“OMG Aku gendut banget"
"Gila pipi tumpah-tumpah kayak
adonan kue cubit"
"Buset ini paha apa guling
sih?"
"Pokoknya aku ga boleh makan, aku
harus kurus"
"Ini berat badan terberat selama aku hidup"
Begitulah Ceu Kokom setiap melihat
cermin di depannya, lalu setiap pagi dan sore menimbang berat badannya jika
bergerak ke arah kanan Ceu Kokom menjadi gusar gundah gulana serta menahan
nafsu makannya dengan sedemikian kuat hingga berkali-kali masuk rumah sakit
akibat tiphus. Ceu Kokom ini terobsesi sekali untuk kurus, entah apa
motivasinya. Namun, jika dilihat dari pengalaman masa lalunya, rupanya Ceu
Kokom pernah diputuskan pacarnya gara-gara menjadi gendut. Entah berapa banyak
nasehat dari teman-temannya, orangtua, bahkan dosen penguji skripsi Ceu Kokom yang
seorang profesor mengancam bahwa status kesarjanaanya akan dicabut serta
skripsinya yang membahas mengenai 'self acceptance' dinyatakan gagal apabila si
Ceu Kokom masih saja berpikiran bahwa dirinya gendut. Kegilaan si Ceu Kokom makin
menjadi, ia pernah menangis tersedu-sedu di tempat parkir hanya karena dikatai
gendut oleh teman kuliahnya, padahal itu hanya candaan belaka. Segala diet
telah dicoba mulai dari diet mayo, diet paleo, diet detox, sampai puasa mutih
ala kejawen dijabanin demi mendapat bodi yang aduhai. Oh bukan hanya diet, si Ceu
Kokom setiap hari jogging selama satu jam di pagi hari dan aerobik di sore hari
dengan menjaga makanan sangat ketat, apa yang terjadi? Ceu Kokom dilarikan ke
rumah sakit karena mengalami peradangan usus besar, ini mungkin terjadi karena Ceu
Kokom sering mencoba berbagai merk pelangsing mulai dari pil, pencahar, teh
daun jati cina,teh daun jati belanda, tinggal air waduk Jatiluhur yang belum
dia tenggak. Ceu Kokom menderita tiphus sudah entah keberapa kalinya sampai dokter
yang menangani bilang "Kalau kamu tiphus lagi urusannya bukan dengan saya
ya, tapi dengan penggali kuburan."
Ceu Kokom sungguh ketakutan, bagaimana
kalau ia mati sedang menikah saja belum. Kemudian singkat cerita Ceu Kokom
bertemu dengan Mas Paijo, seorang pria yang meyakinkan hatinya, mengembalikan
kepercayaan dirinya, merekonstruksi pikiran Ceu Kokom yang sepertinya sudah
konslet karena selalu tidak puas akan bentuk badannya, mereka menikah dan hidup
bersama, bahagia sewajarnya. Iya sewajarnya, karena selamanya terlalu lama,
begitu kata Bung Fiersa Besari. Mas Paijo lelah karena Ceu Kokom selalu
bertanya "Sayang aku gendut ya?"
Akhirnya Mas Paijo membelikan Ceu Kokom cermin berukuran 2x1 meter.
"Agar kamu tidak selalu mempercayai angka di timbangan, lihat dirimu Kokom, lihat badanmu."
Ceu Kokom pun menjadi rajin berolahraga sambil mengurus buah hati mereka, melakukan gerakan-gerakan yang diconteknya dari youtube, Ceu Kokom mulai makan dengan benar, kini badannya berangsur-angsur membaik. Juga mentalnya alhamdulilah lebuh waras dari sebelumnya meski kadang kambuh dan harus agak ditampol sama Mas Paijo.
Akhirnya Mas Paijo membelikan Ceu Kokom cermin berukuran 2x1 meter.
"Agar kamu tidak selalu mempercayai angka di timbangan, lihat dirimu Kokom, lihat badanmu."
Ceu Kokom pun menjadi rajin berolahraga sambil mengurus buah hati mereka, melakukan gerakan-gerakan yang diconteknya dari youtube, Ceu Kokom mulai makan dengan benar, kini badannya berangsur-angsur membaik. Juga mentalnya alhamdulilah lebuh waras dari sebelumnya meski kadang kambuh dan harus agak ditampol sama Mas Paijo.
Ilustrasi diatas menjelaskan bahwa Ceu
Kokom mengalami Body Image Dissatisfaction.
Apa sih maksudnya?
Body Image Dissatisfaction, adalah uatu gejala
pada individu yang memandang rendah akan bentuk tubuhnya. Menurut penelitian
body image adalah komponen yang penting dalam hidup manusia karena apabila
terdapat gangguan pada body image dapat mengakibatkan
ketimpangan dalam banyak hal, misalnya rendahnya self esteem,
gangguan pola makan, diet yang tidak sehat, depresi dan juga anxiety (kecemasan).
(Striegel_moore & Franko dalam Cash & Prurinsky, 2012)
Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa
ketidakpuasan akan bentuk tubuh ini bisa terjadi, namun faktor yang paling
mempengaruhi adalah sosiokultural.
Masyarakat menentukan standar sosial
mengenai apa yang cantik dan menarik. (Heinberg dalam Thompson, 2000)
Pernah nonton iklan salah satu susu
bubuk dengan tagline "Tumbuh itu keatas, bukan ke samping."?
Atau beberpa iklan pelangsing badanyang
menyajikan wanita dengan tubuh gemuk tidak dilirik pria namun digandrungi pria
setelah kurus dan mengkonsumsi pelangsing tersebut?
Individu yang mengalami body image
dissatisfaction adalah sasaran empuk produk-produk seperti ini. Secara
tidak sadar kita digiring dalam standar bahwa cantik itu kurus, tinggi,
langsing.
Lalu, bagaimana agar waras
menyikapi body dissatisfaction?
1. Waraskan Pikiran
Kalau perlu menyertakan data dari seribu
orang bertanya apakah anda gendut atau tidak sebarlah angket, buat survei
kecil-kecilan (seribu mah nggak kecil woi), tapi apalah artinya seribu orang
yang mengatakan anda tidak gendut tapi otak anda terus menerus berkata bahwa
anda gendut. Siapa yang salah? Jokowi? Ahok? Buni Yani? Sandiaga Uno? STOP.
Mari berpikir lagi, lengkapkah panca indra anda? Alih-alih ingin mendapatkan
badan yang ideal, membuat lupa bersyukur akan nikmat yang sungguh tidak
dihitung banyaknya. Barangsiapa yang bersyukur akan ditambahkan nikmatnya bukan?
Daripada sibuk mengurangi kalori yang masuk, berpikir bahwa makanan itu musuh
yang bisa membuat badan bengkak, mari bersyukur di belahan bumi bagian lain ada
manusia yang tidak bisa makan sama sekali. Daripada terus menerus memperhatikan
jarum timbangan, mari memelihara badan dengan berolahraga, manfaat dari
berolahraga sudah pasti sangat banyak, bonusnya adalah berat badan stabil. Lalu
jika sudah kurus mau apa? Akankah Tuhan menanyakan berat badan anda di pintu
surga? Yang akan ditanya justru bagaimana anda memelihara titipan dariNya
berupa badan yang lengkap, sudahkah digunakan dengan kegiatan yang berguna?
atau hanya terus menerus meratapi mengeluhkan lemak yang sulit pergi dari perut
bagian bawah. (Ngomong sambil ngaca di cermin bedak wardah yang sudah somplak).
2. Cari Kegiatan yang Melibatkan Kerja
Otak
Terlalu banyak memikirkan bentuk badan,
kadang membuat otak bekerja santai alias tidak dipakai. Pelajari hal baru yang
belum pernah dicoba. Tapi kalu ngak bisa gimana dong? Ubah persepsi "Ini
bukan bidang gue deh." menjadi "Oh oke, Gue pasti bisa kok kalau
belajar dikit-dikit"
Masuk dalam komunitas yang memberikan
energi positif, banyak kok penulis hebat, fotografer handal, penggiat yoga
bahkan fashion designer yang bentuk tubuhnya biasa saja, tidak seperti artis
Korea namun karya mereka dinikmati banyak orang bahkan mendunia. Ada banyak hal
baru yang bisa dikerjakan lalu mengapa terus-menerus memusingkan bentuk badan
lantas mengistirahatkan orak untuk berkarya?
3. Berada di Lingkaran penuh Cinta
Pasti punya beberapa orang terdekat yang
berpengaruh kan? Jika mereka masih menerima ketika gendut, kurus, kulit
menggosong terkena matahari atau rambut mendadak seperti singa, lantas apa
masalah anda? Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan dua telinga dan dua tangan.
Seolah Tuhan ingin bilang "Terserah Lu mau dengerin komentar orang atau
tutup kuping Lu dari komentar yang bisa bikin down."Sahabat yang baik
nggak akan peduli kok seberapa gendut, berapa banyak jerawat, berapa jumlah
garis halus di sekitaran wajah, mereka akan terus support bahkan mengingatkan
ketika mulai belok-belok putar haluan nggak karuan.
"Saya kan langsing untuk
membahagiakan pasangan." Benarkah? Coba tanya pasangan, apa sih yang
sebenarnya diinginkan? Jangan-jangan itu hanya obsesi dari kita semata.
4. Makan Benar dan Olahraga
Percuma diet ini itu dilakukan jika
tidak diiringi olahraga. Kenapa bisa berkata demikian, percayalah bahwa si Ceu
Kokom itu ilustrasi nyata akan hidup saya. Mati-matian menjaga makan, diet
segala rupa malah membuat otak saya agak dongo dan nggak nyambung kalau diajak
ngobrol. Saya mengubah cara makan saya, boleh lah sekali-kali makan seblak,
makan bakso, tapi diimbangi makan sayur juga. Nah olahraga poin terpenting,
nggak perlu ke gym kok, cukup di rumah dengan gerakan-gerakan sederhana seperti
squat, push up, sit up, plank, mountain climber. Udah kurus? Target saya bukan
kurus, tapi sehat. Kalau dahulu saya tiphus lalu berakhir di tangan tukang gali
kubur, saya mati ya sendirian nggak ada tanggungan. Kalau sekarang, ada dua
nyawa yang harus aya urus, anak dan suami. Olahraga membuat badan saya segar,
otot saya terbentuk meski belum kayak Andien atau Agnes Mo, berat badan saya ya
gitu-gitu aja. Bedanya, saya merasa lebih bahagia, timbangan geser ke kanan dua
angka ya wajarlah. Dari 24 jam yang Tuhan kasih, sisishkan tiga puluh menit
atau satu jam untuk berolahraga. Bisa jalan kaki, aerobik, zumba, atau kalau
yang sudah menikah bisa melakukan sexercise. *disleding*
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud
secuil upil pun menggurui, hanya berbagi pengalaman saja. Saya alias Ceu Kokom
yang pernah merasakan lelahnya mati-matian menjadi kurus, stres bila melihat
timbangan naik, menahan tidak makan ketika teman-teman asyik menikmati
makanannya di resto favorit, hanya makan oatmeal yang kata adik tingkat saya
bentuknya lebih mirip makanan ayam. Saya yang seperti remahan serundeng ayam
goreng Suharti bisa pelan-pelan keluar dari kecemasan yang berlebihan dan
ketidakpuasan akan bentuk tubuh kok, apalagi kamu. Iya kamu :*
Contoh home workout
Contoh home workout (lagi)




