Kali ini saya akan bercerita tentang Universitas Negeri Malang yang sering keliru disingkat menjadi UNM, padahal nama aslinya ya UM kalau UNM (Universitas Negeri Makasar) adanya di Sulawesi sana. Saya tidak akan membahas tentang jurusan apa saja yang ada di kampus ini karena hal macam gitu bisa klean akses di um.ac.id tapi tentang apa saja yang sudah saya dapatkan, lebih dari sekedar pelajaran di kelas semata.
Awalnya saya sempat nggak betah dan limbung kuliah di UM. Ya coba bayangkan, manusia yang 24 tahun hidupnya di tanah pasundan ujug-ujug terlempar di Jawa Timur, gegar budaya kalau bahasa kerennya.
Sering banget saya ngobrol pakai bahasa Sunda dengan teman sekamar saya (kok geli ya rasanya teman sekamar) dan teman waktu SMA, kami bisa ketawa ngakak-ngakak tanpa ada orang ngerti kami ngomong apa, jahat kan? Hahahah sekalinya pernah saya ngedumel ngomongin mamang supir angkot eh kemudian ada teteh-teteh dari belakang nyusul saya jalan "Teteh? Orang Sunda? Timana? Abdi ti Sukabumi" (Teteh? Orang Sunda? Darimana asalnya? Saya dari Sukabumi) sungguh sejak saat itu saya berhati-hati, khawatir ketika ngomongin orang pake bahasa Sunda ada yang ngerti malu yakan?
Saya pernah berantem sama mahasiswa entah jurusan apa, karena dia hampir menyerempet saya dengan motor gedenya. Saya spontan berteriak memakai bahasa Sunda tentunya.
"Eureun siah maneh!" (Berhenti kamu!)
Dia berbalik, turun dari motor sementara saya lagi-lagi tak bisa mengatur emosi keluarlah makian yang masih dalam bahasa Sunda.
"Mun aing paeh kaserempet kumaha siah? Cik sing bener ai make motor teh atuh euy, ieu teh kampus lain jalan nini maneh!" (Kalau saya mati keserempet gimana? Yang bener dong kalau mengendarai motor, ini kampus bukan jalan nenekmu!)
Dia berbalik menyerang saya menggunakan bahasa Jawa, pada saat itu saya nggak ngerti sedikitpun apa yang dia sampaikan. Yaudah diem ajalah. Dia makin mendekat akan menyerang, takut juga gaes lalu saya bilang "Mau nyerang? Beraninya sama cewek, kalau menang ya malu, kalah apalagi" Sebagai penutup dia teriak
"Janc*k kon!"
NAH KALAU SATU KATA ITU SAYA PAHAM! HAHAHA
"Heh! Saya ngerti yah kamu bilang apa barusan!"
Kemudian si mahasiswa dengan motor bison itu pun berlalu dengan deruan suara knalpot yang aduhai, tinggal saya yang gemeteran, lemas lutut rasanya padahal kelas pertama saya jam 7 pagi, oia awal kuliah karena saya nggak bawa motor, selalu jalan kaki dari Soehat (soekarno hatta) ke kampus, melintasi kampus tetangga yang megah, Universitas Brawijaya. Kadang nengok kanan kiri namanya juga usaha siapa tahu ada mas-mas yang sama-sama kuliah pascasarjana nyantol, nyatanya selalu dedek gemez yang saya temukan. Skip. Ternyata jodoh saya ada di sungai Citarik, Sukabumi.
Di UM saya paham, ternyata jenis bahasa Jawa itu beragam, teman-teman dari Blitar biasaya berbahasa haluuuus bak betis Ken Dedes, nah kalau Surabaya-an agak cablak dan apa adanya juga cenderung lebih cepat nada bicaranya. Di UM jugasaya berteman sama Duta Kampus yang aduhai cantiknya, cerdas pulak, Rosalia namanya. Saking cantiknya saya pernah terpukau enggan melepasskan pandangan dan bergumam ketika tes masuk "INI ORANG CANTIK BANGET YA ALLAH, KALAULAH SAYA COWOK UDAH NAKSIR BERAT!"
UM bagi saya berasa menemukan Indonesia yang sesungguhnya, bagaimana tidak, teman sekeliling saya bermacam-macam asal daerahnya mulai dari Padang, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur tentunya, Madura, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi bahkan Timor Leste. Bagaimana dengan keragaman agama? Empat agama dari enam yang diakui di Indonesia ada di sekeliling saya. Beberapa kali saya sempat sholat di tempat kos yang beragama Kristen dia orang Menado, ada mukena dong untuk sholat. Lalu saya sempat ditanya "Kenapa kalau sholat harus memakai mukena? Bagaimana kalau baju saja?"
Dengan ilmu yang seuprit ini saya menjelaskan semampunya, dan yasudah tiada gontok-gontokan atau musuh-musuhan apalagi unfollow instagram (apeu bae) , atau saya nggak boleh lagi sholat di tempat dia, atau saya maksa dia buat sholat yha kan iku jenenge gemblung, kami bahkan beberapa kali hangout bareng.
Di angkatan kami ada Romo, sebutan pemuka agama Katolik. Romo Augusto ini berasal dari Timor Leste dan sering bercerita tentang banyak hal, mulai dari aksi heroik ketika daerahnya terkena konflik, pengalaman hidup, sampai kenangannya dengan tentara Sunda yang mengajarkan beliau lagu Bubuy Bulan. Sering dari kami didoakan oleh beliau, saya termasuk, didoakan mengenai jodoh hahaha. Lalu apakah Romo memaksa kami untuk meyakini apa yang beliau yakini? Sama sekali nggak pernah. Padahal kan beliau pemuka agama, tapi sungguh saya bersaksi tidak pernah ada sedikitpun ajakan beliau untuk mengikuti keyakinan yang beliau yakini. Kalau kabar di twitter ada ibu-ibu yang nggak mau duduk sebelahan sama non muslim di bis trans Jakarta, lah kami gimana dong?
Sekelas campur-campur, sekelompok presentasi dengan teman-teman lain agamanya, haruskah mencari teman sekelompok yang sama agamanya ketika kuliah? Wah naif benar.
Salah satu dari angkatan kami ada yang beragama Hindu, justru dia ini yang paling rajin mengucapkan selamat merayakan hari besar agama teman-temannya yang lain. Nah ketika akhir perkuliahan menulis tesis, perut saya membesar sedang mengandung Kinanti, yang membantu saya membereskan tesis mulai dari struktur, halaman, sampai marginnya hingga rapi jali adalah teman saya yang beragama Katolik. Terus kami gerah gitu? Ya nggak. Adem banget malah. Saking adem dan kompaknya suka mendatangi seminar proposal yang ada nasi kotaknya (ups) hahahahaha
Saya berkesempatan dipasangkan dengan dosen pembimbing luar biasa yang kebetulan beragama lain, tetapi sungguh tak pernah sekalipun kami membahas agama masing-masing.
Lakum dinukum waliyadin.
Hal lain yang membuat saya takjub adalah ketika dospem saya tersebut menolak mentah-mentah parcel yang saya berikan. Saya keukeuh ingin memberi, beliau keukeuh ingin menolak. Padahal hanya buah-buahan semata bukan barang mahal. Akhirnya kami sepakat bertukar alias barter, beliau memberikan saya madu Sumbawa untuk diminum agar bayi dalam janin saya kuat. Ah Pak Imanuel Hitipeuw, disaat orang diluar sana gemar sekali diberi, ini malah gemar memberi.
Saya pernah menjadi pihak pembanding proposal tesis di seminar skripsi seorang suster, namanya suster Flo. Penelitiannya tentang studi kasus sistem pendidikan di Papua, meeeen penelitian tesis saya mah bak noda saus pentol di baju anak SD. Nah membahas penelitian, mahasiswa UM ini luar biyasaaak penelitiannya (saya nggak termasuk lah yah) salah satu teman sebimbingan meneliti karakter wayang Semar dalam pribadi seorang konselor. Boom! Seperti kita ketahui lah ya, wayang adalah salah satu cagar budaya aselik Indonesia. Bagaimana bisa cobaaa kepikiran dihubungkan dengan pribadi konselor.
Lalu ada teman lain yang meneliti konsep diri waria, studi kasus penelitiannya, dia yang kebetulan laki-laki hidup dengan waria. Totalitas tanpa batas bukan? Penelitian tesis sampek idup bareng beberapa waria. Ada lagi teman dari Padang, salah satu Uni di angkatan kami meneliti tentang Buya Hamka, saya ingat Buya Hamka ya jadi ingat Engku Zainudin yang diperankan Herjunot Ali dan Hayati yang diperankan Pevita Pearce di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wirjk, juga jangan lupakan Reza Rahadian si pemain segala bisa lha ini dibuat penelitian tesis, warbiyasak!
Lain lagi dengan salah satu tesis di jurusan Bahasa Indonesia, membahas mengenai lirik lagu Letto yang bernuansa religius. Bener juga ya? Tapi sadar nggak sih? Mas Sabrang Damar Pinuluh alias Noe nggak pernah menyisipkan kata Tuhan di dalam lirik lagunya, tapi semuaaaa lagunya bernuansa religius. Cadas!
Seperti yang saya bilang di awal, kuliah di UM bukan sekedar pelajaran KBM semata di kelas, beberapa dosennya termasuk dospem saya yang gelarnya profesor penampilannya sederhana sekali bertopi, berjaket hitam kadang bersendal gunung bahkan sering ikut nongkrong sekedar minum kopi di kantin pojok camil. Pernah suatu hari Prof. Fattah berseloroh "Kamu? perempuan Sunda yakin mau menikah dengan orang Jawa? Orang Jawa itu agak pelit dan perhitungan loh, siap-siap ya?" (Pelit sih nggak tapi setelah menikah ternyata suami saya memang membuatkan anggaran pengeluaran yang sungguh sangat rinci jadi kami paham arus kas perginya kemana saja)
Nah duduk makan siang bareng di kantin yang dirindangi pepohonan itu hal biasa. Iya, kami duduk semeja, ingat betul saya waktu itu semeja dengan dosen Bimbingan Konseling Lintas Budaya namanya Bu Muslihati, yaa biasa aja gitu ngobrol nanya kabar bahas kuliah, bahas hal-hal ringan, mengomentari menu saya yang istiqamah terdiri dari nasi, sayur bayam, dan tahu krispi. "Sesekali boleh loh mbak makan protein tinggi, kan sedang kuliah, otaknya dipakai berpikir"
Sungguh saya terharu, dosen manaa coba yang memperhatikan menu makanan yang dimakan mahasiwanya?
Terlepas dari konflik beasiswa yang kadang harus menunggu pencairan agak lama, atau pelayanan tata usaha yang kadang bermuka masam, sudahlah semua itu tertutup dengan semua kebaikan orang-orang yang tersebar di sekeliling saya.
Kalau ketika SD saya berulang-ulang dipahamkan bahwa semboyan Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, nah di UM ini saya berasa terjun praktek aja gitu. Meski awalnya ada gegar budaya, wajarlah itu menandakan saya manusia, bukan orang-orangan sawah yang nggak pernah galau.
UM seolah menyiapkan saya, untuk menjadi pribadi yang tahan dengan keanekaragaman, membuka lebar-lebar mata saya.
UM lebih dari sekedar kampus, namun sekolah hidup.
Nah buat klean yang mau jadi dosen, UM lagi buka lowongan dosen tetap non PNS nih, cek aja um.ac.id siapa tahu berjodoh sama UM. Ini saya nggak dibayar sepeserpun, jadi bukan iklan loh. Bisalah kalau jadi dosen klean makan siang di bakso jalan semarang, di jalan terusan surabaya makan lalapan sinchan, nasi tongkol bu Didik, atau tahu telor cah ndeso nah agak jauhan dikit ada ayam nelongso dan bakso hebring. Buat snacknya ada sempol ayam dan pentol pak Koboi. Dua tahun kuliah disana khatam banget yhaa sama makanan wakakakakak.
