Belakangan ini sering
berseliweran foto meme “Nikah dulu atau kuliah dulu?” saya jadi tergelitik hati
sampai tidak bisa tidur memikirkannya (lebay tralala). Karena penasaran, saya
mewawancarai empat narasumber denganmasing-masing jenjang pendidikan yang
berbeda, mulai dari diploma tiga, sarjana, dan magister. Kira-kira begini
hasilnya.
Rizka, nama sebenarnya,
memutuskan menikah dengan pria yang telah dipacarinya sedang ia masih ada
tanggungan yaitu kuliah pada tingkat akhir. Ia cukup berani mengambil keputusan
besar, bagaimana tidak di usia duapuluh dua dimana saya masih lalal yeyeye
mencari pria yang serius, ia malah sudah menentukan untuk menikah. Begini
jawabannya ketika ditanya apa alasan terkuat untuk memutuskan menikah sambil
kuliah mengambil jurusan pemasaran jenjang diploma di salah satu universitas
negeri di Bandung.
“Aku yakin untuk menikah,
pengen lebih dekat ke kebaikan,
karena aku tahu pacaran itu semakin lama semakin nggak baik, semakin jauh dari agama. Percuma aku sempurnain ibadah aku, sholat aku, puasa
aku, tapi aku masih pacaran, masih menyimpan perassaan sama lawan jenis yang
bukan muhrim. Nyimpen perassaan aja
dosa, apalgi tatap-tatapan, pegangan, atau bahkan..... terusin sendiri lah ya.
Tapi disisi lain aku butuhin sosok a
Valdi (pria yang jadi suamiku) buat nemenin
aku, ngelengkapin aku, menguatkan
aku, jadilah jalan satu-satunya ya menikah.”
Lain lagi dengan Asri (nama sebenarnya juga) yang memutuskan menikah
ketika ia belum lulus S1.
“Buat aku nggak ada
istilah terlalu muda atau telat menikah, kalau udah waktunya, ada jodohnya,
yaudah sikat! Aku suka deket-deket
sama lawan jenis tapi terlampau takut sama adzab Allah, jadi yaaa selametin aja. Secara pribadi, aku
pernah sakit sama laki-laki terus berdoa sama Allah minta ganti yang lebih
baik, ketika doski (keliatan banget
Asri remaja era duaribuan) dateng aku dikasih keyakinan aja gitu, karunia lah eta mah.”
Lain lagi dengan Nadia
dan Mika yang memutuskan menikah ketika tesisnya belum selesai. Mika sebenarnya
menikah nggak yakin-yakin amat, karena calon suami dan dirinya berada di pulau
yang berbeda, LDR pun menghantui pikirannya. “Namun, sekolah lebih tinggi adalah
sebuah permintaan dari suami karena sebelum menikah suaminya mempunyai visi
bahwa istri harus punya pendidikan lebih tinggi.” Sungguh visi yang mulia,
dimana pria kebanyakan justru takut tersaingi atau enggan mempunyai pasangan
dengan tingkat pendidikan lebih tinggi. Sedangkan Nadia, seorang dosen di
universitas negeri ternama juga merangkap sebagai selegram menyatakan bahwa
pernikahan adalah sarana untuk menyempurnakan separuh agama. “Ayah selalu
bilang bahwa pendorong kedua orangtua adalah dengan aku menjadi istri yang taat
pada suami, aku nggak bisa ngasih banyak hal ke ayah ibu, dengan menilkah aku
ingin kedua orang tuaku bisa masuk
surga. Aku Cuma ingin ibadah.”
Eh pernah denger kabar
pernikahan Taqi si hafidz muda dan Salma
anaknya pengacara kondang itu ga? Tenang, saya bukan mimin lambe-lambean yang
akan menggosipkan disharmoni rumah tangga mereka, namun dari situ bisa dilihat
kan (nggak usah diraba apalagi diterawang) kalau ternyata menikah sambil kuliah
itu tidak semudah menyeduh pop mie. Ditambah long distance marriage yang kadang
kalo kangen nggak cukup dadah-dadah atau kedip-kedipan doang lewat video call.
We want moooorrrre! Usap-usap rambut misalnya, atau pilllow talk membahas siapakah
yang keluar terleebih dahulu, ayam atau telur (yakali). Setelah menikah,
kebutuhan afeksi jauh lebih tinggi. Bukan sekedar ditanya udah makan atau
belum, bukan sekedar ditanya kamu dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa.
(You sing ,you loose!)
Lalu
tantangan apa saja yang dialami ketika memutuskan menikah sambil kuliah?
Berikut jawaban dari mereka.
1.
Manajemen
Waktu
Keempat narasumber mengakui bahwa hal yang paling
menantang adalah manajemen waktu, dimana harus kejar target antara
menyelesaikan tugas akhir kuliah dengan keingin untuk selalu terus bersama
pasangan. Ketika bisa menyelesaikan satu pekerjaan dalam satu rentang waktu,
itu bagus. Tapi menyelesaikan dua pekerjaan dalam satu rentang waktu, itu
membutuhkan keterampilan khusus.
2.
Rasionalisasi
Pikiran
Menjadi pengantin baru sungguh indah aduhai dan berasa
memiliki dunia dengan pasangan. Nah mereka yang memutuskan menikah sambil
kuliah harus menerima kenyataan bahwa hari-hari setelah menikah harus dijalani
dengan seperti biasanya, apalagi jika pasangan berada jauh berbeda pulau, meski
rindu atau ingin bertemu harus menghadapi kenyataan bahwa harga tiket pesawat
tidak semurah harga baso tusuk. Kalau begitu khawatir dong dengan nafkah? Jelas
tidak. Sebagaimana janji Allah bahwa menikah berarti membuka rezeki bagi mereka
yang menikah asalkan ikhtiar dan berdoa. Inget, ikhtiar dan berdoa yah.
3.
Kalau
Hamil Bagaimana?
Tenang, tenang sodara-sodara. Anda hamil bukan tanpa
ayah si jabang bayi kan? Ada yang bertanggungjawab kan? Kehamilan adalah hadiah
besar yang bisa jadi ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan, menulis tugas akhir
sambil hamil? Bisakah? Bisa bisa aja kok. Bahkan kabarnya beberapa dosen akan
luluh jika melihat mahasiswa bimbingannya sedang hamil, bukan berarti hamil
dijaddikan alasan untuk bermanja-manja loh ya. Camkan!
Ketika hamil muda, beberapa wanita ada yang mengalami mual luar biasa atau ada juga yang biasa saja. nah, tantangannya ada pada menghalau rasa mual, pusing, eneg, dengan sesuatu yang tidak kalah pusing yaitu persoalan kuliah.Lawanlah badai dengan tsunami, lawan kemualan dengan sesuatu yang tidak kalah memusingkan, niscaya akan sedikit kleyengan eeeh tenang..tenang ada kangmas yang siap memijit kaki kita bahkan siap menyuapi kita yang kehilangan nafsu makan.
4.
Ibadah
Tidak Pernah Mudah
Saya teringat kalimat yang dilontarkan dosen
kemahasiswaan kala itu “Menikah adalah ibadah, menuntut ilmu juga ibadah. Nah,
kenapa tidak dua jenis ibadah dilakukan dalam satu waktu.” Saya pun sempat bertekad
nikah muda sebelum berusia duapuluh tiga, apa daya tidak ada pria yang datang (malah
curhats) Tetapi sungguh menikah sambil kuliah tidak semudah mengucapkannya, urusan
kuliah entah itu tugas yang menumpuk, dosen pembimbing yang sulit dihubungi,
kemalasan yang hinggap di ubun-ubun, beberapa pelakunya ada yang menyerah
menyudahi kuliahnya.
“Ya perempuan kan nanti paling urusannya sekitar
dapur, kasur, dan sumur”
Sesungguhnya, permasalahan perempuan saat berumah
tangga tidak seputaran itu-itu saja sist, ada banyak hal yang harus perempuan
bisa, problem solving salah satunya. Nah di kuliah ini bukan hanya semata demi
mendapatkan angka kuantitatif semata di Kartu Hasil Studi, tapi lebih luas
daripada itu.
Namun, banyak juga yang enggan menyerah dan bersikukuh
menyelesaikan kuliahnya sampai tuntas.
Percayalah, jalan menuju surga itu berliku, berkelok,
bahkan terjal dilalui. Bukankah surga yang indah tidak akan dicapai dengan
mudah?
Kok jadi dakwah?
Tulisan ini bukan untuk memprovokasi teman-teman agar menikah ketika masih duduk di bangku kuliah, hanya sekedar gambaran bahwa menikah sambil kuliah tidak semudah postingan para selegram, tidak seindah seperti lagu-lagu syahdu yang mengajak kalian berjalan bersama dalam terik dan hujan.
segala sesuatu yang dilakukan memang akan ada keuntungan ataupun tantangan, karena sesungguhnya hidup adalah rangkaian dari keputusan-keputusan kecil yang didalamnya terdapat paket-paket resiko yang siap muncul ke permukaan, pilihlah resiko yang siap untuk diambil.
Baik, begini kalau bingung mau kuliah dulu atau nikah
dulu mending napas dulu aja yha sist.
