Kamis, 05 Oktober 2017

Perihal Jodoh

Membicarakan jodoh tidak pernah ada habisnya, saya teringat satu meme yang mana pria ketakutan dikejar peremepuan berpendidikan tinggi. Agak lucu sih jadinya. Saya sering berkali-kali dicibir “Ngapain sekolah S2 nanti pria nggak ada yang mau sama kamu.” Lebih menyedihkan, nggak sekolah S2 aja emang nggak ada yang mau sama saya kok
Pernah pula saya mendengar ucapan dari seorang perempuan lajang dan muda serta ranum. (((((RANUM))).
“Pokoknya kalau menikah saya nggak mau sama pria yang tingkat pendidikannya dibawah saya, usianya diatas saya, pokonya seganteng nabi Yusuf, sekaya Nabi Sulaiman, sesholeh Nabi Muhammad.” Di dalam hati saya setan-setan berkeliaran seolah ingin ngomong
“Nasateh geulis? Raline Shah lain, Dian Sastro lain, Raisa ge lain meni loba pisan kahayang!”
Beruntung saya dianugerahi kemampuan mengemas kata.
“Wah, berat juga ya. Berarti kamu harus secerdas Siti Aisyah, Sekaya Siti Khadijah dan sesabar Siti Hajar. Semoga bisa ketemu jodohnya ya” Ini saya ngomong gitu sambil nahan nafas, lobang hidung push up naik turun, kembang kempis karena gemas.
Adik cantik Ranum (sebutlah namanya begitu) yang baik, tidak semua hal di dunia ini terjadi atas apa yang kamu inginkan. Kita boleh berharap jodoh yang segala-galanya lebih dari kita tapi yang harus diingat adalah bahwa pernikahan bukanlah ajang bisnis atau transaksi agar kita merasa diuntungkan mendapatkan banyak hal. Pernikahan adalah sebuah hubungan resiprok berkesinambungan seumur hidup melibatkan Tuhan di dalamnya.
Jika menetapkan banyak kriteria bla bla bla silakan ciptakan manusia ideal menurut apa yang kamu dambakan. Da kita mah apa atuh, cuma makhluk Allah.
Oke untuk para pria bukan berarti tidak bekerja keras atau malas meningkatkan kualitas diri, ingin dapat istri cerdas? Ya kamu juga harus mencerdaskan diri, biar kalau diajak ngobrol nggak jaka sembung main pingpong, ga nyambung dong-dong!
Curang rasanya jika kita mengharapkan pasangan yang baik sedang kita enggan memperbaiki diri.
Pendek cerita, seperti yang tadi saya bilang. Saya mah nggak kuliah S2 pun belum laku, jadi hipotesis mamak-mamak beralis palsu yang mengklaim bahwa jika perempuan yang bersekolah tinggi susah jodohnya terbantahkan.
Suami saya ketika menikah pendidikan terakhirnya D3, lalu apakah kami tidak jadi menikah?
Berbeda tingkat pendidikan apakah suami saya ketakutan seperti meme yang dilontarkan akhi-akhi cupet yang saya ceritakan diawal? Tentu tidak. Dia dong yang ngejar saya (hoeks). Nggak ding, saya yakin bahwa jodoh adalah perkara saling mencari dan ditemukan. Kejar-mengejar hanya ada pada penagih utang dan yang berhutang.

2 komentar: