Selasa, 26 September 2017

Lembayung Merona


RS Panti Nirmala Malang, 10 November 2014
Aku melihat matanya mulai bergerak. Seperti menguatkan diri untuk bisa terbangun dari keletihannya. Pelan-pelan aku mendekat kearah tempat tidur, tidak tega melihat tangan kirinya yang halus dihiasi jarum dan selang infusan.
“Rona?”
Pelan aku usap tangannya, berharap bisa membantunya terbangun tanpa tersentak.
“Hhh.. aku dimana ini Genta? Puspa, mana Puspa?” ujar Rona sambil memegangi perut sebelah kirinya.
“Kamu di rumah sakit, Rona. Aku membawamu kesini” Puspa mengusap rambut Rona berusaha menenangkan.
“Apa diagnosa dokter?” tanyaku pada Puspa.
“Dugaan sementara ada peradangan entah di usus atau lambung. Mungkin karena Rona terlalu banyak makan pedas ditambah akhir-akhir ini sering sekali begadang untuk mengerjakan tesisnya, sore hari setelah siuman dari pingsan di depan ruang dosen dia kelihatan baik-baik saja, menjelang tengah malam dia mengeluh kesakitan di area perut bagian bawah khawatir pingsan lagi atau bertambah parah kubawalah kemari, tidak bisa gerak sama sekali, naik taksi melewati polisi tidur saja jerit-jerit.”  Puspa seperti juru bicara bagi Rona.
“Biar aku yang menjaga Rona, kasihan kalau kamu harus menunggui disini. Aku khawatir kamu malah sakit.” Ujarku pada Puspa yang wajahnya memperlihatkan kelelahan, karena kami sama-sama mahasiswa pascasarjana yang sedang kejar target lulus secepatnya.
“Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya Genta. Rona, besok pagi aku kesini lagi ya.” Puspa berpamitan pada Rona yang dijawab dengan anggukkan lemah.
“Terima kasih, Puspa. Genta.”
Keesokan harinya teman-teman kampus kami mulai berdatangan menjenguk Rona. Air mukanya mulai cerah, sumringah karena beberapa teman kami memang pandai melontarkan lawakan-lawakan receh. Sayangnya, nafsu makan Rona hampir lenyap, selalu muntah jika berusaha menelan makanan yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Sudah beberapa kali perawat keluar masuk ruangan, entah mengecek tekanan darah, menyuntikkan obat ke dalam infusan yang diikuti teriakan kecil mengaduh kesakitan. Sungguh seandainya bisa bertukar raga, biar aku saja yang merasakan sakitnya.
Malam sudah larut tapi Rona tak kunjung mengantuk.
“Kenapa tidak mau tidur? Kamu butuh istirahat bagaimana bisa sembuh kalau tidak istirahat. “ tanyaku.
“Karena diluar hujan, aku nggak suka hujan. Aku takut petir” jawabnya sambil memegangi ujung selimut.
 “Tidak ada petir, hanya kilat saja. Kenapa harus takut dengan hujan? Kalau hujan janganlah melihat apa yang jatuh, tapi lihatlah apa yang akan tumbuh.” Jawabku ngawur.
“Kamu habis minum apa? Nggak minum air infusan dari suster kan? Kamu mending nulis deh, kumpulan kata mutiara atau puisi gitu. Nanti pasti aku beli satu bukumu, tapi kalau sudah terkenal jangan lupa sama aku ya? Hahaha.” Tawa Rona sungguh merdu mendarat di telingaku.
Jikalah benar aku diberikan kesempatan untuk menulis buku, maka setiap paragrafnya adalah tentang kamu, atau tentang ketidakberdayaanku menolak hatiku untuk berdebar saat kamu tertawa seperti barusan, tawamu adalah melodi terbaik yang pernah aku dengar, lagipula cerita tentang kamu tidak akan mungkin selesai dalam satu buku saja.
 Fajar tiba, kudengar suara adzan itu artinya waktunya Rona untuk beribadah. Kubangunkan ia dengan menepuk pundaknya dengan hati-hati khawatir kaget atau tanganku terkena selang infusan. Lalu kutawarkan untuk kupapah ke kamar mandi agar bisa bersuci sebelum beribadah. “Aku tidak perlu wudhu, dalam Islam jika sakit boleh bersuci dengan tidak berwudhu, tayamum namanya.” Kemudian Rona menempelkan kedua telapak tangannya pada dinding kamar, lalu menyapukan telapak tangannya ke wajah, mengulangi menempelkan telapak tangan ke dinding lalu menyapu tangan kanan dan kiri hingga sikut. Sementara aku bergumam dalam hati betapa dipermudahnya manusia untuk beribadah.
“Genta, bisa minta tolong? Pakaikan mukena tanganku susah bergerak, tapi tolong jangan bersentuhan ya? Nanti aku harus bersuci ulang.” Aku memakaikan pakaian yang Rona sebut mukena. Pakaian khusus yang digunakan jika ia hendak beribadah. Rona tampak cantik, dibalut kain berwarna putih seolah menyatu dengan kulitnya yang  bersih. Apa dayaku, jika cinta ini lengkap dengan pembedanya yang disebut agama.

Universitas Malang Raya, 17 September 2013.
Hari ini kuliah perdanaku di kelas setelah sebelumnya mengikuti pra perkuliahan. Mata kuliah Psikologi Lintas Budaya, kabarnya dosen pengampunya adalah seorang budayawan yang tulisannya sering dimuat di media cetak nasional. Bab pertama kami membahas mengenai stereotipe.
"Selamat pagi mahasiswa-mahasiswi Pascasarjana Psikologi Universitas Malang Raya, hari ini kita akan mambahas stereotipe. Ada yang pernah mendengar kata ini sebelumnya?"
Aku mengacungkan tangan.
"Iya , silakan sebutkan nama dan asal daerahmu"
"Saya Made Magenta Cakrawala dari Bali Pak, stereotipe menurut saya sebuah pandangan terhadap suatu kelompok, dimana cara pandang tersebut digunakan pada setiap anggota kelompok tersebut, entah mengapa saya berasumsi bahwa stereotipe bernada negatif, salah satu teman kost saya adalah orang Minang, dia bilang kalau suku Minang itu irit cenderung pelit padahal di sisi lain mereka perantau hebat yang pantang pulang sebelum sukses di rantau"
"Hmm hanya itu?"
Seisi kelas diam, sunyi.
"Anda semua tentu pernah mendengar jika orang Jawa itu gigih, rajin, pekerja keras, gemar menabung. Berbeda dengan orang Sunda yang pemalas, enggan merantau, apalagi wanitanya terkenal matre, senang berdandan menor, senang berpakaian bagus dan biasanya tidak sekolah tinggi......"
"Izin menyanggah, Pak!" Teriak mahasiswi yang duduk di baris kedua dari belakang.
"Ya mbak? Silakan?" Dosen kami tersenyum sambil mempersilakan mahasiswi tersebut berbicara.
"Saya Lembayung Merona, Rona asal Cimahi, Jawa Barat. Saya tidak setuju dengan apa yang Bapak sampaikan barusan!" Nadanya agak meninggi dengan mata berapi-api namun lidah gemetaran.
"Alasannya?" Tanya dosenku santai sambil menggeser kursor laptopnya
"Bapak dosen yang terhormat, barusan Bapak berkata bahwa stereotipe wanita sunda itu matre, senang berdandan menor, enggan sekolah tinggi, lalu senang berpakaian bagus"
"Anda tersinggung dengan apa yang saya katakan?" Tanya dosenku kembali.
"Boleh saya berpendapat?" Nada suara Rona, ya namanya Rona jadi tidak perlu repot-repot berkenalan kan untuk tahu namanya, mulai merendah.
"Silakan." Ujar dosen kami.
"Bahwa wanita Sunda senang berdandan menor, kami dikaruniai kulit yang cenderung terang, bersih karena jika dilihat dari cerita rakyat legenda Gunung Tangkubanparahu, Dayang Sumbi konon awet muda sampai anak kandungnya sendiri yang bernama Sangkuriang jatuh cinta. Mengapa bisa demikian? Diceritakan bahwa Dayang Sumbi gemar memakan sayuran mentah atau dedaunan, terlepas dari legenda itu benar atau tidak. Orang Sunda memang menggemari sayuran mentah, sepertinya itu yang membuat kulit kami cenderung bersih. Jika kulit bersih dipoles make up sedikit saja sudah terkesan menor" Rona memaparkan hampir tanpa jeda.
"Kemudian mengenai senang berpakaian bagus...” Kali ini Rona mengambil nafas panjang untuk memaparkan pendapat selanjutnya.
“Teman-teman pernah mendengar kalau Bandung Ibu Kota Jawa Barat diberi julukan Paris van Java karena pada masa kolonial kependudukan Belanda semua pakaian terbaru dipajang di Braga, salah satu nama jalan di Bandung. Kemudian jika dilihat dari segi geografis, Jawa Barat rata-rata ada di dataran tinggi. Mungkin beberapa dari kalian pernah mendengar bahwa Parahyangan diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum, udaranya sejuk cenderung dingin, coba teman-teman bayangkan ketika kedinginan pakai syal, coat dan sepatu boat di jalanan Bandung yang dingin, pantas kan? Coba kalau udara panas seperti Yogyakarta atau Surabaya saya berpakaian seperti ketika di Bandung. Apa yang terjadi? Koyok wong gendeng." Seketika kelas diwarnai dengan suara tawa.
“Maaf..stok vocabulary bahasa Jawa saya terbatas.” Lanjut Rona
"Kalau matre? Harus dibedakan antara matrealistis dengan realistis, uang memang bukan segalanya namun sesunggunya segala sesuatu tidak bisa dipungkiri memang membutuhkan uang. Kalaulah yang bapak maksud suka uang, ya.. hanya ayam dan itik atuh yang tidak paham nilai uang mah." Lagi-lagi kelas yang tadinya hening seolah terpaku akan penjelasan panjang dari Rona menjadi penuh gelak tawa, ditambah logat Sunda Rona sangat kental. Persis di film televisi. Dosen kami pun ikut tertawa sambil menenangkan kelas.
"Sudah-sudah terima kasih Neng Rona atas penjelasannya, sungguh nama yang bagus Lembayung Merona, pasti dilahirkan ketika menjelang matahari terbenam ya? Stereotipe orang Sunda yang enggan sekolah tinggi dan enggan merantau terbantahkan dengan adanya anda di kelas ini."
Setelah kelas usai aku dan beberapa kawan memilih menyegarkan otak dengan berteduh di kantin kampus. Di lorong yang rimbun oleh tanaman merambat pada atapnya kulihat Ratih dan beberapa mahasiswi sekelasku bercengkrama sambil mengunyah tahu isi dan meneguk segelas es jeruk.
"Genta" ujarku sambil mengulurkan tangan kearah Rona.
"Oh, Rona." balasnya dengan mulut agak penuh dengan makanan. Rona mengambil tisu basah dari tasnya, mengelap bibir dan tangannya.
“Orang Bali ya? Anak kedua? Soalnya nama depanmu Made.” Lanjut Rona.
“Benar.” jawabku pendek
“Magenta? Warna favorit ibumu? Lucu juga ya, dipanggil Genta yang artinya lonceng kan?” Rona bertanya lagi.
“Iya, genta dipakai sebagai tanda waktu kami sembahyang. Kamu tadi berani sekali memotong penjelasan dosen" ujarku dengan nada kekaguman.
"Kenapa harus takut? Dosen tidak akan menggigit mahasiswa yang menyanggah kan? Kelas itu kan ruang diskusi, tempat dimana semua ide berkumpul." Jawab Rona santai.
Alis Rona yang tebal bergerak naik turun jika berbicara bak semut berbaris berhasil mengendap dengan sempurna di ingatanku. Ruang kelas kami di desain menggunakan pola hurup U pada tempat duduknya, aku selalu sengaja memilih tempat duduk bersebrangan dengan Rona, hanya untuk melihat ia menahan kantuk ketika dosen mulai terlalu banyak berbicara, berbinar ketika mata kuliah yang membahas mengenai budaya, atau sesekali mencuri-curi melihat cermin, memastikan bahwa rambutnya tetap rapi, atau sekedar melihat jerawat yang kecilnya tidak seberapa dibanding dagunya yang panjang bak sarang lebah menggantung.

Jalan Bendungan Sigura-gura Malang, 19 Oktober 2013.
Aku memberanikan diri mengunjungi kostan Rona, dengan alasan klasik ala pria zaman dahulu kala jika ingin mengunjungi gadis idamannya yaitu meminjam buku dan mengajak mengerjakan tugas kuliah secara bersama-sama agar mudah berdiskusi. Kostannya cukup dijaga ketat, tamu pria tidak diperkenankan masuk tapi ibu kos menyediakan gazebo tempat menerima tamu sedang kamar Rona berada di lantai dua. Aku duduk menunggu di gazebo, ternyata Rona baru selesai memasak sungguh wangi makanannya menembus dua lubang hidungku dengan cepat.
“Loh Genta? kamu sudah lama datang? Handphoneku kusimpan di kamar, maaf nggak sempat mengecek. Sudah makan? Makan bareng yuk?” Rona dengan cekatan mengambilkan nasi, ayam kecap dan tumis kangkung hasil masakannya.
“Eh jadi tidak enak, aku kan kemari bukan untuk numpang makan, mau pinjam buku. Kok jadi begini ya?” Sebenarnya aku malu, sudah meminjam buku eh malah disuguhi makan pula. “Masakanku nggak enak-enak amat sih, ya anggap saja kamu kelinci percobaanku.” Aku yakin Rona merendah, soalnya rasa masakannya sangat sedap, alangkah bahagianya pria yang bisa menikah dengannya, lidahnya bisa didekap oleh masakan-masakan rumahan setiap hari, jangankan jadi kelinci percobaan jadi tikus di dapurnya pun aku rela.

RS Panti Nirmala Malang, 13 November 2014
“Ta, Genta!” Ada suara lirih yang membangunkanku dari tidur.
“Iya, Rona. Kenapa?” setengah sadar aku melirik kearah jam dinding, rupanya sudah sore. Aku tertidur di kursi cukup lama, satu jam setengah.
“Aku mau keluar, bosan tiduran terus. Aku mau ke taman atau ruang hijau, nggak mungkin kan aku minta naik bianglala ke alun-alun Kota Batu?” Rona merapikan rambut sebahunya, bersiap turun dari tempat tidur.
“Aduh, jangan dong. Kamu masih belum sembuh benar, malah bisa lebih lama kamu disini kalau banyak berjalan.” Aku berusaha mencegah
“Aku bosan Genta, kalau tidak diizinkan jalan aku bisa minta kursi roda. Tolonglah...” matanya memelas sudah dipastikan jika ia memperlihatkan wajah seperti itu aku akan kalah, merunduk. Seperti ada sihir pada matanya, aku mengiyakan.
“Aku minta kursi roda dulu, kamu diam disini. Tidak usah jauh-jauh cukup di taman saja.” Aku segera ke ruangan perawat meminta kursi roda.
Sudah bisa kutebak, Rona bak anak kecil yang sudah lama dikurung di rumah. Senyumnya melebar ketika melihat birunya langit, menoleh ke arah burung-burung yang berkejaran diatas danau buatan.
“Kalau aku sudah keluar dari sini, pokoknya harus ke pantai.” Ujar Rona tiba-tiba.
“Sembuh dulu, berhenti makan pedas baru berpikir liburan. Tesismu menunggu, bukan pantai.” Jawabku agak ketus kemudian dibalas dengan dengusan kesal dari Rona.
Terakhir kami mengunjungi pantai semester lalu. Aku dan seluruh teman seangkatan diwajibkan mengikuti kegiatan pelatihan tindakan konseling pasca trauma menghadapi bencana alam yang berlokasi di pesisir pantai Jawa Timur. Rona sangat bersemangat karena selesai sesi acara kami diperbolehkan menyusuri pantai. Saat itu matanya berbinar ketika matahari menjelang tenggelam, dari jingga menuju ungu.
“Kamu rindu langit sore ya?” tanyaku untuk menghapus dengusan kesal Rona.
“Iya, rasanya sudah lama nggak melihat senja yang cantik.” Jawa Rona sambil terus menatap langit, padahal ini belum senja.
“Kamu suka sekali langit sore?” tanyaku lagi.
“Suka banget, setiap hari ketika aku masih kecil selalu duduk di teras rumah untuk nonton pertunjukkan senja, sayangnya ibuku selalu melarang keluar rumah, katanya tidak baik anak kecil melihat matahari sore, bisa rabun senja. Kalau nanti aku punya anak, aku sih bakal mengajak dia melihat senja.” Jawab Rona sambil masih menerawang kearah langit.
“Kenapa kamu bisa suka sekali sama langit sore?” aku bertanya seperti sedang melakukan wawancara pada responden penelitianku.
“Karena senja itu penyeimbang, dari terik menuju gelap” jawabnya singkat.
“Kamu suka akan keseimbangan ya? Buatku senja itu terlihat seperti pemisah”
“Maksudnya?”
“Dia pemisah, seolah matahari dipaksa berpamitan bukankah mungkin saja langit masih membutuhkan terangnya?” jawabku ngawur.
“Habis minum air infusan lagi? Atau habis mengunyah jarum suntik?” Rona menahan tawa.

Universitas Malang Raya, 22 Oktober 2013.
Kelas filsafat kali ini sungguh membuat mataku ingin dilipat dan daguku meminta ditopang oleh dua tangan. Aku meminta izin keluar kelas untuk mencuci muka dan membeli kopi di kantin agar kantukku hilang.
 “Genta!” sebuah tinjuan kecil mendarat di lengan kananku.
“Mata kuliah filsafat bikin ngantuk ya? Kalau aku sih pusing, takut tersesat dan kebanyakan bertanya akan diri sendiri, terlalu sering monolog. Apalagi kalau sudah berbicara mengenai ketuhanan, aduh ampun deh kapasitas otakku masih belum sampai kesana kayaknya.” Rona mengaduk teh yang baru dibelinya sekaligus mengaduk perasaanku, terselip kata ketuhanan dalam kalimat yang ia lontarkan lagi-lagi membuat aku berpikir bagaimana bisa aku tertarik pada perempuan berbeda keyakinan denganku.
“Dewi Saraswati itu tanggannya ada empat kan ? Aku tahu dari lambang kosmetik yang kupakai sehari-hari, hahaha dangkal sekali yah? Katanya ada hari raya Saraswati, memperingati apa?” lagi-lagi Rona selalu bertanya tentang banyak hal, dia pikir aku Wikipedia berjalan.
Belum sempat kutanggapi, Rona melanjutkan berbicara.
“Kakek dari ibuku suka sekali wayang, kalau liburan aku pasti diceritakan tentang kisah Ramayana, pernah diceritakan tentang Brahma, Wisnu, dan Siwa ketika kami berlibur ke Yogyakarta mengunjungi candi Prambanan. Aku selalu suka kalau baca buku membahas sejarah, seolah kembali ke masa lalu memakai lorong waktu.” Rona selalu terlihat antusias jika menceritakan kakeknya yang telah lama tiada, sepertinya benar adanya bahwa manusia akan terlihat artinya jika telah pergi.
Entah perasaanku saja atau memang benar adanya, perempuan bernama Lembayung Merona ini makin cantik ketika sedang bercerita. Aku bisa berdiskusi apa saja dengannya selain tentang kegiatan kuliah yang kami jalani. Ia sangat tertarik dengan hal-hal berbau budaya, jiwa seninya juga cukup tinggi, kudengar bahwa ketika masih duduk di sekolah dasar beberapa kali menjuarai lomba tari. Jika ada mata kuliah berhubungan dengan budaya, matanya selalu penuh antusias menyimak penjelasan dosen, atau mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak ia pahami. Banyak pertanyaan tak terduga, betapa dia memikirkan jika program keluarga berencana berhasil digaungkan di Bali, maka nama-nama anak ketiga dan keempat di masyarakat kami akan punah.
“Heh, kau naksir ya sama Rona?”colek Willy  dengan logat Tapanulinya yang kental.
“Kuakui Rona itu cantik, tinggi, putih, langsing pula seperti galah untuk mengambil buah di kebun Bapakku tapi mungkin dia sudah dijodohkan. Mana ada orang tua tega melepas anak gadis macam dia pada pria tak jelas. Kau tau usahlah banyak berharap, nanti sakit hati kutakut kau bunuh diri. Pria macam kita ini laku keras di kampung halaman masing-masing” Willy memang manusia yang selalu berkata apa adanya bahkan terkadang terlalu apa adanya.
“Aku jelas pria kok.” Jawabku kesal.
“Jadi benar? Kamu naksir Rona?” sebuah pertanyaan jebakan dari Willy.
“Sungguh sebuah retorika.” Aku menjawab sambil melengos keluar kelas.

Malang, 19 September 2015.
Kupakai kemeja dan toga yang telah dibagikan dua hari sebelum wisuda. Sayang kedua orangtuaku tidak bisa hadir di acara wisuda strata duaku ini karena berbarengan dengan pernikahan salah satu kerabat kami, aku memasuki gedung Graha Cakrawala, sebuah gedung yang digunakan untuk kegiatan pemerimaan mahasiswa baru, wisuda, job fair, bahkan konser artis ibukota. Tampak aura bahagia tersebar di berbagai sudut ruangan. Para wisudawati terlihat manglingi, cantik berpoles make up beserta kebaya dan kain khas daerah masing-masing yang melilit di tubuhnya. Kutengok kanan dan kiri, mencari sepasang mata yang meneduhkan,siapa lagi kalau bukan Rona ia memang belum bisa wisuda hari ini tapi ia janji akan datang untuk aku dan teman-temanku yang lulus hari ini. Lagu “Gaudeamus igtiur” dilantunkan oleh paduan suara kampus, lagu yang selalu dinyanyikan saat pelepasan wisudawan dan penyambutan mahasiswa baru. Aku hampir tidak percaya bisa sampai di tahap ini, diawali dengan proses seleksi yang panjang ketika tes beasiswa. Begadang hingga pagi buta menyelesaikan tesis hasilnya kantung mataku kian tampak dari hari ke hari, menghabiskan hari di perpustakaan dari sejak dibuka hingga ditutup. Menjalani kegiatan perkuliahan selama empat semester lalu akan dilanjutkan dengan program pengabdian demi pemerataan tenaga kependidikan di Indonesia. Kutatap sekeliling gedung Graha Cakrawala, rasanya baru kemarin aku berdiri disini sebagai mahasiswa baru kini sebagai wisudawan. Tidak terasa prosesi wisuda telah selesai,kami semua berfoto dengan kamera yang berbeda-beda, pegal juga ternyata jika terlalu banyak senyum. Aku memilih mengakhirkan diri keluar dari gedung, lagi-lagi mencari Rona. Dari kejauhan kulihat perempuan mengenakan pakaian abu-abu dengan vest putih serta celana jins, membawa sebuket bunga lily di tangan kiri dan cake di tangan kanannya.
 “Hai Genta! Aduh maaf aku tadi bangun kesiangan, dan kamar mandi di kostan ku airnya tiba-tiba mati, nunggu nyala dulu baru deh mandi. Masa iya aku datang tanpa mandi.” Padahal sungguh pun aku tidak peduli Rona sudah mandi atau belum, di mataku tetap cantik meski ia tidak berdandan para wisudawati yang datang.
“Eh ini, buat kamu. Hari ini juga kamu ulang tahun bukan? Usia baru, gelar baru juga. Selamat ya, waduh kesusul nih!” Rona menyodorkan bawannya padaku, aku saja baru ingat kalau ini hari ualng tahunku. Memang tidak pernah ada perayaan, bukankah justru jatah umurku di dunia ini kini berkurang?
“Kamu menanam bunga dulu ya semalam? Jadi terlambat bangun” Bunga yang dibawa Ratih tidak lebih cantik dari yang membawanya.
  
Malang, 22 September 2015
Ini pekan terakhirku di Malang, sebetulnya berat meninggalkan kota ini. Akan ada banyak hal yang dirindukan, bianglala dengan tiket tiga ribu rupiah di kota wisata Batu, alun-alun Kotanya yang disuguhi dengan simbol toleransi dimana mesjid agung dan gereja terletak bersebelahan, kampung arab di sekitaran pasar besar sedang tidak jauh dari sana ada klenteng, bisa dikatakan ini Indonesia versi mini. Jalanannya yang ditumbuhi banyak pohon-pohon besar, jogging track lapangan Rampal tempat aku dan Rona berlari atau sesakali menonton konser dan pagelaran seni. Setiap sudut kotanya seolah berbicara tentang kebahagiaan. Namun belum berbicara mengenai perasaan yang aku punya, tidak mudah memendam perasaan selama dua tahun. Seperti teks proklamasi kemerdekaan Indonesia, perasaan ini harus diungkapkan dengan segera dan tempo sesingkat-singkatnya.
Sore ini aku mengajak Rona berjalan-jalan mengitari Malang, kami menyusuri alun-alun kota memperhatikan anak-anak kecil berlarian tanpa beban, air mancur yang menyembur berirama, penjual es krim yang berkeliling, serta banyak pasangan muda-mudi yang sepertinya sedang dihujani cinta. Kami menepi dari keramaian, di salah satu jembatan penyebrangan menunggu senja tiba, mendadak lidahku kelu, sekujur tubuhku terasa dingin namun banjir dengan keringat.
“Rona, begini. Ada yang harus aku utarakan.” Ujarku dengan tangan yang terus mengepal dan geligi mendadak menggigil.
“Iya? Kenapa? Ada masalah dengan kampus tujuan pengabdianmu nanti?” Rona balas bertanya.
“Lembayung Merona, minggu depan mungkin kita tidak akan melihat senja di tempat yang sama, tidak akan bercanda atau bahkan mengobrol serius tentang banyak teori psikologi yang sungguh membuat otakku seakan terbakar karena saking panasnya, tidak akan ada diskusi tentang budaya, tidak bisa lagi aku melihatmu beribadah menggunakan mukena, dan tidak ada kamu juga yang sekedar berfoto di rumah ibadahku hanya karena ingin merasakan nuansa Bali. Tidak akan ada aku yang tiba-tiba datang ke tempat kost mu entah meminjam buku atau menumpang makan siang, juga tidak ada kamu yang tiba-tiba menghubungiku karena printermu rusak.” Aku mencoba menghela nafas panjang.
 “Iya juga ya, kamu punya kenalan tukang service printer kah?”  Entah memang Rona polos atau ingin melucu menghilangkan ketegangan sehinga melontarkan pertanyaan macam ini.  Aku enggan menjawabnya, khawatir semua yang ada di otakku mendadak buyar berserakan tak beraturan.
“Aku ingin kita tidak lagi berspasi, tidak berjarak. Aku ingin kita bersatu, tidak ada aku atau kamu. Semuanya melebur menjadi kita. Aku ingin kamu menjemur handuk basahku yang sering ditaruh sembarangan, aku ingin kamu mencocokkan pakaian yang akan aku kenakan karena aku buta warna, aku ingin menjadi kelinci percobaan atas resep-resep masakanmu, aku ingin mendengar belasan bahkan puluhan cerita rakyat yang selalu kamu ceritakan yang nanti akan kita ceritakan pada anak-anak kita, aku tidak ingin hanya berkhayal tentang perempuan idaman, aku tidak ingin terus bermimpi, karena kamu sudah cukup nyata. Temani aku mengabdi pada negeri ini, kita bisa melihat gemerlapnya bintang dalam atap sederhana yang kilaunya persis dengan matamu, kita bisa mendengar deburan ombak yang mungkin kencangnya sama dengan degup jantungku saat ini.” Rasanya persis seperti presentasi ujian tesis beberapa bulan yang lalu, lemas, sulit bernafas, serta tenggorokkanku mendadak kering sedang Rona menampakkan tampang polos dan bingung. Dia hanya diam, melihatku dengan tatapan yang heran.
“Tentang perbedaan yang ada diantara kita, mari kita pikirkan jalan keluarnya. Tidak perlu menjadi satu untuk bersatu, menurutku begitu” Rona masih juga tidak bereaksi tetap menatapku dengan bingung. Tiba-tiba ada seorang waria mengamen datang kepada kami. “Mbak, tanya dong sama teman saya yang ini. Kenapa dia bengong kayak gitu, saya bingung jadinya.” Bukannya bertanya pada Rona waria itu malah menjawil daguku dan hampir mencium pipiku. Ya ampun, mimpi apa aku semalam.

Surabaya, 25 September 2015.
Bandara Juanda pagi ini gerimis, biasanya Surabaya bersuhu udara panas kini berubah menjadi sejuk. Semua barangku sudah masuk bagasi. Tidak ada air mata dari semua keluarga dan teman-teman yang mengantar, mereka paham bahwa kepergianku bukan untuk ditangisi, semua ini demi kemajuan negeri. Sejak aku mengungkapkan perasaanku, Rona tidak bisa kuhubungi sama sekali. Aku tidak ingin memaksa menghubunginya mungkin dia ingin diberi waktu untuk berpikir mengenai tawaranku atau mungkin sedang memberi jeda agar bisa melihat apa yang sebenarnya aku rasakan. Mungkin artinya dia tidak ingin hidup denganku, tidak bersedia menamaniku mengabdi. Pesawatku berangkat setengah jam lagi berharap Rona hadir di akhir seperti ketika saat aku wisuda, terlepas dari jawabannya yang menolak, aku tidak keberatan. Mungkin separuh hatiku memang harus ditinggalkan di Malang. Tiba-tiba surat elektronik masuk pada ponselku. Sebuah lampiran teks dari akun Rona.


Kepada Magenta Cakrawala.
Terima kasih untuk empat semester yang sangat berkesan, kamu mengajarkanku bahwa dunia lengkap dengan segala keragamannya. Perihal ungkapanmu tempo hari, aku sama sekali tidak menyangka kamu seberani itu. Terima kasih atas ajakan mengarungi bahtera kehidupan yang lebih menantang. Namun Genta, bagiku menikah bukan sekedar hal-hal seperti yang kau bilang, lebih dari itu. Menikah bagiku adalah menyempurnakan separuh agama, seperti yang selalu kedua orangtuaku bilang. Lalu bagaimana agamaku akan sempurna, jika rumah ibadah yang kita kunjungi berbeda? Genta, aku yakin hatimu luas seperti namamu. Percayalah, bahwa Tuhan kita menciptakan segala yang ada di dalam alam ini dengan penuh cinta, temukan rona lembayung senja yang hangat di cakrawala yang lain. Selamat mengabdi, Genta. Negeri ini butuh orang pemberani sepertimu, orang yang melakukan banyak aksi daripada hanya bertutur belaka. Semoga di lain waktu kita bertemu, tidak ada luka ataupun dera. Semoga selamat sampai tujuan 😊

Lembayung Merona

Kupang, 15 Mei 2040
Kulihat ulang jadwal kerjaku di bulan ini, banyak tugas yang belum aku selesaikan sedangkan seiring bertambahnya usia staminaku menurun, tidak bisa lagi begadang hanya untuk paper beberapa halaman. Ponsel ku sudah ku non aktifkan, lelah mendengar kebisingan yang tiada berkesudahan sepanjang hari, entah panggilan massuk atau pesan singkat dari banyak orang. Padahal sudah kujelaskan, jika ada kepentingan mendesak kupersilakan menghubungi asistenku, ia yang lebih hapal jadwalku sedang ingatanku kadang payah.
“Prof, ada yang ingin bertemu. Pria, seperti mahasiswa tapi bukan dari kampus kita. Katanya dari Jakarta, sudah beberapa kali saya suruh pulang tapi dia tetap ingin menemui Prof, bagaimana?” Tanya Bayu asistenku.
“Suruh masuk saja, kasihan datang jauh dari Jakarta” Jawabku.
Seorang pemuda berusia duapuluhan lebih, mengenakan kemeja kotak-kotak abu dengan lengan digulung sesiku, rambutnya tebal hitam sedang matanya tajam, mengingatkan aku pada seseorang seperti pernah bertemu tapi entah dimana.
“Selamat siang Prof, saya Tirta Asmarandhana. Mahasiswa lulusan Universitas Jakarta Raya.” Ujarnya menyodorkan tangan untuk bersalaman.
“Iya? Ada keperluan apa anda datang jauh kemari?" Tanyaku setelah bersalaman.
“Saya ingin anda menjadi promotor dalam penelitian saya yang didanai pemerintah. Saya sudah berusaha mengubungi anda lewat surat elektronik, pesan singkat, juga berusaha menghubungi lewat telepon, namun dikarenakan tidak ada respon saya berinisiatif mendatangi anda kemari, itu pun saran dari ibu saya yang mana pernah berkawan dengan anda” jelasnya
“Ibumu? Siapa?” tanyaku lagi
“Ibu saya namanya Rona Prof, teman kuliah anda di Malang.” Jawabnya.
“Rona? Lembayung Merona? Kamu putranya?” Aku lagi-lagi bertanya mencoba meyakinkan.
“Iya, betul. Benar kan anda mengenalnya?” Jawabnya disertai senyuman.
Aku pernah menangkap senyum yang sama dari orang yang berbeda lalu kubingkai, kusimpan dalam peti kenangan sebaik-baiknya.

2 komentar:

  1. It's name is 'cerpan' alias cerita panjang. ;p
    Sepertinya aish berbakat jadi novelis.haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. akhirnya ada yang komen juga :")
      nuhun loh Denny udah baca wkwkwk
      aamiin ini masih proses novelnya doain lancar yhaaa

      Hapus