Aduh UM semoga kelak kita bertemu lagi ya


Awalnya saya sempat nggak betah dan limbung kuliah di UM. Ya coba bayangkan, manusia yang 24 tahun hidupnya di tanah pasundan ujug-ujug terlempar di Jawa Timur, gegar budaya kalau bahasa kerennya.
Sering banget saya ngobrol pakai bahasa Sunda dengan teman sekamar saya (kok geli ya rasanya teman sekamar) dan teman waktu SMA, kami bisa ketawa ngakak-ngakak tanpa ada orang ngerti kami ngomong apa, jahat kan? Hahahah sekalinya pernah saya ngedumel ngomongin mamang supir angkot eh kemudian ada teteh-teteh dari belakang nyusul saya jalan "Teteh? Orang Sunda? Timana? Abdi ti Sukabumi" (Teteh? Orang Sunda? Darimana asalnya? Saya dari Sukabumi) sungguh sejak saat itu saya berhati-hati, khawatir ketika ngomongin orang pake bahasa Sunda ada yang ngerti malu yakan?
Saya pernah berantem sama mahasiswa entah jurusan apa, karena dia hampir menyerempet saya dengan motor gedenya. Saya spontan berteriak memakai bahasa Sunda tentunya.
"Eureun siah maneh!" (Berhenti kamu!)
Dia berbalik, turun dari motor sementara saya lagi-lagi tak bisa mengatur emosi keluarlah makian yang masih dalam bahasa Sunda.
"Mun aing paeh kaserempet kumaha siah? Cik sing bener ai make motor teh atuh euy, ieu teh kampus lain jalan nini maneh!" (Kalau saya mati keserempet gimana? Yang bener dong kalau mengendarai motor, ini kampus bukan jalan nenekmu!)
Dia berbalik menyerang saya menggunakan bahasa Jawa, pada saat itu saya nggak ngerti sedikitpun apa yang dia sampaikan. Yaudah diem ajalah. Dia makin mendekat akan menyerang, takut juga gaes lalu saya bilang "Mau nyerang? Beraninya sama cewek, kalau menang ya malu, kalah apalagi" Sebagai penutup dia teriak
"Janc*k kon!"
NAH KALAU SATU KATA ITU SAYA PAHAM! HAHAHA
"Heh! Saya ngerti yah kamu bilang apa barusan!"
Kemudian si mahasiswa dengan motor bison itu pun berlalu dengan deruan suara knalpot yang aduhai, tinggal saya yang gemeteran, lemas lutut rasanya padahal kelas pertama saya jam 7 pagi, oia awal kuliah karena saya nggak bawa motor, selalu jalan kaki dari Soehat (soekarno hatta) ke kampus, melintasi kampus tetangga yang megah, Universitas Brawijaya. Kadang nengok kanan kiri namanya juga usaha siapa tahu ada mas-mas yang sama-sama kuliah pascasarjana nyantol, nyatanya selalu dedek gemez yang saya temukan. Skip. Ternyata jodoh saya ada di sungai Citarik, Sukabumi.
Di UM saya paham, ternyata jenis bahasa Jawa itu beragam, teman-teman dari Blitar biasaya berbahasa haluuuus bak betis Ken Dedes, nah kalau Surabaya-an agak cablak dan apa adanya juga cenderung lebih cepat nada bicaranya. Di UM jugasaya berteman sama Duta Kampus yang aduhai cantiknya, cerdas pulak, Rosalia namanya. Saking cantiknya saya pernah terpukau enggan melepasskan pandangan dan bergumam ketika tes masuk "INI ORANG CANTIK BANGET YA ALLAH, KALAULAH SAYA COWOK UDAH NAKSIR BERAT!"
UM bagi saya berasa menemukan Indonesia yang sesungguhnya, bagaimana tidak, teman sekeliling saya bermacam-macam asal daerahnya mulai dari Padang, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur tentunya, Madura, Bali, Lombok, Kalimantan, Sulawesi bahkan Timor Leste. Bagaimana dengan keragaman agama? Empat agama dari enam yang diakui di Indonesia ada di sekeliling saya. Beberapa kali saya sempat sholat di tempat kos yang beragama Kristen dia orang Menado, ada mukena dong untuk sholat. Lalu saya sempat ditanya "Kenapa kalau sholat harus memakai mukena? Bagaimana kalau baju saja?"
Dengan ilmu yang seuprit ini saya menjelaskan semampunya, dan yasudah tiada gontok-gontokan atau musuh-musuhan apalagi unfollow instagram (apeu bae) , atau saya nggak boleh lagi sholat di tempat dia, atau saya maksa dia buat sholat yha kan iku jenenge gemblung, kami bahkan beberapa kali hangout bareng.
Di angkatan kami ada Romo, sebutan pemuka agama Katolik. Romo Augusto ini berasal dari Timor Leste dan sering bercerita tentang banyak hal, mulai dari aksi heroik ketika daerahnya terkena konflik, pengalaman hidup, sampai kenangannya dengan tentara Sunda yang mengajarkan beliau lagu Bubuy Bulan. Sering dari kami didoakan oleh beliau, saya termasuk, didoakan mengenai jodoh hahaha. Lalu apakah Romo memaksa kami untuk meyakini apa yang beliau yakini? Sama sekali nggak pernah. Padahal kan beliau pemuka agama, tapi sungguh saya bersaksi tidak pernah ada sedikitpun ajakan beliau untuk mengikuti keyakinan yang beliau yakini. Kalau kabar di twitter ada ibu-ibu yang nggak mau duduk sebelahan sama non muslim di bis trans Jakarta, lah kami gimana dong?
Sekelas campur-campur, sekelompok presentasi dengan teman-teman lain agamanya, haruskah mencari teman sekelompok yang sama agamanya ketika kuliah? Wah naif benar.
Salah satu dari angkatan kami ada yang beragama Hindu, justru dia ini yang paling rajin mengucapkan selamat merayakan hari besar agama teman-temannya yang lain. Nah ketika akhir perkuliahan menulis tesis, perut saya membesar sedang mengandung Kinanti, yang membantu saya membereskan tesis mulai dari struktur, halaman, sampai marginnya hingga rapi jali adalah teman saya yang beragama Katolik. Terus kami gerah gitu? Ya nggak. Adem banget malah. Saking adem dan kompaknya suka mendatangi seminar proposal yang ada nasi kotaknya (ups) hahahahaha
Saya berkesempatan dipasangkan dengan dosen pembimbing luar biasa yang kebetulan beragama lain, tetapi sungguh tak pernah sekalipun kami membahas agama masing-masing.
Lakum dinukum waliyadin.
Hal lain yang membuat saya takjub adalah ketika dospem saya tersebut menolak mentah-mentah parcel yang saya berikan. Saya keukeuh ingin memberi, beliau keukeuh ingin menolak. Padahal hanya buah-buahan semata bukan barang mahal. Akhirnya kami sepakat bertukar alias barter, beliau memberikan saya madu Sumbawa untuk diminum agar bayi dalam janin saya kuat. Ah Pak Imanuel Hitipeuw, disaat orang diluar sana gemar sekali diberi, ini malah gemar memberi.
Saya pernah menjadi pihak pembanding proposal tesis di seminar skripsi seorang suster, namanya suster Flo. Penelitiannya tentang studi kasus sistem pendidikan di Papua, meeeen penelitian tesis saya mah bak noda saus pentol di baju anak SD. Nah membahas penelitian, mahasiswa UM ini luar biyasaaak penelitiannya (saya nggak termasuk lah yah) salah satu teman sebimbingan meneliti karakter wayang Semar dalam pribadi seorang konselor. Boom! Seperti kita ketahui lah ya, wayang adalah salah satu cagar budaya aselik Indonesia. Bagaimana bisa cobaaa kepikiran dihubungkan dengan pribadi konselor.
