Rabu, 25 Oktober 2017

Review Film Cinta Laki-laki Biasa

Film Cinta Laki-laki Biasa ini diangkat dari novelnya Asma Nadia, diperankan oleh Velope Vexia sebagai Nania dan Deva Mahenra sebagai Rafli. Film yang bernuansa romansa namun dibumbui pesan-pesan dalam menjalani hidup. 
Adalah Nania, seorang putri bungsu dari empat bersaudara dilahirkan di keluarga yang kaya raya mahasiswa tingkat akhir trknik arsitektur namun justru memilih tempat praktek di sebuah proyek perumahan sederhana. Kayaknya cuma di film ini kita bisa melihat Velope yang tangannya mulus memegang cangkul, mengaduk semen juga memelester tembok dengan adonan.
Keluarga Nania menginginkan putrinya jatuh pada tangan yang tepat, dijodohkanlah dengan seorang dokter otak lulusan Jerman bernama dr.Tio diperankan oleh Nino Fernandez yang belakangan saya telisik kok mirip Pak Sandiaga Uno ya? Oke Skip.
Tapi hati Nania sepertinya telah jatuh pada Kang Rafli, pemuda asal Pangalengan yang menjadi mentornya ketika praktek kerja lapangan. Apa sih istimewanya Kang Rafli? Di mata Nania, Rafli ini antik seantik mobil datsun tuanya yang berwarna biru muda. Rafli memilih untuk tidak berpacaran dalam proses pencarian jodohnya. dari Rafli juga Nania mengenal istilah taaruf, pendekatan yang dilakukan dalam rangka membina hubungan rumah tangga. "Laki-laki yang berani untuk mengajak perempuan taaruf adalah laki-laki yang yakin bahwa perempuan itu cocok untuknya." Ujar Rafli pada Nania.
Rafli datang pada Nania setelah dua tahun tanpa bertegur sapa bahkan tanpa kontak sekalipun. Rafli meminta Nania untuk melangkah ke jenjang yang lebih jauh yaitu menikah. Nania mengiyakan, mengenalkan Rafli pada keluarga besarnya. Ada adegan lucu sekaligus menegangkan, dimana Rafli diintogerasi oleh Ayah dan ketiga kakak ipar Nania. Perlu diketahui, ketiga kakak iparnya ini adalah orang-orang hebat. Yang satu politikus ternama, yang kedua pengusaha kaya, ketiga dosen psikologi yang pendidikannya tinggi. Sedang rafli hanya lulusan diploma tiga, dicibir mengapa tak mengambil strata satu saja, jawaban Rafli sederhana "Saya ingin cepat bekerja."
Ketiga kakak perempuan Nania berusaha mencari cara agar Nania tidak menikah dengan Rafli, sayangnya semua usaha itu terbantahkan dengan tekad kuat Nania bahwa ia benar-benar ingin Rafli meuntunya ke surga.
Rafli dan Nania menikah dengan mahar seperangkat alat sholat, perhiasan seberat sepuluh gram dan sekaleng cat tembok berwarna biru yang merupakan warna favorit Nania, Mengapa harus cat tembok? Karena Rafli menginginkan yang mengecat kamar utama di rumahnya adalah perempuan yang mendampinginya. 
Nania pun hamil, namun mengalami pendarahan dan bayi yang dikandungnya dilahirkan secara prematur. Ibu beserta ketiga kakak perempuannya mengasihani Nania, berpikir bahwa Nania hidup dalam kesusahan, penuh penderitaan karena menikah dengan seorang pria yang tidak kaya raya. 
"Kebahagiaan terlalu sempit jika cuma dimaknai dengan materi." DHUAR! Kalimat Nania itu menampar ketiga kakak perempuan dan ibunya.
Tekanan dan cobaan tiada ada habisnya pada pernikahan mereka setelah dikarunaia dua anak, Yasmin dan Yusuf. Nania harus masuk rumah sakit karena mengalami kecelakaan parah, sedang niat awalnya ke rumah ssakit adalah menengok salah satu kakaknya yang mencoba bunuh diri akibat pasangannya si politikus handal tertangkap tangan oleh KPK.
Nania mengalami amnesia, tidak ingat apapun. Plot twist, dokter yang merawat Nania adalah Tio, yang gagal dijodohkan oleh ibu Nania. 
Rafli, laki-laki yang biasa-biasa namun menjadi luar biasa. Ia mengambil alih mengurus kedua anaknya, tetap bekerja sebagai mandor di proyek bangunan dan selalu berdoa berserah diri pada Allah. Ingatan Nania tidak kunjung pulih, kedua orangtuanya ingin membawanya ke Jerman. Rafli meminta waktu selama tiga hari untuk membawa Nania ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi, ke lapangan proyek bangunan dimana kuli-kuli sering bercanda bersenda gurau serta mengadduk adonan semen dan pasir bersama Nania, lalu rumah tempat mereka tinggal yang mana dibangun dari hasil gotong royong oleh anak buah Rafli, tapi Nania masih belum juga ingat. Rafli kemudian mengajak Nania ke Pengalengan, kerumah ibu Rafli karena dulu Nania sempat ingin lama tinggal disitu, Nania ingin pergi dari hiruk pikuk keluarganya yang memulu membicarakan harta benda. Dari situ ingatan Nania mulai terbangun sedikit demi sedikit. Nania meminum seteguk kopi hitam kental dengan sedikit gula milik Rafli, begitu seleranya ketika dahulu ingatannya masih baik. Rafli menceritakan semua apa yang pernah mereka jalani, Nania berangsur membaik namun belum juga mengingat semuanya sampai akhirnya Rafli menyerah dan menyetujui saran orangtua Nania untuk menjalani pengobatan di Jerman. 
Nania marah, ia memang tidak bisa mengingat semuanya namun ia ingin membuat kenangan baru yang jauh lebih baik dari kenangan sebelumnya, ia mengaku akan belajar mencintai Rafli. namun menurut Rafli, cinta bukanlah sesuatu yang bisa dipelajari namun ia tumbuh dalam berbagai kenangan masa lalu. 
DHUAAAR! Tiba-tiba ada petir menggelegar, spontan Nania berteriak sambil mengahambur ke arah Rafli, memeluknya. Itu kebiasaan nania sejak dulu, selalu takut dengan petir.
Tiba-tiba ia mengingat semuanya, entah akrena petir atau karena memeluk Rafli.
Yaah.. nggak jadi deh ke Jermannya. *penonton rese*

Film ini membuat saya menangis sesenggukan, bukan karena makin hari saya makin nggak mirip sama Velope Vexia. *dijorokin ke sungai*
Tata gambar yang dimiliki film ini sangat baik.Chemistry antar pemain dapet banget. 
Yang bilang kalau orang Sunda seneng sama hal-hal berbau kemewahan dan bisanya ngegaya doang kayaknya terbantahkan oleh sosok Rafli yang pekerja keras, sederhana, berkemauan keras dan pantang menyerah dalam keadaan tersulit pun. 
Indoensia butuh film seperti ini, nggak melulu menjual mimpi-mimpi ala sinetron India yang megah bermewah-mewah lalu dengan gerakan slow motion mata membelalak.
Banyak pesan-pesan kehidupan yang dibungkus secara apik, seperti bahwa ada hak orang lain di rezeki yang kita dapat, lalu sikap Rafli yang enggan membeli mobil baru karena skala prioritasnya adalah pendidikan anak mengesampingkan gengsi memakai mobil bekas dan tua, lalu bahwa berlimpah materi sama sekali tidak berkorelasi dengan berlimpah kebahagiaan.
Selain pesan kehidupan, terselip dakwah tapi sama sekali tidak menggurui, tantang pentingnya menjaga sholat dimana pu berada, tentang pentingnya menutup aurat, semuanya disajikan rapi dan halus,
Film ini cukup menampar saya, bahwa awal menapaki rumah tangga memang tidak pernah terasa mudah, selalu ada jalan berliku yang sepertinya melelahkan. Tapi seberat apapun ujian dalam berumah tangga sebenarnya tujuannya hanya satu, saling menguatkan dalam keadaan apapun.
Ada kalimat yang diucapkan Nania pada Rafli yang membekas di ingatan saya
"Mencoba dan terus berusaha itu jauh lebih baik, kang. Perkuat harapan dengan doa-doa, insya Allah kita bisa"






Tidak ada komentar:

Posting Komentar