Rabu, 20 Desember 2017

Nikah dulu atau kuliah dulu? Bernapas dulu aja sist.



Belakangan ini sering berseliweran foto meme “Nikah dulu atau kuliah dulu?” saya jadi tergelitik hati sampai tidak bisa tidur memikirkannya (lebay tralala). Karena penasaran, saya mewawancarai empat narasumber denganmasing-masing jenjang pendidikan yang berbeda, mulai dari diploma tiga, sarjana, dan magister. Kira-kira begini hasilnya.
Rizka, nama sebenarnya, memutuskan menikah dengan pria yang telah dipacarinya sedang ia masih ada tanggungan yaitu kuliah pada tingkat akhir. Ia cukup berani mengambil keputusan besar, bagaimana tidak di usia duapuluh dua dimana saya masih lalal yeyeye mencari pria yang serius, ia malah sudah menentukan untuk menikah. Begini jawabannya ketika ditanya apa alasan terkuat untuk memutuskan menikah sambil kuliah mengambil jurusan pemasaran jenjang diploma di salah satu universitas negeri di Bandung.
“Aku yakin untuk menikah, pengen lebih dekat ke kebaikan, karena aku tahu pacaran itu semakin lama semakin nggak baik, semakin jauh dari agama. Percuma aku sempurnain ibadah aku, sholat aku, puasa aku, tapi aku masih pacaran, masih menyimpan perassaan sama lawan jenis yang bukan muhrim. Nyimpen perassaan aja dosa, apalgi tatap-tatapan, pegangan, atau bahkan..... terusin sendiri lah ya. Tapi disisi lain aku butuhin sosok a Valdi (pria yang jadi suamiku) buat nemenin aku, ngelengkapin aku, menguatkan aku, jadilah jalan satu-satunya ya menikah.”  Lain lagi dengan Asri (nama sebenarnya juga) yang memutuskan menikah ketika ia belum lulus S1.
“Buat aku nggak ada istilah terlalu muda atau telat menikah, kalau udah waktunya, ada jodohnya, yaudah sikat! Aku suka deket-deket sama lawan jenis tapi terlampau takut sama adzab Allah, jadi yaaa selametin aja. Secara pribadi, aku pernah sakit sama laki-laki terus berdoa sama Allah minta ganti yang lebih baik, ketika doski (keliatan banget Asri remaja era duaribuan) dateng aku dikasih keyakinan aja gitu, karunia lah eta mah.
Lain lagi dengan Nadia dan Mika yang memutuskan menikah ketika tesisnya belum selesai. Mika sebenarnya menikah nggak yakin-yakin amat, karena calon suami dan dirinya berada di pulau yang berbeda, LDR pun menghantui pikirannya. “Namun, sekolah lebih tinggi adalah sebuah permintaan dari suami karena sebelum menikah suaminya mempunyai visi bahwa istri harus punya pendidikan lebih tinggi.” Sungguh visi yang mulia, dimana pria kebanyakan justru takut tersaingi atau enggan mempunyai pasangan dengan tingkat pendidikan lebih tinggi. Sedangkan Nadia, seorang dosen di universitas negeri ternama juga merangkap sebagai selegram menyatakan bahwa pernikahan adalah sarana untuk menyempurnakan separuh agama. “Ayah selalu bilang bahwa pendorong kedua orangtua adalah dengan aku menjadi istri yang taat pada suami, aku nggak bisa ngasih banyak hal ke ayah ibu, dengan menilkah aku ingin kedua orang  tuaku bisa masuk surga. Aku Cuma ingin ibadah.”
Eh pernah denger kabar pernikahan Taqi  si hafidz muda dan Salma anaknya pengacara kondang itu ga? Tenang, saya bukan mimin lambe-lambean yang akan menggosipkan disharmoni rumah tangga mereka, namun dari situ bisa dilihat kan (nggak usah diraba apalagi diterawang) kalau ternyata menikah sambil kuliah itu tidak semudah menyeduh pop mie. Ditambah long distance marriage yang kadang kalo kangen nggak cukup dadah-dadah atau kedip-kedipan doang lewat video call. We want moooorrrre! Usap-usap rambut misalnya, atau pilllow talk membahas siapakah yang keluar terleebih dahulu, ayam atau telur (yakali). Setelah menikah, kebutuhan afeksi jauh lebih tinggi. Bukan sekedar ditanya udah makan atau belum, bukan sekedar ditanya kamu dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa. (You sing ,you loose!)
Lalu tantangan apa saja yang dialami ketika memutuskan menikah sambil kuliah? Berikut jawaban dari mereka.
1.      Manajemen Waktu
Keempat narasumber mengakui bahwa hal yang paling menantang adalah manajemen waktu, dimana harus kejar target antara menyelesaikan tugas akhir kuliah dengan keingin untuk selalu terus bersama pasangan. Ketika bisa menyelesaikan satu pekerjaan dalam satu rentang waktu, itu bagus. Tapi menyelesaikan dua pekerjaan dalam satu rentang waktu, itu membutuhkan keterampilan khusus.
2.      Rasionalisasi Pikiran
Menjadi pengantin baru sungguh indah aduhai dan berasa memiliki dunia dengan pasangan. Nah mereka yang memutuskan menikah sambil kuliah harus menerima kenyataan bahwa hari-hari setelah menikah harus dijalani dengan seperti biasanya, apalagi jika pasangan berada jauh berbeda pulau, meski rindu atau ingin bertemu harus menghadapi kenyataan bahwa harga tiket pesawat tidak semurah harga baso tusuk. Kalau begitu khawatir dong dengan nafkah? Jelas tidak. Sebagaimana janji Allah bahwa menikah berarti membuka rezeki bagi mereka yang menikah asalkan ikhtiar dan berdoa. Inget, ikhtiar dan berdoa yah.
3.      Kalau Hamil Bagaimana?
Tenang, tenang sodara-sodara. Anda hamil bukan tanpa ayah si jabang bayi kan? Ada yang bertanggungjawab kan? Kehamilan adalah hadiah besar yang bisa jadi ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan, menulis tugas akhir sambil hamil? Bisakah? Bisa bisa aja kok. Bahkan kabarnya beberapa dosen akan luluh jika melihat mahasiswa bimbingannya sedang hamil, bukan berarti hamil dijaddikan alasan untuk bermanja-manja loh ya. Camkan!
Ketika hamil muda, beberapa wanita ada yang mengalami mual luar biasa atau ada juga yang biasa saja. nah, tantangannya ada pada menghalau rasa mual, pusing, eneg, dengan sesuatu yang tidak kalah pusing yaitu persoalan kuliah.Lawanlah badai dengan tsunami, lawan kemualan dengan sesuatu yang tidak kalah memusingkan, niscaya akan sedikit kleyengan eeeh tenang..tenang ada kangmas yang siap memijit kaki kita bahkan siap menyuapi kita yang kehilangan nafsu makan.
4.      Ibadah Tidak Pernah Mudah
Saya teringat kalimat yang dilontarkan dosen kemahasiswaan kala itu “Menikah adalah ibadah, menuntut ilmu juga ibadah. Nah, kenapa tidak dua jenis ibadah dilakukan dalam satu waktu.” Saya pun sempat bertekad nikah muda sebelum berusia duapuluh tiga, apa daya tidak ada pria yang datang (malah curhats) Tetapi sungguh menikah sambil kuliah tidak semudah mengucapkannya, urusan kuliah entah itu tugas yang menumpuk, dosen pembimbing yang sulit dihubungi, kemalasan yang hinggap di ubun-ubun, beberapa pelakunya ada yang menyerah menyudahi kuliahnya.
“Ya perempuan kan nanti paling urusannya sekitar dapur, kasur, dan sumur”
Sesungguhnya, permasalahan perempuan saat berumah tangga tidak seputaran itu-itu saja sist, ada banyak hal yang harus perempuan bisa, problem solving salah satunya. Nah di kuliah ini bukan hanya semata demi mendapatkan angka kuantitatif semata di Kartu Hasil Studi, tapi lebih luas daripada itu.
Namun, banyak juga yang enggan menyerah dan bersikukuh menyelesaikan kuliahnya sampai tuntas.
Percayalah, jalan menuju surga itu berliku, berkelok, bahkan terjal dilalui. Bukankah surga yang indah tidak akan dicapai dengan mudah?
Kok jadi dakwah?


Tulisan ini bukan untuk memprovokasi teman-teman agar menikah ketika masih duduk di bangku kuliah, hanya sekedar gambaran bahwa menikah sambil kuliah tidak semudah postingan para selegram, tidak seindah seperti lagu-lagu syahdu yang mengajak kalian berjalan bersama dalam terik dan hujan. 
segala sesuatu yang dilakukan memang akan ada keuntungan ataupun tantangan, karena sesungguhnya hidup adalah rangkaian dari keputusan-keputusan kecil yang didalamnya terdapat paket-paket resiko yang siap muncul ke permukaan, pilihlah resiko yang siap untuk diambil.

Baik, begini kalau bingung mau kuliah dulu atau nikah dulu mending napas dulu aja yha sist.