Lalu ada teman lain yang meneliti konsep diri waria, studi kasus penelitiannya, dia yang kebetulan laki-laki hidup dengan waria. Totalitas tanpa batas bukan? Penelitian tesis sampek idup bareng beberapa waria. Ada lagi teman dari Padang, salah satu Uni di angkatan kami meneliti tentang Buya Hamka, saya ingat Buya Hamka ya jadi ingat Engku Zainudin yang diperankan Herjunot Ali dan Hayati yang diperankan Pevita Pearce di film Tenggelamnya Kapal Van Der Wirjk, juga jangan lupakan Reza Rahadian si pemain segala bisa lha ini dibuat penelitian tesis, warbiyasak!
Lain lagi dengan salah satu tesis di jurusan Bahasa Indonesia, membahas mengenai lirik lagu Letto yang bernuansa religius. Bener juga ya? Tapi sadar nggak sih? Mas Sabrang Damar Pinuluh alias Noe nggak pernah menyisipkan kata Tuhan di dalam lirik lagunya, tapi semuaaaa lagunya bernuansa religius. Cadas!
Seperti yang saya bilang di awal, kuliah di UM bukan sekedar pelajaran KBM semata di kelas, beberapa dosennya termasuk dospem saya yang gelarnya profesor penampilannya sederhana sekali bertopi, berjaket hitam kadang bersendal gunung bahkan sering ikut nongkrong sekedar minum kopi di kantin pojok camil. Pernah suatu hari Prof. Fattah berseloroh "Kamu? perempuan Sunda yakin mau menikah dengan orang Jawa? Orang Jawa itu agak pelit dan perhitungan loh, siap-siap ya?" (Pelit sih nggak tapi setelah menikah ternyata suami saya memang membuatkan anggaran pengeluaran yang sungguh sangat rinci jadi kami paham arus kas perginya kemana saja)
Nah duduk makan siang bareng di kantin yang dirindangi pepohonan itu hal biasa. Iya, kami duduk semeja, ingat betul saya waktu itu semeja dengan dosen Bimbingan Konseling Lintas Budaya namanya Bu Muslihati, yaa biasa aja gitu ngobrol nanya kabar bahas kuliah, bahas hal-hal ringan, mengomentari menu saya yang istiqamah terdiri dari nasi, sayur bayam, dan tahu krispi. "Sesekali boleh loh mbak makan protein tinggi, kan sedang kuliah, otaknya dipakai berpikir"
Sungguh saya terharu, dosen manaa coba yang memperhatikan menu makanan yang dimakan mahasiwanya?
Terlepas dari konflik beasiswa yang kadang harus menunggu pencairan agak lama, atau pelayanan tata usaha yang kadang bermuka masam, sudahlah semua itu tertutup dengan semua kebaikan orang-orang yang tersebar di sekeliling saya.
Kalau ketika SD saya berulang-ulang dipahamkan bahwa semboyan Indonesia adalah Bhineka Tunggal Ika, nah di UM ini saya berasa terjun praktek aja gitu. Meski awalnya ada gegar budaya, wajarlah itu menandakan saya manusia, bukan orang-orangan sawah yang nggak pernah galau.
UM seolah menyiapkan saya, untuk menjadi pribadi yang tahan dengan keanekaragaman, membuka lebar-lebar mata saya.
UM lebih dari sekedar kampus, namun sekolah hidup.
Nah buat klean yang mau jadi dosen, UM lagi buka lowongan dosen tetap non PNS nih, cek aja um.ac.id siapa tahu berjodoh sama UM. Ini saya nggak dibayar sepeserpun, jadi bukan iklan loh. Bisalah kalau jadi dosen klean makan siang di bakso jalan semarang, di jalan terusan surabaya makan lalapan sinchan, nasi tongkol bu Didik, atau tahu telor cah ndeso nah agak jauhan dikit ada ayam nelongso dan bakso hebring. Buat snacknya ada sempol ayam dan pentol pak Koboi. Dua tahun kuliah disana khatam banget yhaa sama makanan wakakakakak.
Aduh UM semoga kelak kita bertemu lagi ya





Tidak ada komentar:
Posting Komentar