary bahasa Jawa saya terbatas.”
Lanjut Rona
"Kalau matre? Harus
dibedakan antara matrealistis dengan realistis, uang memang bukan segalanya
namun sesunggunya segala sesuatu tidak bisa dipungkiri memang membutuhkan uang.
Kalaulah yang bapak maksud suka uang, ya.. hanya ayam dan itik atuh yang tidak paham nilai uang mah." Lagi-lagi kelas yang tadinya
hening seolah terpaku akan penjelasan panjang dari Rona menjadi penuh gelak
tawa, ditambah logat Sunda Rona sangat kental. Persis di film televisi. Dosen
kami pun ikut tertawa sambil menenangkan kelas.
"Sudah-sudah
terima kasih Neng Rona atas penjelasannya, sungguh nama yang bagus Lembayung
Merona, pasti dilahirkan ketika menjelang matahari terbenam ya? Stereotipe
orang Sunda yang enggan sekolah tinggi dan enggan merantau terbantahkan dengan
adanya anda di kelas ini."
Setelah kelas usai
aku dan beberapa kawan memilih menyegarkan otak dengan berteduh di kantin
kampus. Di lorong yang rimbun oleh tanaman merambat pada atapnya kulihat Ratih
dan beberapa mahasiswi sekelasku bercengkrama sambil mengunyah tahu isi dan
meneguk segelas es jeruk.
"Genta"
ujarku sambil mengulurkan tangan kearah Rona.
"Oh, Rona."
balasnya dengan mulut agak penuh dengan makanan. Rona mengambil tisu basah dari
tasnya, mengelap bibir dan tangannya.
“Orang Bali ya? Anak
kedua? Soalnya nama depanmu Made.” Lanjut Rona.
“Benar.” jawabku
pendek
“Magenta? Warna
favorit ibumu? Lucu juga ya, dipanggil Genta yang artinya lonceng kan?” Rona
bertanya lagi.
“Iya, genta dipakai
sebagai tanda waktu kami sembahyang. Kamu tadi berani sekali memotong penjelasan
dosen" ujarku dengan nada kekaguman.
"Kenapa harus
takut? Dosen tidak akan menggigit mahasiswa yang menyanggah kan? Kelas itu kan
ruang diskusi, tempat dimana semua ide berkumpul." Jawab Rona santai.
Alis Rona
yang tebal bergerak naik turun jika berbicara bak semut berbaris berhasil mengendap
dengan sempurna di ingatanku. Ruang kelas kami di desain menggunakan pola hurup
U pada tempat duduknya, aku selalu sengaja memilih tempat duduk bersebrangan
dengan Rona, hanya untuk melihat ia menahan kantuk ketika dosen mulai terlalu
banyak berbicara, berbinar ketika mata kuliah yang membahas mengenai budaya,
atau sesekali mencuri-curi melihat cermin, memastikan bahwa rambutnya tetap
rapi, atau sekedar melihat jerawat yang kecilnya tidak seberapa dibanding
dagunya yang panjang bak sarang lebah menggantung.
Jalan Bendungan Sigura-gura Malang, 19
Oktober 2013.
Aku memberanikan diri
mengunjungi kostan Rona, dengan alasan klasik ala pria zaman dahulu kala jika
ingin mengunjungi gadis idamannya yaitu meminjam buku dan mengajak mengerjakan
tugas kuliah secara bersama-sama agar mudah berdiskusi. Kostannya cukup dijaga
ketat, tamu pria tidak diperkenankan masuk tapi ibu kos menyediakan gazebo
tempat menerima tamu sedang kamar Rona berada di lantai dua. Aku duduk menunggu
di gazebo, ternyata Rona baru selesai memasak sungguh wangi makanannya menembus
dua lubang hidungku dengan cepat.
“Loh Genta? kamu sudah lama datang?
Handphoneku kusimpan di kamar, maaf nggak sempat mengecek. Sudah makan? Makan
bareng yuk?” Rona dengan cekatan mengambilkan nasi, ayam kecap dan tumis
kangkung hasil masakannya.
“Eh jadi tidak enak, aku kan kemari bukan
untuk numpang makan, mau pinjam buku. Kok jadi begini ya?” Sebenarnya aku malu,
sudah meminjam buku eh malah disuguhi makan pula. “Masakanku nggak enak-enak
amat sih, ya anggap saja kamu kelinci percobaanku.” Aku yakin Rona merendah,
soalnya rasa masakannya sangat sedap, alangkah bahagianya pria yang bisa
menikah dengannya, lidahnya bisa didekap oleh masakan-masakan rumahan setiap
hari, jangankan jadi kelinci percobaan jadi tikus di dapurnya pun aku rela.
RS Panti Nirmala Malang, 13 November
2014
“Ta,
Genta!” Ada suara lirih yang membangunkanku dari tidur.
“Iya,
Rona. Kenapa?” setengah sadar aku melirik kearah jam dinding, rupanya sudah
sore. Aku tertidur di kursi cukup lama, satu jam setengah.
“Aku
mau keluar, bosan tiduran terus. Aku mau ke taman atau ruang hijau, nggak
mungkin kan aku minta naik bianglala ke alun-alun Kota Batu?” Rona merapikan
rambut sebahunya, bersiap turun dari tempat tidur.
“Aduh,
jangan dong. Kamu masih belum sembuh benar, malah bisa lebih lama kamu disini kalau banyak berjalan.” Aku berusaha
mencegah
“Aku
bosan Genta, kalau tidak diizinkan jalan aku bisa minta kursi roda.
Tolonglah...” matanya memelas sudah dipastikan jika ia memperlihatkan wajah
seperti itu aku akan kalah, merunduk. Seperti ada sihir pada matanya, aku
mengiyakan.
“Aku
minta kursi roda dulu, kamu diam disini. Tidak usah jauh-jauh cukup di taman
saja.” Aku segera ke ruangan perawat meminta kursi roda.
Sudah
bisa kutebak, Rona bak anak kecil yang sudah lama dikurung di rumah. Senyumnya
melebar ketika melihat birunya langit, menoleh ke arah burung-burung yang berkejaran
diatas danau buatan.
“Kalau
aku sudah keluar dari sini, pokoknya harus ke pantai.” Ujar Rona tiba-tiba.
“Sembuh
dulu, berhenti makan pedas baru berpikir liburan. Tesismu menunggu, bukan
pantai.” Jawabku agak ketus kemudian dibalas dengan dengusan kesal dari
Rona.
Terakhir
kami mengunjungi pantai semester lalu. Aku dan seluruh teman seangkatan
diwajibkan mengikuti kegiatan pelatihan tindakan konseling pasca trauma menghadapi
bencana alam yang berlokasi di pesisir pantai Jawa Timur. Rona sangat
bersemangat karena selesai sesi acara kami diperbolehkan menyusuri pantai. Saat
itu matanya berbinar ketika matahari menjelang tenggelam, dari jingga menuju
ungu.
“Kamu
rindu langit sore ya?” tanyaku untuk menghapus dengusan kesal Rona.
“Iya,
rasanya sudah lama nggak melihat senja yang cantik.” Jawa Rona sambil terus
menatap langit, padahal ini belum senja.
“Kamu
suka sekali langit sore?” tanyaku lagi.
“Suka
banget, setiap hari ketika aku masih kecil selalu duduk di teras rumah untuk
nonton pertunjukkan senja, sayangnya ibuku selalu melarang keluar rumah,
katanya tidak baik anak kecil melihat matahari sore, bisa rabun senja. Kalau
nanti aku punya anak, aku sih bakal mengajak dia melihat senja.” Jawab Rona
sambil masih menerawang kearah langit.
“Kenapa
kamu bisa suka sekali sama langit sore?” aku bertanya seperti sedang melakukan
wawancara pada responden penelitianku.
“Karena
senja itu penyeimbang, dari terik menuju gelap” jawabnya singkat.
“Kamu
suka akan keseimbangan ya? Buatku senja itu terlihat seperti pemisah”
“Maksudnya?”
“Dia
pemisah, seolah matahari dipaksa berpamitan bukankah mungkin saja langit masih
membutuhkan terangnya?” jawabku ngawur.
“Habis
minum air infusan lagi? Atau habis mengunyah jarum suntik?” Rona menahan tawa.
Universitas Malang Raya, 22 Oktober
2013.
Kelas
filsafat kali ini sungguh membuat mataku ingin dilipat dan daguku meminta
ditopang oleh dua tangan. Aku meminta izin keluar kelas untuk mencuci muka dan
membeli kopi di kantin agar kantukku hilang.
“Genta!” sebuah tinjuan kecil mendarat di
lengan kananku.
“Mata
kuliah filsafat bikin ngantuk ya? Kalau aku sih pusing, takut tersesat dan
kebanyakan bertanya akan diri sendiri, terlalu sering monolog. Apalagi kalau
sudah berbicara mengenai ketuhanan, aduh ampun deh kapasitas otakku masih belum
sampai kesana kayaknya.” Rona mengaduk teh yang baru dibelinya sekaligus
mengaduk perasaanku, terselip kata ketuhanan dalam kalimat yang ia lontarkan
lagi-lagi membuat aku berpikir bagaimana bisa aku tertarik pada perempuan
berbeda keyakinan denganku.
“Dewi
Saraswati itu tanggannya ada empat kan ? Aku tahu dari lambang kosmetik yang
kupakai sehari-hari, hahaha dangkal sekali yah? Katanya ada hari raya
Saraswati, memperingati apa?” lagi-lagi Rona selalu bertanya tentang banyak
hal, dia pikir aku Wikipedia berjalan.
Belum
sempat kutanggapi, Rona melanjutkan berbicara.
“Kakek
dari ibuku suka sekali wayang, kalau liburan aku pasti diceritakan tentang
kisah Ramayana, pernah diceritakan tentang Brahma, Wisnu, dan Siwa ketika kami
berlibur ke Yogyakarta mengunjungi candi Prambanan. Aku selalu suka kalau baca
buku membahas sejarah, seolah kembali ke masa lalu memakai lorong waktu.” Rona
selalu terlihat antusias jika menceritakan kakeknya yang telah lama tiada,
sepertinya benar adanya bahwa manusia akan terlihat artinya jika telah pergi.
Entah
perasaanku saja atau memang benar adanya, perempuan bernama Lembayung Merona
ini makin cantik ketika sedang bercerita. Aku bisa berdiskusi apa saja
dengannya selain tentang kegiatan kuliah yang kami jalani. Ia sangat tertarik
dengan hal-hal berbau budaya, jiwa seninya juga cukup tinggi, kudengar bahwa
ketika masih duduk di sekolah dasar beberapa kali menjuarai lomba tari. Jika
ada mata kuliah berhubungan dengan budaya, matanya selalu penuh antusias
menyimak penjelasan dosen, atau mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak ia
pahami. Banyak pertanyaan tak terduga, betapa dia memikirkan jika program
keluarga berencana berhasil digaungkan di Bali, maka nama-nama anak ketiga dan
keempat di masyarakat kami akan punah.
“Heh,
kau naksir ya sama Rona?”colek Willy dengan logat Tapanulinya yang kental.
“Kuakui
Rona itu cantik, tinggi, putih, langsing pula seperti galah untuk mengambil
buah di kebun Bapakku tapi mungkin dia sudah dijodohkan. Mana ada orang tua
tega melepas anak gadis macam dia pada pria tak jelas. Kau tau usahlah banyak
berharap, nanti sakit hati kutakut kau bunuh diri. Pria macam kita ini laku
keras di kampung halaman masing-masing” Willy memang manusia yang selalu
berkata apa adanya bahkan terkadang terlalu apa adanya.
“Aku
jelas pria kok.” Jawabku kesal.
“Jadi
benar? Kamu naksir Rona?” sebuah pertanyaan jebakan dari Willy.
“Sungguh
sebuah retorika.” Aku menjawab sambil melengos keluar kelas.
Malang, 19 September 2015.
Kupakai
kemeja dan toga yang telah dibagikan dua hari sebelum wisuda. Sayang kedua
orangtuaku tidak bisa hadir di acara wisuda strata duaku ini karena berbarengan
dengan pernikahan salah satu kerabat kami, aku memasuki gedung Graha Cakrawala,
sebuah gedung yang digunakan untuk kegiatan pemerimaan mahasiswa baru, wisuda,
job fair, bahkan konser artis ibukota. Tampak aura bahagia tersebar di berbagai
sudut ruangan. Para wisudawati terlihat manglingi, cantik berpoles make up
beserta kebaya dan kain khas daerah masing-masing yang melilit di tubuhnya.
