Minggu, 26 November 2017

Body Image Dissatisfaction

“OMG Aku gendut banget"
"Gila pipi tumpah-tumpah kayak adonan kue cubit"
"Buset ini paha apa guling sih?"
"Pokoknya aku ga boleh makan, aku harus kurus"
"Ini berat badan terberat selama aku hidup"
Begitulah Ceu Kokom setiap melihat cermin di depannya, lalu setiap pagi dan sore menimbang berat badannya jika bergerak ke arah kanan Ceu Kokom menjadi gusar gundah gulana serta menahan nafsu makannya dengan sedemikian kuat hingga berkali-kali masuk rumah sakit akibat tiphus. Ceu Kokom ini terobsesi sekali untuk kurus, entah apa motivasinya. Namun, jika dilihat dari pengalaman masa lalunya, rupanya Ceu Kokom pernah diputuskan pacarnya gara-gara menjadi gendut. Entah berapa banyak nasehat dari teman-temannya, orangtua, bahkan dosen penguji skripsi Ceu Kokom yang seorang profesor mengancam bahwa status kesarjanaanya akan dicabut serta skripsinya yang membahas mengenai 'self acceptance' dinyatakan gagal apabila si Ceu Kokom masih saja berpikiran bahwa dirinya gendut. Kegilaan si Ceu Kokom makin menjadi, ia pernah menangis tersedu-sedu di tempat parkir hanya karena dikatai gendut oleh teman kuliahnya, padahal itu hanya candaan belaka. Segala diet telah dicoba mulai dari diet mayo, diet paleo, diet detox, sampai puasa mutih ala kejawen dijabanin demi mendapat bodi yang aduhai. Oh bukan hanya diet, si Ceu Kokom setiap hari jogging selama satu jam di pagi hari dan aerobik di sore hari dengan menjaga makanan sangat ketat, apa yang terjadi? Ceu Kokom dilarikan ke rumah sakit karena mengalami peradangan usus besar, ini mungkin terjadi karena Ceu Kokom sering mencoba berbagai merk pelangsing mulai dari pil, pencahar, teh daun jati cina,teh daun jati belanda, tinggal air waduk Jatiluhur yang belum dia tenggak. Ceu Kokom menderita tiphus sudah entah keberapa kalinya sampai dokter yang menangani bilang "Kalau kamu tiphus lagi urusannya bukan dengan saya ya, tapi dengan penggali kuburan."
Ceu Kokom sungguh ketakutan, bagaimana kalau ia mati sedang menikah saja belum. Kemudian singkat cerita Ceu Kokom bertemu dengan Mas Paijo, seorang pria yang meyakinkan hatinya, mengembalikan kepercayaan dirinya, merekonstruksi pikiran Ceu Kokom yang sepertinya sudah konslet karena selalu tidak puas akan bentuk badannya, mereka menikah dan hidup bersama, bahagia sewajarnya. Iya sewajarnya, karena selamanya terlalu lama, begitu kata Bung Fiersa Besari. Mas Paijo lelah karena Ceu Kokom selalu bertanya "Sayang aku gendut ya?"
Akhirnya Mas Paijo membelikan Ceu Kokom cermin berukuran 2x1 meter.
"Agar kamu tidak selalu mempercayai angka di timbangan, lihat dirimu Kokom, lihat badanmu."
Ceu Kokom pun menjadi rajin berolahraga sambil mengurus buah hati mereka, melakukan gerakan-gerakan yang diconteknya dari youtube, Ceu Kokom mulai makan dengan benar, kini badannya berangsur-angsur membaik. Juga mentalnya alhamdulilah lebuh waras dari sebelumnya meski kadang kambuh dan harus agak ditampol sama Mas Paijo.


