Kali ini saya akan membahas mengenai penyapihan pada anak. Sebuah kegiatan yang cukup menguras energi, dibumbui drama.
Saya pernah membaca sebuah kultwit dari dokter @ryuhasan bahwasannya menyusui mempunyai efek adiksi pada ibu, kenapa bisa? Menyusui secara langsung memberikan efek rileks, merasa dibutuhkan dan membuat bahagia. Ketika menyusui berhenti tidak heran ada sedikit drama, berasa ada yang hilang, seakan anak tidak bergantung sepenuhnya pada ibu.
Anak saya, Kinanti menyapih dirinya sendiri pada usia 18 bulan. Semua berawal dari flu Singapore yang hinggap di tubuhnya lantas mulutnya dipenuhi sariawan sangat banyak. Mungkin ketika menyusu, sariawan tersebut terkena puting dan perih. Ia jadi trauma melihat payudara, salah satu ART tetangga saya menyarankan agar payudara saya diurut atau diruwat, katanya sih digandoli setan. Enak bener jadi setannya yha????
Oke lanjut, saya tidak melaksanakan apa yang ART tersebut sarankan. Yakali keenakan yang ngurut, yakali setan mana juga gelendotan di payudara.
Awalnya saya menangis tidak berhenti ketika Kinan menolak menyusu, stress, murung, merasa tidak berharga. Otomatis produksi ASI menurun drastis, saya perah dan berusaha meminumkan ASI, ternyata Kinan tetap tidak mau bahkan setelah sembuh dari flu Singapore-nya.
Saya berusaha berkomunikasi, membujuk. "Yuk nak, kan kemarin mah nggak mau karena sakit, sekarang kan udah sembuh, yuk nenen yuk?"
Tetap menggeleng menolak.
Usaha berbagai cara sudah dilakukan dan tetap menolak. Kinanti menolak dot, karena salah saya sih sejak bayi tidak dikenalkan. Lebih parahnya, ia bisa membedakan mana ASI dan susu UHT, lebih memilih susu UHT yang rasanya lebih gurih-gurih nyoy. Jadi Kinanti fix lepas ASI pada usia satu tahun setengah.
Saya seolah ditegur dengan ada kejadian ini beberapa orangtua bukankah menginginkan anaknya mandiri? Menginginkan anaknya bisa mengambil keputusan yang ia yakini? Lalu mengapa saya memaksakan alih-alih demi kebaikan anak sendiri.
Banyak hal yang harus disyukuri, ketika ibu-ibu diluar sana mewarnai payudaranya dengan lipstik, mengolesi dengan botrowali, atau mencoret-coret memakai betadine agar anaknya berhenti menyusu justru saya seolah dimudahkan, dibebaskan dari kesulitan menyapih.
Mungkin saya tidak bisa mencukupi kebutuhan ASI Kinan hingga S3 tapi ya siapa tahu kelak di masa depan justru Kinan sekolah hingga S3 di luar nagrog sehingga saya bisa nengok sambil bawa oseng cumi asin juga nasi liwet (oke ini mulai halu dan ngaco)
Menyusui bukan perkara mudah ternyata, bukan sekedar menaruh puting payudara di mulut anak, memberi 'makanan' pada anak berbentuk ASI, jauh lebih rumit daripada itu. Ada kelekatan tersendiri ketika proses menyusui langsung dimana anak dan ibu saling bertatap, ada semangat memompa ASI pada ibu yang bekerja, yang juga berarti perjuangannya tidak berarti lebih mudah, bawa cooler bag kemana-mana, belum botol-botol untuk ASI perah juga freezer tambahan untuk penyimpanannya.
Lalu apakah ibu yang memberikan susu formula tidak berjuang?
Nggak juga.
Ketahuilah susu formula lebih ribet persiapannya, ya kadang kesiram air panas, ya memastikan dot steril, ya ngecek harga promo di swalayan.
Ibu mana sih yang tidak memberikan sesuatu terbaik untuk anaknya?
Apapun susunya, bagaimana pun bentuknya, berapapun ukurannya (eh gimana?) Kesemuanya adalah usaha memberi asupan nutrisi bagi anak.
Semangat para ibu dan calon ibu.
Mengutip perkataan teman saya yang diambil dari salah satu merk ternama
"Feeding your baby, not your freezer"
*gambar diambil dari google

Bener2 momen dramatis, ketika harus menyapih anak dini, karena ada alasan lain dibaliknya, bukan karena keinginan dari sang ibu, kadang anugrah lain yang diberikan Alloh berupa kehamilan anak kedua pada saat anak pertama masih menyusu merupakan drama tersendiri untuk ibu dan anak tentunya, dari mulai banyak komentar-komentar tidak masuk akal terkait ASI kita yang menjadi basi karena kehamilan hingga akhirnya ASI pun harus mengering seiring bertambahnya usia kehamilan, dan kemudian drama penyapihan dini pun berlanjut. Dimana sang anak sudah beralih ke susu uht tapi masih ngempeng ke puting sang ibu, alih-alih ingin menyapih ngempeng puting dengan penuh cinta, yang terjadi tetap saja ketakutan ketika tidak ngempeng lagi ke puting anak tidak akan membutuhkan kita lagi. Atau sekedar mencari kita ketika dia ingin tidur, atau sekedar memenuhi keinginan untuk ngempeng saja lalu kembali bermain. Maaf ya jadi panjang lebar dan curhat, semoga saya pun bisa ikhlas untuk menyapih ngempengnya anak ke puting, karena produksi ASI sudah tidak ada. Terima kasih aish atas postingan nya. Walo berbeda case, tapi jauh memberikan penguatan dan membuat saya merasa tdk sendirian dalam berbagai drama perASIan
BalasHapusBener2 momen dramatis, ketika harus menyapih anak dini, karena ada alasan lain dibaliknya, bukan karena keinginan dari sang ibu, kadang anugrah lain yang diberikan Alloh berupa kehamilan anak kedua pada saat anak pertama masih menyusu merupakan drama tersendiri untuk ibu dan anak tentunya, dari mulai banyak komentar-komentar tidak masuk akal terkait ASI kita yang menjadi basi karena kehamilan hingga akhirnya ASI pun harus mengering seiring bertambahnya usia kehamilan, dan kemudian drama penyapihan dini pun berlanjut. Dimana sang anak sudah beralih ke susu uht tapi masih ngempeng ke puting sang ibu, alih-alih ingin menyapih ngempeng puting dengan penuh cinta, yang terjadi tetap saja ketakutan ketika tidak ngempeng lagi ke puting anak tidak akan membutuhkan kita lagi. Atau sekedar mencari kita ketika dia ingin tidur, atau sekedar memenuhi keinginan untuk ngempeng saja lalu kembali bermain. Maaf ya jadi panjang lebar dan curhat, semoga saya pun bisa ikhlas untuk menyapih ngempengnya anak ke puting, karena produksi ASI sudah tidak ada. Terima kasih aish atas postingan nya. Walo berbeda case, tapi jauh memberikan penguatan dan membuat saya merasa tdk sendirian dalam berbagai drama perASIan
BalasHapuswow makasih teh mei sharingnya,semoga kehamilan keduanya lancar-lancar, selalu diberi kesehatan, anaknya lahir dengan selamat sehat dan sempurna, aamiin.
Hapus