Kutengok kanan dan kiri, mencari sepasang mata yang meneduhkan,siapa lagi kalau
bukan Rona ia memang belum bisa wisuda hari ini tapi ia janji akan datang untuk
aku dan teman-temanku yang lulus hari ini. Lagu “Gaudeamus igtiur” dilantunkan
oleh paduan suara kampus, lagu yang selalu dinyanyikan saat pelepasan wisudawan
dan penyambutan mahasiswa baru. Aku hampir tidak percaya bisa sampai di tahap
ini, diawali dengan proses seleksi yang panjang ketika tes beasiswa. Begadang
hingga pagi buta menyelesaikan tesis hasilnya kantung mataku kian tampak dari
hari ke hari, menghabiskan hari di perpustakaan dari sejak dibuka hingga
ditutup. Menjalani kegiatan perkuliahan selama empat semester lalu akan
dilanjutkan dengan program pengabdian demi pemerataan tenaga kependidikan di
Indonesia. Kutatap sekeliling gedung Graha Cakrawala, rasanya baru kemarin aku
berdiri disini sebagai mahasiswa baru kini sebagai wisudawan. Tidak terasa
prosesi wisuda telah selesai,kami semua berfoto dengan kamera yang
berbeda-beda, pegal juga ternyata jika terlalu banyak senyum. Aku memilih
mengakhirkan diri keluar dari gedung, lagi-lagi mencari Rona. Dari kejauhan
kulihat perempuan mengenakan pakaian abu-abu dengan vest putih serta celana
jins, membawa sebuket bunga lily di tangan kiri dan cake di tangan kanannya.
“Hai Genta! Aduh maaf aku tadi bangun
kesiangan, dan kamar mandi di kostan ku airnya tiba-tiba mati, nunggu nyala
dulu baru deh mandi. Masa iya aku datang tanpa mandi.” Padahal sungguh pun aku
tidak peduli Rona sudah mandi atau belum, di mataku tetap cantik meski ia tidak
berdandan para wisudawati yang datang.
“Eh
ini, buat kamu. Hari ini juga kamu ulang tahun bukan? Usia baru, gelar baru
juga. Selamat ya, waduh kesusul nih!” Rona menyodorkan bawannya padaku, aku
saja baru ingat kalau ini hari ualng tahunku. Memang tidak pernah ada perayaan,
bukankah justru jatah umurku di dunia ini kini berkurang?
“Kamu
menanam bunga dulu ya semalam? Jadi terlambat bangun” Bunga yang dibawa Ratih
tidak lebih cantik dari yang membawanya.
Malang, 22 September 2015
Ini
pekan terakhirku di Malang, sebetulnya berat meninggalkan kota ini. Akan ada
banyak hal yang dirindukan, bianglala dengan tiket tiga ribu rupiah di kota
wisata Batu, alun-alun Kotanya yang disuguhi dengan simbol toleransi dimana
mesjid agung dan gereja terletak bersebelahan, kampung arab di sekitaran pasar
besar sedang tidak jauh dari sana ada klenteng, bisa dikatakan ini Indonesia
versi mini. Jalanannya yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, jogging track
lapangan Rampal tempat aku dan Rona berlari atau sesakali menonton konser dan
pagelaran seni. Setiap sudut kotanya seolah berbicara tentang kebahagiaan.
Namun belum berbicara mengenai perasaan yang aku punya, tidak mudah memendam
perasaan selama dua tahun. Seperti teks proklamasi kemerdekaan Indonesia,
perasaan ini harus diungkapkan dengan segera dan tempo sesingkat-singkatnya.
Sore
ini aku mengajak Rona berjalan-jalan mengitari Malang, kami menyusuri alun-alun
kota memperhatikan anak-anak kecil berlarian tanpa beban, air mancur yang
menyembur berirama, penjual es krim yang berkeliling, serta banyak pasangan
muda-mudi yang sepertinya sedang dihujani cinta. Kami menepi dari keramaian, di
salah satu jembatan penyebrangan menunggu senja tiba, mendadak lidahku kelu,
sekujur tubuhku terasa dingin namun banjir dengan keringat.
“Rona,
begini. Ada yang harus aku utarakan.” Ujarku dengan tangan yang terus mengepal
dan geligi mendadak menggigil.
“Iya?
Kenapa? Ada masalah dengan kampus tujuan pengabdianmu nanti?” Rona balas
bertanya.
“Lembayung
Merona, minggu depan mungkin kita tidak akan melihat senja di tempat yang sama,
tidak akan bercanda atau bahkan mengobrol serius tentang banyak teori psikologi
yang sungguh membuat otakku seakan terbakar karena saking panasnya, tidak akan
ada diskusi tentang budaya, tidak bisa lagi aku melihatmu beribadah menggunakan
mukena, dan tidak ada kamu juga yang sekedar berfoto di rumah ibadahku hanya
karena ingin merasakan nuansa Bali. Tidak akan ada aku yang tiba-tiba datang ke
tempat kost mu entah meminjam buku atau menumpang makan siang, juga tidak ada
kamu yang tiba-tiba menghubungiku karena printermu rusak.” Aku mencoba menghela
nafas panjang.
“Iya juga ya, kamu punya kenalan tukang
service printer kah?” Entah memang Rona
polos atau ingin melucu menghilangkan ketegangan sehinga melontarkan pertanyaan
macam ini. Aku enggan menjawabnya,
khawatir semua yang ada di otakku mendadak buyar berserakan tak beraturan.
“Aku
ingin kita tidak lagi berspasi, tidak berjarak. Aku ingin kita bersatu, tidak ada aku
atau kamu. Semuanya melebur menjadi kita. Aku ingin kamu menjemur handuk
basahku yang sering ditaruh sembarangan, aku ingin kamu mencocokkan pakaian yang
akan aku kenakan karena aku buta warna, aku ingin menjadi kelinci percobaan
atas resep-resep masakanmu, aku ingin mendengar belasan bahkan puluhan cerita
rakyat yang selalu kamu ceritakan yang nanti akan kita ceritakan pada anak-anak
kita, aku tidak ingin hanya berkhayal tentang perempuan idaman, aku tidak ingin
terus bermimpi, karena kamu sudah cukup nyata. Temani aku mengabdi pada negeri
ini, kita bisa melihat gemerlapnya bintang dalam atap sederhana yang kilaunya
persis dengan matamu, kita bisa mendengar deburan ombak yang mungkin kencangnya
sama dengan degup jantungku saat ini.” Rasanya persis seperti presentasi ujian
tesis beberapa bulan yang lalu, lemas, sulit bernafas, serta tenggorokkanku
mendadak kering sedang Rona menampakkan tampang polos dan bingung. Dia hanya diam, melihatku dengan tatapan yang heran.
“Tentang
perbedaan yang ada diantara kita, mari kita pikirkan jalan keluarnya. Tidak
perlu menjadi satu untuk bersatu, menurutku begitu” Rona masih juga tidak
bereaksi tetap menatapku dengan bingung. Tiba-tiba ada seorang waria mengamen
datang kepada kami. “Mbak, tanya dong sama teman saya yang ini. Kenapa dia
bengong kayak gitu, saya bingung jadinya.” Bukannya bertanya pada Rona waria
itu malah menjawil daguku dan hampir mencium pipiku. Ya ampun, mimpi apa aku semalam.
Surabaya, 25 September 2015.
Bandara
Juanda pagi ini gerimis, biasanya Surabaya bersuhu udara panas kini berubah
menjadi sejuk. Semua barangku sudah masuk bagasi. Tidak ada air mata dari semua
keluarga dan teman-teman yang mengantar, mereka paham bahwa kepergianku bukan
untuk ditangisi, semua ini demi kemajuan negeri. Sejak aku mengungkapkan
perasaanku, Rona tidak bisa kuhubungi sama sekali. Aku tidak ingin memaksa
menghubunginya mungkin dia ingin diberi waktu untuk berpikir mengenai tawaranku atau
mungkin sedang memberi jeda agar bisa melihat apa yang sebenarnya aku rasakan.
Mungkin artinya dia tidak ingin hidup denganku, tidak bersedia menamaniku mengabdi.
Pesawatku berangkat setengah jam lagi berharap Rona hadir di akhir seperti
ketika saat aku wisuda, terlepas dari jawabannya yang menolak, aku tidak
keberatan. Mungkin separuh hatiku memang harus ditinggalkan di Malang.
Tiba-tiba surat elektronik masuk pada ponselku. Sebuah lampiran teks dari akun
Rona.
Kepada Magenta Cakrawala.
Terima kasih untuk empat semester yang
sangat berkesan, kamu mengajarkanku bahwa dunia lengkap dengan segala
keragamannya. Perihal ungkapanmu tempo hari, aku sama sekali tidak menyangka
kamu seberani itu. Terima kasih atas ajakan mengarungi bahtera kehidupan yang
lebih menantang. Namun Genta, bagiku menikah bukan sekedar hal-hal seperti yang
kau bilang, lebih dari itu. Menikah bagiku adalah menyempurnakan separuh agama,
seperti yang selalu kedua orangtuaku bilang. Lalu bagaimana agamaku akan
sempurna, jika rumah ibadah yang kita kunjungi berbeda? Genta, aku yakin hatimu
luas seperti namamu. Percayalah, bahwa Tuhan kita menciptakan segala yang ada
di dalam alam ini dengan penuh cinta, temukan rona lembayung senja yang hangat
di cakrawala yang lain. Selamat mengabdi, Genta. Negeri ini butuh orang
pemberani sepertimu, orang yang melakukan banyak aksi daripada hanya bertutur
belaka. Semoga di lain waktu kita bertemu, tidak ada luka ataupun dera. Semoga
selamat sampai tujuan 😊
Lembayung Merona
Kupang, 15 Mei 2040
Kulihat
ulang jadwal kerjaku di bulan ini, banyak tugas yang belum aku selesaikan
sedangkan seiring bertambahnya usia staminaku menurun, tidak bisa lagi begadang
hanya untuk paper beberapa halaman. Ponsel ku sudah ku non aktifkan, lelah
mendengar kebisingan yang tiada berkesudahan sepanjang hari, entah panggilan
massuk atau pesan singkat dari banyak orang. Padahal sudah kujelaskan, jika ada
kepentingan mendesak kupersilakan menghubungi asistenku, ia yang lebih hapal
jadwalku sedang ingatanku kadang payah.
“Prof,
ada yang ingin bertemu. Pria, seperti mahasiswa tapi bukan dari kampus kita.
Katanya dari Jakarta, sudah beberapa kali saya suruh pulang tapi dia tetap
ingin menemui Prof, bagaimana?” Tanya Bayu asistenku.
“Suruh
masuk saja, kasihan datang jauh dari Jakarta” Jawabku.
Seorang
pemuda berusia duapuluhan lebih, mengenakan kemeja kotak-kotak abu dengan
lengan digulung sesiku, rambutnya tebal hitam sedang matanya tajam,
mengingatkan aku pada seseorang seperti pernah bertemu tapi entah dimana.
“Selamat
siang Prof, saya Tirta Asmarandhana. Mahasiswa lulusan Universitas Jakarta
Raya.” Ujarnya menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Iya?
Ada keperluan apa anda datang jauh kemari?" Tanyaku setelah bersalaman.
“Saya
ingin anda menjadi promotor dalam penelitian saya yang didanai pemerintah. Saya
sudah berusaha mengubungi anda lewat surat elektronik, pesan singkat, juga
berusaha menghubungi lewat telepon, namun dikarenakan tidak ada respon saya
berinisiatif mendatangi anda kemari, itu pun saran dari ibu saya yang mana
pernah berkawan dengan anda” jelasnya
“Ibumu?
Siapa?” tanyaku lagi
“Ibu
saya namanya Rona Prof, teman kuliah anda di Malang.” Jawabnya.
“Rona?
Lembayung Merona? Kamu putranya?” Aku lagi-lagi bertanya mencoba meyakinkan.
“Iya,
betul. Benar kan anda mengenalnya?” Jawabnya disertai senyuman.
Aku
pernah menangkap senyum yang sama dari orang yang berbeda lalu kubingkai,
kusimpan dalam peti kenangan sebaik-baiknya.