Masa sekarang beberapa ibu memilih untuk bekerja di luar rumah, tidak menutup kemungkinan adanya permintaan yang tinggi atas asisten rumah tangga. Menemukan asisten rumah tangga bisa dibilang susah-susah gampang, harus ada kelekatan dengan anak, pribadinya baik atau buruk, karena secara tidak langsung banyaknya interaksi anak dengan asisten rumah tangga akan berpengaruh juga kepada kepribadian anak. Hal yang perlu diwaspadai adalah perilaku kekerasan ART terhadap anak. Saya merupakan korban kekerasan yang dilakukan oleh ART saat balita.
Kira-kira begini cerita singkatnya....
Ibu saya bekerja dari pagi dan pulang ketika sore hari. ART tersebut seringkali mencubit, menampar, menjewer, yang paling parah adalah mengurung saya di gudang yang sangat gelap. Padahal seingat saya, waktu itu hanya meminta mie goreng namun disiksa habis-habisan. Pasti kalian bertanya, mengapa saya tidak mengadu pada ibu?
Ibu saya pernah bertanya tentang banyaknya lebam biru bekas cubitan atau cengkraman. Di dapur si ART jahanam itu mengacungkan pisau kepada saya ketika saya bercerita berdua saja dengan ibu di ruang makan yang mengisyaratkan bahwa saya dan ibu akan dibunuh jika melaporkan.
Usia saya waktu itu masih tiga tahun, mendapat ancaman seperti itu tentu saya ketakutan dan menutup mulut rapat. Seringkali saya diajak pacaran dengan mamang penjual jepit rambut di pasar Kordon Bandung, saya mengeluhkan ingin pipis saat itu dan si ART menyuruh untuk pipis di pangkuannya. Apa yang terjadi? Saya dicubiti habis-habisan.
"Dasar anak setan, coba kang masa dia pipis dia pangkuan saya?" begitu dia mengadu pada pacarnya.
Puncaknya ketika saya sedang berada di rumah tetangga yang mana anaknya diasuh oleh ART juga.
ART saya rupanya sedang merumpi, entah apa yang diobrolkan saya lupa. Tanpa disangka ibu saya pulang dari kantor, kebetulan saat itu waktu istirahat. ART ketakutan, karena dia sedang mengenakan pakaian ibu saya. Mulut saya dibekap, dilarang berteriak memanggil ibu. Saya gigit tangannya, saya teriak sekencang-kencangnya memanggil ibu. Ibu akhirnya datang dan memeluk saya yang histeris menangis ketakutan.
Ibu saat itu datang bersama kakaknya, saya dipeluk oleh uwa sedang ibu mengusir ART yang sungguh biadab itu.
Hal yang menakutkan justru terjadi pasca perginya ART, saya kerapkali bermimpi buruk, tidak berani bertemu orang asing, selalu ketakutan jika berada di tempat yang gelap, sensitif cenderung cengeng berlebihan, saya pun menjadi pribadi yang pendendam.
Ibu mendatangkan ART yang lain, saya malah balik menganiaya dengan memukul menggunakan payung, enggan mengobrol dengan ART, membenci setiap ART padahal belum tentu mereka melakukan hal yang sama.
Saya menjadi pribadi yang enggan bergaul, tertutup, pemalu sampai SMA.
Beberapa sikap negatif yang muncul akibat tindakan kekerasan tersebut terkadang masih menempel pada saya, misalnya takut akan gelap, sensitif, cengeng, bahkan pendendam. Saya sedang berusaha menguranginya dengan bantuan beberapa pihak, saat ini adalah suami.
Semua berubah setelah saya mengikuti sebuah program kelas broadcasting selama enam bulan, saya dicetak untuk menjadi pribadi yang berani berbicara di depan umum, dilatih untuk menghilangkan urat malu, bahkan dibiasakan untuk menyapa orang baru. Sungguh awalnya menyiksa, tapi itu adalah titik balik hidup saya.
Hal yang bisa diambil dari pengalaman saya adalah bukan tidak boleh menggunakan jasa ART, tapi kita harus lebih selektif memilih. Berikut sedikit tips dari saya untuk ibu-ibu muda pekerja:
1. Sebisa mungkin hindari ART yang berusia puber, emosinya masih belum stabil masih sering pacaran ketimbang memperhatikan anak.
2. Jika ada lebam atau tanda tak wajar pada tubuh anak, selidiki. Jika anak tidak mengaku, pasang CCTV tanpa sepengetahuan ART atau pasang mata-mata entah tetangga ataupun keluarga. Sesekali berikan kunjungan kejutan di siang hari ketika jam istirahat.
3. Saya lebih menyarankan menitipkan anak di tempatnya yaitu daycare, memang harganya lebih mahal ketimbang menggunakan jasa ART tapi mari pikirkan harga mahal sebuah penyembuhan traumatik pasca kekerasan pada anak.
4. Perlakukan ART seperti keluarga, beri perlakuan yang wajar, makanan yang sama dengan apa yang kita makan misalnya, bisa saja sikap orangtua anak yang tidak disukai akan membuat ART melampiaskan kekesalannya pada anak.
5. Simpan benda berharga pada lemari yang tidak bisa dibuka oleh siapapun kecuali kita, menjaga hal-hal yang saya alami, ART menggasak celengan, memakai pakaian ibu saya, bahkan mencuri kebutuhan rumah tangga.
Demikian tips dari saya, semoga membantu :)
*Foto yang digunakan adalah foto dimana saya baru saja lepas dari tindakan kekerasan ART yang diceritakan

bener saya setuju dengan day care drpd art selain alasan yg diceritakan di atas lebih simple menurut saya dan anak jadi lebih mandiri..
BalasHapus