Selasa, 23 Oktober 2018

Yang Tersisa dari Asian Para Games 2018

Awalnya saya membaca satu postingan di instagram bahwa penonton Asian Para Games 2018 tidak seheboh Asian Games, sedih sih langsung 'nyes' aja gitu. Tapi siapalah hamba ini presiden bukan, menpora bukan, hanya bubuk momogi.

Sebuah ide cemerlang dari Ninis, adik tingkat semasa S1 saya bilang "Tugaskan saja mahasiswa untuk menonton kemudian minta mereka mengidentifikasi disabilitas atlet lalu cari jurnal penelitan yang mendukung konsep disabilitasnya." TUINNGGGG di otak saya seakan ada lampu bohlam, bagus kan idenya? Terima Kasih Ninis :*

Jadilah saya tugaskan mahasiswa untuk menonton, mengidentifikasi disabilitas atlet, mewawancarai atlet lalu dibuat laporannya sebagai tugas Ujian Tengah Semester. Untuk mencari jurnalnya tidak saya tugaskan karena eh karena mereka mahasiswa semester satu yang masih beradaptasi di kampus. (YHA DOSENNYA NGGAK TEGAAN YHAAA) Dikarenakan waktunya mepet, mahasiswa yang siap menerima tantangan ini adalah seluruh mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris kelas 1C dan beberapa mahasiswa di kelas 1A prodi Pendidikan Ekonomi, tidak semua mahasiswa yang mengontrak matakuliah psikologi perkembangan saya tugaskan.

Jujur saja awalnya saya takut membebani dan pesimis, takut memberatkan mahasiswa. Nyatanya? Satu kelas ada yang mempu menjawab tantangan saya untuk melaksanakan tugasnya. Meski hari itu adalah hari terakhir Asian Para Games mereka tetap pergi ke Gelora Bung Karno, lalu pada pukul sepuluh lebih, salah satu dari mereka menghubungi saya.

"Bu Aisha, tiket pertandingan sudah sold out semua, bagaimana bu?"

Saya pun menugaskan mereka untuk mewawancarai teman-teman disabilitas di sekitaran festival di GBK. beberapa jam kemudian ada yang menghubungi saya lagi

"Bu Aisha, saya tugas UTS nya yang lain saja ya, karena saya kehabisan responden untuk diwawancarai"


Dari penugasan ini saya justru belajar banyak, mereka bersemangat menerima tugas dan rela janjian pagi-pagi untuk datang ke GBK, di GBK mereka kehabisan tiket lalu jujur pula pada saya dan tetap mampu mengerjakan tugas yang saya minta yaitu mewawancarai teman-teman disabilitas. Saya salut dengan keberanian mereka menerima tantangan, lalu mereka jujur atas apa yang ditugaskan, padahal bisa saja kan mereka membohongi saya? Pura-pura mewawancara, membuat laporan nihil, asal ada dokumentasinya. Lagi-lagi saya dibuat terharu atas kejujuran mereka.


Goal dari tugas UTS ini adalah bukan hanya pemenuhan tugas matakuliah yang saya ampu belaka, ada hal yang jauh lebih penting daripada itu, mengenai kebersyukuran hidup.
Mahasiswa menjadi lebih 'melek' disabilitas, mereka menyadari bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih prestasi, lebih jauh lagi mereka sebagai calon pendidik saya harap bisa paham bahwa pendidikan adalah hak dari setiap manusia, termasuk teman-teman disabilitas kita, Diharapkan dengan adanya penugasan ini, tidak ada lagi pendidik yang gagap menghadapi peserta didik ketika di sekolah inklusi.
Bahwa menonton pertandingannya itu adalah kegiatan yang harus dilaksanakan, tapi dibalik itu ada banyak hal yang bisa dipelajari, entah itu kerjasama, pengalaman menggunakan transportasi publik, dan rasa solidaritas tidak bisa dipupuk menggunakan kompos :P

Di era revolusi industri yang keempat ini, kita harus menjadi manusia yang mana keberadaannya tidak bisa digantikan oleh mesin? Caranya? Belajarlah jadi manusia yang memanusiakan manusia, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Teman-teman mahasiswa ini menunjukkan bahwa ada harapan pada generasi bangsa selanjutnya, dimana mereka adalah manusia yang berperilaku jujur, padahal seperti kita ketahui di masa sekarang ini kejujuran kini sudah sangat mahal harganya, karena kalau murah dijual secara sachetan (YHAAAA)


Tulisan ini sebagai luapan rasa bangga kepada teman-teman mahasiswa yang berani menerima tantangan dari dosennya. Kalian Luar Biasa (Nada ngomong ala Ariel Noah) :))