Semalam saya dan suami berdiskusi sebelum tidur (bahasa kerennya pillowtalk), topik yang kami bicarakan adalah mengenai konseling pranikah. Nah, buat kalian yang sudah menikah pernah nggak sih masuk ke KUA ikut semacam penataran yang katanya salah satu syarat sebelum melangsungkan pernikahan. Saya akan bercerita mengenai pengalaman saya, entah sama atau tidak dengan teman-teman.
Tiga hari sebelum melaksanakan akad, saya dan bapak saya menuju KUA karena terus-menerus dihubungi juga ditanyai kapan akan mengikuti penataran sebelum menikah. Di otak saya, penataran pra menikah adalah semacam workshop atau sesi konseling dengan tenaga ahli di bidangnya, paling tidak lulusan sarjana konseling atau psikologi lah ya, ternyata tidak begitu sodara-sodara! Saya, Bapak, dan salah satu pegawai KUA berada dalam ruangan yang biasa digunakan untuk melaksanakan akad, iyee cuma kita bertiga. Pertanyaan demi pertanyaaan yang dilontarkan kok lama-lama jadi lucu. Kira-kira begini gambarannya :
Petugas KUA : Neng, Neng teh mahasiswa S2 sedang si mas calonnya hanya lulusan D3. Awas neng, harus hormat sama suami.
Saya :(menoleh ke Bapak saya, sesi macam apa ini) Loh pak, kan sudah ada aturannya bagaimanapun istri patuh dan hormat pada suami, sepemahaman saya begitu pak, aturan Allah itu mah
Kemudian petugas KUA bertanya lagi
x
x
Petugas KUA : Neng asli Sunda, si Mas asli Jawa, yang satu dari barat satunya dari timur, akan sulit neng. Itu teh bisa jadi pemicu prahara rumah tangga. Kalian pacaran berapa lama?
Saya : Kami nggak pacaran pak, tukeran CV, selang dua bulan dari bertukar CV lamaran, empat bulan dari lamaran ya insya allah menikah
Petugas KUA : waduh, apalagi kalau gitu. Kenal aja belum dalam tapi memutuskan menikah, cik saya tanya sekali lagi, neng yakin? apa alasannya bisa yakin?
*Narik napas dalam-dalam*
Saya : Begini pak, ditanya siap nggak siap mah nggak akan ada yang siap, tapi saya yakin kalau nikah teh menyempurnakan separuh agama. Pokoknya mah bismilah aja.
Ini ngapa kek saya yang sok-sokan paham tentang menikah ya?
Bapak saya yang duduk di kursi belakang cuma ngangguk-ngangguk dan senyum.
Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya saya pikir nggak perlu ditanyakan sebegitunya, lalu dimasukkan unsur suku lah, jarak lah,apalah apalah.
Saya jadi penasaran, kalau Teh Happy Salma yang menikah sama Tjokorda Bagus Dwi Santana Kerthyasa (mampus sampek apal namanya dong) itu sama petugasnya ditanyai apa dong?
Saya jadi penasaran, kalau Teh Happy Salma yang menikah sama Tjokorda Bagus Dwi Santana Kerthyasa (mampus sampek apal namanya dong) itu sama petugasnya ditanyai apa dong?
Mari kita tinggalkan pengalaman penataran pranikah saya yang nggak banget. Kembali ke pillowtalk saya dengan suami mengenai konseling pra nikah, Kemenag ini sebetulnya butuh tenaga ahli konseling ga sih? Kalau ternyata karyawannya tidak memungkinkan menangani lalu kenapa tidak menggunakan tenaga teman-teman saya yang lulusan S1 atau S2 Bimbingan Konseling? Banyak dari mereka yang banting stir bahkan masih nganggur kayak saya (ealah curhat),
karena sepemahaman saya bahwa konseling pra pernikahan seyogyanya (seyogyanya, setasiknya, sebogornya) adalah kegiatan pembekalan pada pasangan yang hendak menikah dengan memahami potensi dan masalah yang akan muncul di kehidupan pernikahan itu sendiri serta bagaimana upaya baik preventif maupun kuratif. Konseling pranikah juga berfungsi menjembatani harapan-harapan dan impian pasangan serta bagaimana visi misi pernikahan ke depan. Berat? yaiya lah. Menikah itu peroses perjanjian dunia akherat, nggak bisa dibuat mainan perlu pembekalan yang serius.
Saya berharap kejadian yang saya alami hanya terjadi pada diri saya saja, Semoga di tempat lain tidak demikian, Siapalah saya ini, berharap pada kebijakan kementerian terkait rasanya sulit. Setidaknya, para pasangan yang hendak menikah mempunyai kesadaran sendiri untuk mengikuti program konseling pra nikah, nah sebaliknya pihak ahli konseling itu sendiri bisa mewadahi pasangan-pasangan tersebut.
Berikut masukan materi yang bisa diberikan di konseling pra nikah :
1. Memberikan informasi tentang kehidupan setelah pernikahan kepada calon mempelai.
Saya pribadi membayangkan menikah itu kayak lagunya "Marry Your Daughterr" nya Brian Mc Knight, indah kan? Syahdu. Kenyataanya? Sungguh lebih rumit dari itu, bersatunya dua kepala yang berbeda pada satu atap, dua kebiasaan berbeda dengan bawaaan dua pola asuh orangtua yang juga berbeda memungkinkan munculnya konflik. Saat pasangan jatuh cinta, kebanyakan tidak memikirkan kehidupan masa depan, lebih fokus ke menikmati perasaan saling mencintai. Padahal, membicarakan masa depan yang 'nyata' sebelum menikah akan meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai kesalahpahaman.
2. Meningkatkan kemampuan komunikasi dengan pasangan.
Ini penting, mengapa? Kesalahpahaman berawal dari ketidakmampuan menyerap informasi dalam proses komunikasi. Contoh, suami saya berasal dari Jawa Timur yang kalau bicara nada dasarnya tinggi, lantang, dan tanpa basa-basi. Bertolak belakang dengan saya yang berasal dari Sunda dimana nada dasar cenderung rendah, agak mendayu-dayu atau someah. Perbedaan nada dasar saat berbicara menyebabkan seringnya terjadi miskomunikasi, saya sering menganggap digertak, diteriaki, bahkan merasa sering dimarahi padahal menurut suami "Yaelah aku sekeluarga emang gini kalau ngomong, kenceng, teriak-teriak" Jalan tengah yang kami ambil, saya berusaha kebal dan tidak baper ketika suami berbicara agak naik nada dasarnya, sedangkan suami mencoba mengambil nada lebih rendah ketika mengawali pembicaraan. Win win solution kan?
3. Membahas finansial
Masalah finansial adalah salah satu yang krusial dalam kehidupan pasca menikah, anggaran, tabungan, pengeluaran, kemampuan mengatur anggaran perlu diberikan kepada calon mempelai. Hal tersebut dirasa perlu agar permasalahan finansial ini tidak merusak keharmonisan rumah tangga.
4. Pembagian waktu dan peran masing-masing.
Kehidupan setelah menikah tentu akan berbeda dengan sebelum menikah. Menikah bukan berarti tidak menjadi diri sendiri. Menurut saya, pria lebih sering asyik terlarut dalam hobinya, apakah sudah menikah harus berhenti? Tentu tidak, ada porsi yang berbeda namun pria harus tetap mempunyai hobi, selama hobi tersebut tidak mengganggu rumah tangga tentunya. Membagi peran tidak kalah penting, apalagi setelah mempunyai anak. Pembagian tugas ketika istri baru melahirkan, sibuk begadang menyusui anak, mengurus anak, kesemuanya itu alangkah lebih baik jika dilaksanakan dengan sistem pembagian tugas.
Ah elah macam saya udah nikah berbelas-belas tahun sok-sokan ngasih masukan materi.
Intinya gitu aja sih, semoga kelak teman-teman ahli konseling (yang sudah menikah) bisa terlibat dalam proses penataran pranikah di KUA setempat yang mana saat ini dilaksanakan hanya demi prasyarat semata tanpa ada kegiatan 'beneran'.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar