Sebagai ibu pekerja newbie yang saya bingungkan ketika diterima bekerja adalah "Anak saya gimana ya nanti? sama siapa?", di satu sisi ada perasaan bahagia karena bisa bekerja di tempat yang sesuai dengan passion saya, mengajar. Namun di sisi lain hal yang paling saya pikirkan adalah menyeimbangkan antara peran sebagai istri, ibu, dan pengajar di kampus tentunya. Saya adalah korban kekerasan yang dilakukan oleh asisten rumah tangga, meski sebetulnya masih ada kok asisten rumah tangga yang baik hati, ramah , sayang anak, sayang bapaknya anak. Sayangnya, saya sudah terlanjur bersumpah meski tak seperti sumpahnya patih Gajahmada untuk menghindari adanya asisten rumah tangga di rumah. Gimana sih kalau trauma, kebayang-bayang, ketakutan, daripada saya lelah hati memikirkan ketakutan tersebut maka saya memutuskan untuk mencarikan penitipan anak yang terbaik.
Saya yang lahir di bawah rasi bintang gemini juga belgolongan darah AB sungguh sulit sekali memtuskan sesuatu hal yang cukup penting, termasuk daycare anak. Berbekal postingan teman-teman lain, menanyakan pada sekitar tujuh informan yang saya wawancara lewat chat WA lalu saya gabungkan dalam ikatan jiwa (halah pret). Kesemua informasi tersebut saya rangkum, kelebihan menggunakan jasa ART adlah anak mendapatkan suasana rumah yang nyaman, bisa tidur-tiduran bebas, pokonya ya beras di rumah aja gitu loh, nyaman senyaman hatimu. uwuwuwuwu.
Berbeda dengan daycare yang mempunyai jadwal tertentu, anak akan mengikuti kurikulum daycare yang sudah ditentukan. Mana yang lebih baik? Monggo bapak ibu, mas mbak pasti lebih paham akan kebutuhan anaknya masing-masing.
Lalu bagaimanakah tips mencari daycare? Saya pikir daycare itu mirip jodoh, proses mencari dan ditemukan, susah-susah gampang, namun jika sudah dapat yang klik enggan berpindah ke lain hati.
Ada beberapa hal yang bisa diperhatikan untuk memilih daycare :
1. Usahakan dekat dengan tempat kerja ibu atau ayah, kenapa? agar jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan entah itu anak tiba-tiba demam, jatuh, atau hal apapun lah yang saya nggak sanggup shay mikirinnya, kita akan lebih cepat menuju lokasi.
2. Perhatikan kebersihan daycare, konon katanya kalau anak daycare akan lebih mudah terpapar penyakit, ya gimana nggak, satu lagi pilek kemudian main kejar-kejaran, main petak umpet, atau main jitak-jitakan bisa saja terkena kontak fisik dan mudah tertular kan? Nah kebersihan daycare ini adalah utama kalau buat saya pribadi, bisa cek ketika ayah bunda, mas mbak ke TKP langsung. Cek apakah dayare menyediakan sterilisasi perlengkapan menyusu (untuk yang masih ASI), tanyakan bagaimana mereka menyimpan ASI, memberikan ASI pada anak.
3. Tempat tidur toddler dan bayi dipisah, tahu sendiri lah ya anak usia toddler seneng lompat-lompat jumpalitan, kayang, bahkan ngesot (oke itu anak hamba), kalau bisa cari yang kamarnya terpisah antara bayi dan toddler, supaya adik bayi bisa tidur tenang tanpa ada suara lompatan dari si kakak-kakak toddler.
4. Makanan. Beberapa daycare menyediakan makan bagi anak dan bayi, pastikan anak kita ternutrisi dengan baik, non MSG ya, cukup ayah bundanya saja yang diracuni cilok dan cireng. Kalau daycare tidak menyediakan makan, berarti ibu kudu strong meracik menyiapkan makanan untuk si buah hati tercinta.
5. Buku laporan harian. Daycare tempat anak saya dititipkan menyediakan laporan kegiatan harian, yang dicatat meliputi makanan apa saja yang dimakan, kegiatan pembelajaran harian, misal anak saya diberikan keterampilan bina diri mencuci pakaian, yha alhamdulilah sudah bisa mencuci bajunya sendiri (nggak ding boong), setidaknya tahu proses mencuci itu seperti apa. Lewat laporan kegiatan ini kita orangtua bisa tahu anak kita ngapain aja sih selama kita bekerja. kebetulan daycare anak saya terintegrasi dengan PAUD, sekali mendayung dua pulau terlampaui.
6. CCTV. Iya, di era revolusi industri 4.0 ini sudah zamannya kita bisa melihat segala sesuatu hal dari kejauhan, mayoritas daycare-daycare masa kini sudah dilengkapi dengan CCTV yang tersambung ke ponsel orangtua masing-masing, nggak ada deh ceritanya anak saya diapa-apain, atau diperlakukan tidak baik.
7. Biaya. Ini dong yang terpenting bundshay, kalau kata orang Jawa Ono Rego Ono Rupo, Saya pribadi memilih daycare sesuai dengan kantong, di kantor tempat suami bekerja ada sih katanya daycare bagus tapi bayarnya seharga gaji saya full. Mungkin untuk beberapa orang uang segitu recehan belaka, namun bagi saya masih cukup berharga.
8. Lihat perkembangan anak, Sejatinya memang harusnya anak ada dalam pelukan ibu sepanjang waktu, namun jika keadaan yang meminta kita bisa apa bundshay? Kalau anak sudah bisa ditanya ketika pulang diajak ngobrol "Are You happy? Tadi ada apa aja? Main apa?" kalau anak murung terus atau terlihat tidak suka jangan sungkan menanyakan pada pengasuh atau owner daycare, cari penyebabnya, selesaikan dengan segera dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
9. Kok bisa sih tega nitipin anak? Nah siapa yang bilang begitu? Sini saya tampol online. Rasanya tidak ada satu ibu pun yang tega atau rela berpisah dengana anaknya, namun ingin kan anak mandiri? atau ingin kan membantu perekonomian keluarga dengan cara bekerja, syukur-syukur kalau kerjanya bisa di rumah, ada banyak perempuan yang harus bekerja di luar rumah dengan berbagai alasan yang mungkin saja tidak bisa kita pahami, entah membantu perekonomian eluarga, syiar ilmu, dakwah, atau di tahap tertinggi bagi kebutuhan manusia mungkin saja hanya sekadar memenuhi kebutuhan eksistensi diri. Begini bundshay, Anak awalnya akan nangis meraung-raung (kecuali anak saya yang girang banget ketemu daycare karena ada perosotan di dalam ruangan), ibu harus ikhlas dan tenang juga yakin bahwa anak akan baik-baik saja seperti lagunya Pinkan Mambo dan Maia. Kalau ibu galau percayalah anak akan rewel. Daripada pergi diam-diam, mending pamit. "Nak ibu kerja ya, nanti ibu akan jemput kamu di sore hari." Kemudian ketika menjemput bilang "Halo nak, tuh kan ibu jemput kamu kan? Wah anak pandai ya tidak menangis ketika ibu kerja." Terus lakukan itu setiap hari hingga anak yakin "Oh ibu akan balik lagi kok ketika kerja." Intinya, pamit. Manusia macam apa yang pergi tapi tidak tanpa permisi? OKAY stop sudah sudah~
Begitu mungkin tips dari saya sebagai ibu newbie yang bekerja. Kalau ada yang ingin sharing saya akan senang sekali :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar