Membicarakan jodoh tidak
pernah ada habisnya, saya teringat satu meme yang mana pria ketakutan dikejar
peremepuan berpendidikan tinggi. Agak lucu sih jadinya. Saya sering
berkali-kali dicibir “Ngapain sekolah S2 nanti pria nggak ada yang mau sama
kamu.” Lebih menyedihkan, nggak sekolah S2 aja emang nggak ada yang mau sama
saya kok ☹
Pernah pula saya
mendengar ucapan dari seorang perempuan lajang dan muda serta ranum.
(((((RANUM))).
“Pokoknya kalau menikah
saya nggak mau sama pria yang tingkat pendidikannya dibawah saya, usianya diatas
saya, pokonya seganteng nabi Yusuf, sekaya Nabi Sulaiman, sesholeh Nabi
Muhammad.” Di dalam hati saya setan-setan berkeliaran seolah ingin ngomong
“Nasateh
geulis? Raline Shah lain, Dian Sastro lain, Raisa ge lain meni loba pisan
kahayang!”
Beruntung saya
dianugerahi kemampuan mengemas kata.
“Wah, berat juga ya.
Berarti kamu harus secerdas Siti Aisyah, Sekaya Siti Khadijah dan sesabar Siti
Hajar. Semoga bisa ketemu jodohnya ya” Ini saya ngomong gitu sambil nahan
nafas, lobang hidung push up naik turun, kembang kempis karena gemas.
Adik cantik Ranum
(sebutlah namanya begitu) yang baik, tidak semua hal di dunia ini terjadi atas
apa yang kamu inginkan. Kita boleh berharap jodoh yang segala-galanya lebih
dari kita tapi yang harus diingat adalah bahwa pernikahan bukanlah ajang bisnis
atau transaksi agar kita merasa diuntungkan mendapatkan banyak hal. Pernikahan
adalah sebuah hubungan resiprok berkesinambungan seumur hidup melibatkan Tuhan
di dalamnya.
Jika menetapkan banyak
kriteria bla bla bla silakan ciptakan manusia ideal menurut apa yang kamu
dambakan. Da kita mah apa atuh, cuma makhluk Allah.
Oke untuk para pria bukan
berarti tidak bekerja keras atau malas meningkatkan kualitas diri, ingin dapat
istri cerdas? Ya kamu juga harus mencerdaskan diri, biar kalau diajak ngobrol
nggak jaka sembung main pingpong, ga nyambung dong-dong!
Curang rasanya jika kita
mengharapkan pasangan yang baik sedang kita enggan memperbaiki diri.
Pendek cerita, seperti
yang tadi saya bilang. Saya mah nggak kuliah S2 pun belum laku, jadi hipotesis
mamak-mamak beralis palsu yang mengklaim bahwa jika perempuan yang bersekolah
tinggi susah jodohnya terbantahkan.
Suami saya ketika menikah
pendidikan terakhirnya D3, lalu apakah kami tidak jadi menikah?
Berbeda tingkat
pendidikan apakah suami saya ketakutan seperti meme yang dilontarkan akhi-akhi
cupet yang saya ceritakan diawal? Tentu tidak. Dia dong yang ngejar saya
(hoeks). Nggak ding, saya yakin bahwa jodoh adalah perkara saling mencari dan
ditemukan. Kejar-mengejar hanya ada pada penagih utang dan yang berhutang.
Aku selalu suka baca diblog ini :)
BalasHapusSalam kenal teh aish :)
BalasHapus