Ilustrasi diatas menjelaskan bahwa Ceu Kokom mengalami Body Image Dissatisfaction.
Apa sih maksudnya?
Body Image Dissatisfaction, adalah uatu gejala pada individu yang memandang rendah akan bentuk tubuhnya. Menurut penelitian body image adalah komponen yang penting dalam hidup manusia karena apabila terdapat gangguan pada body image dapat mengakibatkan ketimpangan dalam banyak hal, misalnya rendahnya self esteem, gangguan pola makan, diet yang tidak sehat, depresi dan juga anxiety (kecemasan). (Striegel_moore & Franko dalam Cash & Prurinsky, 2012)
Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa ketidakpuasan akan bentuk tubuh ini bisa terjadi, namun faktor yang paling mempengaruhi adalah sosiokultural. 
Masyarakat menentukan standar sosial mengenai apa yang cantik dan menarik. (Heinberg dalam Thompson, 2000)
Pernah nonton iklan salah satu susu bubuk dengan tagline "Tumbuh itu keatas, bukan ke samping."?
Atau beberpa iklan pelangsing badanyang menyajikan wanita dengan tubuh gemuk tidak dilirik pria namun digandrungi pria setelah kurus dan mengkonsumsi pelangsing tersebut?
Individu yang mengalami body image dissatisfaction adalah sasaran empuk produk-produk seperti ini. Secara tidak sadar kita digiring dalam standar bahwa cantik itu kurus, tinggi, langsing. 


Lalu, bagaimana agar waras menyikapi body dissatisfaction?
1. Waraskan Pikiran 
Kalau perlu menyertakan data dari seribu orang bertanya apakah anda gendut atau tidak sebarlah angket, buat survei kecil-kecilan (seribu mah nggak kecil woi), tapi apalah artinya seribu orang yang mengatakan anda tidak gendut tapi otak anda terus menerus berkata bahwa anda gendut. Siapa yang salah? Jokowi? Ahok? Buni Yani? Sandiaga Uno? STOP. Mari berpikir lagi, lengkapkah panca indra anda? Alih-alih ingin mendapatkan badan yang ideal, membuat lupa bersyukur akan nikmat yang sungguh tidak dihitung banyaknya. Barangsiapa yang bersyukur akan ditambahkan nikmatnya bukan? Daripada sibuk mengurangi kalori yang masuk, berpikir bahwa makanan itu musuh yang bisa membuat badan bengkak, mari bersyukur di belahan bumi bagian lain ada manusia yang tidak bisa makan sama sekali. Daripada terus menerus memperhatikan jarum timbangan, mari memelihara badan dengan berolahraga, manfaat dari berolahraga sudah pasti sangat banyak, bonusnya adalah berat badan stabil. Lalu jika sudah kurus mau apa? Akankah Tuhan menanyakan berat badan anda di pintu surga? Yang akan ditanya justru bagaimana anda memelihara titipan dariNya berupa badan yang lengkap, sudahkah digunakan dengan kegiatan yang berguna? atau hanya terus menerus meratapi mengeluhkan lemak yang sulit pergi dari perut bagian bawah. (Ngomong sambil ngaca di cermin bedak wardah yang sudah somplak). 

2. Cari Kegiatan yang Melibatkan Kerja Otak
Terlalu banyak memikirkan bentuk badan, kadang membuat otak bekerja santai alias tidak dipakai. Pelajari hal baru yang belum pernah dicoba. Tapi kalu ngak bisa gimana dong? Ubah persepsi "Ini bukan bidang gue deh." menjadi "Oh oke, Gue pasti bisa kok kalau belajar dikit-dikit"
Masuk dalam komunitas yang memberikan energi positif, banyak kok penulis hebat, fotografer handal, penggiat yoga bahkan fashion designer yang bentuk tubuhnya biasa saja, tidak seperti artis Korea namun karya mereka dinikmati banyak orang bahkan mendunia. Ada banyak hal baru yang bisa dikerjakan lalu mengapa terus-menerus memusingkan bentuk badan lantas mengistirahatkan orak untuk berkarya?

3. Berada di Lingkaran penuh Cinta
Pasti punya beberapa orang terdekat yang berpengaruh kan? Jika mereka masih menerima ketika gendut, kurus, kulit menggosong terkena matahari atau rambut mendadak seperti singa, lantas apa masalah anda? Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dua telinga dan dua tangan. Seolah Tuhan ingin bilang "Terserah Lu mau dengerin komentar orang atau tutup kuping Lu dari komentar yang bisa bikin down."Sahabat yang baik nggak akan peduli kok seberapa gendut, berapa banyak jerawat, berapa jumlah garis halus di sekitaran wajah, mereka akan terus support bahkan mengingatkan ketika mulai belok-belok putar haluan nggak karuan. 
"Saya kan langsing untuk membahagiakan pasangan." Benarkah? Coba tanya pasangan, apa sih yang sebenarnya diinginkan? Jangan-jangan itu hanya obsesi dari kita semata. 

4. Makan Benar dan Olahraga
Percuma diet ini itu dilakukan jika tidak diiringi olahraga. Kenapa bisa berkata demikian, percayalah bahwa si Ceu Kokom itu ilustrasi nyata akan hidup saya. Mati-matian menjaga makan, diet segala rupa malah membuat otak saya agak dongo dan nggak nyambung kalau diajak ngobrol. Saya mengubah cara makan saya, boleh lah sekali-kali makan seblak, makan bakso, tapi diimbangi makan sayur juga. Nah olahraga poin terpenting, nggak perlu ke gym kok, cukup di rumah dengan gerakan-gerakan sederhana seperti squat, push up, sit up, plank, mountain climber. Udah kurus? Target saya bukan kurus, tapi sehat. Kalau dahulu saya tiphus lalu berakhir di tangan tukang gali kubur, saya mati ya sendirian nggak ada tanggungan. Kalau sekarang, ada dua nyawa yang harus aya urus, anak dan suami. Olahraga membuat badan saya segar, otot saya terbentuk meski belum kayak Andien atau Agnes Mo, berat badan saya ya gitu-gitu aja. Bedanya, saya merasa lebih bahagia, timbangan geser ke kanan dua angka ya wajarlah. Dari 24 jam yang Tuhan kasih, sisishkan tiga puluh menit atau satu jam untuk berolahraga. Bisa jalan kaki, aerobik, zumba, atau kalau yang sudah menikah bisa melakukan sexercise. *disleding*


Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud secuil upil pun menggurui, hanya berbagi pengalaman saja. Saya alias Ceu Kokom yang pernah merasakan lelahnya mati-matian menjadi kurus, stres bila melihat timbangan naik, menahan tidak makan ketika teman-teman asyik menikmati makanannya di resto favorit, hanya makan oatmeal yang kata adik tingkat saya bentuknya lebih mirip makanan ayam. Saya yang seperti remahan serundeng ayam goreng Suharti bisa pelan-pelan keluar dari kecemasan yang berlebihan dan ketidakpuasan akan bentuk tubuh kok, apalagi kamu. Iya kamu :*




Contoh home workout

Contoh home workout (lagi)



Rabu, 08 November 2017

Menyapih Dini

Kali ini saya akan membahas mengenai penyapihan pada anak. Sebuah kegiatan yang cukup menguras energi, dibumbui drama.
Saya pernah membaca sebuah kultwit dari dokter @ryuhasan bahwasannya menyusui mempunyai efek adiksi pada ibu, kenapa bisa? Menyusui secara langsung memberikan efek rileks, merasa dibutuhkan dan membuat bahagia. Ketika menyusui berhenti tidak heran ada sedikit drama, berasa ada yang hilang, seakan anak tidak bergantung sepenuhnya pada ibu.
Anak saya, Kinanti menyapih dirinya sendiri pada usia 18 bulan. Semua berawal dari flu Singapore yang hinggap di tubuhnya lantas mulutnya dipenuhi sariawan sangat banyak. Mungkin ketika menyusu, sariawan tersebut terkena puting dan perih. Ia jadi trauma melihat payudara, salah satu ART tetangga saya menyarankan agar payudara saya diurut atau diruwat, katanya sih digandoli setan. Enak bener jadi setannya yha????
Oke lanjut, saya tidak melaksanakan apa yang ART tersebut sarankan. Yakali keenakan yang ngurut, yakali setan mana juga gelendotan di payudara.
Awalnya saya menangis tidak berhenti ketika Kinan menolak menyusu, stress, murung, merasa tidak berharga. Otomatis produksi ASI menurun drastis, saya perah dan berusaha meminumkan ASI, ternyata Kinan tetap tidak mau bahkan setelah sembuh dari flu Singapore-nya.
Saya berusaha berkomunikasi, membujuk. "Yuk nak, kan kemarin mah nggak mau karena sakit, sekarang kan udah sembuh, yuk nenen yuk?" 
Tetap menggeleng menolak.
Usaha berbagai cara sudah dilakukan dan tetap menolak. Kinanti menolak dot, karena salah saya sih sejak bayi tidak dikenalkan. Lebih parahnya, ia bisa membedakan mana ASI dan susu UHT, lebih memilih susu UHT yang rasanya lebih gurih-gurih nyoy. Jadi Kinanti fix lepas ASI pada usia satu tahun setengah.

Saya seolah ditegur dengan ada kejadian ini beberapa orangtua bukankah menginginkan anaknya mandiri? Menginginkan anaknya bisa mengambil keputusan yang ia yakini? Lalu mengapa saya memaksakan alih-alih demi kebaikan anak sendiri.
Banyak hal yang harus disyukuri, ketika ibu-ibu diluar sana mewarnai payudaranya dengan lipstik, mengolesi dengan botrowali, atau mencoret-coret memakai betadine agar anaknya berhenti menyusu justru saya seolah dimudahkan, dibebaskan dari kesulitan menyapih.
Mungkin saya tidak bisa mencukupi kebutuhan ASI Kinan hingga S3 tapi ya siapa tahu kelak di masa depan justru Kinan sekolah hingga S3 di luar nagrog sehingga saya bisa nengok sambil bawa oseng cumi asin juga nasi liwet (oke ini mulai halu dan ngaco)


Menyusui bukan perkara mudah ternyata, bukan sekedar menaruh puting payudara di mulut anak, memberi 'makanan' pada anak berbentuk ASI, jauh lebih rumit daripada itu. Ada kelekatan tersendiri ketika proses menyusui langsung dimana anak dan ibu saling bertatap, ada semangat memompa ASI pada ibu yang bekerja, yang juga berarti perjuangannya tidak berarti lebih mudah, bawa cooler bag kemana-mana, belum botol-botol untuk ASI perah juga freezer tambahan untuk penyimpanannya. 
Lalu apakah ibu yang memberikan susu formula tidak berjuang? 
Nggak juga.
Ketahuilah susu formula lebih ribet persiapannya, ya kadang kesiram air panas, ya memastikan dot steril, ya ngecek harga promo di swalayan.
Ibu mana sih yang tidak memberikan sesuatu terbaik untuk anaknya?
Apapun susunya, bagaimana pun bentuknya, berapapun ukurannya (eh gimana?) Kesemuanya adalah usaha memberi asupan nutrisi bagi anak. 
Semangat para ibu dan calon ibu.
Mengutip perkataan teman saya yang diambil dari salah satu merk ternama
"Feeding your baby, not your freezer"


 *gambar diambil dari google














Jumat, 03 November 2017

Hari Ibu Rumah Tangga

"Ibu rumah tangga terbukti lebih stres daripada wanita karier"
Dikutip dari salah satu postingan di instagram yang mana kalimat tersebut hasil studi penelitian di Pennyslavenia State University. Dari postingan tersebut juga saya baru tahu bahwa ada hari ibu rumah tangga. Pernahkan bermimpi bercita-cita jadi ibu rumah tangga? Kalau saya tidak,
Sebelum menikah saya adalah mahasiswa yang hobi sekali jalan. Literally jalan kaki, waktu di Bandung saya pernah berjalan kaki dari Ngamprah ke Ledeng, dari Ledeng ke Cicaheum, begitu pun ketika di Malang hobi jalan tetap saya jalankan. Kebanyang kan bagaimana kagetnya manusia macam saya yang biasanya haha hihi lalala yeyeye menghadapi masalah terberat kalau nggak tugas kuliah tiada henti atau dosen pembimbing tesis yang sulit ditemui kemudian tiba-tiba dihadapkan dengan pekerjaan rumah tangga yang sungguh tiada habisnya.
Stress?Jelas, sering saya menangis bahkan meratapi “Kok gue kuliah jauh-jauh Cuma buat jadi IRT sih?” Lalu kenapa tidak mencoba mencari pekerjaan? Sudah, sayangnya belum ada CV saya yang tertambat pada sembilan PTN dan PTS di jabodetabek. Kemarin, ketika mengisi form KTP baru, saya sempat teridam lamaaaa sekali di kantor kecamatan, pekerjaan di KTP dahulu tertulis mahasiswa kini berganti menjadi mengurus rumah tangga. Hanya mengurus rumah tangga? Hanya? Beneran ‘hanya’? Lalu akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri dan kenyataan. Baik, mari kita bahas bagaimana saya sedikit demi sedikit keluar dari zona stress yang saya alami.
Sebelum menjadi IRT pasti kita punya hobi tapi setelah negara api menyerang, maksud saya setelah menjadi IRT boro-boro memikirkan hobi, yang ada hanyalah pekerjaan rumah yang dari mata terbuka hingga menjelang tidur. Lihat iklan sunlight terbaru di Youtube deh, pesan yang disampaikan bagus. “Memakai sunlight meringkas waktu untuk mencuci piring sehingga ibu bisa melakukan passion yang diminati.” Meskipun maksudnya promosi tapi ada benarnya juga, sebagai IRT harus cermat dalam mengatur waktu. Nah, mengenai hobi lakukan ketika anak sudah tertidur atau ketika pekerjaan selesai. “Kan pekerjaan rumah nggak ada selesainya?” Benarkah pekerjaan rumah tidak ada selesainya? Atau diri kita yang terlalu nge-push diri sendiri. Misal, mencuci baju sebenarnya bisa dilakukan dua hari sekali atau jika punya dana lebih londri kiloan. Memasak? Seperti kata Ale di film Critical Eleven, membangun rumah tangga tidak sama dengan membangun restoran, masak yang simpel tapi bergizi, telur dadar dengan oseng kangkung misalnya. Lalu bagaimana dengan MPASI? (jika sudah memiliki bayi yang mulai makan) berilah anak kita makanan yang biasa kita makan, supaya kelak ketika sudah besar tidak kaget dengan menu makanan keluarga, atau kalau kepepet kan banyak tuh bubur MPASI homemade yang dijual setiap pagi kalau nggak salah namanya ‘Baby-Q’.
Luangkan waktu paling sedikit satu jam setiap hari untuk melakukan apa yang paling kita sukai, bisa menggambar, bernyanyi karaoke di youtube, berolahraga meski tidak ke tempat gym sekarang banyak kok aplikasi home workout yang bisa di download pada ponsel pintar kita masing-masing, saya pribadi suka sekali membaca, menonton film dan menulis. Luangkan saja satu jam untuk kegiatan tersebut, supaya mental kita tetap sehat. Jangan lupakan juga makan sehat dan benar, kadang menjadi IRT lebih memikirkan suami dan anak sehingga lupa pada diri sendiri, sempatkan waktu berolahraga, entah itu hanya push up, sit up, atau jalan keliling sekitaran rumah dan menyapa tetangga tapi nggak usah juga kelamaan bertetangga, alih-alih bersosialisasi malah menjadi gosip kesana kemari. Berolahraga bukan hanya ingin langsing semata (itu mah saya keleus), tapi dengan berolahraga, tubuh akan melepaskan hormon endorfin yang menimbulkan perasaan senang.
            Beberapa teman-teman mungkin hobi berjualan online nah itu sebuah hobi yang menghasilkan uang sehingga dapat menambah pundi-pundi kas keluarga.  Saya sempat tergrlitik ketika dikomentari “Tapi menulis adalah hobi yang nggak ada uangnya.” Seperti kata Velope Vexia di Film Cinta Laki-laki Biasa “Terlalu sempit jika kebahagiaan diukur dengan materi. Ketika akhir pekan ajak suami ke tempat rekreasi entah itu taman kota, perpustakaan, kolam renang atau mall. Semoga bapak-bapak diluar sana membaca tulisan ini, bahwa ibu perlu dijaga kesehatan mentalnya, rekreasi tipis-tipis tidak akan membuat kantong menjadi tipis.  Lalu bagaimana dengan menyikapi pekerjaan rumah yang membosankan dan itu-itu saja setiap hari? Sebagai pemilik rasi bintang gemini saya dikaruniai sifat yang mudah sekali bosan, tapi saya disentil oleh kata-kata “Setiap pekerjaan rumah tangga yang kamu lakukan, jika diawali dengan bismilah bernilai ibadah.”
Dari situ saya berpikir, bahwa hidup menjadi IRT adalah pekerjaan yang penuh dengan ibadah. Katanya jaminannya surga, jika dilakukan dengan ikhlas. Apalagi wanita yang bekerja, mempunyai karir yang hebat lalu berperan juga sebagai IRT, WOW! Sembah sujud buat mereka.
Percayalah, sebuah keluarga tidak memerlukan ibu yang sempurna, hanya memerlukan ibu bahagia.


Selamat hari ibu rumah tangga :*

*Aisha, IRT yang CV nya ditolak sembilan kali lalu bermimpi menjadi pelancong literasi
**Gambar dari google